
**part ini tentang Santo dan istrinya sebelum berpisah ya...
flashback on
13 tahun yang lalu**.
"Lina....., ibu pulang". teriak salah seorang wanita cantik dan tampak sangat anggun dari dalam rumah.
orang yang berada di dalam seketika langsung keluar mendengar teriakkan wanita itu.
seorang pria tampak sedang menggendong seorang anak kecil berusia sekitar 3 tahun.
"sayang...., ibu sangat merindukanmu". ucap wanita itu pada anak yang di gendong pria tersebut.
wanita itu langsung mengambil alih anak kecil yang berada dalam gendongan lelaki itu.
wanita itu tidak lain adalah Riana, Rina terus menciumi pipi gembul Lina.
"aku pikir kau tidak akan pulang?". ucap Santo dingin pada Riana.
"apa maksudmu?, tentu saja aku akan pulang". jawab Riana dengan santai.
"aku sangat merindukan putriku". lanjutnya kembali.
"kau masih mengingat kalau kau masih punya putri?, aku pikir kau akan melupakannya". ucap Santo dengan dingin.
"apa yang kau katakan Santo?, tentu saja aku sangat merindukan putriku. apalagi aku sudah pergi selama sebulan". ucap riana tanpa bersalah.
"itu yang aku maksud, kau sudah pergi selama sebulan, dan kau samasekali tidak peduli denganku dan juga anakmu". kesal Santo.
"cek, aku tidak ingin berdebat, bukankah kau tau sendiri menjadi model adalah cita-citaku sejak dulu?". jawab Riana dengan santai.
Santo langsung mengambil alih Lina kembali dari gendongan Riana, baginya percuma berdebat dengan Riana, karena Riana terlalu keras kepala.
Santo sangat marah pada Riana karena Riana lebih memilih pergi keluar kota untuk melakukan sesi potret selama sebulan daripada mengurus suami dan anaknya.
dengan cepat Santo meninggalkan Riana di ruang tamu sendiri, ia samasekali tidak ingin melihat Riana saat ini, kemarahan dan kekesalannya sudah sangat menumpuk.
"kemana kau akan membawa Lina?". tanya Riana.
__ADS_1
"tidur, bukankah kau baru sampai dari perjalanan jauh?, lebih baik kau istirahat sekarang". ucap Santo mencoba bersikap biasa-biasa saja.
Santo memasuki kamar putri kecilnya, ia segera menidurkan putrinya, saat dalam keadaan marah Santo lebih memilih bermain dengan putrinya agar bisa mereda kemarahannya, karena bagi Santo putrinya adalah obat buat dirinya.
Riana memasuki kamarnya, dan merebahkan tubuhnya sejenak di atas ranjang.
"sungguh melelahkan". gumam Riana.
sebelum tertidur Riana memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu, karena baginya tidak mungkin tidur dengan keadaan badan yang lengket akibat keringat.
Santo memasuki kamar mereka dengan santai, di sana ia langsung melihat Riana yang sudah terlelap dalam mimpinya, ia hanya bisa menghela nafas saat melihat Riana.
"dia bahkan tidak menyapa suaminya". gumam Santo.
dengan perasaan kecewa Santo ikut merebahkan dirinya di samping istrinya.
sebelum terlelap Santo terus terpikir dengan Riana .
"apakah salah aku memilihmu?". gumam Santo sambil memandangi wajah cantik Riana yang sedang terlelap di sampingnya.
..........
saat subuh hari Santo sudah lebih dulu bangun, ia sudah terbiasa untuk bangun pagi karena itu dia tidak sulit untuk bangun.
"sayang, kau sudah bangun?". ucap Santo dengan lembut.
Santo kemudian langsung menggendong putrinya yang sudah terbangun, dengan sangat baik Santo memandikan dan juga memakaikan baju pada Lina.
"sekarang putri Ayah sudah cantik". puji Santo pada putrinya.
Lina langsung tersenyum menatap ayahnya, ia sangat senang saat ayahnya memandikan dan menemani ia bermain.
"ayah, Lina lapar". celoteh Lina kecil pada ayahnya.
"baiklah, karena princess ayah sudah lapar, kita akan ke dapur dan makan". ucap Santo antusias.
"horeeeee..." teriak Lina kegirangan.
Santo langsung menggendong Lina dan membawanya ke dapur, rutinitas Santo setiap paginya memang selalu membuat sarapan untuk putrinya.
__ADS_1
Santo memilih tidak memakai jasa pembantu karena menurutnya mereka bisa melakukannya sendiri, Santo hanya akan menggunakan jasa Beby siter, saat-saat tertentu.
sementara di dalam kamar Riana baru terbangun, itupun karena ia mencium bau yang sangat sedap dari arah dapur, dengan cepat Riana langsung membersihkan diri dan pergi ke dapur.
Riana langsung memeluk Santo dari belakang saat melihat Santo sedang bergulat dengan sendok dan panci.
"apa yang kau lakukan Rin...?". tanya Santo.
Santo sangat kaget saat tiba-tiba Riana memeluknya.
"tentu saja memelukmu". jawab Riana dengan santai.
"aku sedang masak Rin, lebih baik kau duduk dulu dan tunggu masakannya selesai". ucap Santo dengan lembut.
Riana mendesah kesal karena tidak bisa memeluk Santo lebih lama lagi, namun sebelum itu tidak lupa dia meciyum bibir Santo.
"ibu....". rengek Lina pada Riana.
Riana langsung menoleh dan melihat putrinya.
"Hay, sayang, apa kau merindukan ibu?". tanya Riana pada putrinya.
Lina hanya mengangguk dan merenggangkan kedua tangannya meminta Riana untuk mengendong nya.
"sekarang katakan, putri ibu lagi ngapain?". tanya Riana sambil memainkan rambut lebat putrinya.
"main Bu...". celoteh Lina dengan suara mungilnya
Riana langsung melihat mainan Lina yang berserakan di atas karpet, di sana sudah ada boneka, rumah-rumahan dan masih banyak mainan lainnya.
"baiklah, ibu akan ikut main dengan Lina". tawar riana.
Lina langsung mengangguk, ia sangat senang saat Riana. ikut main bersama dengan dirinya.
dengan sabar Riana terus menemani Lina, saat Lina sudah tertidur Riana dengan cepat memperbaiki kuku-kukunya yang sedikit lecet akibat terkena mainan-mainan Lina tadi.
Santo mendekati Riana yang sedang duduk di sofa sambil mengoleskan kutek pada kukunya.
"berapa lama kau di rumah?". tanya Santo pada riana.
__ADS_1
"mungkin 3 hari, setelah itu aku masih ada pemotretan". jawab Riana tanpa menoleh kearah Santo.
Santo mendesah kasar saat mendengar jawaban Riana, inilah yang selalu membuat Santo marah, Riana hanya akan pulang beberapa hari saja lalu setelah itu dia akan pergi dalam waktu yang lama, paling lama Riana akan di rumah hanya seminggu.