"Aku Juga Bisa Jatuh Cinta"

"Aku Juga Bisa Jatuh Cinta"
episode 64


__ADS_3

Lina merasa kesal pada temannya, karena Mila meninggalkan ia sendiri saat makan di kantin kampus, ia mulai memaki-maki Mila dengan bibir yang selalu komat-kamit tidak jelas.


"Katanya dia tidak akan lama, dan sekarang apa, dia malah membuatku menunggu sangat lama". Kesal Lina.


Sementara Mila sedang sibuk bercengkrama dengan Alex, saat ia tengah sedang asik makan bersama Lina, ia dihubungi oleh Alex.


"Baby, aku didepan". Ucap Alex saat panggilannya masuk.


Mila langsung tersenyum senang saat Alex sudah tiba, ia kemudian langsung mencari alasan agar Lina tidak curiga.


"Lin, kau tunggulah sebentar, aku ingin ke toilet dulu". Bohong Mila, padahal sebenarnya ia ingin bertemu dengan pujaan hatinya.


"Jangan lama-lama, aku malas kalau harus duduk sendiri disini". Jawab Lina menyetujui perkataan Mila.


"Baiklah, aku tidak akan lama". Ucap Mila.


Mila kemudian langsung bergegas menemui Alex dan membiarkan Lina sendiri makan di kantin.


"Lina.......". Teriak seseorang dari kejauhan.


Lina yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh kearah sumber suara, dari kejauhan Lina dapat melihat Lidia yang tengah sedang berlari menghampirinya dengan terburu-buru.


"Ada apa kau memanggilku ?". Tanya Lina dengan jutek.


Lina sangat tidak suka saat bertemu dengan Lidia karena setiap ia bertemu dengan Lidia maka hari-harinya yang indah akan menjadi hancur atau berantakan.


"Kau harus ikut denganku ". Ucap Lidia dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Buat apa aku harus ikut denganmu ?". Tanya Lina penasaran.


"Aku tidak ingin ikut". Tolak Lina langsung.


Lidia berdecak sebal karena Lina menolak ajakannya.


"Jika kau tidak ikut denganku, maka kau akan menyesal nanti". Jelas Lidia lagi.


"Kenapa aku harus mempercayaimu ?". Timpal Lina tidak kalah kesal.


"Kau ini.....,". Geram Lidia.


"Ikut saja denganku, nanti akan aku jelaskan dijalan, sekarang sudah tidak ada waktu". Ucap Lidia kembali.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, aku tidak mau ikut denganmu". Tegas Lina.


"Cek.., kau benar-benar keras kepala. Apa dalam keadaan seperti ini kau sama sekali tidak mempercayaiku ?". Tanya Lidia dengan kesal.


"Tentu saja tidak, kau selalu berbuat jahat. Dan buat apa aku harus percaya padamu".


Lidia semakin emosi saat mendengar Jawaban Lina, ia benar-benar tidak menyangka kalau Lina akan berani melawannya.


Lidia kemudian langsung menarik tangan Lina dengan kasar hingga tubuhnya dengan tubuh Lidia bersatu.


"Apa yang kau lakukan ?". Kesal Lina.


"Sudah jangan banyak tanya, iku denganku". Bentak Lidia.


"Aku tidak mau".


Tanpa Lina sadari ternya kalung yang ia pakai terputus akibat tubuhnya yang menubruk Lidia tadi.


"Kau ini benar-benar keras kepala sekali. Jika kau masih ingin melihat Riko, maka ikut denganku". Kesal Lidia menahan emosinya.


Mendengar nama Riko disebut membuat Lina menjadi gusar.


"Apa maksudmu ?". Tanya Lina dengan wajah bingungnya.


Mendengar perkataan Lidia membuat Lina menjadi shock, air matanya tiba-tiba saja menjadi lolos.


"Jangan berbohong, itu tidak mungkin ". Sangkal Lina tidak percaya.


Lina tidak yakin dengan perkataan Lidia karena yang ia tau Riko selalu hati-hati saat berkendaraan, tapi mendengar ucapan Lidia yang mengatakan Riko kecelakaan membuat ia menjadi tidak tenang.


"Untuk apa aku berbohong, lagian apa untungnya buatku kalau aku berbohong". Jawab Lidia.


"Benar, buat apa Lidia berbohong. Bahkan aku bisa lihat sendiri Lidia rela berlari-lari untuk menemui ku, bahkan sampai nafasnya ngos-ngosan". Pikir Lina kemudian


"Katakan, dimana mas Riko sekarang?". Tanya Lina panik.


"Dia di rumah sakit, sebaiknya kau ikut denganku sekarang". Ajak Lidia kembali.


Lina kemudian mengangguk, saat ia berjalan mengikuti Lidia kalungnya yang putus tiba-tiba saja terjatuh dan tergeletak dilantai, Lina samasekali tidak menyadari kalau kalungnya sudah terjatuh.


Dengan perasaan yang sangat cemas Lina terus mengikuti Lidia hingga mereka memasuki mobil lidia.

__ADS_1


"Pakai sabut pengaman mu, kita akan sedikit mengebut agar cepat sampai". Ucap Lidia kemudian.


Lina langsung mengencangkan sabut pengamannya, agar lebih aman. Ia sangat cemas saat ini, mulutnya tidak henti-hentinya berdoa agar Riko selamat.


Lina bahkan tidak ingat kalau tasnya tertinggal di kantin, saat Lidia menarik tangannya tas Lina berada disebelahnya, dan ia sama sekali tidak ingat untuk mengambil tasnya karena terlalu cemas memikirkan Riko.


Sementara Mila yang sudah selesai bertemu dengan Alex segera kembali ke kantin dimana tempat Lina tadi.


"Lina pasti marah karena aku sangat lama. Aku harap dia tidak memakan ku nanti". Gumam Mila


Mila semakin mempercepat langkahnya, ia sangat cemas memikirkan bagaimana Lina marah padanya, ia tidak bisa bayangkan ibu hamil akan marah padanya.


Saat sudah sampai di kantin Mila tercengang karena tidak mendapati Lina ada di sana, ia kemudian mendekati kursi tempat mereka duduk tadi, dan yang lebih membuat ia heran adalah, ia mendapati tas Lina masih di sana.


"Mungkin dia ke toilet". Pikir Mila.


Mila kemudian duduk ditempat ia duduk tadi, saat ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling kantin, matanya langsung terkunci pada sebuah benda kecil yang mengkilap tak jauh dari tempatnya.


Karena penasaran Mila kemudian mendekati benda itu, ia mengambil benda tersebut.


"Bukankah ini kalung Lina". Gumam Mila.


"Iya aku yakin, ini kalung Lina. Tapi kenapa ada disini ?". Ucapnya lagi.


Mila kemudian memiliki perasaan yang tidak enak, dengan buru-buru ia mengambil tas Lina, dan segera meninggalkan kantin.


Mila mencari Lina ke toilet terlebih dahulu, namun ia tidak menemukan Lina di sana, ia kemudian pergi ke perpustakaan tapi tetap saja Lina tidak ada disana.


Mila semakin cemas karena ia tidak menemukan Lina dimana-mana, ia kemudian langsung pergi ke depan kampus, karena biasnya supir Lina akan selalu menunggu di sana.


Saat Mila melihat supir Lina, ia segera menghampirinya.


"Pak, apa kau melihat Lina". Tanya Mila.


"Tidak non, bukankah non Lina masih di dalam". Jawab supir itu.


Mila semakin cemas perasaannya juga semakin tidak enak.


"lina tidak ada di dalam pak, coba bapak hubungi tuan Riko, siapa tau dia di sana". Ucap Mila kemudian.


Mendengar Mila mengatakan tidak ada di dalam, membuat supir itu juga ikut cemas, karena Lina merupakan tanggung jawabnya saat berada diluar, ia tidak bisa bayangkan bagaimana Riko akan sangat marah mengetahui jika Lina hilang, namun ia juga tidak punya pilihan. bagaimanapun keadaannya ia harus tetap mengatakan jika Lina hilang, ia kemudian langsung menghubungi Riko.

__ADS_1


aku mohon vote author ya.... please.


sedikit dukungan dari kalian membuat aku jadi semangat, jadi mohon ya jangan buat ummi jadi patah semangat..


__ADS_2