![[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna](https://asset.asean.biz.id/-drop--horimiya--miyamura-izuna.webp)
Setelah Sayu setuju untuk pergi dengan Izuna, dia kemudian berjalan menuju ke apartemen mereka diikuti Sayu yang berjalan sedikit di belakangnya.
"Hei Sayu, mungkin ini cukup lancang, tapi bisakah kamu memberitahuku kenapa kamu kabur dari rumah? Dan juga, dimana rumahmu itu?" Izuna bertanya.
Dalam perjalanan mereka, keduanya tidak saling bicara yang membuat situasi cukup canggung, oleh karena itulah, Izuna mencoba mencari topik pembicaraan tapi sayangnya dia tidak menemukannya. Akhirnya, dia mengambil keputusan yang cukup berani dengan bertanya hal yang cukup sensitif bagi Sayu saat ini.
"... Cukup rumit jika harus diceritakan ... Tapi, intinya adalah ini masalah pribadi dengan Ibuku dan beberapa hal lain ..." Sambil menundukkan kepalanya, Sayu berkata dengan nada rendah.
Ekspresinya cukup melankolis dengan tatapannya seperti sudah kehilangan cahaya harapan. Izuna yang melihat dari balik bahunya mengerutkan keningnya dengan bingung.
'Sepertinnya ini masalah yang serius melihat dari ekspresinya... Mungkin tidak seharusnya aku membahasnya disini.' pikir Izuna.
Tentunya, dia bukanlah pria yang tidak bisa membaca suasana orang lain, dia bisa tau jika seseorang sedang marah, bahagia, ataupun tertekan. Sebenarnya, cukup mudah baginya untuk membaca jati diri seseorang, bahkan hanya dengan sekali pandang.
Mungkin itu terkait dengan pekerjaannya dimasa lalu, yang menuntutnya untuk bisa tau apa yang dipikirkan oleh orang lain, jika tidak, dia akan sangat mudah untuk ditipu dan dimanfaatkan orang lain.
Menghela nafas, Izuna kemudian memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak, "Baiklah, aku tidak akan tanya lenih jauh dari itu. Tapi, apa kamu benar-benar tidak keberatan tinggal ditempatku? Jika kamu keberatan, aku bisa menyewakan sebuah apartemen untuk tempat tinggalmu untuk sementara."
Mendengarnya, Sayu sedikit mendongakkan kepalanya, melihat Izuna dengan tatapan terkejut sebelum dia menggelengkan kepalanya sambil melambaikan tangannya dengan cepat.
"T-Tidak perlu, i-itu benar-benar berlebihan! Lagipula, aku juga tidak masalah tinggal di rumahmu!" kata Sayu.
Dia adalah tipe orang yang tidak ingin berhutang pada orang lain, karena itulah, dia selalu membalas apa yang orang lain berikan kepadanya.
Itu juga yang menjadi alasan mengapa Sayu menolak tawaran Izuna pada awalnya, berkata bahwa dia mungkin tidak bisa membayar apa yang dia berikan. Tapi, Izuna mengatakan jika Sayu bisa membayar dengan menjadi pekerja di toko Ibunya, yang membuat Sayu berpikir jika tawaran itu tidak buruk.
Selain itu, gadis mana yang akan menerima bantuan orang tidak dikenal untuk tinggal dirumahnya?
Tidak ada!
Tapi, Sayu memiliki masalahnya tersendiri. Hubungan dengan keluarganya adalah salah satu penyebab kenapa dia bisa menumbuhkan sifat ini.
Berjalan selama beberapa belas menit, keduanya tiba di Apartmen Izuna. Izuna langsung membawa Sayu untuk menaiki lift, dan sesampainya mereka di lift, Izuna menekan tombol menuju ke lantai 7.
Beberapa saat kemudian, Pintu Lift terbuka, Izuna melangkahkan kakinya dan berjalan keluar. Dia berjalan menusuri lorong dan akhirnya tiba di sebuah kamar bertuliskam nomor 704.
"Baiklah, kita sampai. Disinilah aku tinggal." Kata Izuna ketika mereka berhenti didepan pintu.
Karena dia tidak membawa kunci cadangan, dia tidak bisa masuk Apartmennya saat ini. Karena itulah, Izuna menekan bel hingga mengetuk pintu beberapakali.
*Tok!* *Tok!* *Tok!*
"Iya iya, aku datang!"
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, sebuah suara dari dalam bisa terdengar oleh mereka berdua. Sesaat kemudian, pintu terbuka, menampilkan Iori berdiri disana.
"Aku pulang, Ibu." Kata Izuns.
"Ah, Izuna? Kenapa kamu baru pulang sekarang? Tidak, kita bicaraka nanti, pertama Selamat datang di rumah. Masuk dan bawa temanmu bersamamu." Kata Iori.
Tentunya dia bisa melihat Sayu yang setinggi satu setengah meter lebih berdri tepat disebelah Izuna. Dan dia juga tidak ingin seperti orang bodoh yang berkata "Siapa dia Izuna?" atau "Apa dia pacarmu?" dan semacamnya.
Lagipula, cukup wajar jika Izuna membawa seorang gadis ke rumahnya mengingat dia adalah remaja yang normal. Ah, tdiak ... mungkin seperti itu jika dia tidak membawa gadis ke rumah di malam hari!
"Baik. Masuklah, Sayu, anggap seperti rumah sendiri." Kata Izuna.
Iori masuk terlebih dahulu dan langsung menuju ke dapur, sementara Izuna disana melepas sepatunya.
"Hmm? Kenapa kamu hanya berdiri diam disana?" Izuna bertanya.
__ADS_1
Melihat Sayu yang hanya berdiri diam, dia merasa aneh. Apa dia tidak mendengar jika dia sudah menyuruhnya masuk tadi?
"Ah, tidak? Maaf mengganggu ..." Mendengar suara Izuna, Sayu teebangun dari lamunannya, dia juga melepas sepatu yang ia kenakan dan berjalan mengikuti Izuna dibelakangnya.
____
"Duduklah dulu, aku akan membawakan minum untukmu."
Di ruang tengah, Izuna menyuruh Sayu untuk duduk sementara dia akan membawakan minum untuknya.
"Maaf merepotkan ..." Sayu mengangguk, dan berkata dengan nada rendah.
"Tidak masalah, tidak merepotkan sama sekali." Izuna melambaikan tangannya, berjalan menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Sayu.
Sementara di ruang tengah, Sayu melihat sekeliling ruangan dengan tatapan penasaran. Tatapannya menyapu seisi ruangan dengan tatapan tertarik di matanya.
"Aku pulang ... Ah? Ada tamu?"
Sebuah suara tiba-tiba menarik perhatian Sayu.
Dia berbalik ke pintu depan, dimana dia melihat seorang remaja yang satu tahun lebih tua dari Izuna berdiri disana.
Penampilannya cukup mencolok karena dia memakai pakaian berat berupa seragam sekolah; kemeja putih berlengan panjanh yanh dilapisi oleh jas hitam yang biasanya hanya dikenakan siswa pada musim dingin, celana panjang hitam polos, dan dia memakai kacamata berbingkai tebal dengan rambut lurus sebahu.
Dengan penampilannya ini, tidak salah jika menyebutnya sebagai "Otaku", dan itulah yang dipikirkan oleh Sayu ketika pertamakali melihatnya.
Dia sepertinya cukup terkejut melihat keberadaannya disini.
Sayu segera berdiri dan mengenalkan dirinya, "Saya kenalan Miyamura-san, Ogiwara Sayu. Maaf telah mengganggu malam-malam seperti ini."
"Ah ... Tidak, kurasa ... Aku Miyamura Izumi, Kakak Izuna. Umm, salam kenal."
"Ahh, salam kenal!" Sayu dengan panik menundukkan kepalanya, mungkin karena terkejut ketika Izumi tiba-tiba berjalan ke arahnya.
Sebuah suara tiba-tiba menyela mereka. Keduanya menoleh dan melihat Izuna membawa sebuah nampan dengan dua cangkir diatasnya.
"Ahh, Miyamura-san. A-Apakah dia ... Kakakmu ...?" Sayu bertanya dengan ragu.
Menoleh ke Izumi, Izuna memiringkan kepalanya ketika pandangnnya mengarah ke Sayu, "Benar. Apa ada masalah?"
"Ahh, tidak! Hanya saja ... Kalian entah kenapa m.. tidak ... mirip ..." Sayu melambai-lambaikan tangannya didepan dadanya dengan cepat, tapi suaranya perlahan menjadi kecil dan semamin kecil.
Mendengarnya, Izuna tidak bisa menahan tawa, "Pfft—Hahahahaha! Maaf maaf, tapi aku tidak kuat menahan tawaku!"
Menyeka sudut matanya yang sedikit basah dengan satu tangannya yang bebas.
"Dia memang Kakakku, dan dia memang selalu berpenampilan ini ketika Sekolah, tapi kamu mungkin terkejut ketika melihat penampilannya diluar sekolah." Kata Izuna, dia kemudian melirik ke Izumi sambil menyeringai, "kau lihat itu Izumi? Kau harus percaya diri dengan dirimu atau kau tidak akan memiliki pacar nanti."
"Berisik! Aku tidak butuh nasihatmu!" Izumi mendengus kesal sambil berjalan melewati Izuna, berjalan menuju ke kamarnya.
Melihat Izumi yang pergi, Izuna menggelengkan kepalanya dan tatapannya berlalih kembali ke Sayu yang masih tertegun.
"Ada apa, Sayu? Apa kamu baik-baik saja?" Izuna bertanya dengan bingung.
Mendengar pertanyaan Izuna membuat Sayu keluar dari lamunannya.
"Ah, tidak. A-Aku tidak apa-apa!" Balasnya dengan cepat sambil tergagap.
"Baiklah, mungkin minum teh hangat bisa menenangkan dirimu. Silahkan diminum." Kata Izuna sambil meletakkan satu cangkir berisi teh hijau yanh baru saja ia seduh dihadapan Sayu.
__ADS_1
"Minum saja, mungkin itu bisa membuamu sedikit tenang dan rileks~" Lanjutnya.
Mengangguk, Sayu meminum teh yang dibuat oleh Izuna dengan perlahan. Matanya tiba-tiba melebar dan terkejut dengan rasa teh yang tidak terlalu pahit tapi tidak terlalu manis juga, sangat pas di lidahnya.
"... Ini enak. Terimakasih, Miyamura-san." kata Sayu dengan senyuman tulus diwajahnya.
Melihat senyumannya, benar-benar membuat Izuna terpesona. Dia balas ternyum pada Sayu sambil berkata, "Tidak masalah."
Setelah meminum teh buatan Izuna, Iori kemudian datang dengan sebuah piring yang diatasnya adalah 'Omurice'.
Omurice, namanya berasal dari kata 'Omelet' dan 'Rice'. Seperti namanya, itu adalah sebuah nasi putih yang digoreng bersama saus tomat dan dibungkus oleh telur goreng omelet. Dan diatas Omurice itu, disirami oleh saus tomat yang jatuh dari atas telur dadar setengah matang itu.
"Ini untukmu makan, kamu pasti belum makan bukan. Dan biar Bibi mengenalkan diri terlebih dahulu, Nama Bibi adalah Miyamura Iori, Ibu Izuna." Kata Iori sambil meletakkan Omurice yang ia buat didepan Sayu.
"Sayu .... Nama saya Sayu, salam kenal, Bibi." Kata Sayu dengan pelan.
"Jangan terlalu kaku begitu, kamu bisa memanggilku 'Iori-san' atau semacamnya." kata Iori sambil tersenyum.
"Iya, Iori-san..."
"Nah, bagus. Sekarang kamu bisa makan dulu, baru setelahnya kita bisa mengobrol."
Sayu mengangguk kecil sambil berkata "Ya.", dia kemudian mengambil sendok dan memasukkan Omurice yang dibuat Iori kemulutnya.
"Bagaimana? Apa rasanya enak?" Iori bertanya.
Tapi, bukannya menjawab, Sayu hanya terdiam saja, dan selang beberapa detik, air mata mulai mengalir di pipinya.
"E-Ehh...? A-apa ini...? K-Kenapa aku mengangis...?"
Sayu mengusap air matanya dengan punggung tangannya, mencoba membuatnya berhenti mengalir. Tapi, usahanya sia-sia karena bukannya berhenti, air matanya malah jatuh lebih banyak dari sebelumnya.
"Sudah sudah, tidak apa-apa. Ada kami disini, kamu bisa temanh sekarang."
Melihat Sayu yang menangis dan tidak bisa mengendalikan emosinya, Iori berinisiatif memeluknya, membiarnya kepalanya terbenam diantara dadanya, dia juga mengusap punggungnya dengan lembut sambil membelai kepalanya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Hiks ... Hiks ... M-Maaf ... A-Aku sendiri tidak tau kenapa aku menagis ... Meskipun aku mencoba menghentikannya, t-tapi air mataku terus mengalir dan tidak mau berhenti ...!"
Sambil mengusap kepalanya di dada Iori, Sayu berkata dengan nada terisak, dia bahkan membalas pelukaj Iori dan memeluk pinggangnya dengan erat.
"Sudah, tidak apa Keluarkan saja semua yang kamu pendam. Kami ada disini untukmu, Sayu-chan." Kata Iori dengan lembut.
Meskipun dia tidak tau apa yang terjadi pada Sayu hingga membuatnya seperti ini, dan bahkan kabur dari rumahnya. Tapi, dia tau satu hal. Sayu membutuhkan seseorang untuk mendukungnya, dia butuh seseorang yang mengatakan "Aku ada di sampingmu".
Karena itulah, dia memeluk Sayu dengan lembut sambil mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
Dia mungkin baru mengenal Sayu beberapa menit yang lalu tapi dia sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Lagipula, dulu dia juga ingin memiliki anak perempuan, tapi sayangnya, keinginannya itu tidak terkabul. Dan adapun untuk mencobanya lagi, meski Iori ingin, tapi dia tau bagaimana kehidupan di negara ini.
Biaya hidup di Jepang itu mahal, dan jika dia memiliki tiga anak, sementara penghasilan keluarganya tidak besar, mereka pasti akan kesulitan untuk hidup di negara ini.
Untungnya suaminya memiliki jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tempat dia bekerja, tapi karena itu juga, Naozumi sering keluar kota atau bahkan keluar negeri karena pekerjaannya.
_____
Izuna melihat Sayu yang sepertinya tertidur di pelukan Iori dengan tenang, dia bahkan tidak sekalipun berbicara ketika melihat keduanya sejak tadi dan hanya berdiri diam dan menatap mereka saja.
Izuna tidak tau apa yang dialami Sayu sebelum bertemu dengannya, tapi dia tau jika itu adalah masalah yang serius, mengingat Sayu yang bahkan tidak menaruh curiga padanya meskipun mereka tidak mengenal sama sekali.
__ADS_1
Ada pula mengapa Sayu kabur dari rumahnya, yang dia tau hanyalah Sayu memiliki masalah dengan seseorang di keluarganya, dan siapa orang itu, dia tidak tau.
Tapi sepertinya, masalah dengan keluarganya adalah yang paling serius, mengingat dia bahkan kabur dari rumahnya dan membuat beban yang cukup besar di pikirannya.