[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
39. Cerita masa lalu


__ADS_3

Karena kepalanya terlalu pusing untuk mencerna semua perkataan Izuna, Kana hanya mengangguk dan tidak baca berkomentar.


"Benar Izuna... Bisakah kamu mengambilkan ku obat yang ada di sana?" Kana kemudian menunjuk kesalah satu kotak obat yang tergantung di dinding.


"Tapi, Anda bilang jika UKS kehabisan stok obat?" Izuna bertanya dengan bingung.


"Ya, tapi itu obat lain. Sementara obat yang aku maksud adalah obat demam." kata Kana.


Izuna mengangguk dan kemudian berjalan mengambilnya. Dia mencari obat untuk flu dan setelah dia menemukannya, Izuna langsung membawanya ke Kana dengan segelas air ditangannya.


"Ini Sensei, silahkan."


"Um. Terimakasih." Kana meminum obat yang diberikan Izuna dan kemudian membaringkan tubuhnya lagi.


"Anda harus menjaga kesehatan anda Sensei..."


"Apa boleh buat jika sudah begini, kan?"


"Tapi tetap saja... Baiklah, istirahatlah disini, aku akan berbaring di sebelah. Jika butuh sesuatu, anda bisa memanggilku." Dengan perkataan itu, Izuna kemudian berbaring ditempat tidur yang ada di samping ranjang Kana dan memejamkan matanya kemudian.


_______


Ketika Izuna berbaring, dia tidak menyangka jika dirinya akan tertidur lelap.


Tapi, ketika dia terbangun, Izuna tidak menduga jika ada seseorang yang akan berdiri disampingnya ketika dia tidur.


"Kau sudah bangun, Miyamura-kun."


Izuna memandang Yui yang berdiri disampingnya, dan dia bisa menebak apa yang ingin dia lakukan untuk bertemu dengannya.


"Ah, Kotegawa-san. Ada apa kamu kemari?" Izuna mencoba untuk mengalihkan pembicaraan karena dia bisa melihat sebuah senyuman aneh teebentuk di sisi mulutnya.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin menjengukmu. Kudengar kamu sakit, apa kamu sudah baikan?" Yui menkipun dia sebelumnya ingin memberikan hukuman pada Izuna karena telah banyak sekali absen disekolah, tapi ketika dia mendengar jika Izuna sakit dan pergi ke UKS, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir padanya.


"Um, aku sudah mendingan, terimakasih karena telah mengkhawatirkanku." Izuna tersenyum tulus sambil matanya melihat lurus kearah Yui tanpa mengedipkan pandangannya.


Yui tersipu ketika melihat senyuman Izuna, pipinya memerah dan dia mengalihkan wajahnya kesamping kanan, "H-Hmph! Bukan berarti aku peduli padamu atau apa, a-aku hanya tidak mau ada siswa sekolah ini yang sakit!"


Ketika disaat seperti ini, Yui langsung menunjukkan sisi "tsun" dari dirinya kepada Izuna. Lagipula, dia terlalu malu untuk mengakui jika dirinya mengkhawatirkan kondisi Izuna saat ini.


Padahal, jika dia tau jika Izuna hanya berpura-pura sakit agar bisa membolos pelajaran, dia pasti akan melipatgandakan- Tidak, mungkin dia akan membuat hukuman Izuna menjadi berkali-kali lipat.


"Tapi, meski begitu aku senang kamu mengkhawatirkanku seperti itu." Izuna seperti biasa, dia selalu menunjukkan senyum untuk segala macam situasi.


Meskipun menurutnya, senyuman tidak bisa membuat segala situasi menjadi lebih baik, tapi senyuman bisa membuat mood seseorang menjadi sedikit membaik.


Padahal, itu tergantung pada senyuman yang diberikan, jika senyuman itu tulus sepenuh hati, itu baik. Tapi, jika itu senyuman mengejek, atau menyonbongkan diri, maka tidak diragukan lagi, itu pasti akann menimbulkan perasaan kesal dan marah pada orang itu.


Yui semakin tersipu, dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi dan kemudian langsung pergi dari UKS.


Izuna menatap punggung Yui dan hanya menggelengkan kepalanya tak berdaya. Dia kemudian menyadari sesuatu dan menoleh kesamping ranjangnya


"Sensei... Maaf, aku tidak memperhatikanmu sebelumnya, tapi, bagaimana kondisimu saat ini? Apakah sensei membutuhkanku lagi untuk melakukan sesuatu?" Izuna bertanya dengan khawatir.


Kana menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku baik-baik saja sekarang, dan terimakasih untuk sebelumnya."


"Tidak, aku juga kebetulan berada di tempat ini." kata Izuna sambil menggelengkan kepalanya. Adapun kenapa Kana berterimakasih, itu karena Izuna sebelumnya membantunya mengambilkaj obat demam yang membuat tubuhnya agak mendingan saat ini


"Ngomong-ngomong, sensei. Bagaimana anda bisa demam? Dan sepertinya meski demam anda tidak terlalu parah, tapi anda juga nampak kelelahan? Apa karena itu?" Izuna sebelumnya mengambilkan obat demam untuk Kana, dan sudah jelas jika Kana sedang mengalami demam, jika tidak kenapa dia menyuruhnya mengambilkan obat demam?


Lalu, Kana juga banyak berkeringat meskipun diruangan ini memiliki AC yang menyala, dan juga nafas Kana juga memburu, seperti seseorang yang baru saja lari maraton.


"Mungkin aku terlalu lelah bekerja... Akhir-akhir ini aku sering bekerja lembur, bahkan dirumah aku juga melakukan pekerjaan." Kana mengangguk dan menjelaskan sedikit kepada Izuna, dia juga tidak merasa salah dengan perkataan Izuna sejak dia selalu bekerja siang dan malam.

__ADS_1


Di rumahnya, dia juga harus meninjau kembali materi yang akan dia berikan kepada muridnya besok, dan dia juga mengecek satu-persatu tugas yang dia berikan sebenarnya kepada mereka.


Wajar jika Kana sakit, dia hampir tidak beristirahat akhir-akhir ini, dan terlalu sibuk bekerja.


"Hahhh... Sepertinya aku harus mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan." Kana menghela nafas sambil memejamkan matanya, berpikir jika mengambil cuti satu atau dua hari mungkin bukan keputusan yang buruk.


"Um, mungkin sensei bisa mengunjungi Ibuku? Dia sering bertanya kabar tentang anda, sensei. Dan dia juga mengkhawatirkan anda, takut jika anda mungkin melakukan kecerobohan saat bekerja." kata Izuna sambil tertawa kecil ketika mengingat perkataan Iori beberapa waktu yang lalu.


"Iori-san...." Kana menggerutu dengan suara rendah, merasa kesal karena menceritakan sisi buruknya pada Izuna. Tapi, dia tetap mengangguk pada Izuna setelah menghela nafas, "Aku akan mengunjunginya nanti."


"Bagus, aku akan mengatakan jika anda akan berkunjung, dia pasti akan suka."


"Aku tidak yakin dengan itu..." kata Kana dengan lelah.


"Ngomong-ngomong, apa anda telah mengenal Ibuku dari lama? Sepertinya hubungan kalian sangat dekat?" Izuna bertanya dengan penasaran. Untuk Iori bisa mengatakan beberapa sisi buruk Kana kepadanya, hubungan mereka jelas tidak hanya sekedar kenalan bukan?


Dan Kana juga hanya menggerutu ketika dia mendengar semua itu dari Izuna.


Kana memgambil nafas sejenak dan kemudian berkata, "Iya, Iori-san adalah teman sensei dulu, dan kami sudah berteman hingga bertahun-tahun..."


Kana mulai menceritakan cerita masa lalunya, tapi tentu saja ada beberapa bagian yang dia lewatkan.


Saat anak-anak, Kana dibesarkan di kota yang sama dengan Iori. Meskipun berbeda usia beberapa tahun, kedua gadis itu tetap berteman dekat selama bertahun-tahun.


Kana memiliki kepribadian yang jauh lebih pemalu dan pendiam saat remaja dan juga memakai kacamata. Awalnya ingin menjadi guru setelah sekolah menengah, dia merasa dia tidak cocok untuk itu berdasarkan sifatnya yang pemalu.


Selama liburan musim dingin tahun terakhirnya di sekolah menengah, Kana yang berusia 17 tahun secara tidak sengaja melemparkan dirinya ke sungai mencoba menyelamatkan seorang bocah lelaki berusia 11 tahun yang melompat dari jembatan saat dia lewat. Setelah meninggalkan air yang membeku, dia membawa anak laki-laki itu ke rumahnya di mana mereka membasuh diri di bak mandi bersama.


Setelah menjelaskan bagaimana dia percaya melompat akan membantunya tumbuh menjadi dewasa lebih cepat, anak laki-laki itu kemudian beralasan bahwa Kana mungkin bisa berbicara dengannya dengan nyaman karena dia melompat dari jembatan dan menjadi dewasa juga.


Setelah menyadari bahwa dia juga menumbuhkan rambut ******** pertamanya, bocah itu ingin melihat apakah Kana menumbuhkan rambut juga untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar menjadi dewasa.

__ADS_1


Enggan pada awalnya, dia memutuskan untuk melindungi mimpi anak laki-laki itu dengan secara singkat menunjukkan rambut *********** kepadanya. Kata-kata terakhirnya kepada Kana adalah bahwa dia senang dia mendapatkan keberanian untuk melompat meskipun takut.


Alasan anak laki-laki itu melekat padanya, menjadi kekuatan penuntun dalam mengembangkan metode pengajarannya yang berani namun intensif yang pada akhirnya akan memberinya label sebagai "Oni no Kojima".


__ADS_2