![[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna](https://asset.asean.biz.id/-drop--horimiya--miyamura-izuna.webp)
Sesaat setalah bertemu Izuna kemarin, Hakari berkata pada dirinya sendiri jika dia ingin pindah ke sekolah Izuna, dan ketika pulang, dia langsung memberitahukan hal itu kepada Ibunya.
Ibu Hakari cukup serius, dan jika diibaratkan kurang lebih sama seperti Ibu Asuna, tapi apakah Hakari akan berhenti sampai disitu saja?
Tentu saja tidak.
Dia membutuhkan waktu semalaman untuk bisa membujuk Ibunya agar membiarkannya pindah sekolah—dengan alasan jika sekolah yang saat ini tidak seperti yang dia bayangkan, dan dia juga kesulitan mendapatkan teman disekolah.
Dan setelah berbagai pertimbangan yang matang, Ibu Hakari pun mengizinkan Hakari untuk pindah keesokan harinya.
Sebenarnya pindah sekolah tidak semudah yang dilakukan Hakari, dan prosesnya juga cukup lama, tapi dengan kekuatan uang, Ibu Hakari bisa membuat Hakari pindah sekolah hanya dalam beberapa jam.
Hanazono sendiri adalah peringkat pertama keluarga paling kaya di Jepang, dan dikatakan jika kekayaan Ibu Hakari sendiri termasuk 10 besar tingkat dunia. Jadi tidak heran jika pengaruh Ibu Hakari begitu besar, dan dia bisa dengan mudab memindahkan putrinya ke sekolah lain.
_____
"Izuna-kun, lama tidak bertemu."
Begitu Hakari duduk di kursi belakang Izuna seperti yang dikatakan Chabashira-sensei, dia langsung menyapanya dengan tangannya yang mencolek punggung belakang Izuna.
"Ah, lebih tepatnya kita baru bertemu kemarin, Hakari-san..." Izuna tidak bisa berkata-kata, Hakari adalah gadis yang manis, dan dia harus mengakui itu. Tapi entah kenapa, dia merasa jika gadis ini bukan gadis sembarangan, dan hidupnya akan berubah drastis begitu dia lebih dekat dengannya.
"Hehe, itu benar, tapi satu hari itu sangat lama bagiku. Dan juga, kamu terlihat cukup berbeda ketika berada di sekolah?" Hakari tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangannya, dan kemudian melontarkan pertanyaan dengan ekspresi penasaran ketika dia memiringkan kepalanya kesamping ketika menatal Izuna.
"Itu hanya perasaanmu saja. Lebih penting lagi, kenapa kamu tiba-tiba pindah ke sekolah ini? Jika aku tidak salah, kamu sekolah di SMA Kataguri 'kan? Apa ada masalah dengan sekolah lamamu?" Izuna bertanya dengan bingung.
Ketika mereka bertukar ID WeChat, keduanya mulai bertukar pesan malam tadi, dan Hakari mengatakan jika dia berasal dari SMA Kataguri, yang berada di Meguro. Dan dia cukup bingung ketika Hakari tiba-tiba pindah ke Katagiri—tidak, yang lebih membuat dia bingung adalah, Hakari yang langsung pindah sehari setelah mereka bertemu.
Izuna akan percaya jika sebelumnya Hakari memutuskan untuk pindah sekolah ke Katagiri, tapi entah kenapa Izuna tidak yakin dengan pemikiran itu.
"Hehe, aku memang sengaja tidak memberitahukannya padamu agar bisa mengejutkanmu. Bagaimana? Apa kamu terkejut, Izuna-kun?" Hakari tersenyum main-main, dan dia menikmati ekspresi kebingungan Izuna yang menurutnya imut.
Dia tau jika dia mungkin telah terjatuh begitu dalam, dan mungkin tidak akan bisa kembali lagi, tapi siapa peduli?
Hakari menyadari jika mereka hanya bertemu satu kali sebelumnya, dan akan sangat aneh jika dia mengatakan jika dia menyukainya secara langsung. Karena itulah, dia berusaha mendekati Izuna dan membuka celah, dan sesekali menggunakan kesempatan yang dia dapatkan.
"Ya, kamu mengejutkanku disini." kata Izuna sambil memegangi keningnya, menghela nafas lelah, Izuna kemudian bertanya, "Tapi apakah tidak apa-apa jika kamu pindah seperti ini? Bagaimana dengan teman-teman disekolah lamamu?"
__ADS_1
Keputusan Hakari untuk pindah sekolah memang sangat mendadak, dan tidak heran jika Izuna bertanya tentang reaksi teman-teman Hakari disekolah lamanya.
Dia saja yanh baru bertemu Hakari sekali sangat terkejut denga keputusannya, lalu bagaimana dengan teman-temannya?
Apa mereka akan terkena serangan jantung?
"Ah, jangan khawatirkan soal hal itu. Mungkin teedengar aneh jika aku mengatakan hal ini tapi aku sebenarnya tidak punya banyak teman disekolah lamaku. Jadi tidak masalah jika aku memutuskan untuk pindah sekolah." Hakari mengingat kehidupannya disekolahnya yang lama, dia memang gadis cantik dan tubuhnya sangat diberkati dengan baik. Tapi tidak menjamin jika dia akan mempunyai banyak teman.
Apalagi ketika mereka tau jika Hakari adalah anak tunggal dari orang kaya nomor satu di Jepang dan nomor 10 didunia, seketika mereka mencoba membuatnya terkesan agar menguntungkan mereka dimasa depan.
Sifat manusia memang seperti itu, kebanyakan dari mereka umumnya akan melakukan apapun supaya mereka hidup dengan baik—tidak terkecuali jika mereka menjilat orang lain. Dengan begitu, meski harus mengorbankan harga dir mereka, setidaknya kehidupan mereka terjamin dan mereka tidak perlh bekerja terlalu keras dimasa depan nanti.
Tapi karena hal itu juga, Hakari dijauhi oleh teman-teman perempuannya. Dengan banyaknya laki-laki yang ingin dekat dengannya, membuat para gadis iri dan mengutuk keberadaannya.
Tapi apa yang bisa rakyat kecil seperti mereka lakukan?
Jawabannya adalah tidak ada!
Bagi keluarga monster seperti Hanazono, menyingkirkan keluarga kecil mereka seperti semudah membalikkan telapak tangan, dan dalam hitungan detik, keluarga mereka akan menghilang sepenuhnya dari dunia.
Memang terdengar berlebihan, tapi itulah faktanya.
"Bagitukah? Yah, aku tidak akan bertanya lebih banyak sekarang, dan yang lebih penting lagi, selamat datang di sekolah kami, semoga kamu betah disini." kata Izuna membalikkan badannya kebelakang, menatap Hakari dan merentangkan kedua tangannya kesamping sambil menatapnya dengan senyuman diwajahnya.
Hakari terkejut pada mulanya, tapi dia tersenyum sambil tertawa kecil, "Ya! Mulai sekarang, mohon bantuannya, Izuna-kun!"
"Hey Miyamura, jangan membuat gaduh ketika aku sedang menerangkan didepan, dan Hanazono, meski kamu murid baru disini, tapi jangan membuat ulah dihari pertamamu."
Sepertinya apa yang mereka lakukan telah mengganggu kelas, dan Chabashira-sensei langsung menegur keduanya. Izuna menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung dan menundukkan kepalanya.
"Maaf sensei..."
"Ya, baiklah. Jangan diulangi lagi."
______
Ketika jam istirahat makan siang berlangsung, meja Hakari langsung dikelilingi oleh banyak murid yang penasaran dengannya, mereka menanyakan berbagai pertanyaan yang membuat mereka penasaran dari tadi.
__ADS_1
"Hey, Hanazono-san, Apa kamu mengenal Miyamura-kun sebelumnya?"
"Benar, kalian cukup akrab dari yang kami lihat, apa kalian punya hubungan istimewa?"
"Bisakah kamu menceritakannya pada kami?"
Sementara para gadis bertanya tentang hubungannya dengan Izuna dengan mata berbinar dan penuh semangat, tapi mereka juga merasak iri pada Hakari karena dia cukup dekat dengan Izuna.
"A-Ah... Bagaimana aku harus mengatakannya ya...." Hakari cukup kebingungan saat ini, dia tidak tau harus melakukan apa pada semua murid yang mengelilinginya saat ini.
Mereka bahkan tidak memberinya kesempatan berbicara dan melontarkan berbagai pertanyaan kepadanya.
"Baiklah semua, mungkin sebaiknya kalian menahan semua pertanyaan itu. Lihatlah, Hanazono-san terlihat cukup kerepotan." Ryo, yang melihat situasi Hakari dengan cepat membantunya, membuat para murid yang mengelilingi mejanya untuk pergi dan membuat Hakari menghela nafas lega.
"Hahh.... Terimakasih telah membantuku. Aku cukup kerepotan disana tadi." kata Hakari sambil menghela nafas lega, tapi dia kecewa karena yang membantunya bukan Izuna melainkan orang lain.
"Ah, tidak. Aku hanya membantu karena melihatmu kerepotan." kata Ryo dengan santai
Matanya berkeliaran dan mencari sosok Izuna yang tidak ada di kursinya, dan tatapannya terhenti ketika melihat Izuna sedang duduk didepan seorang gadis yang sepertinya sedang kesal.
Sebuah pemikiran tiba-tiba melintas dalam benak Hakari, dan entah kenapa dia sedih ketika melihat pemandangan didepannya saat ini.
"Hanazono-san? Hanazono-san? Bisakah kamu mendengarku?" Ryo melambaikan tangannya didepan wajah Hakari begitu dia melihatnya mematung dan sepertinya sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"A-Ah, ya? Maaf, aku tidak fokus tadi." Hakari memaksakan senyumannya dan menatap Ryo dengan canggung, tapi matanya tidak bisa berhenti melirik Izuna yang saat ini sepertinya sedang membujuk seorang gadis disebelahnya.
"Hmm? Apa kamu cemburu?" Ryo bertanya sambil menyeringai. Begitu dia melihat tatapan Hakari pada Izuna sebelumnya, dia menyadari jika Hakari menyukai Izuna, dan lagi mereka sepertinya sudah saling mengenal sebelumnya.
Tapi, sepertinya Hakari menjadi tertekan begitu melihat Izuna yang berbicara dengan akrab dengan Asuna, dan dia bahkan membujuknya hingga membuat beberapa lelucon lucu untuk menyenangkan hatinya.
"... Apa maksudmu?" Hakari bertanya.
"Yah, tidak perlu seperti itu. Izuna memang akrab dengan Yuuki-san, dan banyak yang mengatakan jika mereka mungkin pacaran. Yah, itu hanya rumor saja, dan tidak perlu mempercayai hal itu. Tapi yang jelas, kamu tidak hanya punya satu saingan saat ini, dan jika kamu ingin mendapatkannya, maka kamu harus berjuang keras." kata Ryo, dia menunggu Hakari mencerma perkataannya dan melanjutkan, "Ngomong-ngomong, namaku Igarashi Ryo, salam kenal."
"Hanazono Hakari, senang berkenalan denganmu." kata Hakari, dia kemudian terpikirkan perkataan Ryo barusan dan memikirkannya untuk beberapa saat dan kemudian bertanya, "Ngomong-ngomong, bisakah aku tau siapa saja sainganku disini?"
"Hmm, kamu akan tau ketika melihatnya sendiri. Baiklah, sampai nanti." kata Ryo dengan misterius dan kemudian melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Hakari.
__ADS_1
"Izuna, aku akan ke kantin duluan!"
"Oh, oke."