![[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna](https://asset.asean.biz.id/-drop--horimiya--miyamura-izuna.webp)
"Tidak, hanya saja aku merasa jika kamu tidak benar-benar mencintainya ..."
"Apa maksudmu?!" Kaori mengerutkan keningnya dan bertanya dengan nada menuntut.
"Bolehkan aku mengatakan yang sebenarnya?" Izuna bertanya, tapi, alih-alih menatap Kaori, dia malah mematap kearah Shizuku, seolah-olah dia memang menanyakan itu padanya.
Sambil menghela nafas panjang, Shizuku berkata dan bertanya, "Sebenarnya aku tidak ingin membahas ini, tapi karena kamu telah mengatakannya, bagaimana jika kita pergi ke tempat yang lebih enak untuk berbicara?"
Tempat mereka berbicara saat ini tepat berada di depan minimarket tempat Izuna membeli minuman tadi, itulah mengapa Shizuku menyarankan pada mereka untuk pergi ke tempat lain, karena akan sangat tidak baik jika ada orang yang melihat mereka berbicara disana.
"Baiklah. Ada sebuah kafe tak jauh dari sini, kita bisa pergi ke sana sekarang." kata Kaori. Tapi, berbeda dengan suaranya yang polos dan halusnya yang biasa, sekarang dia seperti terbakar oleh amarah karena setiap kata yang keluar dari mulutnya terdapat emosi yang kuat.
"Tentu, lagipula tidak enak jika berbicara disini." Izuna juga mengangguk setuju.
_______
"Baiklah, pertama bisakah aku tahu bagaimana kalian pertama kalian bertemu?"
Di sebuah kafe, Izuna duduk disalah satu meja dengan Kaori dan Shizuku duduk didepannya. Dia mula-mula bertanya pada mereka bagaimana pertamakali mereka bertemu (Kaori & Hajime).
"Saat itu aku masih kelas 2 SMP. Saat pertamakali aku melihat Nagumo-kun demi seorang anak kecil dan neneknya." Kaori meletakkan tangannya ditengah dadanya, sambil memasang tatapan mengenang diwajahnya.
"Didepanku yang takut dan tidak bisa melakukan apapun, dia bersujud. Saat dia dia tidak jauh berbeda dari sekarang, dia tidaklah kuat dan tidak bisa beladiri seperti Kouki-kun ataupun Ryuutaro-kun."
"Orang kuat bisa menyelesaikan masalah dengan kekerasan 'kan. Tapi orang lemah memiliki keberanian bertarung." Kaori memikiki senyuman kecil ketika dia mengatakan itu.
"Orang yang mau menundukkan kepalanya demi orang lain, sangatlah jarang menurutku. Sejak saat itu, aku selalu memperhatikan Nagumo-kun." Kaori kemudian menyatukan kedua tangannya didepan dadanya, sambil memejamkan matanya dan sedikit menundukkan matanya.
Izuna dan Shizuku disisi lain saling memandang, dan ketika tatapan mereka bertemu, mereka memikirkan satu kata yang sama dibenak mereka.
'Penguntit...'
Setelah beberapa saat, Kaori membuka matanya, menatap Izuna dengan tatapan yang mengatakan ''Hebat bukan?".
Izuna disisi lain tidak terpengaruh oleh provokasi Kaori, dan malah menanyakan hal lain.
__ADS_1
"Benar, kamu juga mengatakan hal itu padaku juga saat itu." Kata Shizuku sambil mengangguk paham.
"Benar kan?" Mata Kaori berbinar ketika mendengar perkataan Shizuku.
Tapi meski begitu, Izuna hanya menghela nafas pada keduanya yang saling tertawa kecil ketika mengingat membahas saat-saat itu.
"Dan, apakah sebelum bertemu Hajime, kamu pernah atau memang dekat dengan orang lain saat itu. Ah, tentunya Amanogawa dan Sakagami dikecualikan." Izuna bertanya, sebenarnya ini merupakan apa yang ditebak olehnya.
Tidak mungkin bagi pria lain untuk bisa dekat dengan Kaori ketika Kouki sering berada didekatnya.
Pria umumnya akan merasa rendah ketika mengetahui jika orang yang ditaksir mereka memiliki satu atau dua hal yang tidak mereka miliki.
Entah itu kekayaan, sifat, karakter, ataupun teman. Itu merupakan hal yang berpengaruh bagi mereka.
Dan ketika mereka tau jika Kouki, yang merupakan pria tampan dan populer adalah sahabat Kaori, mereka umumnya akan menjauh, dan hanya bisa mengagumi sosoknya dari jauh.
Aneh, tapi itulah kenyataannya.
"Hm, tidak. Aku hanya dekat dengan Kouki-kun dan Ryuutaro-kun saja, dan bahkan tidak ada pria lain selan mereka yang dekat denganku." Kata Kaori sambil memiringkan kepalanya dengan bingung.
"Maksudmu?" Kaori bertanya dengan bingung.
Tentunya, untuk gadis seperti Kaori yang tidak mengenal apa yang disebut sebagai cinta, dan sebagai gantinya, dia salah mengartikan apa yang dirasakannya saat itu adalah sebuah cinta.
"Kamu mengatakan jika kamu kagum pada Hajime, yang saat itu rela menundukkan kepalanya untuk orang lain, ketika disisi lain, kamu tidak bisa membantu anak itu beserta neneknya bukan?" Kata Izuna, ketika melihat Kaori mengangguk dengsn serius, dia melanjutkan, "sebenarnya, apa yang kaju rasakan tidak lebih sekedar dari kekaguman belaka."
"Apa maksudmu?" Kaori bertanya sambil mengerutkan keningnya dengan dalam.
"Itu wajar bagimu untuk menganggap perasaan itu sebagai sebuah cinta, tapi apakah kamu tau apa cinta itu sebenarnya?"
"Cinta adalah suatu emosi dari afeksi yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang." kata Kaori dengan puas karena jawabannya.
"Cinta bisa tumbuh di hati seseorang tanpa dugaan, tanpa rencana dan tanpa tahu alasan apa yang membuat cinta itu tumbuh. Tapi apakah itu benar cinta atau hanya kagum adalah hal yang lain." Kata Izuna dengan tenang.
"Lalu, apa cinta itu menurut mu?" Shizuku bertanya dengan senyuman kecil diwajahnya.
__ADS_1
Baginya, tidak peduli siapa yang dicintai sahabatnya itu, asalkan orang itu adalah orang yang baik dan bisa mencintainya kembali, itu saja.
Tapi, dia juga tertarik dengan pandangan Izuna mengenai cinta, dan mungkin ini aneg bagi gadis untuk membahas cinta dengan lawan jenisnya, tapi entah mengapa Shizku merasa jawaban Izuna mungkin akan menarik.
"Apa yang dikatakan Shirasaki-san barusan tidaklah salah. Tapi biarkan aku menjelaskan beberapa hal.
Pertama, cinta akan membuat obsesi untuk memiliki, kagum ingin mencari tahu lebih dalam Kalau kamu tidak tertarik dengan seseorang. Kedua, cinta mudah pudar, dan rasa kagum buat penasaran. Ketiga, Perasaan cinta bisa membuatmu memberi segalanya, kagum tidak selalu begitu." Kata Izuna, dia diam beberapa saat untuk memberi waktu kedua gadis itu mencerma perkataannya, dan setelah beberapa saat, dia melanjutkan, "jadi, apakah kamu mengerti apa perbedaan cinta dan kagum?"
"Jika yang aku lihat, apa yang kamu rasakan hanyalah perasaan kagum semata, kenapa? Mudah saja, kamu tidak memiliki obsesi untuk memiliki Hajime, dan hanya mencari tahu tentang dirinya saja.
Kedua, aku yakin jika kamu penasaran dengan Haijme bukan? Jika tidak, kamu tidak mungkin mencaritahu tentang dirinya hingga rela membeli manga dan menonton anime kesukaannya.
Dan ketiga, apakah kamu rela kehilangan segalanya untuk Hajime? Aku yakin tidak. Mengapa? Mudah saja.
Perasaanmu pada Hajime hanyalah sebatas Kekaguman semata, dan meski rasa kagum bisa membuatmu memberi semua yang kamu punya, tapi kamu kamu tidak mungkin rela kehilangan semua yang kamu miliki. Itu faktanya."
Apa alasan Izuna mengatakannya itu semua? Itu semua tidak lepas karena dia peduli dengan keduanya.
Haijme tidak ingin Kaori terlalu dekat dengannya karena itu akan membuat masalah untuknya.
Sementara Kaori, dia penasaran dengan Hajime, karena dia merasa Hajime berbeda dari orang yang dia kenal sebelum-sebelumnya.
"Kaori ... Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Aku aka tetap mendukungmu apapun pilihanmu."
Melihat temannya yang menundukkan kepalanya dan sepertinya sedang merenung keras, Shizuku yang prihatin memeganh pundak Kaori dengan lembut sambil menyandarkan kepala Kaori dibahunya.
"Ya, maaf jika aku terlalu berlebihan, tapi semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikan kalian berdua. Aku tidak ingin kalian terluka karena salah memilih keputusan, dan yang aku katakan tadi agar kamu bisa memikirkannya lagi, apakah perasaanmu itu cinta, atau memang hanya kagum saja." Kata Izuna dengan tenang, dia juga sebenarnya tidak tega membuat perasaan seorang gadis menjadi bimbang, tapi apa boleh buat?
"... Aku mengerti."
Setelah diam selama beberapa menit, Kaori berdiri dan menatap Izuna dengan penuh tekad.
"Aku akan memikirkan semuanya dengan perlahan, apakah ini memang cinta atau bukan. Tapi yang pasti, aku tidak akan menyakiti Nagumo-kun, kamu bisa yakin dengan itu."
"Baiklah, aku percaya." Izuna tersenyum kecil, dan ketika dia melihat jam di dinding kafe, dia langsung berdiri dan berkata, "baiklah, sepertinya sudah saatnya aku kembali. Kita bertemu lagi lain waktu."
__ADS_1
"Ya, terimakasih, Miyamura-san." Shizuku juga berdiri dan memasang senyum kecil diwajahnya.