[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
61. Pertemuan mereka (1)


__ADS_3

Sabtu.


Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu. Izuna, saat ini sedang berada di kamarnya, berdiri didepan cermin besar dan sedang melihat dirinya yanh dipantulkan oleh cermin sedemikian rupa.


Izuna suka mengenakan pakaian santai, dan dia juga tidak mengenakan pakaian yang berlebihan saat ini. Seperti biasanya, Izuna hanya mengenakan kemeja putih yang dilapisi oleh jaket kulit dengan celana jeans dan sepatu kets cokelat.


Rambutnya ditata dengan rapi, tidak seperti biasanya yang mana rambut depannya hampir menutupi keningnya, saat ini Izuna menyapunya kesampinh belakang dan membuat dahinya terbuka dengan hanya beberapa helai rambut yang jatuh diatasnya.


Penampilan Izuna saat ini juga tidak memungkinkannya menyembunyikan tindikan yang ditelinganya, dan dia juga senagaja tidak menyembunyikannya saat ini. Dia tidak melepas tindik yang dia pasang ditelinganya sebelumnya dan membiarkannya begitu saja.


Bisa terlihat juga, Izuna mengenakan sebuah kalung rantai kecil yang tergantung di lehernya. Membuat penampilannya cukup liar saat ini, tapi bukannya membuat penampilannya nampak buruk, melainkan menambah pesonanya ketingkat tertentu yang tidak bisa dijelaskan.


"Kupikir sudah waktunya." Izuna bergumam pelan ketika dia melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangannya—menunjukkan jika saat ini sudah hampir waktunya untuk pergi.


Izuna berjalan keluar dari kamarnya, dan yang pertamakali dia lihat adalah Sayu yang sedang duduk di sofa yang ada diruang tamu—menunggunya dan sepertinya sedang gugup karena jarinya yang diletakkan diatas pahanya mengetuk beberapa kali, dia juga nampak gelisah dan matanya berkeliaran kemana-mana.


"Ada apa, Sayu? Kau sepertinya terlihat gelisah?" Izuna bertanya sambil berjalan mendekati Sayu. Hanya ada mereka berdua saat ini, karena Iori sudah pergi ke toko dengan Izumi yang membantunya.


Izuna sebelumnnya sudah mengatakan jika dia akan membawa Sayu pergi pada akhir pekan, dan Iori juga tidak terlalu keberatan karena ada Izumi yang bisa menggantikan Sayu.


"Ugh, aku sangat gugup saat ini ... A-Apakah ini akan baik-baik saja ...?" Sayu bertanya dengan nada gelisah nya ketika dia menghampiri Izuna yang baru saja keluar dari kamarnya.


Izuna hanya tersenyum sambil menepuk kepala Sayu dan mengelusnya pelan, memainkan rambutnya sebelum akhirnya tangannya mendarat di pipinya dan memegang dagunya, mengangkat kepalanya dan segera memberinya ciuman singkat di bibirnya.


"Tidak perlu khawatir. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Lagipula, mereka juga ingin bertemu denganmu, dan aku rasa kalian akan akrab dengan cepat satu sama lain." kata Izuna sambil membawa Sayu kedalam pelukannya.


Sayu menyandarkan kepalanya di dada Izuna, mendengarkan detak jantung Izuna yang membuatnya lebih tenang sebelum akhirnya mengangguk pelan.


"Jika kau berkata seperti itu, maka aku akan percaya."


Izuna tidak pernah berbohong padanya, dan apa yang dilakukan Izuna semuanya adalah demi kebaikannya.

__ADS_1


Tak jarang, Izuna memarahi Sayu dan menegurnya meskipun Sayu satu tahun lebih tua darinya. Tapi, bukannya kesal ataupun marah ketika Izuna menegurnya, Sayu malah merasa senang dengan itu.


Sayu selalu melakukan semuanya sendiri. Dia juga selalu lari dari masalahnya, menghindarinya dan tidak ingin menghadapinya secara langsung. Dan karena itu, Sayu hampir tidak memiliki orang yang bisa dia andalkan, orang yang bisa meminjamkan bahu untuk ia bersandar, orang yang selalu ada ketika dia butuh bantuan. Dengan semua itu, Sayu mengembangkan sisi dimana dia menutupi semua emosinya, memasang senyuman palsu yang selama ini ia gunakan.


Dia sudah terbiasa dengan senyuman palsu yang ia gunakan selama ini. Pada saat dia bertemu Izuna pertamakali, apa yang ada dipikirannya mungkin Izuna akan memanfaatkannya dan hanya menginginkan tubuhnya saja.


Tapi, ia tidak peduli dengan hal itu. Menanggung resiko dan mengikuti Izuna pergi ke Apartemennya.


Dan saat itulah hidupnya mulai berubah.


Iori selalu mengandalkan untuk membantunya di Toko. Izuna mengandalkannya untuk membuat makanan yang enak untuk dia makan.


Dan perasaan diandalkan orang lain ini membuat Sayu senang, dan tanpa sadar dia mulai terbiasa dengan semua ini dan menyembunyikan kesedihannya dan menguncinya rapat jauh di lubuk hatinya.


Yang Sayu inginkan hanyalah hidup dengan mudah, dan perasaan diandalkan oleh orang lain adalah hal yang baru baginya karena itu dia menyukainya.


Tapi, dia merindukan seseorang untuk memarahinya dan menyuruh nya untuk berhenti berlari. Dan, melalui bantuan Izuna dan Iori (yang tidak secara langsung), dia saat ini telah menerima dirinya sendiri dan memutuskan bahwa dia harus menghadapi kenyataan; untuk kembali ke rumah.


"Nah, jika kau sudah siap maka kita pergi sekarang."


______


Asuna diam-diam menyelinap keluar dari rumahnya saat ini. Mungkin tidak ada yang tahu, tapi dia sudah melakukan hal ini beberapa kali sebelumnya.


Nah, jika itu dia sebelum bertemu Izuna, maka Asuna tidak akan berani melakukan hal seperti ini. Tapi, seperti Sayu yang berubah, Asuna juga berubah seiring dia bersama dengan Izuna.


"Yosh! Saatnya pergi!"


_________


Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Asuna, Hakari juga pergi dari rumah secara diam-diam . Nah, mungkin kata 'diam-diam' akan salah untuk saat ini karena Hakari mengatakan jika dia akan belajar bersama dengan teman-temannya di perpustakaan.

__ADS_1


Tapi, alih-alih pergi ke perpustakaan untuk belajar, dia sebenarnya akan pergi ke taman bermain untuk kencan. Dan, bukan kencan biasa, tapi kencan yang tidak biasa mengingat dia berkencan dengan laki-laki yang juga berkencan dengan gadis lain disamping dirinya.


Nah, meskipun kencan pertamanya tidak seperti yang dia harapkan, tapi dia tetap menantikan kencan hari ini. Karena itulah, dia sudah berdandan dan mengenakan pakaian yang bagus.


Ah, tentunya dia tidak mengenakan pakaian ini sejak dari rumah, melainkan dia membawa pakaian yang ia kenakan ini dan memasukkannya kedalam tasnya sebelum akhirnya dia pergi ke toko pakaian untuk mengganti pakaiannya disana.


Dan setelah selesai, dia baru pergi ke tempat dimana mereka janjian sambil mengenakan masker, kacamata hitam dan topi untuk menutupi identitasnya.


_________


"Pagi, Izuna-kun. Bagaimana penampilanku?" Diiringi oleh suara cerianya yang seperti biasa, Hakari bertanya pada Izuna sambil mengedipkan matanya.


Izuna memandang Hakari dari atas kepalanya dan turun ke bawah kakinya. Dan apa yang ada dipikirannya hanya ada satu saat itu.


Cantik.


Hanya itu yang bisa dipikirkan Izuna saat melihat Hakari. Tapi, dia tidak melihatnya terlalu lama karena dia bisa merasakan tatapan Sayu kepadanya yang mulai mengganggunya.


Sebagai gantinya, Izuna tersenyum kearah Hakari ketika dia mulai menyapanya.


"Pagi juga untukm, Hakari. Kamu terlihat cantik dengan pakaian itu." Izuna mulai dengan memuji penampilannya.


"Hehe, aku senang mendengarnya." Hakari mulai tersenyum ketika sedikit rona merah menghiasi pipinya. Tapi, semua itu dengan cepat digantikan oleh keterkejutan ketika dia menyadari ada orang lain yang berdiri disebelah Izuna—sambil melingkarkan tangannya di lengan Izuna, nampak sangat dekat.


Hakari bertanya-tanya, apakah penglihatannya menjadi berkurang akhir-akhir ini? Bagaimana mungkin dia tidak menyadari ada gadis setinggi 1,5 meter lebih disebelah Izuna dan dia tidak menyadarinya?!


Yah, mungkin alasan satu-satunya yang bisa menjelaskan hal itu adalah karena pesona Izuna sangat kuat; bahkan lebih kuat lagi ketika melibatkan Hakari.


Jika diibaratkan, pesona Izuna memiliki angka 8/10, tapi, pesonanya meningkat 5× lipat jika yang melihatnya adalah Hakari.


Hal itu menunjukkan seberapa besar perasaan yang dia miliki pada Izuna, dan tentu saja hanya Izuna dan Izuna saja yang ada dipikirannya.

__ADS_1


__ADS_2