![[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna](https://asset.asean.biz.id/-drop--horimiya--miyamura-izuna.webp)
"Jadi, Hakari-san ini adalah Yuuki Asuna, dan Yuuki-san, ini adalah Hanazono Hakari. Aku harap kalian bisa akrab satu sama lain." Izuna sebelumnya memanggil Hakari untuk mendekat, dan dia memperkenalkan dia pada Asuna, dan berharap jika mereka mungkin aka cocok satu sama lain.
Ada yang mengatakan jika orang yang merasakan hal yang sama akan lebih mudah akrab satu sama lain. Dan baik Hakari atau Asuna keduanya tidak jauh berbeda.
Jika Asuna dijodohkan oleh pria yabg tidak disukainya dan hidupnya yang diatur oleh Ibunya, Hakari juga tidak jauh berbeda dengan Asuna.
Sejak kecil, Hakari selalu sendirian dan dia juga tidak punya banyak teman. Lalu, Ibunya juga memiliki sifat yang dingin karena masa lalunya. Dan soal Ayahnya? Yang dia tau, Ayahnya telah meninggal jauh sebelum dia lahir.
Mungkin itu yang menjadi penyebab Ibunya bersikap dingin dan tegas. Tapi dia juga tidak tau pasti, karena dia tidak pernah menanyakan hal itu pada Ibunya dan dia tidak berani menanyakannya.
"Salam kenal." Keduanya menjabat tangan satu sama lain, dan ketika tatapan mereka bertemu, keduanya memikirkan hal yang sama.
'Dia saingan yang berat.'
Izuna tidak menyadari, tapi Hakari dan Asuna memiliki percikan listrik diantara tatapan mereka, dan meski mereka saling tersenyum satu sama lain, senyuman mereka memiliki arti yang berbeda.
"Bagus. Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi ke kantin sekarang? Kamu juga ikut 'kan, Hakari-san?" Tidak menyadari konfrontasi antara keduanya, Izuna bersikap seperti dia biasanya dan mengajak mereka untuk pergi ke kantin bersama.
Izuna tidak memahami sepenuhnya hati wanita dan juga pemikiran mereka. Ada kalanya wanita berkata "A", tapi mereka menginginkan "B", dan kadang ketika mereka berkata "A", mereka menginginkan "A" atau malah "C".
Itulah yang dimaksud Izuna. Hati wanita tidak bisa ditebak, dan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Karena itu, Izuna tidak ingin membuang-buang waktunya untuk mengerti hati wanita. Hanya dengan memahami apa yang mereka suka dan inginkan, itu sudah cukup menurutnya.
"Tunggu!"
Ketika Izuna hendak berjalan menuju kantin, Asuna tiba-tiba menghentikan langkahnya denvan menarik ujung kemejanya.
"Hmm?" Izuna berbalik, menatap Asuna dengan bingung.
Sambil menundukkan kepalanya, Asuna berkata dengan suara rendah, "Panggil aku Asuna..."
"Maaf?"
"Aku bilang, panggil aku Asuna mulai sekarang! Kamu memanggil Hanazono-san dengan nama depannya, tapi kamu masih memanggilku dengan nama keluargaku. Itu tidak adil!" Asuna mendongak, menatal Izuna dengan lurus dan sepertinya menuntut apa yang dia katakan untuk dilakukan Izuna.
"Ah, begitu..." Izuna sekarang mengerti apa masalahnya. Sepertinya Asuna iri dan cemburu pada Hakari karena Izuna memanggil Hakari dengan namanya, sementara dia masih memanggil Asuna dengan nama keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku akan memanggilmu Asuna mulai sekarang. Bagaimana, apa kamu puas?" kata Izuna sambil tersenyum kearahnya. Jujur saja, ini adalah kali pertamanya dia melihat Asuna yang menuntut, dan Asuna yanh seperti ini tidak buruk juga.
"Hmm, bagus jika kamu mengerti."
Asuna memalingkan wajahnya, sedikit rona merah menghiasi pipinya, dan dia berteriak dalam benaknya saat Izuna dengan begitu santainya mengucapkan namanya tanpa rasa malu sekalipun.
Di Jepang, umumnya seseorang memanggil orang lain dengan nama keluarganya jika mereka baru kenal/tidak akrab. Sementara orang yang sudah akrab akan memanggil dengan menggunakan nama depan mereka.
Dan tentunya, hal itu cukup memalukan bagi sebagian orang. Memanggil dengan nama depan bisa dikatakan jika mereka sudab akrab satu sama lain, dan hubungan mereka cukup dekat hingga bisa disebut lebih dari sekedar teman.
Karena itu, Asuna cukup kesal melihat Izuna yang dengan santainya memanggilnya dengan nama depannya tanpa malu dan ragu sedikitpun.
'Apa.karena dia sudah terbiasa?'
Mungkin jika Izuna sudah terbiasa melakukan itu, akan menjadi wajar bagi Asuna. Tapi yang dia tau, dia tidak pernah memanggil seseorang dengan nama depannya, kecuali Ryo.
Berbeda dengan pemikiran Asuna, Izuna sendiri tidak terlalu mempermasalahkan tentang memanggil nama satu sama lain. Dan dia memanggil seseorang dengan nama keluarganya hanya untuk formalitas saja.
Jika bisa, dia ingin memanggil nama depan mereka semua, tapi karena ini suda menjadi kebiasaan di Negara ini, maka dia menghormatinya dengan mengikuti kebiasaan mereka.
Bagaimanapun juga, dia sudah menjadi bagian dari Negara dan Dunia ini, jadi sudah wajar baginya untuk mengikuti aturan, hukum, dan juga semua hal yang menjadi kebiasaan di Negara ini.
"Baiklah, jangan terlalu banyak berpikir, ayo kita pergi."
Melihat Asuna yang terlarut dalam pikirannya, Izuna langsung menarik tangannya dan tangannya yang lain menarik tangan Hakari, dan membuat mereka berjalan disebelahnya.
Dengan dua gadis yang berjalan dimasing-masing sisi tubuhnya, Izuna mendapatkan banyak perhatian ketika mereka berjalan di koridor sekolah.
Meski ini bukan kali pertama Izuna mendapatkan tatapan ini, tapi tatapan mereka saat ini menajdi lebih menyeramkan entah kenapa. Dan tatapan mereka sepertinya dipenuhi oleh kebencian, rasa iri, dan banyak lagi.
'Dasar masa pubertas....'
Izuna hanya menggelengkan kepalanya dalam benaknya ketika menyadari apa yang ada dipikiran mereka semua.
Dan akhirnya, Izuna mengabaikan tatapan yang diarahkan kepadanya, dan berjalan menuju kantin dengan Asuna dan Hakari disisinya.
__ADS_1
_______
"Jadi, bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Asuna bertanya dengan penasaran. Melihat Izuna dan Hakari yang sepertinya cukup dekat untuk bisa saling memanggil nama depan satu sama lain, benar-benar membuatnya cemburu entah kenapa.
Karena itu dia penasaran bagaimana keduanya bisa saling mengenal. Jika mereka sudah saling mengenal sejak lama, itu akan menjadi wajar jika mereka saling menggunakan nama depan untuk memanggil satu sama lain. Tapi jika tidak?
Tapi, meskipun Izuna dan Hakari memanggil nama depan satu sama lain, mereka tetap menggunakan akhiran '-san' dibelakang nama mereka.
Seperti Hakari yang memanggil Izuna dengan 'Izuna-kun' seperti panggilan Sayu, dan Izuna yang memanggil Hakari dengan 'Hakari-san'.
"Hmm, sebenarnya kami baru bertemu kemarin, dan pertemuan kami benar-benar tidak sengaja. Kemudian kami saling berkenalan dan sisanya seperti yang bisa kamu lihat sekarang." kata Izuna sambil memasukkan onigiri kedalam mulutnya, dan mengunyahnya denga pelan sebelum akhirnya menelannya.
"Um, um, itu benar." Hakari mengangguk dengan pernyataan Izuna, dia juga memesan makanan yang sama seperti Izuna, satu porsi Onigiri untik satu orang, dimana satu porsinya berisi 4 Onigiri yang bisa mereka nikmati.
"Begitukah?" Asuna bertanya dengan ragu, mengerutkan keningnya, dia menatap Izuna, seperti dia sedang melihat apakah dia sedang berbohong atau tidak.
Tapi, dia tidak menemukan apa-apa, yang berarti apa yang dikatakan Izuna semuanya benar, yang membuatnya menghela nafas lelah.
"Aku tidak tau apa yang kalian sembunyikan dariku, tapi yang pasti, aku tau kalian sedang menyembunyikan sesuatu yang besar!" kata Asuna dengan cemberut, ketika dia memalingkan wajahnya kesamping sambil menyilangkan tangannya dibawah dadanya.
"Fufu, apakah kamu cemburu, Yuuki-san?" Hakari bertanya sambil menyeringai pada Asuna, mencoba menggodanya.
"Hah?! Siapa yang cemburu?! Aku tidak cemburu sama sekali!" Asuna membantah dengan keras, sambil wajahnya yang menatao Hakari dengan kesal. Tapi, pipinya sedikit memerah ketika dia mengatakan itu semua.
"Hoh? Benarkah?"
"Baiklah kalian, hentikan disana." Melihat keduanya yang sepertinya akan berdebat lebih jauh, Izuna segera menghentikan keduanya, dan berkata pada Asuna, "Apa yang aku katakan semuanya benar, Asuna. Hanya saja aku melewatkan beberapa detail disana. Tapi yang bisa yakini adalah, aku tidak berbohong."
Izuna telah melakukan banyak hal untuk bisa membuat Asuna lebih terbuka padanya, dan jika dia membuatnya salah paham disini, dan berakhir dengan Asuna marah dan kesal, maka semua usahanya selama ini akan sia-sia.
Meski mereka tida memiliki hubungan khusus, tapi Izuna telah menganggap Asuna lebih dari sekedar teman sekelasnya. Jika dikatakan, status Asuna bagi Izuna diatas teman dan dibawah sahabat.
"Hmph!" Asuna hanya mendengus dan mengabaikannya. Tapi dia menghela nafas lega ketika melihat Izuna sepertinya tidak berbohong, dan kembali duduk dengan tenang.
Ngomong-ngomong, mereka duduk meja kecil dengan 4 kursi, dimana Hakari dan Asuna duduk saling berhadapan dengan Izuna yang duduk diantara mereka.
__ADS_1
_____
A/N: Aku mau tanya sama kalian semua yang baca ini, kalian lebik suka fanfic ini update setiap hari dengan 1k-1,5k kata atau beberapa hari sekali tapi 3k kata?