[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
54. Semanggi berdaun empat (2/3)


__ADS_3

"Hmm? Apa yang mereka lakukan disana?"


Izuna menatap dari jendela dua gadis yang sedang membungkukkan badan mereka kebawah, dan sepertinya sedang mencari sesuatu diantara semanggi di halaman belakang.


Ketika Izuna hendak kembali ke kelasnya, dia tiba-tiba ingin ke toilet, jadi dia mengambil jalan memutar untuk ke toilet. Tapi, siapa sangka jika ketika dia berjalan di lorong yang mengarah ke halaman belakang, dia akan melihat Asuna dan Hakari yang sepertinya sedang mencari sesuatu diantara semanggi di halaman belakang.


"Apa mereka mencari sesuatu? Tapi apa?" Izuna memegang dagunya dan berpikir, mencoba mengingat semua yang terjadi beberapa saat yang lalu.


Tapi, karena Izuna saat itu tidak berada di tempat kejadian, dia tidak tahu jika Asuna dan Hakari tidak sengaja mendengar tentang legenda semanggi berdaun empat yang populer diantara gadis di sekolah ini.


"Oh, Izuna? Apa yang kau lakukan disini?"


Mendengar namanya dipanggil, Izuna membalikkan tubuhnya dan menarap remaja yang memanggil namanya.


"Ryo? Aku hanya tidak sengaja melihat mereka berdua disana." kata Izuna sambil menunjuk Asuna dan Hakari yang ada di luar, dia kemudian bertanya, "ngomong-ngomong, kenapa kau berada di sini?"


Ryo mendekat kearah jendela, menatap Asuna dan Hakari dengan heran sebelum ekspresinya berubah jadi "Ohh".


"Apa kau tahu sesuatu?" Izuna bertanya sambil memiringkan kepalanya dengan bingung.


Melihat keduanya, dia mereka buruk bagi mereka jika tetap mencari sesuatu seperti itu. Bukan apa, tapi paha dan kaki mereka bisa dilihat dengan jelas karena rok pendek yang mereka kenakan hampir terangkat sepenuhnya. Bahkan, jika seseorang lebih dekat lagi, mereka akan bisa melihat c.e.l.a.n.a d.a.l.a.m mereka berdua saat ini.


"Apa mereka mungkin sedang mencari semanggi berdaun empat?" Ryo menatap Izuna dan bertanya dengan tatapan bertanya.


"Semanggi berdaun empat? Untuk apa? Keberuntungan?"


"Tidak, tidak, apa kau tidak tahu tentang hal itu?" kata Ryo.


"Tentang apa?" Izuna bertanya dengan tanda tanya diatas kepalanya.


"Itu, legenda semanggi berdaun empat yang populer disekolah ini." kata Ryo.


"Tidak. Memangnya kenapa dengan legenda itu?"


"Ehem, biar aku jelaskan." Ryo mengangkat jarinya dan menatap Izuna dengan serius, "dikatakan, jika seseorang menyatakan cinta sambil memberikan semanggi berdaun empat yang dipetik di halaman sekolah, maka pengakuan mereka akan diterima. Begitulah legenda yang tersebar di sekolah ini selama bertahun-tahun."


"Tidak, tidak, tidak, bukankah itu hanya mitos saja? Sungguh, kau benar-benar percaya dengan cerita itu?" Izuna tidak percata pada sebuah takhayul, dan itu sudah sejak dulu.

__ADS_1


Dia memang mengalami hal gila yang berupa reinkarnasi dan kehidupan kembali, tapi bukan berarti dia akan mempercayainya begitu saja semua mitos dan takhayul yang berkembang di masyarakat.


Jika seseorang ingin pengakuan mereka diterima, menurutnya orang itu harus memberikan kesan yang baik pada orang yang mereka akui.


Jika ada orang dengan penampilan buruk yang memberikan kesan buruk, mengaku pada seseorang sambil memberikan semanggi berdaun empat, apa orang itu akan diterima?


Jelas tidak bukan?!


Itulah yang dimaksud Izuna. Kata orang, cinta berasal dari mata dan turun ke hati.


Orang akan jatuh cinta dengan apa yang mereka anggap cantik, tidak peduli itu pria ataupun wanita, keduanya sama saja.


Perempuan, jika mereka melihat laki-laki tampan, mereka akan tertarik dengan laki-laki itu bukan? Jika tidak, kenapa banyak perempuan suka dengan boyband Korea yang memiliki wajah tampan? Begitupun dengan laki-laki. Mereka secara alami akan tertarik dengan wanita cantik.


Mungkin ada yang mengatakan jika cinta tidak memandang dari penampilan, tapi hati dan perbuatan.


Lalu, apakah kalian bisa tinggal di tempat pembuangan sampah?


Apakah orang akan membaca buku dengan sampul yang kotor dan jelek?


Apakah orang akan naik kendaraan umum yang tidak pernah dicuci dan dirawat?


Sebaliknya, orang akan lebih tertarik dengan sesuatu yang bagus dan cantik. Apa ini salah? Tidak bukan?


"Tidak, ini bukan takhayul." Ryo terdiam saat dia menatap Izuna dan berkata, "katanya, semua yang pernah mengaku sambil memberikan semanggi berdaun empat, cinta mereka diterima. Hanya saja, sangat sulit untuk mencari semanggi berdaun empat, dan mungkin hanya ada satu atau dua saja di sekolah ini."


"Jadi begitu ...." Izuna mengangguk, memegang dagunya dan mulai berpikir.


Jika apa yang dikatakan Ryo barusan adalah hal yang nyata, maka tidak salah jika ceritabyang Ryo katakan tadi adalah mitos belaka. Tapi, ada kemungkinan jika itu mungkin adalah legenda urban yang tersebar di sekolah ini.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Lebih baik kau menghampiri mereka atau mereka akan kehujanan, lihat? Awan sudah mulai gelap." kata Ryo sambil menepuk bahu Izuna dan mulai berjalan pergi. Dia tidak memiliki urusan dengan Asuna ataupun Hakari, dan meski mereka berdua cantik, tapi dia memiliki seseorang yang dia sukai.


"Aku mengerti tanpa harus kau beritahu." kata Izuna sambil menghela nafas, kemudian menatap Asuna dan Hakari dari balik jendela.


"Apa aku cari saja semanggi untuk mereka?" Izuna bergumam dengan suara pelan, tapi setelah berpikir selama beberapa detik, dia menggeleng kepalanya dan memutuskan untuk melakukan hal yang lain saat ini.


Izuna berjalan menuju mesin minuman terdekat, memasukkan koinnya ke lubang koin dan memilih minuman kaleng yang ingin dia beli. Minuman kaleng itu terjatuh dengan suara "klang" sebelum Izuna kemudian mengambilnya dan membeli satu lagi.

__ADS_1


Setelah membeli dua minuman kaleng dengan rasa yang berbeda, Izuna lalu berjalan menuju halaman berlakang sekolah, berniat untuk menghampiri Asuna dan Hakari yang berada disana.


__________


"Dimana, dimana, dimana, aku sudah mencari cukup lama tapi belum menemukan satu pun!" Asuna menggerutu ketika dia sama sekali belum menemukan semanggi berdaun empat yang dia cari.


Mungkin karena pengaruh Izuna, tapi Asuna perlahan-lahan mulai berubah tidak seperti yang dulu lagi.


Jika dulu Asuna akan dingin pada sekitarnya dan mengabaikan orang lain yang tidak memiliki urusan dengannya. Saat ini berbeda karena dia sering tersenyum dan menjadi lebih ramah dengan sekitarnya.


Asuna juga mulai bergaul dengan gadis lain dikelasnya meskipun tidak sering, karena dia lebih sering berbicara dengan Hakari dan Izuna.


Ketika Asuna sibuk mencari semanggi berdaun empat itu, dia tidak memperhatikan sekitar, dan menyadari sesuatu membentur dahinya, dan itu rasanya dingin.


"Aduh! Itu dingin ..." Asuna mendongak, dan melihat Izuna berdiri didepannya saat ini, "Izuna...kun?"


"Minuman untukmu. Kau pasti lelah dan haus, 'kan?" kata Izuna sambil mengulurkan tangannya yang memegang kaleng minuman pada Asuna.


'Kenapa .... kenapa kamu selalu ada disaat aku membutuhkan ....?'


"T-Terimakasih ...." Asuna mengulurkan tangannya dan mengambil kaleng minuman dari Izuna dengan ekspresi bersyukur.


"Tidak masalah." kata Izuna sambil tersenyum menatap Asuna.


Asuna menarik kait penarik yang menutup lubang kaleng untuk minum, dan setelah terbuka langsung meminumnya tanpa ragu.


"Bwah! Rasanya segar! Terimakasih, Izuna-kun." kata Asuna sambil menatap Izuna.


"Tidak masalah, lebih lagi kenapa kau berada di sini? Apa kau mencari sesuatu?" Izuna bertanya dengan heran.


"Ah, itu ..." Asuna mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tidak bisa menjawab jika dia sedang mencari semanggi berdaun empat untuk pengakuannya padanya, 'kan?


"Yah, tidak apa jika kau tidak ingin bilang. Hanya saja, awan mulai gelap, lebih baik jika kau mencarinya lagi besok karena hujan akan turun sebentar lagi." kata Izuna.


Asyna hanya menyadari jika cuaca mulai mendung, dan ketika dia menatap langit, langit sudah tertutupi oleh awan Stratocumulus, dan mungkin hujan akan turun tidak lama lagi.


"Ah, kau benar! Kalau begitu bagaimana jika kita kembali sekarang?" Asuna bertanya.

__ADS_1


"Tidak, kau duluan saja ke kelas. Ada sesuatu yang harus aku lakukan terlebih dahulu."


"Un, baiklah."


__ADS_2