[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
45. Pagi di Sekolah (1/2)


__ADS_3

08.00.


Sekolah.


Di kelas 1-A, Asuna duduk dibangkunya ketika tiga temen sekelasnya duduk disekitar mejanya, mengelilinginya dan berbicara dengan semangat.


"Hai, dengar! Aku dapat nilai terbaikku hari ini!"


"Berkat Yuuki-san yang mengajari kita hingga seperti ini."


"Aku akan mengikutimu kemanapun!"


"Syukurlah jika itu bisa membantu." balas Asuna dengan senyuman kecil diwajahnya.


Sebelum Izuna pindah ke Katagiri, bulan lalu telah diadakan sebuah Ujian bulanan, dan saat itu Asuna mengajari beberapa teman sekelasnya yang cukup dekat dengannya.


Asuna sebenarnya bukanlah gadis yang antisosial, hanya saja pertemanannya terbatas pada orang-orang tertentu. Dan juga, Ibunya yang telah mengatur banyak hal untuknya juga tidak mengijinkannya untuk memiliki teman dari semua kalangan.


Hanya orang-orang tertentu yang kemungkinan besar akan menjadi orang berpengaruh yang diijinkan Ibunya untuk berteman dengan Asuna. Dan Asuna? Dia tidak berani membantah perkataan Ibunya, dan hanya bisa mengasingkan dirinya dari orang disekitarnya.


Dan karena hal itulah, ada cukup banyak gadis yang tidak menyukainya, menganggap jika Asuna hanya mau berteman dengan orang tertentu saja, dan mengabaikan mereka yang berasal dari keluarga kelas menengah-kebawah.


Tapi Asuna hanya menghiraukan mereka, dia juga jarang berinteraksi yang membuat semua yang mereka lakukan untuk mengucilkannya hanyalah sebuah tindakan yang sia-sia.


Begitulah sifat gadis, tidak peduli siapa musuhnya, asalkan mereka punya kelompok, mereka bisa menjadi pemenang.


Dan Asuna yang sendirian hanya bisa menanggung semuanya sendirian dan tidak ada yang bisa dia ajak mengobrol.


Yah, masih ada beberapa murid yang mengobrol dengannya, dan kebanyakan dari mereka adalah anak dari rekan bisnis Ayah atau kenalan Ibunya. Dan itulah kenapa ketiga siswi itu cukup sering bersama Asuna.


Orangtua mereka lah yang menyuruh mereka untuk mendekati Asuna dan sebisa mungkin bisa mendapat kepercayaan darinya. Jadi, mereka akan memiliki seseorang yang berpengaruh yang mereka kenal(manfaatkan) ketika mereka terjun ke dunia bisnis.


Begitulah dunia ini bekerja, seseorang membutuhkan orang lain dengan posisi atau gelar yang lebih tinggi darinya agar mereka bisa menjilat kakinya, dengan begitu, mereka tidak perlu bekerja terlalu keras untuk bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan.


Asuna juga sedikit mengerti soal hal itu. Bagaimanapun, dia telah dididik dengan cukup keras oleh Ibunya, dan dia juga diajari cara ini oleh Ibunya supaya dia mendapatkan kehidupan yang layak.


Ibu Asuna memang seperti itu. Tidak peduli bagaimana, uang adalah hal yang penting baginya. Tapi bukan berarti Asuna tidak penting baginya, hanya saja, Yuuki Kyouko tidak ingin Anaknya merasakan susahnya tidak memiliki uang, seperti yang pernah ia alami dulu. Karena itu, tidak peduli bagaimana caranya, dia ingin anaknya bisa bahagia.


Ada pepatah yang mengatakan jika "Uang tidak bisa membeli segalanya di Dunia ini", tapi faktanya, tanpa uang, seseorang tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dunia dikendalikan oleh uang, dan siapapun yang memiliki uang dia akan bisa menguasai dunia.


Memang terdengar tidak masuk akal, tapi begitulah faktanya.


"Aku juga sudah melihat peringkatmu. Itu liar biasa!"


"Aku juga lihat! Kamu belum pernah turun dari 10 besar sejak awal!"


"Hebat ya."


"Kalian terlalu berlebihan. Ada yang lebih baik dariku." kata Asuna sambil melambaikan tangannya dan tersenyum kecil.


"Oh, benar. Kalau tidak salah, Yuuki-san akan pergi kuliah ke luar negeri kan?"

__ADS_1


"Eh, benarkah?!"


"Standard sekolah kita memang cukup tinggi. Hebat sekali, Yuuki-san!"


"Ah, itu keinginan orang tuaku. Tapi aku masih akan berada di Jepang hingga lulus SMA sepertinya."


"Wah, hebat! Seperti yang diharapkan dari konglomerat!"


"Luar biasa!"


Asuna hanya tersenyum canggung ketika mendengar perkataan mereka bertiga. Jujur saja, dia tidak ingin kuliah di luar negeri. Jika itu dia yang dulu, mungkin dia hanya akan menurut apa kata orang tuanya dan kuliah di luar negeri.


Tapi sekarang?


Setelah dia bertemu dengan Izuna, dia menyadari jika dia ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamanya. Bermain, bersenang-senang, jalan-jalan, ada banyak hal yang ingin dia lakukan bersama Izuna.


Karena itulah, dia akan menyakinkan Ibunya bahwa tidak masalah jika dia tidak kuliah di luar negeri. Lagipula, dia masih memiliki waktu 3 tahun. Dan selama itu, dia punya cukup peluan untuk bisa menyakinkan Ibunya.


"Pagi."


Lamunan Asuna terganggu ketika dia mendengar sebuah suara yang tidak asing di depannya. Dia mendongakkan kepalanya dan melihat Izuna yanh berdiri didepan mejanya, sambil memasang senyuman kecil diwajahnya.


"Pagi."


"Selamat pagi."


"Pagi."


_____________


Ini juga merupakan kemampuan "Love Spot", bukannya Izuna narsis atau apa, tapi dia cukup suka melihat ekspresi wajah orang ketika mereka terpesona pada dirinya. Itu menyenangkan dengan sendirinya, dan dia sepertinya tidak akan bosan dalam waktu dekat ini ketika melakukan hal ini.


'Ini cukup menyenangkan.' pikirnya.


Kemampuan "Love Spot" sendiri sebenarnya tidak terlalu rumit. Jika dijelaskan secara singkat, maka "Love Spot" sendiri membuat orang yang tidak tertarik dengan Izuna menjadi tertarik padanya. Orang yang tertarik padanya akan semakin tertarik. Dan jika orang itu memiliki rasa padanya, maka "Love Spot" membuat perasaan itu semakin kuat ketika melihat wajahnya.


Tapi, tentu saja dia tidak menggunakan kemampuan ini disembarang tempat dan setiap waktu. Dia hanya menggunakannya dalam waktu tertentu, seperti saat ini.


"Pagi."


Seketika, pandangan semua murid dikelas langsung tertuju padanya. Sebagian dari mereka terpesona, dan sebagian lagi memiliki rasa kekaguman ketika melihatnya.


"Pagi."


"Selamat pagi."


"Pagi."


Izuna hanya mengangguk sebagai tanggapan, dia berjalan menuju tempat duduknya, dan melihat Asuna yang sedang mengobrol dengan tiga gadis yang merupakan siswi dikelas ini.


"Pagi."

__ADS_1


"Pagi."


"Pagi."


"Pagi kalian." Izuna mengangguk sebagai tanggapan, dan secara diam-diam, dia memberikan kode pada Asuna sambil tersenyum tipis, yang membuat Asuna sedikit memerah ketika melihat senyumannya."


"Wah, Miyamura-kun keren seperti biasanya!"


"Um, aku tidak pernah melihat anak lain yang lebih tampan darinya!"


"Bagaimana dia bisa memiliki wajah itu? Apa mungkin pengaruh gen orang tuanya?"


"Mau tanya?"


"Ih! Mustahil! Aku saja selalu gugup ketika berada didekatnya!"


"Kamu dekat dengan Miyamura-san, 'kan, Yuuki-san?"


"Eh?"


"Ah! Aku iri!"


"Apa kalian punya hubungan rahasia?"


"Apa jangan-jangan kalian menyembunyikan hubungan kalian?"


"Kyaa! Beritahu kami, Yuuki-san."


"Ah, tidak... Kami tidak ada hubungan seperti yang kalian bayangkan... Kami hanya teman saja.... Ya, teman saja." kata Asuna dengan tergagap ketika dia melambaikan tangannya didepan dadanya dengan panik dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Hehh... Benarkah?"


"Sepertinya hubungan kalian sangat dekat. Bahkan aku dengar rumor jika kalian adalah sepasang kekasih."


"Sungguh. Kami tidak ada hubungan seperti itu... Kami hanya teman biasa kok." kata Asuna sambil tersenyum masam.


'Yah, semoga saja hanya untuk saat ini...' pikirnya.


__________


"Pagi, Izuna-kun!" Hakari berjalan sambil melambaikan tangannya, ketika tas sekolahnya dia bawa diantara lengan dan tubuhnya.


"Oh, Hakari-san. Pagi. Tidak biasanya kamu datang cukup terlambat. Ada apa? Apa kamu bangun kesiangan?" Izuna bertanya sambil membalikkan tubuhnya ke belakang, menatao Hakari yang saat ini duduk di kursinya.


"Iya... Cukup memalukan mengatakan ini... Tapi aku bangun terlambat hari ini... Untung saja masih ada waktu beberapa menit sebelum jam pelajaran pertama dimulai." kata Hakari sambil menghela nafas, dirinya ceroboh kali ini, karena semalam, alih-alih pergi tidur, Hakari malah memikirkan berbagai cara untuk menaklukkan hati Izuna.


"Kamu harus tidur tepat waktu lain kali Hakari-san. Jika tidak, tubuhmu akan rentan terjena penyakit lho." kata Asuna yang bergabung dalam percakapan mereka.


Dia juga cukup cemas sebelumnya ketika Hakari masih belum datang sementara jam pelajatan hampir dimulai, tapi ketika Hakari datang, dia bisa menghela nafas lega.


Hakari mungkin saingannya, tapi dia tidak seperti gadis lain yang hanya mendekatinya hanya karena dia adalah anak dari seorang "Konglomerat".

__ADS_1


Dan meski kadang Hakari cukup menyebalkan, tapi sifatnya itu alami dan tidak dibuat-buat. Wajah yang dikenakan Hakari saat ini adalah wajah aslinya, tidak seperti banyak anak lain yag mendekatinya dengan wajah baik dan polos tapi berlawanan dengan sikap asli mereka.


Karena itulah, Asuna cukup senang berteman dengan Hakari, dan sudah menganggapnya sebagai teman baiknya.


__ADS_2