![[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna](https://asset.asean.biz.id/-drop--horimiya--miyamura-izuna.webp)
"Yo, Izuna! Yuuki-san dan Hanazono-san bilang kamu sakit tadi. Bagaimana keadaanmu? Apa sudah mendingan?" Ryo bertanya sambil menepuk punggung Izuna ketika melihat Izuna yang berjalan memasuki kelas.
Sebelumnya, Asuna dan Hakari telah mengatakan pada guru jika Izuna sedang beristirahat di UKS karena sedang tidak enak badan. Karena itulah Ryo bisa tau jika Izuna sakit sebelumnya.
"Iya... Aku sudah agak baikan." balas Izuna. Dia berjalan menuju meja-nya, mengabaikan sosok Ryo yang berdiri disebelahnya saat ini.
"Oi, oi, jangan mengabaikan ku seperti itu."
Izuna menghiraukan Ryo, dan dia dia duduk dibangkunya. Ryo menghampiri Izuna, menarik kursi yang ada dimeja sebelahnya dan membawanya kesisi Izuja, dan duduk diatasnya.
"Ngomong-ngomong, apa hubunganmu dengan mereka berdua?" Ryo bertanya sambil menyeringai. Tentunya, mereka berdua yang dimaksud oleh Ryo adalah Asuna dan Hakari.
Melihat ketiganya yang tampak sangat akrab, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas dibenak Ryo. Dia menyeringai, menatap Izuna dengan tatapan yang mengatakan "Ah, aku tau,".
"Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh." kata Izuna melalukan gerakan 'memotong' pada Ryo.
"Aduh! Hey, jangan memukul kepalaku seperti itu!" Ryo mengeluh ketika Izuna memukul kepalanya, dia memegang kepalanya yang merasakan sakit meskipun Izuna hanya memukulnya dengan pelan.
"Ya, ya, lalu? Apa kau tau tentang Hajime dan Shirasaki-san? Aku dengar mereka sempat bertengkar. Apa kau tau kenapa?" Izuna cukup penasaran dengan ini. Dan meskipun dia tidak memiliki hobi 'bergosip', tapi yang dibicarakan disini adalah Hajime, yang adalah teman mereka.
Tentu saja, sebagai teman yang baik, sudah sewajarnya jika mereka menginginkan yang terbaik untuk Hajime. Dan, jika Hajime dalam kesusahan, mereka bisa membantunya dan mendukungnya disisi-nya.
"Hmm, ini cukup rumit..." kata Ryo sambil memegang dagunya dan memejamkan matanya, "Aku dengar dari Hajime jika Shirasaki mengaku padanya, tapi dia menolak pengakuannya, yang membuat hubungan mereka sedikit canggung saat ini. Hajime juga sepertinya mendapatkan banyak masalah karena sepertinya semua murid dikelasnya tau jika Shirasaki menembaknya, dan dia menolak pengakuan Shirasaki."
"Benarkah? Lalu, apa yang terjadi padanya saat ini?" Izuna bertanya dengan penasaran. Hajime bukan tipe orang yang menyukai masalah sepertinya, itulah kenapa dia selalu menghindari masalah dengan hanya diam ketika orang lain mengganggunya.
"Ada kelompok murid yang selalu membully-nya setiap waktu, dan mereka menjadi lebih berani ketika mendengar tentang pengakuan Shirasaki padanya." kata Ryo sambil menghela nafas, dia mengetahui ini karena Hajime pernah memberitahunya beberapa waktu yang lalu, dan dia juga tidak menyukai kelompok yang membully Hajime itu.
__ADS_1
"Benarkah? Siapa mereka? Apa perlu aku beri mereka pelajaran?" Izuna bertanya dengan kesal. Dia adalah tipe orang yang tidak suka masalah, tapi bukan berarti dia akan membiarkan begitu saja jika temannya terlibat masalah.
"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu! Aku yakin jika itu hanya akan membuat situasi semakin buruk!" Ryo menghentikan Izuna, dia tau jika apa yang Izuna katakan tidak sepenuhnya bohong karena dia juga merasakan hal yang dirasakan Izuna ketika Hajime memberitahunya.
Tapi ketika dia akan melakukan hal yanh sama seperti yang dipikirkan Izuna, dia baru menyadari jika kelompok pembully Hajime memiliki koneksi dengan kepala sekolah. Dan jika mereka bertindak tanpa berpikir itu hanya akan menjadi boomerang yang menyerang mereka.
"Cih! Ngomong-ngomong, siapa mereka? Aku akan mengingat nama mereka, siapa tau aku bertemu mereka." kata Izuna sambil mendengus dengan kesal.
"Aku hanya tau nama pemimpin mereka, namanya adalah Hiyama Daisuke. Aku harap jika kau tidak melakukan hal yang sembrono, kudengar dia adalah keponakan kepala sekolah. Dan akan sangat tidak lucu jika dia mengadu pada kepala sekolah 'kan?" kata Ryo sambil mengingatkan Izuna dan mengingatkannya agar tidak melakukan hal yang macam-macam yang bisa membuat mereka terkena masalah.
"Jangan khawatir, aku hanya akan mengingat namanya saja. Lagipula, aku tidak sebodoh itu kau tau? Dan, jangan khawatir, kita akan menemui Hajime pulang sekolah nanti—ah, tidak! Bagaimana jika kita mengawasinya dari jauh?"
"Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Lagipula, aku ada urusan selesa sekolah, dan Hajime juga mengatakan jika dia akan pergi ke rumah kerabatnya bersama keluarganya sore nanti. Jadi tidak mungkin kita melakukan itu." kata Ryo sambil menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan apa yang dikatakan Izuna barusan.
"Lagipula, kenapa kau ingin mengawasinya dari jauh? Apa kau ingin menjadi penguntit?" Ryo bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya, dan menatap Izuna dengan tidak percaya."
"Jangan khawatir, Hajime berkata jika dia masih bisa mengendalikannya. Hmm, mungkin jika mereka semakin berani, kita bisa turun tangan?" kata Ryo sambil meletakkan telunjuknya di dagunya.
"Baiklah, aku akan mengingatnya." Izuna mengangguk.
__________
"Izuna-kun, bagaimana jika kita pulang bersama?"
Ketika pelajaran terkahir telah usai, Izuna yang sedang merapikan buku-bukunya didatangi Hakari yang memegang tas sekolahnya ditangannya dan mengajaknya untuk pulang bersama.
"Tentu." Izuna mengangguk, dia menoleh kearah Asuna dan berkata, "Bagaimana denganmu, Asuna? Apa kamu ikut kami?"
__ADS_1
Asuna menghela nafas sedih, menatap Asuna sambil menggelengkan kepalanya, "Maaf, aku tidak bisa pulang bersama kalian. Sopir keluargaku menjemputku hari ini, dan saat ini dia pasti sudah berada di luar gerbang."
"Begitu... Yah, mungkin kita bisa pulang bersama lain kali. Tapi, kita masih bisa pergi bersama hingga depan gerbang 'kan?" Meski Izuna cukup kecewa karena Asuna tidak bisa pulang bersama mereka, tapi dia juga tau kondisi Asuna sekarang dan hanya bisa menghela nafas panjang ketika memikirkannya.
"Um, aku tidak keberatan." kata Asuna sambil menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita pergi~" kata Hakari sambil mengangkat tinjunya.
____________
"Oh ya, Izuna-kun. Aku lupa menanyakan ini, tapi apakah kamu punya waktu sore ini?" Hakari tiba-tiba bertanya disela-sela perjalanan mereka.
"Hmm? Yah, jika sore ini sepertinya aku tidak bisa. Aku harus menjaga toko sore ini." kata Izuna sambil memegang dagunya.
"Begitu ya...." Hakari menundukkan kepalanya dengan sedih, tapi dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan mendongakkan kepalanya, menatap Izuna dan bertanya, "Menjaga toko? Apakah kamu bekerja paruh waktu?"
Izuna menggelengkan kepalanya, "Tidak, tapi Ibuku memiliki toko kue tak jauh dari apartemen, dan aku biasanya membantu menjaga toko beberapa hari sekali."
"Benarkah?! Bisakah aku mengunjungi toko keluargamu nanti?!" Hakaro bertanya dengan bersemambat.
"Tentu? Kenapa tidak?"
"Bagus! Kamu bisa mengirimkan alamatnya padaku nanti, aku akan langsung datang sore ini." kata Hakari, dia kemudian menoleh kearah Asuna dan bertanya, "Bagaimana dengamu, Asuna-san? Apa kamu tidak ikut?"
"Hmm? Yah, situasiku cukup rumit saat ini... Jadi mungkin aku tidak akan bisa pergi..." kata Asuna sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Begitu ya. Hmm, yah... Kita bisa pergi bersama lain kali. Jadi, jangan khawatir." kata Hakari sambil menepuk punggung Asuna dengan pelan. Tapi, meski dia memasamg ekspresi kecewa diluar, tapi didalam benaknya dia tersenyum bahagia ketika Asuna tidak ikut dengannya nanti.
__ADS_1
'Aku bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk berduaan dengan Izuna-kun... Fufufu~'