[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
48. Tindakan yang tidak terduga


__ADS_3

08 : 30 AM


Keesokan harinya, Izuna berjalan kesekolah dengan Sayu yang berjalan di sisinya. Sayu, bukan tanpa sebab berjalan bersama Izuna, tapi dia disuruh Iori untuk membeli beberapa bahan untuk makan siang nanti di minimarket—yang satu arah dengan jalan yang diambil Izuna ke sekolahnya.


Karena itu, Sayu memutuskan untuk pergi bersama Izuna. Lagipula, ini bisa digunakan Sayu sebagai kesempatan agar lebih dekat dengan Izuna.


Sayu menyadari jika dirinya memiliki banyak pesaing, apalagi ketika Izuna seharian berada disekolah, dan mereka hanya menghabiskan waktu bersama ketika di toko ataupun di apartemen.


Kesempatannya untuk menang sangat sedikit, dan meskipun dia awalnya cukup ragu dengan perasaannya, dan lebih memilih untuk diam dan tidak melakukan apa-apa. Tapi, perkataan Iori tiba-tiba membuatnya berubah pikiran.


Sayu sebenarnya adalah tipe orang yang suka lari dari masalah, karena itulah dia kabur dari rumah, karena dia tidak ingin menghadapi masalahnya saat itu. Dan, hal itu juga sama seperti yang terjadi saat ini.


Meski dalam hal berbeda, tapi keduanya sama-sama 'masalah' bagi Sayu.


Yang satu membuatnya tertekan dalam cara tertentu, sementara yang lain juga sama—hanya dalam artian yang berbeda.


Akhir-akhir ini, Iori sering memberinya beberapa kata motivasi untuk menambah semangatnya, dan juga Iori sering memberinya saran yang mungkin berguna baginya untuk kedepannya.


Lagipula, Iori sudah cukup dewasa, dan meski tidak disebutkan, dia adalah seorang wanita berusia 40-an dan sudah memiliki 2 putra. Tentu pengalaman hidupnya lebih banyak dari Sayu, dan keduanya juga sama-sama perempuan.


"Ah, benar. Kalau tidak salah, kau sebelumnya pernah memiliki ponsel, 'kan?" tanya Izuna dengan tiba-tiba.


Sayu menoleh kearah Izuna dan menganggukkan kepalanya, "Ya. Aku tidak punya."


"Kau meninggalkannya dirumah?" Izuna bertanya


"Aku sering mendapat telepon dari teman kelas lamaku di Hokkaido. Jadi aku membuangnya ke laut." kata Sayu sambil tersenyum manis di akhir kalimatnya.


"Seriusan?" tanya Izuna sambil menatap Sayu dengan tidak percaya.


Di zaman sekarang, ponsel tentunya adalah salah satu kebutuhan yang cukup peting bagi kehidupan manusia. Apalagi setelah berkembangnya teknologi, ponsel adalah satu hal yang setidaknya harus dimiliki oleh seseorang. Karena itu, Izuna cukup terkejut ketika Sayu mengatakan jika dia membuang ponselnya ke laut.


Harga ponsel tentunya tidak murah, apalagi untuk anak SMA seperti mereka. Memiliki ponsel saja sudah cukup bagi mereka agar bisa mengirim pesan ke teman atau keluarga mereka.


(A/N: Agak terbiasa bagiku untuk menulis kata "ponsel" alih-alih "Handphone" atau "Smartphone".)

__ADS_1


"Tidak punya pun juga tidak terlalu masalah, "kok!"


"Tapi punya ponsel akan mempermudah hidup." kata Izuna sambil menghela nafas, "Dan aku juga ingin punya cara untuk menghubungimu." lanjutnya.


Ponsel merupakan alat komunikasi dua arah yang mudah dibawah kemana-mana dan mempunyai kemampuan bisa mengirim pesan, baik suara, gambar, dan informasi.


Dan, karena berkembangnya teknologi, ponsel juga berubah seiring berjalannya waktu. Dari yang dulu hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan dan telepon saja, saat ini ponsel juga memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai alat komunikasi, membantu dalam keadaan darurat, sebagai penyimpanan file penting, sebagai hiburan, dan pengoprasian aplikasi, dan banyak lagi yang lainnya.


Dan, jika Sayu punya ponsel, Izuna bisa menghubunginya sewaktu-waktu ketika mereka sedang tidak berada ditempat yang sama.


"Tidak, aku tidak butuh." kata Sayu sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, jangan sungkan." kata Izuna sambil melambaikan tangannya dengan santai, "Lagipula, bagaimana jika aku ingin menghubungimu sewaktu-waktu?" dia bertanya.


"Aku tidak apa-apa, kok." kata Sayu ketuka dia melambaikan tangannya kedepan, "Lagipula, jika kamu ingin menghubungiku, kamu bisa melakukannya lewat Iori-san, 'kan?" dia bertanya.


"Tidak, ini dan itu berbeda..."


"Lagipula, Izuna-san telah banyak membantuku." Sayu kemudian menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara pelan, "Lagipula, aku tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikanmu jika kamu terus membantuku...—eh?"


"Jangan terlalu dipikirkan. Lagipula, aku tidak suka melihat wajahmu yang sediu seperti itu. Tersenyumlah, karena aku suka dengan Sayu yanh tersenyum." kata Izuna ketika dia menggerakkan tangannya kewajah Sayu dan menarik pipinya agar membuat Sayu tersenyum, tapi alih-alih tersenyum, wajah Sayu jadi aneh karena tindakan Izuna itu.


"Uhg—.... Jangan mencubit pipiku!" kata Sayu sambil menepis tangan Izuna dengan cemberut dan mengalihkan wajahnya kearah lain, "Kamu seharusnya harus lebih menghormati orang yang lebih tua, Izuna-san!"


"Hahaha, Iya iya. Aku tidak tau jika Sayu mengatakan jika dirinya sudah tua." kata Izuna ketika dia memasang seringai menggoda di wajahnya.


"Bukan itu maksudku!" kata Sayu sambil meninggikan nadanya ketika wajahnya memerah karena malu dan kesal.


"Hahaha, begitu lebih baik." kata Izuna sambil tersenyum.


Sayu terdiam. Dia menyadari jika semua yang dilakukan Izuna adalah untuk membuatnya tersenyum. Entah itu ketika mereka pertama kali bertemu, ataupun sekarang, Izuna selalu berusaha membuatnya tersenyum.


Izuna juga telah banyak membantunya, dia bahkan tidak segan-segan meminta Ibunya agar memperbolehkan Sayu agar tinggal di Apartemen mereka. Sebagai gantinya, Sayu akan bekerja di toko Iori.


Hari-hari Sayu mulai dipenuhi warna, dan dia juga sedikit demi sedikit melupakan masalahnya.

__ADS_1


Tapi, apakah masalah itu akan menghilangkan ketika dia melupakannya?


Jawabannya adalah tidak.


Sayu tau jika cepat atau lambat dia harus menghadapi masalahnya. Dia tidak bisa seperti imi terus menerus, atau dia tidak akan bisa maju dan hanya bisa menunggu hingga dia kalah.


"Aku sudah memutuskannya..." kata Sayu dengan pelan ketika dia menundukkan kepalanya.


"Hmm?" Izuna menatap Sayu dengan bingung. Dan, karena Sayu menundukkan kepalanya, dia tidak bisa melihat wajahnya saat ini, jadi dia tidak bisa menebak apa yang Sayu pikirkan.


"Aku mencintaimu, Izuna-san!"


Tiba-tiba Sayu melemparkan tubuhnya kearah Izuna, membuat Izuna terkejut tapi segera menangkapnya. Dan dengan wajah mereka yanh begitu dekat, Sayu menempelkan bibirnya ke bibir Izuna.


Izuna terkejut dan membuka matanya lebar-lebar, dia tidak menyangka jika Sayu akan menciumnya dengan tiba-tiba seperti ini.


Tidak—dia bahkan tidak menduga jika Sayu melakukan hal seperti ini!


Setelah beberapa detik, Sayu menarik kepalanya dan melepaskan ciuman mereka. Meski dibilang ciuman, tapi Sayu hanya menempelkan bibirnya ke bibir Izuna, karena hanya itu batas yang bisa dia lakukan.


Untuk hal seperti "bermain lidah", dia cukup malu untuk melakukan hal itu.


"Aku mencintaimu, Izuna-san...."


Meski sudah melepaskan ciumannya, tapi Sayu masih memeluk tubuh Izuna dan menyandarkan kepalanya di dadanya ketika dia bergumam dengan suara pelan.


______


A/N: Yah... Ternyata Sayu telah bergerak sekarang. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?


Apa dia akan ditolak?


Atau diterima?


Entahlah~

__ADS_1


__ADS_2