[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
30. Yaegashi Dojo dan Manga Ecchi?


__ADS_3

Shizuku saat ini sedang berlatih di dojo keluarganya, disisi lain nuga terlihat murid dojo lain yang sedang melakukan latihan mereka sendiri.


Latihan Shizuku cukup khusus, dan meski dibilang latihan khusus, apa yang dilakukan oleh Shizuku sebenarnya tidak jauh berbeda dari murid laik di dojo. Hanya saja, dia melakukan itu semuanya sendiri mengingat dia adalah anak pemilik dojo ini.


"Shizuku, apa tidak sebaiknya kamu beristirahat?" Suara lembut yang berasal dari wanita yang berjalan mendekatinya membuat Shizuku menghentikan gerakan tangannya.


Dia berbalik dan menatap wanita itu dan menggelengkan kepalanya, "Mungkin sebentar lagi, Ibu?"


Yaegashi Kirino, dia adalah Ibu Shizuku. Sosok yang lembut dan tenang seperti Yamato Nadeshiko, namun suasana berbahaya dapat dirasakan darinya. Yang membuat siapapun pasti berpikir "Itu pasti Ibu Shizuku", mengingat penampilan mereka berdua hampir mirip secara keseluruhan.


"Tidak, kamu sudah berlatih selama beberapa jam terkahir, dan ini suda cukup berlebihan untukmu! Lagipula, ada Kaori-chan yang sedang menunggumu di ruang tamu." kata Kirino sambil menceramahi Shizuku tentang dirinya yang terlalu berlebihan dalam latihannya.


Memang benar, Shizuku telah berlatih mengayunkan shinai selama beberapa puluh menit, dan itu juga dengan banyak latihan tambahan lainnya, yang jika dihitung dia telah berlatih selama kurang lebih dua jam terakhir.


"Baiklah. Ngomong-ngomong, kenapa Kaori mencariku?" Shizuku bertanya dengan bingung sambil menatap Ibunya yang masih bersikap tenang.


"Entahlah, mungkin dia ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat? Aku juga tidak bertanya padanya tadi." kata Kirino dengan tenang, dia kemudian berbalik dan berjalan pergi, tapi sebelum dia berjalan terlalu jauh, dia berkata pada Shizuku, "jangan membuanya menunggu. Aku akan menyiapkan teh untuk kalian."


"Baik, Ibu." kata Shizuku sambil membungkukkan badannya.


Beberapa saat setelah Ibunya pergi, Shizuku menghela nafas dan berpikir jika sudah waktunya untuk mengakhiri latiahnnya hari ini.


"Semuanya, aku pergi dulu." Sebelum pergi, tentunya Shizuku berpamitan pada murid lain di dojo mereka.


Shizuku mengingat semua ajaran dan filosofi kakek dan orang tuanya, seperti memperlakukan semua murid Yaegashi Dojo sebagai keluarga angkat, tidak pernah meninggalkan mereka tidak peduli siapa pun banyak masalah yang mereka sebabkan.


Shizuku mulai rajin berlatih seni bela diri dan ilmu pedang Yaegashi-ryu semata-mata karena cinta keluarga dan tidak ingin mengecewakan harapan keluarganya. Tapi dia tidak menyesal setelah semuanya karena dia bisa mengenal banyak orang di dojo ini.


______


"Kaori, kau mencariku?"


Selang beberapa menit, Shizuku langsung menghampiri Kaori yang menunggunya di ruang tamu. Dan karena dia tidak sempat mengganti pakaiannya, dia masih mengenakan hakamanya.


"Ah, Shizuku-chan! Aku telah menunggumu!" kata Kaori dengan nada cerianya. Dia langsung bangkit dan melemparkan tubuhnya kearah Shizuku, dan menjatuhkan dirinya di pelukannya.


"Hey hey, aku baru saja selesai berlatih, dan tubuhku masih dipenuhi bau keringat." Shizuku tak berdaya melihat tingkah sahabatnya yang satu ini, tapi bukan berarti dia membencinya, karena dia sika sifat Kaori yang polos seperti ini.

__ADS_1


"Hehe, aku tidak keberatan karena bau keringatmu yang baru saja berlatih itu wangi." kata Kaori dengan seringai menggoda diwajahnya.


"Hah, baiklah sudah cukup Kaori." Shizuku menghela nafas tak berdaya dan memilih untuk menyerah pada Kaori saat ini.


"Hehe, wajahmu memerah, Shizuku-chan. Apa kamu suka dipeluk olehku?" kata Kaori sambil mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap Shizuku dengan matanya yang berbinar.


"Iya iya, aku suka dipeluk oleh Kaori."


"Haha, sudah kuduga itu! Kalau begitu, aku akan memberimu banyak pelukan untuk kedepannya!" Kaori tertawa dan melepaskan pelukannya dari Shizuku.


"Jadi, ada apa kau mencariku, Kaori?"


Setelah keduanya duduk, Shizuku langsung bertanya pada Kaori yang sepertinya bertingkah aneh sejak tadi.


Kaori tiba-tiba merubah ekspresinya, menundukkan kepalanya, dia berkata dengan sedih.


"Ini tentang Nagumo-kun ..." kata Kaori dengan nada pelan.


"Memangnya kenapa dengan Nagumo?" Shizuku bertanya dengan heran, tapi melihat perilaku sahabatnya, ini mungkin bukan kabar yang baik.


"Bisakah kita berbicara di kamarmu? Aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita." kata Kaori dengan ekspresi melankolis diwajahnya.


Seperti itulah akhirnya mereka tiba di kamar


Shizuku. Di dalamnya ada banyak boneka mewah


yang ditempatkan sehingga membuat ruangan


sempit. Ada kalender binatang dan kucing yang


indah, gorden merah muda, dan sebuah bantal berbentuk wajah kelinci. Seluruh ruangan diselimuti dalam suasana lembut dengan aroma manis samar melayang. Itu benar-benar ruang feminin yang licin.


Shizuku meletakkan bantal rakun murung di


depan meja bundar kecil yang terbuat dari kaca,


Ketika Kaori duduk diatas bantal itu dan dirinya duduk disisi lain meja.

__ADS_1


"Jadi, bisa ceritakan padaku dari awal? Apa yang terjadi sebenarnya?" Shizuku bertanya dengan serius. Jujur saja, dia memiliki kesan yang cukup baik tentang Hajime, meskipun dia adalah seorang Otaku, tapi dia tidak seperti pria lain yang mengejar-ngejar Kaori ataupun dirinya.


"Jadi begini ..."


_____


Flashback.


Beberapa jam sebelum Kaori kerumah Shizuku, dia sedang berjalan disebuah toko buku untuk membeli manga volume terbaru yang sebelumnya tidak sempat dia beli.


Disaat Kaori sedang melihat-lihat manga rilisan terbaru, siapa sangka jika dirinya akan melihat Hajime di toko itu.


Tentu saja, dia langsung menghampirinya dan menyapanya dengan senyuman ceria, "Nagumo-kun! Kamu disini juga?"


Hajime, yang merasa tidak asing dengan suara orang yang memanggil namanya langsung menolehkan wajahnya, dan saat itu juga waja Shizuku yang ceria terlihat olehnya. Dalam benaknya, Hajime menggela nafas lelah ketika bertemu Kaori.


'Kenapa aku harus bertamu Shirasaki-san disaat seperti ini?!' Hajime berteriak dalam benaknya.


Sebelumnya, dia berpikir untuk membeli beberapa manga keluaran terbaru yang mungkin akan dia suka, tapi siapa sangka jika dia akan bertemu dengan Kaori disini?


"A-Ah ... Shirasaki-san, kebetulan sekali kita bertemu disini ..." kata Hajime dengaj senyuman yanh dipaksakan. Jika dia memiliki keberanian, dia akan berkata dengan lantang 'Kenapa kau disini?!' atau semacamnya. Tapi, karena dia tidak memiliki keberanian sebesar itu, dia hanya diam dan memendamnya didalam dirinya.


"Ya, aku ingin membeli manga yang kamu suka tempi hari, tapi karena aku tidak punya cukup waktu, aku hanya bisa membelinya hari ini." kata Kaori sambil tersenyum polos, dia mendekatkan dirinya pada Hajime sambil menunjukkan volume terbatu manga ditangannya kepadanya.


"Ngomong-ngomong, apa kamu akan membeli sesuatu lagi? Bisakah aku tau apa itu?!" kata Kaori dengan mata berbinar. Tentu saja, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa berduaan dengan Hajime begitu saja, dan dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin!


"Y-Yah ... Ada sesuatu yang ingin aku beli, tapi mungkin kamu tidak akan terlalu menyukai ini ..." kata Hajime dengan nada rendah. Sebisa mungkin, dia tidak ingin Kaori berada didekatnya, tapi apa yang terjadi malah sebaliknya.


Meskipun Hajime sebisa mungkin untuk menjauh dan menjaga jarak dari Kaori, Kaori disisi lain selalu mencoba mendekatinya entah apapun yang terjadi. Dia seperti kecoa yang sulit untuk disingkirkan, tentu dalam artian yang berbeda.


"Benarkah? Kalau boleh tau, bisakah kamu menunjukkan padaku?" kata Kaori dengan penuh harap.


"Baiklah ..." Haijme menghela nafas lelah, dia mengulurkan tangannya yang mana memeganh satu salinan volume manga yang baru saja dia beli.


"Hmm? Apa ini?" Kaori bertanya dengan penasaran.


"Manga Echhi." jawab Hajime singkat.

__ADS_1


"Maaf ...? Apa aku tidak salah dengar ...?" Kaori terdiam sambil memandang salinan volume pertama manga ditangannya.


__ADS_2