[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
29. Hanazono Hakari


__ADS_3

Hanazono Hakari siswi SMA Kataguri tahun pertama. Dia adalah siswi yang cukup populer karena penampilan dan juga wajahnya yang cantik.


Hakari memiliki rambut merah muda sebahu dengan mata hijau besar. Dia juga memiliki tubuh yang proporsional dengan dua gundukan besar berukuran G-cup yang bisa dibilang besar untuk anak SMA.


Tapi meski begitu, sangat sedikit yang mengungkap perasaan mereka pada Hakari sejak debutnya di SMA, bukan hanya karena merasa tidak patas bersanding dengan kecantikan seperti Hakari, tapi Hakari juga merupakan anak orang kaya, yang membuat mereka berpikir ratusan kali sebelum menembaknya.


Ini hampir mirip seperti kasus Kaori dan Shizuku, dimana Kaori memiliki banyak penggemar dan dia tidak kekurangan orang yang menyukainya, hanya saja tidak ada yang berani menyatakan cintanya oada Kaori maupun Shizuku semenjak ada Kouki yang selalu bersama mereka.


Karena 'ketampanan' Kouki, banyak siwa merasa rendah dan hanya bisa mengubur perasaan mereka dalam diam dan hanya mengagumi kecantikan keduanya dari jauh.


Saat ini, Hakari sedang berjalan sendirian di jalanan Tokyo yang cukup ramai. Sejak dirinya memasuki SMA, dia sedikit kesulitan mencari teman, bukan karena dia tidak pandai berteman atau apa, tapi karena kebanyakan gadis akan menjauhinya.


Tapi, bukan berarti dia gadis yang jahat hingga teman-teman sekelasnya menjauhinya. Tapi karena mereka iri dengan kecantikan Hakari.


Hakari adalah gadis cantik dan dia memiliki banyak pengagum rahasia, karena itulah, banyak gadis lain merasa iri dengan Hakari dan memilih untuk menjauhinya, membuanya sendirian dan tidak memiliki teman.


Tapi, Hakari tidak memperdulikannya. Sebagai seorang dari keluarga kalangan atas, rakyat biasa seperti mereka tidak terlalu berpengaruh dalam hidupnya.


Itu seperti seekor kutu di rambut manusia, meski kutu itu menyebalkan, tapi jika hanya seekor, tidak akan menimbulkan banyak masalah. Asalkan kutu itu tidak berkembang biak dan menjadi banyak, semua masih bisa dikendalikan.


"Coba kulihat ... Aku sudah membeli bahan makanan dan juga beberapa hal lain. Hmm, apa yang kurang kira-kira?" Kata Hakari sambil meletakkan talunjuknya dipipinya ketika dia berjalan dengan sebuah tas belanjaan ditangan kirinya.


"Mungkin aku harus membeli beberapa daging lagi? Aku ingin mencoba membuat hamburger nanti."


Hari ini adalah akhir pekan, dan Hakari memanfaatkan kesempatan ini untuk belanja beberapa bahan makanan untuk melatih kemampuan memasaknya.


Dan, meski kemampuan memasak Hakari bisa dibilang cukup baik, tapi dia masih merasa kurang dengan kemapuannya itu.


Apalagi dia pernah mendengar jika ingin merebut hati laki-laki, maka kuasai perutnya terlebih dahulu.


Sebagai gadis normal pada umumnya, Hikari juga memiliki keinginan untuk jatuh cinta pada laki-laki seperti gadis lain seusianya. Tapi, hingga saat ini belum ada seorangpun yang bisa menggerakkan hatinya.


_______


Berjalan di gang yang cukup sepi, Hakari tidak terlalu memperhatikan sekitarnya, dan ketika tiba di persimpangan, tiba-tiba dia menabrak seseorang.


"Waa ..."


Hakari dan orang itu sama-sama terjatuh.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja."


"Tidak ... Aku juga minta maaf." Kata Hakari sambil mendongakkan kepalanya.


Tapi, siapa sangka jika mata meraka bertemu satu sama lain dan Hakari merasakan pancaran aneh dari mata pemuda yang ditabraknya itu.


Tidak–daripada aneh, lebih seperti menarik?


Entahlah, yang pasti Hakari merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang entah bagaimana membuat hatinya merasa hangat ketika melihat wajahnya.


Pemuda itu kemudian bangkit dan berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Hakari yang masih belum berdiri sambil bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"


"Ehh ..."


Dan saat pemuda itu mengulurkan tangannya, sebuah pemikiran tiba-tiba terbersit dalam benak Hakari.


Dia memegang kakinya yang sebelumnya merasa sedikit sakit sambil berpura-pura kesakitan dengan ekspresinya yang dia buat seolah-olah itu alami.


"Ahnn ... Maaf, sepertinya kakiku terkilir ... Bisakah kamu membantuku ...?"


"A-Ah? Tentu saja, maaf untuk sebelumnya."


'Hehehe.' Dalam benak Hakari, dia tertawa kecil sambil memikirkan jika dia digendong dengan gaya 'Tuan Putri' oleh pemuda itu.

__ADS_1


Tapi sayangnya ekspresi wajahnya mengikuti pikirannya, yang membuat dia secara tidak sadar menunjukkan seringai aneh diwajahnya.


"Kelihatannya sakit sekali ya ...?" tanya pemuda itu.


"Ah, tidak ... Ini tidak terlalu sakit kok~" kata Hakari sambil meletakkan tangannya dipipinya.


"Ah maaf, aku tidak melihat tadi. Aku harap kamu baik-baik saja." kata pemuda itu dengan ekspresi khawatir.


'Hanya karena membuat kaki orang asing terkilir, dia sampai menunjukkan ekspresi khawatir seperyi itu ... Betapa baik hatinya ...!!' kata Hakari dalam benaknya.


Dia entah bagaimana merasa jika dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama pada pemuda yang secara tidak sengaja dia tabrak sebelumnya.


Ada yang bilang jika cinta itu buta, dan sepertinya ungkapan itu cocok untuk menggambarkan situasi Hakari saat ini.


"Bagaimana? Bisa berdiri?" kata pemuda itu sambil membantu Hakari berdiri.


"Terimakasih..." Hakari menerima uluran tangan pemuda itu dan berdiri perlahan, dan secara tidak sengaja mencium aroma tubuh pemuda didepannya saat itu.


'Baunya harum ...'


"Ah, belanjaannmu jatuh. Biar aku bantu mengambilnya." kata pemuda itu ketika dia melihat barang-barang yang sebelumnya dibeli Hakari berserakan dijalanan.


"Eh, tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." kata Hakari, mencoba mencegah dia memungut barang belanjaannya.


"Tidak apa-apa, eh? Kakimu baik-baik saja?" Pemuda itu melambaikan tangannya dengan santai, tapi ketika dia menoleh kearah Hakari, dia melihat Hakari bisa berdiri dengan kedua kakinya tanpa merasa sakit sama sekali.


Dalam benaknya, Hakari menepuk dahinya dengan keras, bagaimana dia bisa melupakan jika dia sedang berpura-pura saat ini?


Hakari langsung menjatuhkan dirinya dan memegangi kakinya dan berpura-pura kesakitan lagi.


"Aduh ... Ini menyakitkan ..."


"...."


"Ayo cepat pinjamkan bahumu~!"


______


"...."


"Ayo cepat pinjamkan bahumu~!"


Izuna terdiam, dia menggelengkan kepalanya sambil melihat gadis yang bertabrakan dengannya tadi sambil tersenyum kecil melihat tingkahnya.


Tentu saja dia tau jika gadis itu berpura-pura terkilir, tapi akan tidak enak jika menolaknya saat ini, dan jika dia memberitahu gadis itu jika tau bahwa dia sedang berpura-pura, situasi mereka akan menjadi lebih canggung.


Jadi, satu-satunya pilihan paling tepat menurutnya adalah mengikuti permaiannya.


"Baik baik, aku akan membawamu ketaman yang tak jauh dari sini, disana ada bangku yang bisa kamu gunakan untuk duduk beristirahat. Apa kamu tidak masalah?" tanya Izuna pada gadis yang saat ini menjatuhkan tubuhnya pada sisi kanan tubuhnya.


Begitu Izuna memberikan bahunya agar gadis itu bisa menggunakan tangannya dan merangkul lehernya, untuk digunakan sebafai tumpuan agar tubuhnya tidak terjatuh, disanalah gadis itu mengambil kesempatan dengan mendekatkan tubuhnya dan membuat dua gundukan besar miliknya menempel di lengan Izuna.


"Aku tidak masalah." Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong, namaku Izuna, Miyamura Izuna."


"Namaku Hakari, Hanazono Hakari. Kamu bisa memanggilku Hakari jika mau." kata gadis itu, Hakari sambil menutupi mulutnya yang tersenyum menggunakan lengannya.


"Baiklah, kalau begitu kamu juga bisa memanggilku Izuna."


__________


"Bagaimana? Apa masih sakit?" Izuna bertanya ketika dia berjongkok didepan Hakari yang duduk dibangku.

__ADS_1


Karena Hakari mengatakan jika kakinya mungkin terkilir, Izuna berinisiatif untuk memijat kakinya untuk meredakan rasa sakitnya.


Sebelumnya, Izuna pernah belajar tentang pertolongan pertama, jadi dia tau beberapa hal yang harus dilakukan ketika kaki terkilir seperti ini.


Yah, meskipun dia tau jika Hakari sebenarnya hanya berpura-pura, tapi dia juga tidak terlalu memikirkannya, mengingat mereka mungkin akan menjadi canggung jika dia membahas hal ini sekarang


"Iya, rasanya jadi lebih baik. Terimakasih Izuna-kun." kata Hakari sambil tersenyum pada Izuna. Meski senyumannya mungkin tampak sangat manis, tapi hal yang tidak bisa dilewatkan Izuna adalah, kedua pipinya yang merah merona. Sepertinya dia menahan rasa malu dari saat Izuna memijatnya tadi.


'Wahh ... Ini pertamakali nya ada pria yang memegang kakiku ... Dia bahkan memperlakukan ku dengan hati-hati, benar-benar orang baik.' kata Hakari dalam benaknya ketika memikirkan berapa hati-hatinya Izuna ketika memijatnya tadi.


Meski begitu, dia sedikit merasa bersalah karena telah membohongi Izuna tentang kakinya yang terkilir, tapi dia juga tau jika dia mengatakan yang sebenarnya, mereka mungkin akan menjadi canggung dan akan menjauh seiringnya waktu berjalan.


Tentu saja dia tidak ingin hal itu terjadi, karena itulah dia tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk diam saja. Sambil sesekali dia melihat wajah tampannya yang memiliki ekspresi serius diwajahnya.


Hakari bahkan tidak bisa tidak menelan ludahnya ketika memikirkan saat-saat itu. Tapi dia tau jika akan memalukan baginya untuk menunjukkan ekspresi wajahnya yang buruk didepan Izuna.


"Syukurlah kalau begitu." kata Izuna sambil bangkit dan menepuk-nepuk pakainnya dari debu.


"Maaf telah merepotkanmu, Izuna-kun. Lain kali aku akan membalas kebaikanmu ini." kata Hakari sambil tersenyum, berpikir jika dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan Izuna lagi.


"Tidak tidak, lagipula aku juga salah karena tidak melihat jalan tadi hingga membuat kakimu terkilir." kata Izuna dengan ringan.


Mungkin karena dia tidak terlalu memperhatikan tadi, dia tidak terlalu melihat jelas wajah Hakari. Tapi ketika dia melihatnya dengan dekat seperti sekarang, dia baru menyadari betapa cantiknya Hakari ini.


Mungkin kata cantik saja tidak cukup, dan jika bisa dibilang, Hakari mungkin mirip seperti Sayu.


Sayu adalah satu hal dimana kata 'Cantik' dan 'Imut' berada ditengah-tengah, dan Hakari mirip seperti itu.


Wajahnya seperti gadis polos dengan rambut merah muda pendek sebagu, dimana dia memiliki bunga putih dirambutnya sebagai aksesoris? Dia memiliki mata hijau zamrud besar dengan bibir merah muda kecil dengan hidung mungil.


Tubuhnya juga proposional yang mana dia memiliki lekuk tubuh yang diberkati, apalagi dengan dua gundukan besar didadanya, yang mungkin berukuran G-Cup.


"Oh ya, Izuna-kun. Bisakah aku minta ID WeChat milikmu?" Hakari bertanya dengan ragu-ragu, fia mengalihkan wajahnya kesamping dan tidak berani melihat Izuna.


"Tentu, kenapa tidak?" kata Izuna sambil mengangguk dan mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Benarkah?!" Mata Hakari berbinar, seolah dia memiliki sebuah bintang dikedua bola matanya itu.


"Tentu." Izuna mengangguk."


Hakari juga mengularkan ponselnya, dan menambahkan Izuna sebagai teman di WeChat miliknya.


"Heheh, terimakasih, Izuna-kun."


"Tidak masalah. Dan, karena kakimu sudah baikan, aku akan pergi karena memiliki urusan lain." kata Izuna sambil membalikkan badannya, berniat untuk pergi.


"Tunggu!" Hakari tiba-tiba meraung, seolah dia mencegah Izuna untuk pergi.


"Hmm?" Izuna membalikkan badannya dan menatap Hakari dengan bingung, "apa ada masalah?"


"Ah ... Tidak, hanya saja ... Bisakah aku tau dimana sekolahmu, Izuna-kun?" Hakari bertanya dengan wajah memerah, ketika dia berpikir jernih, tindakannya yang barusan cukup memalukan dan dia merasa jika dia ingin menyembunyikan dirinya dalam lubang.


"Hmm? Aku tahun pertama di SMA Katagiri. Kenaoa memangnya?" Izuna menjawab dan bertanya sambil memiringkan kepalanya.


"Katagiri? Kalau tidak salah, itu berada didekat sini 'kan?" Hakari bertanya sambil meletakkan telunjuknya di dagunya.


"Ya, sekitar 300 meter kearah selatan. Memang kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Ah, tidak ada apa-apa." kata Hakari sambil melambai-lambaikan tangannya, karena dia tidak mungkin mengatakan jika dia ingin pindah kesekolah Izuna saat ini.


"Baiklah, karena tidak ada apa-apa lagi aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Hakari-san." kata Izuna sambil membalikkan badannya, dan berjalan menjauh.


Melihat punggung Izuna yang semakin menjauh, Hakari menghela nafasnya sebelum kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Aku harus pindah sekolah besok!" kata Hakari sambil mengepalkan tangannya dengan penuh tekad.


Sepertinya, Hakari telah terjerumus sangat dalam pada cinta pandangan pertamanya ....


__ADS_2