[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
38. Cukup satu kali saja


__ADS_3

"Kalian berdua, bisakah kalian meminta izin pada guru untukku?" Ketika mereka selesai makan makanan mereka, Izuja berkata dengan tiba-tiba yang membuat mereka cukup terkejut dan bingung.


"Apa ada apa, Izuna-kun?/Apa kamu sakit, Izuna-kun?" Hakari dan Asuna bertanya dengan khawatir. Keduanya saling memandang satu sama lain dan mengerutkan kening mereka, sebelum akhirnya membuang muka dan memfokuskan perhatian mereka pada Izuna.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja, karena itu aku sepertinya akan beristirahat sebentar di UKS. Jadi aku minta tolong pada kalian untuk meminta izin pada guru nanti." Izuna terbatuk dan memegangi kepalanya seolah kepalanya sedang pusing, yang membuat keduanya menjadi khawatir.


"Apa kamu yakin baik-baik saja?" Asuna bertanya dengan khawatir.


"Apa perlu aku menemanimu saja, Izuna-kun?" Hakari juga bertanya.


Keduanya nampak begitu khawatir pada Izuna, tapi pemikiran mereka berdua benar-benar berbeda.


Jika rasa kekhawatiran Asuna murni karena dia tidak tega dengan kondisi Izuna dan mereka kasihan dengannya. Maka Hakari sebaliknya.


Hakari, bisa disebut sebagai wanita yang Kalkulatif. Dia bisa memanfaatkan keadaan sekitarnya dan membuat situasi dimana dia bis mendapatkan keuntungan.


Hanya saja, sifatnya yang kikuk membuat bakatnya ini sia-sia, dan tidak akan salah jika menyebut Hakari adalah gadis 'Kikuk Kalkulatif '.


(A/N: Nah aku sudah kasih spoiler, dan sisanya terserah kalian.)


"Tidak tidak, aku bisa sendiri." Izuna menolak karena dia tidak ingin mengacaukan rencananya.


"Baiklah... Tapi kami tetap akan mengantarmu ke ruang UKS sebelum meminta izin pada guru oke?" Asuna benar-benar tidak ingin meninggalkan Izuna sendirian, tapi jika Izuna tidak ingin ditemani, apa yang bisa ia perbuat.


"Baiklah, kalian bisa mengantarku sampai sana."


"Baiklah, aku akan meminjamkan bahuku untukmu." kata Hakari, dia kemudian memposisikan dirinya disebelah kanan Izuna, dan memapahnya.


"K-Kalau begitu aku juga akan membantu!" Melihat Hakari, Asuna juga tidak ingin kalah.


Dia berdiri disebelah kiri Izuna, dan meletakkan tanganya kebelakang lehernya dan membantunya untuk menopang tubuhnya.


Dengan dua gadis yang berada dimasing-masing sisi tubuhnya, Izuna merasa sedikit aneh, tapi dia menikmati sensasi menyenangkan dari dua buah gundukan ganda yang menekan kedua lengannya.

__ADS_1


_______


Ruang UKS di Katagiri terdiri dari tempat tidur atau meja periksa untuk pasien yang didukung dengan adanya sprei, bantal dan selimut, kemudian ada kotak P3K untuk mengobati siswa jika terjadi kecelakaan kecil di sekolah yang isinya mulai dari betadin, kapas, kasa, plester, rivanol, alkohol gunting, peniti, balsem, senter kecil dll.


Lalu ada furnitur dan alat kesehatan lainnya, seperti menyediakan tensimeter, air conditioner (AC), wastafel, manekin atau poster-poster organ tubuh sebagai ilmu tambahan dll.


Kemudian isi ruang UKS terdapat meja kursi untuk perawat atau penjaga UKS, adanya pembatas ruang bisa menggunakan bedscreen atau korden, timbangan badan, alat ukur tinggi badan, tempat sampah, waskom trolly untuk wadah air sebagai tempat pengompresan atau pembersihan, tandu sebagai alat pembawa pasien yang akan dipindah tempatkan.


Juga, Ruang UKS di Katagiri hanha mampu menampung beberapa murid saja, mengingat hanya memiliki 4 tempat tidur saja.


Tapi, siapa sangka jika mereka—khususnya Izuna akan melihat seseorang yang sedang berbaring di salah satu tempat tidur pasien sambil menutupi tubuhnya dengan selimut hangat.


"S-Sensei?! Apa kamu sakit?! Izuna bertanya dengan terkejut melihat jika Kana berbaring di salah satu tempat tidur pasien.


Kana menoleh ke Izuna dan kemudian terbatuk sedikit sebelum berkata dengan lemah, "Izuna... Yah, hari ini sepertinya aku sedang tidak beruntung..."


Izuna menenangkan dirinya dan kemudian berjalan mendekat, "Anda sakit, Sensei?"


"Izuna-kun sedang tidak enak badan, Sensei. Karena itulah kami mengantarnya kemari." kata Asuna menjawab pertanyaan Kana.


"Lalu, Sensei. Apakah tidak ada siapa-siapa di ruang UKS ini?" Hakari bertanya dengan heran. Biasanya, ada satu guru yang bertugas khusus untuk berada di ruang UKS, dan tugasnya memang hanya merawat siswa, staf sekolah ataupun guru yang sakit.


"Dia sedang mengambilkanku obat di kantor guru karena obat disini persediannya sudah habis. Lalu, lebih baik kalau kalian kembali ke kelas kalian karena jam pelajaran akan segera dimulai." kata Kana, dan mengingatkan mereka (Asuna dan Hakari) untuk kembali ke kelas.


Ruang UKS sendiri letaknya cukup jauh dari ruang kelas agar pasien lebih tenang untuk beristirahat diruangan tersebut, jika UKS berada didekat ruang kelas maka dikhawatirkan akan menganggu kondisi istirahat pasien, ruang UKS harus dalam keadaan hening dan nyaman.


"Tapi sensei—" Hakari hendak membantah, tapi perkataannya dipotong begitu saja oleh Kana.


"Tidak ada 'tapi-tapi'-an, kalian berdua kembali ke kelas kalian, Izuna bisa menjaga dirinya sendiri. Benar kan, Izuna?" Kana memelototi mereka berdua, sebelum mengalihkan pandangannya kearah Izuna sambil mengerutkan keningnya.


"I-Iya..." Izuna mengangguk dengan pasrah, tidak berani membantah Kana karena kejadian dimasa lalu.


"Kan? Jadi kembalilah, Izuna bisa mengurus dirinya sendiri."

__ADS_1


"Baik, sensei..." Asuna dan Hakari menjawab dengan lemah sambil menundukkan kepala mereka dengan sedih.


"Kami pergi dulu, Izuna-kun." kata Asuna dengan lemah.


"Jaga dirimu baik-baik oke? Aku akan menjengukmu nanti." Hakari juga berkata dengan lemah.


"Ya, kalian berdua hati-hati di jalan, jangan sampai tersesat."


_____


Melihat keduanya yang pergi dengan sedih dan seperti mayat hidup yang sedang berjalan, Izuna hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju tempat tidur disebelah Kana, dengan sebuah korden yang menjadi pembatas antara keduanya.


"Enak ya, memiliki dua gadis cantik yang mengkhawatirkanmu, Izuna?" Kana bertanya dengan sarkastik.


"Sensei.... Jangan bercanda denganku seperti itu. Ini tidak seperti yang anda pikirkan." Izuna menjawab dengan lemah sambil menghela nafasnya mendengar ucapan sarkastik dari Kana.


"Tapi memang benar kan? Jika tidak, kenapa mereka berdua sampai mengantarmu kesini?" Kana bertanya sambil mendengus.


Melihat ketiganya tadi, Kana merasakan perasaan iri dan pahit dihatinya. Ketika muridnya sudah menjalani masa remaja yang penuh percintaan, disini dia sudah melajang selama 20 tahun terakhir, dan sampai sekarang dia masih belum menemukan orang yang menjadi tipenya.


"Mereka hanya temanku saja, sensei. Jangan menggiring opinimu sendiri."


"Baik baik, jadi, kau sakit apa Izuna?" Kana mengabaikan pembelaan Izuna dan mengalihkan pembicaraan dengan lancar.


"Hanya kepalaku saja yang pusing, sensei." Izuna berkata sambil menelan air liurnya ketika setetes keringat mengalir dikeningnya.


Jika Kana sampai tau jika dia hanya berpura-pura sakit, entah hukuman apa yang akan Izuna dapatkan kali ini.


Dia sudah cukup dengan apa yang dia dapat dari Kana tempo lalu, dan dia tidak ingin merasakan hal yang sama seperti yang pernah ia rasakan dulu.


Cukup sekali saja, dan jangan pernah mengalaminya lagi.


Itu yang Izuna pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2