[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
4. Pergi ke Shinjuku dan menemui masalah


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang dikatakan, Izuna pergi untuk ke Shinjuku. Ibunya telah mengatakan untuk menunggu seseorang di sebuah kafe yang tak jauh dari halte.


Jadi, pada jam 9 pagi, dia berangkat dan tiba di Shinjuku sekitar 40 menit kemudian.


Seperti yang dikatakan oleh Ibunya, dia mencari kafe terdekat dan menemukan satu tak jauh dari halte.


Tanpa ragu, dia langsung masuk ke kafe itu, dan langsung disambut oleh seorang pelayan wanita.


"Selamat datang! Ada meja kosong disebelah sana, silahkan ikuti saya."


____


Duduk sendirian, Izuna menunggu kenalan Ibunya sambil meminum secangkir jus alpukat yang ia pesan sebelumnya.


Dia sengaja tidak memesan makanan karena belum lama sejak dia sarapan pagi tadi, dan dia juga tidak terlalu lapar, karena itulah dia hanya memesan minuman.


Menunggu sekitar 10 menit, Izuna melihat ada seorang wanita muda pertengahan 20 tahun memasuki kafe, setelah melihat sekeliling, tatapan wanita itu kemudian berhenti pada Izuna yang duduk di sudut.


Setelah beberapa saat, wanita itu kemudian berjalan menghampiri Izuna, dan dis kemudian berhenti didepannya dan bertanya.


"Apakah kamu Miyamura Izuna?"


Izuna melirik wanita muda itu, ia adalah seorang wanita muda berkulit putih dengan rambut coklat tua yang biasanya diikat ke atas di belakang oleh ikat rambut merah dengan poni sebagian besar dibelah kanan di atas dahinya sementara ada sidelock sebahu membingkai sisi wajahnya, mata kuning dan juga memiliki aset yang besar.


Wanita itu mengenakan pakaian yang terdiri dari blus berkancing putih dengan lengan digulung tepat di atas siku dimasukkan ke dalam rok pendek biru tua, stoking setinggi paha coklat tua, dan sepatu hak hitam.


"Iya, siapa anda?" Izuna balik bertanya.


"Namaku Kojima Kana, Ibumu menyuruhku untuk menemanimu ketika berada di sini." Meskipun nada bicaranya nampak cukup ramah, tapi ekspresi wajahnya tidak terlalu bersahabat, dan terlihat cukup bermasalah bagi Izuna.


"Ah, begitu. Maaf atas ketidaksopananku, biarkan aku mengenalkan diriku sekali lagi. Namaku Miyamura Izuna, untuk hari ini  mohon bantuannya!" Izuna berdiri dan sedikit membungkukkan badannya kedepan.


Wanita itu hanya melambaikan tangannya dengan acuh, dia kemudian duduk tepat didepan Izuna dan berkata.


"Yah, meskipun dibilang memandumu, tapi aku hanya akan mengantar dan menjemputmu saja, kamu tidak keberatan dengan itukan?" Kana bertanya.


Izuna menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya bahkan merasa berterimakasih meskipun hanya itu saja."


"Baguslah kalau begitu. Sebenarnya aku tidak mengerti dengan Iori-san, kenapa dia memintaku untuk menemanimu disini meskipun kamu dulu bersekolah disini? Itu benar-benar menyebalkan." Dengan wajah kesal, dia mulai menggerutu dengan suara yang tidak terlalu keras namun tidak pelan, cukup untuk didengar hanya oleh Izuna.


"Ah.... Aku minta maaf atas nama Ibuku. Dia memang seperti itu orangnya. Padahal, aku juga tidak keberatan jika harus pergi sendiri, tapi dia berkata kalau dia sudah meminta kenalannya untuk pergi bersamaku, jadi aku hanya bisa menerimanya begitu saja." Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, Izuna berkata dengan canggung.


"Hah... Aku tidak keberatan menemanimu, lagipula kamu adalah anak Iori-san. Tapi tetap saja, apa yang ingin kamu lakukan disini kalau aku boleh tau? Sebelumnya Iori-san memintaku untuk membantu mengurus surat pindahannmu bukan?" Kana bertanya dengan heran.


"Emm bsgaimana aku harus mengatakannya ya. Mungkin ini terdengar cukup aneh, tapi aku ingin bertemu dengan temanku untuk terakhir kalinya karena kita mungkin tidak akan bisa sering bertemu dimasa depan." Kata Izuna.

__ADS_1


"Tapi, bukankah kalian bisa janjian untuk bertemu? Kamu punya nomor dan ID miliknya bukan?" Kana bertanya.


"Ya, tapi tetap saja. Kita mungkin akan jarang bertemu, karena kita hanya mengenal selama beberapa bulan saja, dan mungkin mereka akan melupakanku tak lama setelah kepergianku. Tapi meski begitu  paling tidak, aku ingin bertemu dengan mereka." Kata Izuna.


"Aku benar-benar tidak mengerti ... Hahh, lupakan. Lagipula, itu juga bukan urusanku." Kana memegang kepalnya dan mendesah.


Sebenarnya, ini bukanlah keinginan Izuna sendiri, tapi entah mengapa dia merasa jika dia harus melakukan itu.


Mungkin saja itu terkait dengan pemilik tubuh sebelumnya, atau mungkin itu keinginan terkahirnys sebelum dia mati. Tapi  siapa tau? Dia hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan  itu saja.


____


Kana mengantar Izuna ke beberapa tempat sebelumnya, ini juga alasan mengapa Izuna ingin ke Shinjuku, itu karena dia juga ingin membeli beberapa barang sebelumnya.


Mungkin belum dituliskan, tapi Izuna berniat membeli ponsel baru dan sebuah komputer, selain itu, dia juga ingin membeli beberapa hal lainnya disini.


Shinjuku adalah salah satu distrik yang berkembang pesat di Jepang. Akses transportasi di distrik ini sangat baik dan setiap hari dipenuhi banyak orang seperti masyarakat dan pelajar termasuk para pelancong. Shinjuku juga merupakan distrik yang dipenuhi oleh berbagai budaya sehingga ada banyak cara untuk menikmatinya.


Karena itulah, dia juga bisa sekalian liburan untuk merilekskan pikirannya yang masih cukup kacau.


____


Kana mengantar Izuna ke beberapa toko elektronik dan juga ke beberapa pusat perbelanjaan yang ada di Shinjuku, dia juga membantu Izuna memilih beberapa barang yang menurutnya bagus atas permintaan Izuna.


Setelah Izuna puas berbelanja, dia kemudian menyuruh mereka untuk mengantarkan semua barang pesanannya ke Apartmennya yang ada di Minato, dan barangnya kemungkinan akan tiba dalam satu hari.


Lagipula, ini mungkin akan menjadi pertemuan terkahir mereka karena mereka mungkin tidak akan saling mengenal di masa depan.


____


Ketika dalam perjalanan pulang, hari sudah mulai gelap. Izuna berjalan sendirian disebuah jalanan yang nampak sepi.


Suasana sepi jalanan yang hanya diterangi oleh lampu jalan cukup menenagkan. Meskipun Shinjuku merupakan salah satu distrik paling ramai di Jepang, tapi ada juga beberapa tempat yang tidak dilalui oleh banyak orang.


Selain itu, kebanyakan dari mereka masih berada di tempat kerja ataupun sekolah, jadi tidak heran jika jalanan sepi saat ini.


Ketika dia berjalan dengan santai, sebuah suara samar mengganggu pikirannya.


"...long aku....!"


"Hmm?" Izuna mengerutkan keningnya, merasa cukup penasaran dengan suara ini.


Dari yang dia dengar, itu mungkin suara seorang gadis yang berada dalam masalah.


Tidak menunggu waktu lama, Izuna bergegas dan mencari sumber suara itu. Dia mendapati sebush jalanan kecil dimana ada sebuah gang yang cukup sempit di sudut jalan.

__ADS_1


Nampak cukup curiga, Izuna bergegas menuju ke gang tersebut.


"Tolong aku!"


Dan benar saja, semakin dia mendekati gang itu, suara gadis itu menjadi semakin jelas dan jelas saja.


Tanpa banyak bicara, Izuna langsung berlari menuju ke gang itu. Disana, dia melihat seorang gadis dan dua orang pria yang nampak cukup menyeramkan.


Dengan pakaian seperti 'preman', kedua pria itu sepertinya mengancam gadis itu dengan menondongkan sebuah pisau kearah gadis itu.


"Hey hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan disini?!"


Mungkin karena emosi dan marah, Izuna tiba-tiba berteriak dan membuat ketiganya menoleh kearahnya.


"Hah?! Apa maumu bocah cantik?!"


"Apa kau ingin mati hah?!"


"T-Tolong selamatkan aku!"


Melihat Izuna, ketiganya memiliki respon yang berbeda. Jika kedua preman itu nampak marah dan kesal, sambil menatap Izuna dengan oenuh intimidasi, gadis itu menatapnya dengan memohon agar diselamatkan.


"Tenang saja, aku pasti akan membantumu." Kata Izuna, mencoba menenangkan gadis yang nampak ketakutan itu, "lepaskan gadis itu jika tidak ingin dapat masalah."


Izuna mencoba mengancam mereka, mengeluarkan ponselnya, dia kemudian berkata, "Pergi dan lepaskan gadis itu, atau aku akan menelpon polisi!"


"B-Bwahahaha! Telpon saja jika kau mau. Lagipula, sebelum para polisi itu datang, kami pasti akan mengabisimu!"


Sepertinya rencananya gagal.


Dalam pikiran Izuna, para preman itu akan langsung pergi ketika dia mengancamnya dengan menelpon polisi. Tapi sepertinya itu sia-sia.


Bukan hanya tida takut, mereka sepertinya tau dengan benar daerah sekitar karena mereka bahkan tau jika para polisi tidak akan tiba dalam waktu dekat.


Memang kantor polisi berjarak tidak jauh dari sini, tapi tetap saja, mereka membutuhkan waktu untuk tiba ke tempat ini, dan sebemum para polisi itu itu, para preman itu mungkin sudah menghabisinya.


'Sialan! Bagaimana sekarang?!' Izuna berteriak dalam benaknya.


Keputusannya yang gegabah membuatnya dalam situasi yang merepotkan. Dirinya juga tidak bisa beladiri yang membuatnya sangat frustasi saat ini.


Tapi, ketika dia sedang berpikir keras, sebuah suara robotik terdengar dalam benaknya.



__ADS_1



__ADS_2