[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna

[DROP] Horimiya: Miyamura Izuna
13. Kelas pagi


__ADS_3

Ketika selesai sarapan, Izumi, yang sudah mengenakan seragam sekolahnya langsung berpamitan untuk pergi ke sekolah. Sementara itu, Izuna kembali ke kamarnya untuk memakai seragamnya sementara Sayu membantu Iori mencuci piring di dapur.


"Benar Sayu-chan. Apakah kamu tidak punya pakaian lain selain seragam yang kamu kenakan itu?" Iori bertanya.


"Eh? Ah, tidak. Aku hanya memiliki seragam ini dan tidak memiliki pakaian lain. Biasanya, aku akan mencuci ini setiap hari, dan ketika dicuci, aku hanya memakai pakaian dalamku atau jika pakaian dalamku dicuci, maka aku mau tidak mau harus telanjang sepanjang hari." Kata Sayu, dia mengambil piring sudah dicuci Iori dan mengelapnya hingga kering, setelah itu, dia langsung menatanya di rak piring yag ada disebelahnya.


"Eh? Telanjang? Lalu, bagaimana jika kamu harus keluar membeli sesuatu atau semacamnya?" Iori terkejut, tidak menyangka akan mendengar hal semacam itu dari Sayu.


"Ah, tentu saja aku hanya berada di apartemenku saat itu. Lagipula, aku hanya keluar ketika ingin membeli makan saja." Kata Sayu dengan cepat, tidak ingin Iori salah paham padanya tentang sesuatu.


"Begitukah? Untung saja kalau seperti itu..." Kata Iori sambil menghela nafas lega.


Iori berpikir sejenak sambil terus mencuci piring, setelah beberapa saat, dia kemudian berkata, "Benar, kalau begitu bagaimana jika kamu membeli pakaian baru? Tentu saja aku yang akan membayarnya. Kamu hanya harus memilih mana yang kamu suka dan kita akan membelinya bersama."


Terkejut, Sayu dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil melambaikan tangannya dengan cepat, "Eh! Tidak tidak! Aku tidak ingin merepotkanmu, Iori-san!"


"Lagipula jika aku menerimanya, aku tidak tau bagaimana harus membalasnya ..." lanjutnya dengan gumamam kecil


Meski begitu, Iori hanya melambaikan tangannya dengan santai, sambil berkata, "Tidak apa, jangan dipikirkan. Nanti aku akan membawamu ke pusat perbelanjaan. Kita bisa memilih beberapa pakaian untukmu disana, sekalian kita bisa membeli peralatan makan dan kebutuhanmu yang lain nanti."


"Ta-Tapi ...—" Sayu hendak mengatakan sesuatu, tapi Iori langsung menyela perkataannya.


"Jangan dipikirkan oke? Lagipula, Izuna memintaku untuk menerimamu untuk bekerja di toko mulai sekarang, dan aku tidak bisa mempekerjakan siswa SMA di tokoku."


"Kalau begitu, aku pasti akan bekerja dengan keras!" kata Sayu sambil mengepalkan tangannya.


"Baik baik, mulai sekarang, mohon bantuannya ya, Sayu-chan."


"Baik."


"Kalau begitu, ayo pergi, aku akan membawamu ke salah satu toko teman lamaku. Kita bisa mendapatkan diskon disana."


_______


Keluar dari kamarnya, Izuna sudah mengenakan seragam sekolahnya yang terdiri dari; Kemeja putih berlengan panjang yang dilapisi oleh blaxer hitam dan dasi merah, celana panjang hitam dan sepatu kets abu-abu.


Izuna juga melepas tindikannya, agar dia tidak terkena masalah nanti.


Di sekolah jelas tertulis jika tidak boleh memakai aksesoris yang berlebihan, dan itu termasuk tindikan.


"Oh, kalian akan pergi?" tanya Izuna ketika melihat Iori dan Sayu yang sudah rapi dan sepertinya hendak pergi keluar.


Iori berbalik dan menatap Izuna dan berkata, "Ya, Ibu akan membelikan Sayu-chan beberapa pakaian ganti. Dan juga, pulang sekolah nanti, langsung ke toko ya, Izuna."


"Baik, aku akan kesana." Izuna mengangguk.


"Baiklah, kita berangkat."


______


Di loker sepatu, Izuna menukar sepatu dengan sepatu yang sudah disiapkan oleh pihak sekolah. Kenapa?


Alasan yang pertama adalah, karena di Jepang itu lantai ruangan mereka terbuat dari bambu atau tatami.


Bahan-bahan ini kan tergolong bahan yang rapuh, apalagi kalau bahan tersebut sudah digunakan dalam waktu lama. Tapi faktanya, saat ini di Jepang sudah jarang sekali lantai ruangan yang menggunakan bahan bambu dan tatami, tapi karena udah kebiasaan maka tradisi ini tetap dilaksanakan sampai sekarang.


Alasan berikutnya ini dibuat agar para murid memiliki inisiatif tersendiri untuk membersihkan ruangan kelas mereka, sehingga endingnya diharapkan mereka itu punya nila moral dan sopan santun yang tinggi.


Seperti yang kita tahu, di Jepang, sopan santun sangat dijunjung tinggi. Orangtua biasanya akan mengajarkan sopan santun kepada anak mereka sejak usia dini, jadi tidak heran mengapa di Jepang dikatakan sebagai salah satu Negara paling sopan didunia.


Setelah menukar sepatunya, Izuna langsung berjalan menuju ke kelasnya.


Kelasnya, kelas 1-2 sebenarnya tidak terlalu jauh dari loker sepatu, jadi, hanya butuh beberapa menit bagi Izuna untuk tiba di kelasnya.


"Selamat pagi semua."


Memasuki kelas, Izuna langsung menyapa teman-teman yang ada dikelasnya. Tapi, karena masih cukup pagi, tidak banyak siswa yang datang dan hanya beberapa yang berada di kelas


"Oh, pagi Miyamura."


"Pagi, Miyamura-kun."


"Kamu datang pagi hari ini, Miyamura-san."


Satu persatu murid yang ada dikelas menyapa Izuna kembali, Izuna mengangguk dan sedikit mengobrol dengan mereka. Izuna kemudian berjalan menuju kursinya, dan disana, dia melihat Asuna yang sudah datang dan membaca sebuah buku ditangannya.


"Pagi, Yuuki-san."


Asuna mendongak ketika mendengar seseorang memanggil namany, disana dia melihat Izuna menyapanya dan kemudian duduk di kursinya, yang tepat berada di sebelahnya.


"Pagi ... Miyamura-kun."


Keduanya mulai mengobrol kecil hingga beberapa menit. Tapi, meski dibilabg mengobrol, sebenarnya hanya Izuna yang mengajukan pertanyaan dan Asuna yang sesekali menjawab pertanyaannya, dan beberapa diabaikan.

__ADS_1


Tapi lupakan, sekarang sudah jam 9, dan Chabashira-sensei memasuki kelas.


"Semuanya duduk, kita akan mulai kelas sekarang."


Begitu Chabashira-sensei datang, semua murid yang tadinya mengobrol dengan kelompok mereka mulai duduk dengan tenang di kursi mereka masing-masing.


Sebagai seorang guru, Chabashira Sae sangat serius dengan pekerjaannya. Hal ini dibuktikan dengan dirinya yang tidak pernah absen sama sekali ketika mengajar.


Dia juga selalu datamg tepat waktu dan sangat disiplin. Tapi meski begitu Dia memiliki kecenderungan sadis yang halus dan kadang-kadang menunjukkannya di depan umum seperti ketika dia menyebut murid-muridnya mengecewakan karena banyak yang gagal dalam ujian bulanan, dan bahkan bersuka cita dan menikmati ekspresi mereka dalam ekspresi kebingungan dan kesedihan mereka.


Tapi, terlepas dari kecenderungan sadisnya, dia juga menunjukkan kelonggaran terhadap kelas. Seperti ketika dia membiarkan seorang siswa yang tertidur di kelas, atau ketika dia memberikan nilai tambaham pada siswa yang aktif dan berkontribusi bagi kelas.


Dia juga memiliki kebiasaan merokok ketika sendirian, menggunakannya sebagai pengobatan sendiri untuk mengurangi stresnya akibat terlalu banyak bekerja.


_____


Di kelas, Izuna mendengarkan dengan seksama apa yanh diajarkan Chabashira-sensei. Meski dia sudah pernah belajar tentang hal ini sebelummya, tapi itu ketika dia dimasa lalu, dan saat itu dia juga tidak terlalu memperhatikan pelajaran.


Jadi, yang bisa dia lakukan adalah mempelajarinya sekali lagi.


Untungnya, dia memiliki "Memory Photography", yang membuatnya bisa mengingat semua hal dengan sangat jelas.


Itu juga alasan mengapa dia mendengarkan kelas dengan seksama, karena dia takut ada beberapa hal yang nantinya dis lewatkan.


Terlepas dari semua itu, ini adalah pelajaran Matematika, jadi menghafal rumus adalah salah satu kunci dalam pelajaran ini.


Jika Izuna tidak mengingat rumus yang diajarkan, maka dia pasti tidak akan bisa mengerjakan soal matematika ini.


Karena itulah, Izuna sangat senang ketika memiliki "Memory Photography" ini, karena dengan ini, dia bisa mengingat semua hal dengan sangat baik.


__________________


"Baiklah, apa ada yang bisa menjawab pertanyaan ini?" kata Chabashira-sensei ketika dia selesai menulis sebuah soal matematika di papan tulis.


"...." Semuanya diam.


Itu wajar, mereka baru saja diajari rumus ini beberapa saat yang lalu, dan sekarang, Chabashira-sensei meminta mereka untuk menjawabnya?


Bagaimana bisa mereka menjawab soal itu.


Bahkan, Asuna yang bisa dibilang salah satu murid paling pintar dikelas saja hanya diam dan tidak mengangkat tangan.


Itu wajar, karena beberapa hal, pikiran Asuna cukup kacau, membuatnya tidak bisa mencerna apa yanh Chabashira-sensei ajarkan beberapa hari terakhir.


Jika itu dia yang biasanya, mungkin Asuna bisa saja menyelesaikannya, tapi sekarang tidak.


Begitu kalimat itu jatuh, mereka semua langsung memalingkan wajah mereka kearah lain, berusaha untuk tidak bertatapan langsung dengan Chabashira-sensei.


Beberapa dari mereka berpura-pura tidak memperhatikan, beberapa lain pura-pura sedang membaca dan yang lainnya bertindak seolah-olah mereka sedang mengerjakan soal yang ditulis Chabashira-sensei di buku catatan mereka masing-masing.


Menghela nafas, Chabashira-sensei memandang muridnya dengan tertekan, 'Bagaimana aku bisa naik gaji jika mereka terus seperti ini.'


Itulah yang dia pikirkan.


Jika dia tidak bisa mengajarkan pelajaran sederhana pada muridnya, gaji bulanannya lah yang menjadi taruhannya.


"... Karena tidak ada yang mau, maka aku akan menunuk satu orang dari kalian untuk maju ke depan dan mengerjakannya."


Mata Chabashira-sensei mulai melirik satu-persatu muridnya, tapi kemudian, tatapannya terhenti pada murid pindahan yang baru-baru ini bergabung dengan kelas mereka.


'Miyamura kah? Tidak buruk untuk mencoba.' Pikirnya.


"Miyamura, coba maju kedepan dan kerjakan soal ini." kata Chabashira-sensei.


Izuna, yang daritadi dengan tenang mendengarkan Chabashira-sensei tertegun. Menoleh ke kanan kirinya, dia kemudian menunjuk ke dirinya sendir.


"Aku sensei?"


"Iya, cepatlah kemari dan coba kerjakan soal ini. Jika gagal, jangan harap untuk bisa duduk sampai akhir jam pelajaran." kata Chabashira-sensei sambil menampilkan senyuman yang penuh arti.


Tapi bagi setiap murid di kelas yang melihatnya, itu tidak lebih dari senyuman kejam yang seakan-akan bisa menelan mereka utuh-utuh!


Beberapa melihat Izuna dengan simpati karena ditunjuk oleh Chabashira-sensei, sementara yang lainnya nampak penasaran apakah Izuna bisa menyelesaikan soal itu atau tidak.


Sambil menghembuskan nafasnya, Izuna berdiri dan berjalan dengan tenang kedepan kelas.


Mengambil sebuah kapur yang diberikan Chabashira-sensei, Izuna mulai mengerjakan soal yang ditulis dengan lancar.


Tapi, mungkin dari kalian ada yang penasaran. Bagaimana bisa Negara Jepang, yang dikenal dengan kemajuan teknologinya masih menggunakan kapur dan papan tulis?


Mudah saja, ada beberapa alasan untuk itu.


Pertama, warna hijau papan tulis memberikan efek tenang dan kalem.

__ADS_1


Kedua, suara yang dihasilkan ketika kapur menyentuh papan tulis dapat meningkatkan fokus siswa.


Ketiga, tulisan putih berlatar belakang gelap ini juga lebih mudah dilihat dari jauh.


Itulah alasan kenapa guru di Jepang sangat berhati-hati saat memperkenalkan perubahan dalam sistem pengajaran mereka.


Sedikit dari mereka yang mulai memanfaatkan teknologi untuk belajar karena perubahan itu bisa saja mempengaruhi kualitas belajar dari murid.


Mereka percaya bahwa perubahan perlu diteliti untuk melihat seberapa efektif untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa di kelas.


____


Di papan tulis, ada sebuah soal seperti ini:


Diketahui fungsi a(x) \= x2 – 3x + 6 dan b(x) \= 5x – 8. Jika c(x) \= a(x) + b(x), maka c(x) \= ….


Meski ini merupakan soal dasar yang diajarkan di sekolah, tapi banyak dari mereka masih binggung dengan cara penyelesaiannya.


Izuna, yang mengingat semua rumus yang diterangkan sebelumnya berbeda.


Dia, dengan tenang menulis jawaban di papan tulis dengan santainya.


Tidak ada tanda kegugupan atau tidak percaya diri pada wajahnya.


Yang ada hanyalah ekspresi tenang yang membuat semua orang berpikir,


'Apakah dia benar-benar bisa menyelesaikannya?'


Tapi tentu saja, Izuna dengan mudah menulis jawabannya,


Diketahui: a(x) \= x2 – 3x + 6 dan b(x) \= 5x – 8.


c(x) \= a(x) + b(x)


c(x) \= x2 – 3x + 6 +5x – 8


c(x) \= x2 + 2x – 2


Begitulah kira-kira yang ditulis Izuna.


Selesai menulisnya, Izuna berbalik dan menyerahkan kapur ditangannya pada Chabashira-sensei.


"Sensei, aku sudah menyelesaikannya, apakah aku boleh duduk sekarang?"


Chabashira-sensei, yang melihat jawaban Izuna sedikit tertegun.


Dirinya mengajari murid dikelasnya selama satu minggu terkahir dan hanya beberapa saja yang menguasainya. Tapi, Izuna bisa dengan mudah menyelesaikan soal yang diberikan kurang dari 5 menit.


"Iya, kamu boleh duduk." kata Chabashira-sensei disertai anggukan kecil.


Berjalan kembali menuju kursinya, Izuna tidak bisa tidak merasakan banyak tatapan diarahkan kepadanya.


Itu wajar, karena mereka cukup kesulitan mengerjakan soal ini, tapi Izuna bisa dengan mudah menyelesaikannya.


"Apa ada yang salah?"


Ketika Izuna duduk di kursinya, dia langsung bertanya pada Asuna yang duduk disebelahnya.


"Tidak, hanya saja aku tidak menyangka jika kamu bisa dengan mudah menjawabnya." kata Asuna.


"Begitukah? Yah, ini cukup mendasar dan aku sering menemui soal ini di sekolahku yang lama." kata Izuna sambil menggaruk bagiaj belakang kepalanya yang tidak gatal.


Tentu saja itu tidak bohong.


Sebelum Izuna pindah, dia sudah diajarkan rumus ini di sekolahnya sebelumnya, dan sebelum dia berada di tubuh ini juga dia sudah melihat soal ini ratusan kali di kehidupannya yang sebelumnya.


"Meski begitu, aku cukup kesusahan menjawabnya ... Hahh... Mungkin aku harus belajar dengan giat lagi mulai sekarang."


Sambil menghela nafas lelah, Asuna mulai memikirkan sesuatu yang membuat ekspresi wajahnya menjadi sedih.


Melihat ekspresi Asuna yang berubah, Izuna kemudian bertanya, "Hei Yuuki-san. Apa kamu mau belajar bersamaku hari ini?"


Asuna mendongakkan wajahny, melihat Izuna dengan tanda tanya diatas kepalanya.


"Apakah kamu mengajakku untuk belajar bersama?" Asuna bertanya dengan bingung.


"Ya." Izuna mengangguk.


"Kenapa?" tanya Asuna sambil memiringkan kepalanya dengan penasaran.


"Tidak ada alasan khusus sebenarnya ... Hanya saja, aku dengan kamu adalah murid paling pintar di kelas, dan ada beberapa pelajaran yang tidak aku kuasai ... Jadi aku ingin meminta bantuanmu untuk itu."


Tentunya apa yang dikatakan Izuna tidak sepenuhnya bohong. Karena dia juga memiliki kelemahan dibeberapa mata pelajaraj tertentu, dan jika Asuna bisa membantunya, itu akan menguntungkannya.

__ADS_1


"... Baiklah, kita bisa belajar kelompok sepulang sekolah besok, apa kamu keberatan?" Asuna bertanya setelah berpikir sejenak.


Izuna menggelengkan kepalanya, "Baiklah, aku tidak keberatan."


__ADS_2