
Meskipun Dady El dan mom Joa sedikit terkejut karena Liam mengatakan bahwa dia tak lagi membenci Ameera, tapi rasanya bahagia sekali mendengar Liam sudah bisa memaafkan Ameera dan tidak lagi mengingat kejadian naas itu.
"Benarkah Am? Ameera pasti senang kau tak lagi membencinya!"
Liam tersenyum semu, memang dia sudah tidak lagi membenci Ameera tapi bagaimana dengan perasaan Ameera saat ini? Pasti lah Ameera sudah sangat membencinya atau bahkan tidak akan pernah lagi mau melihat wajahnya.
Malam itu Liam menginap di kediaman Momy Joanna dan Dady El. Bukanya lekas tidur, Liam justru memandangi foto-foto Ameera yang terdapat pada meja belajarnya.
Sudah dua hari lamanya Liam menginap di rumah orangtuanya Ameera, padahal secara kondisi jelas rumah yang terletak dipinggiran kota ini tidak cukup luas dan tidak mewah seperti rumah miliknya , tetap saja Liam merasa betah berada di rumah ini.
Sejak dini hari momy Joanna sudah memasak banyak sekali makanan untuk dibawa ke mess tempat Ameera tinggal, makanan sudah rapi untuk dibawa momy Joanna pun lantas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat.
Waktu baru menunjukkan pukul 07.00 pagi tadi Dady El dan momy Joa sudah rapi hendak berangkat! Sebelum berangkat mengunjungi Ameera, momy Joanna membangunkan Liam terlebih dahulu.
"Am bangun!"
Dibangunkan oleh momy Joanna, Liam pun membuka kedua matanya.
"Iya mom,"
"Kau yakin tidak akan ikut bersama dengan kami?"
"Tidak mom, aku di rumah saja!"
"Ya sudah kalau begitu, tapi kau mandi lah Am lalu cukur kumis mu itu! Sarapan sudah ada dimeja makan, momy pergi," belum selesai momy Joanna berbicara Dady Ek sudah berlari menghampirinya.
"Mom! Tetangga kita meninggal!"
"Tetangga siapa dad?" terkejut.
"Momynya Leony!"
"Kasihan sekali Leony dia hanya tinggal dengan ibunya dan sekarang ibunya meninggal, dimana Leony sekarang dad?"
"Di kediamannya sanak saudaranya pun tidak ada yang datang! Dia akan mengurus kepulangan jenazah ibunya di rumah sakit, kita harus menemaninya mom kasihan anak itu!"
"Kau benar Dad, kita tunda saja untuk mengunjungi Ameera! Tapi, makanan sebanyak itu, harus terbuang berarti, sayang sekali!"
Momy Joanna dan Dady El pun beranjak untuk segera menemui anak tetangga mereka yang ditinggal meninggal oleh Ibunya.
"Makanan itu biar aku yang antar pada Ameera!"
__ADS_1
Perkataan Liam membuat Dady El dan momy Joa kembali berbalik kebelakang.
"Benarkah? Kau yakin mau kesana?"
"Hmm hanya mengantarkan makanan saja, lagipula sayang jika makanan itu terbuang!"
"Baiklah Am, tolong katakan pada Ameera ya kalau disini momy dan Dady mau menemani Leony kasihan dia hanya tinggal seorang diri sekarang!"
Liam pun mengangguk lalu segera mandi bersiap-siap mengantarkan makanan untuk Ameera! Sementara Dady El dan momy Joa sudah berkunjung ke rumah duka.
Sepanjang perjalanan menuju mess milik Ameera, jantung Liam terus menerus memompa lebih cepat!
"Astaga aku masih muda jika jantungku terus memompa cepat begini, bisa-bisa aku mati muda!" gumamnya, berbekal alamat yang diberikan oleh momy Jonna, Liam pergi seorang diri untuk mengantarkan makanan untuk Ameera.
Setibanya di halaman mess yang ternyata luas sekali, Liam segera keluar dari dalam mobil lalu mengeluarkan kotak berisi makanan.
"Momy Joa bilang di kaamr nomor 33," Liam terus melihat satu persatu nomor pintu dari mess tersebut.
Hingga sampailah di lantai dua dan tibalah kedua kaki Liam berdiri didepan pintu mess nomor 33.
Liam menarik nafas terlebih dahulu sebelum akhirnya mengetuk pintu! Ameera yang kebetulan baru selesai mandi, mendengar pintu messnya diketuk, Ameera tau itu pasti kedua orangtuanya yang datang, tak sabar menyantap masakan ibunya Ameera segera membukakan pintu.
Klek..
"Kau," lirih Ameera.
"Aku hanya mengantarkan makanan ini," Liam menyodorkan kotak makanan itu pada Ameera.
Kedua bola mata Ameera mencoba untuk melihat kesembarang arah agar tidak perlu menatap wajah Liam, sedangkan Liam begitu betah menatap wajah Ameera lama-lama.
Diterimanya kotak makanan itu oleh Ameera.
"Kenapa bisa kau yang kesini?"
"Orangtuamu sedang membantu tetangga rumah yang sedang berduka, Ibu dari Leony meninggal pagi tadi!"
"Lalu kenapa kau yang antar?"
"Tidak bisakah aku duduk atau minum dulu?"
Ameera hanya diam dan tidak berniat mempersilahkan Liam untuk masuk kedalam, apalagi untuk memberikannya minum.
__ADS_1
"Maaf aku harus segera masuk, terimakasih sudah mengantar makanan ini!"
Ditutupnya pintu mess itu oleh Ameera, namun satu tangan Liam menahannya hingga tangannya pun terjepit.
"Aaa," merintih.
Langsung saja Ameera kembali membuka pintunya ketika sadar tangan Liam terjepit.
"Maaf aku tidak sengaja, tangan mu tidak apa-apa kan?"
"Hmm tanganku baik-baik saja tidak terluka sama sekali, yang terluka justru dibagian lain,"
"Aku sibuk, pergilah lagipula sudah selesai kan mengantar makanan ini aku sudah menerimanya,"
"Perjalanan ke sini 2 jam lebih, tidak bisakah aku minum dulu dan istirahat sebentar?"
"Tidak bisa, dan aku rasa aku sebenarnya tidak menginginkan melihat mu saat ini!" Ameera menatap kedua mata Liam yang sejak tadi memandangi wajahnya.
"Begitu ya? Ya sudah kalau begitu, lebih baik pulang maaf sudah mengganggu mu,"
Tak lagi membalas perkataan Liam, Ameera segera menutup pintu messnya. Liam pun mengerti kenapa Ameera bersikap seperti ini dan merasa pantas Ameera memperlakukannya seperti sekarang ini.
Dengan langkah kaki yang lesu, Liam melangkah pergi meninggalkan kamar mess Ameera.
Hari pun mulai terik, matahari siang hari ini terasa cukup menyengat sehingga rasanya sudah buru-buru ingin membeli minuman. Saat kembali ke mobilnya, satu ban mobil depan Liam ternyata bocor.
Ditendangnya ban mobil itu oleh kakinya.
"Sit!! Sedang terik begini malah bocor!" Liam mengusap kasar wajahnya, rasanya lelah sekali mengemudikan mobil sejauh ini bila tanpa supir.
Sekarang ban mobilnya malah bocor padahal tenggorokannya sudah sangat haus, tapi terpaksa harus mengganti ban mobil terlebih dahulu barulah bisa pergi ke toko.
Dibalik pintu messnya, Ameera belum melakukan kegiatan apapun! Dia hanya termenung sambil memegangi kotak makanan itu! Memang untuk saat ini Ameera belum mau bertemu dengan Liam, hatinya masih terlalu luka tapi memikirkan kata-kata Liam kalau dia lelah dan haus Ameera jadi merasa kasihan.
Apalagi Liam tidak pernah berpergian jauh mengemudikan mobilnya sendiri, dia selalu memakai supir bila jaraknya jauh! Diletakkannya makanan itu dimeja, lalu dibukanya kembali pintu kamar mess oleh Ameera.
Tidak ada tanda-tanda Liam masih ada disekitar kamarnya! Ameera pun turun kebawah untuk memastikan bahwa Liam memang sudah pergi.
Tapi dari kejauhan sebuah pemandangan langka terlihat oleh Ameera, ditengah terik matahari siang hari ini Liam sedang mengganti ban mobilnya sendiri, keringatnya terlihat sudah mengucur dan dia belum minum sama sekali.
Udah biarin Ra ga usah dikasihani, biar kehausan sampe pingsan juga biarin aja😁
__ADS_1