
Didorongnya tubuh Liam oleh Ameera.
"Kenapa?"
"Kebas Am,"
Liam pun mengukir senyum dibibirnya. Lalu menyudahi ciuman itu begitu dia sadar betapa buasnya dia menciumi bibir Ameera sampai-sampai Ameera harus merasakan kebas dibibirnya.
"Kau harus segera ganti pakaian mu, nanti masuk angin!"
"Seharusnya kan daritadi!"
"Memang aku melakukannya terlalu ya tadi?"
"Sudah lah aku mau pulang!"
"Aku akan antar!" Liam meraih tangan Ameera lalu membawanya masuk kedalam mobil.
Ada rasa bersalah pada Xander karena ternyata hatinya masih memilih Liam! Sepanjang jalan pun Ameera hanya melamun memikirkan apa yang harus dia lakukan, sementara selama ini berjuang untuk melupakan Liam pun tak pernah berhasil dia lakukan.
Lalu bagaimana dengan Xander, saat ini dalam hati Ameera tengah memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini pada Xander. Tak terasa lamunan Ameera, membawanya sampai ke flat miliknya.
"Disini?"
"Hmm,"
Keduanya turun dari mobil, dan Ameera belum berani lagi menatap wajah Liam dia hanya sesekali melirik kearah Liam. Ameera dan Liam pun masuk kedalam flat milik Ameera.
"Ini handuknya," aku akan keringkan pakaian mu dimesin cuci!"
"Lalu sampai pakaian ku kering aku harus pakai apa?"
"Tentu saja handuk itu, memangnya aku memiliki pakaian pria,"
"Oke," Liam menuju kamar mandi untuk melepaskan pakaiannya yang basah kuyup.
Sementara Ameera berganti pakaian di kamarnya! Setelah memakai pakaian santai, Ameera buru-buru menuju mesin cuci untuk mengeringkan pakaian Liam, tentunya nanti harus dibantu oleh hairdryer agar bajunya benar-benar kering.
Sambil menunggu mengeringkan pakaian Liam, Ameera membuatkan dua kopi hangat satu untuknya dan satu untuk Liam. Melihat Ameera sedang di dapur, Liam jadi mengingat kembali saat dulu Ameera masih menjadi istrinya, sering sekali Liam memperhatikan punggung belakang Ameera yang kala itu tengah memasak.
__ADS_1
Tidak pernah menyangka hari ini Ameera memberikan lagi kesempatan untuknya bisa melihat punggung belakang dia yang sedang sibuk di dapur!
Senyum merekah terpancar dibibir Liam, dan saat Ameera berbalik dia masih melihat Liam tersenyum-senyum sendiri.
"Gejala awal memang begitu,"
"Maksudmu?"
"Gejala awal pasien penghuni," tidak diteruskan oleh Ameera.
"Cih, kau mencari gara-gara ya? Kau tidak takut?"
"Untuk apa aku takut?" Ameera datang membawakan dua cangkir kopi lalu menaruhnya diatas meja.
Keduanya duduk disofa lalu menikmati kopi hangat tersebut, sebisa mungkin Ameera tidak melihat otot-otot tubuh kekar Liam yang saat ini hanya terlilit handuk sepinggangnya.
Sungguh pemandangan yang membuat Ameera kehilangan fokus. Apalagi tubuh Liam yang berotot itu memiliki bulu-bulu halus disepanjang dadaa hingga bawahnya.
Membuat Ameera terus menghindar menatap kearah Liam.
Di tempat berbeda Tifanny tengah kesulitan berjuang keras untuk membopong tubuh besar Xander yang sudah meracau, bicara tidak jelas efek mabuk yang berlebihan.
"Kenapa kau mau juga, ini minumlah! Ayo temani aku minum sayang,"
"Sayang, sayang! Berjalan dengan benar, kau tidak tau betapa tubuhmu ini berat!" Tifanny masih mengomel karena Xander sudah tidak bisa berjalan normal.
Hingga akhirnya Tifanny berhasil membawa masuk tubuh Xander yang basah kuyup itu! Dijatuhkannya tubuh Xander keatas kasurnya, lalu Tifanny pun membuka satu persatu pakaian Xander yang basah.
"Tunggu!! Apa aku yang harus menggantikan pakaian Tuan Xander? Apa sebaiknya aku hubungi Ameera saja?"
Namun belum selesai otak Tifanny memikirkan untuk menghubungi Ameera, Xander sudah lebih dulu meraih satu tangan Tifanny hingga tubuhnya jatuh diatas ranjang yang sama dengan Xander.
"Tuan, apa yang kau lakukan?"
"Kau sudah tau apa yang aku inginkan selama ini, sekarang kau tidak akan lagi bisa menolak ku Ameera!"
"Tapi aku bukan Ameera, sadarlah Tuan biar aku hubungi Ameera dulu!"
Namun Xander langsung melayangkan ciuman dibibir Tifanny, hasratt yang selama ini dia tahan karena selalu saja mendapatkan penolakan dari Ameera akhirnya malam ini bisa dia luapkan pada wanita yang berada dibawah penguasaannya, meskipun Xander tidak sadar bahwa yang saat ini berada dibawah kungkungannya bukanlah Ameera.
__ADS_1
Tapi hasratt yang sudah kadung menguasai dirinya, membuat Xander secara tidak sadar merobek pakaian yang dikenakan oleh Tifanny.
"Tuan, jangan begini!" lirih Tifanny.
Seperti serigala mendapatkan mangsa Xander melepaskan merobek kasar pakaian bagian atas Tifanny! Lalu melepaskan pengait b r a yang dikenakan oleh Tifanny, kedua buah naga besar itu menyembul dihadapan Xander.
"Ini yang aku inginkan," hap, dengan sekali lahapan Xander memasukan buah naga besar itu kedalam mulutnya.
Tentu saja Tifanny bisa saja menolak dan mendorong tubuh Xander ketika Xander meminta melakukan hal ini, tapi Tifanny yang memang sejak lama menyukai Xander memilih mau melayani hasratt laki-laki yang sedang dalam pengaruh alkohol itu menikmati setiap bagian tubuhnya.
Dengan kasar Xander menye sap buah labu besar milik Tifanny satu persatu secara bergantian dan dengan kasarnya, menggigit pucuknya seakan dia mangsa empuk yang akan memuaskan naf sunya.
"Ah Tuan, emtth," bukan tidak mau menolak, tapi bisa melakukan hal seperti ini dengan laki-laki yang disukainya, tentu saja Tifanny akan menjadikan ini sebagai senjata untuk memiliki Xander.
"Maafkan aku Ameera, tapi kau masih punya Tuan Liam! Aku yakin kalian berdua masih saling mencintai, biarkan Xander melakukan ini padaku!" dalam hati Tifanny.
Xander melepaskan buah naga milik Tifanny, ciuman itu menyusuri setiap lekuk tubuh Tifanny, hingga akhirnya Xander menarik paksa cela na da lam milik Tifanny menarik paksa hingga robek dan terlepas.
Melihat bagian inti milik Tifanny membuat gai rah dalam diri Xander semakin meningkat tajam! Dia segera melepaskan seluruh pakaiannya, dibantu oleh Tifanny hingga seluruh pakaian basah itu terlepas dari tubuh Xander.
Terlihat timun China yang besar dan panjang itu sudah mengeras dan tentu saja menginginkan apa yang seharusnya sejak lama dia dapatkan.
"Tuan Xand pelan-pelan!" lirih Tifanny.
Tak peduli dengan pesan yang dikatakan oleh Tifanny, Xander yang sudah kalut dengan naf si yang sudah menguasai dirinya langsung melesatkan timun China itu dengan kasar pada Tifanny.
"Aaaa, ahh Tuan Xand pelan-pelan!"
Tubuh Xander bergetar hebat merasakan bagian inti yang begitu menghimpit timun China miliknya, hingga membuatnya merasa terbang ke awang-awang. Sementara Tifanny hanya merintih penuh kesakitan saat Xander dengan kasarnya menerobos bagian inti miliknya tanpa permisi terlebih dahulu.
"Tuan sakit, ahh," yang bisa dilakukan Tifanny hanyalah meringis perih karena ini kali pertama dia membiarkan laki-laki melakukan hal hingga sejauh ini pada tubuhnya.
"Ini enak sekali Ra, ah," tapi Xander yang sedang tidak sadar pun tidak mempedulikan rintihan Fanny dia malah dengan brutal melakukannya.
Padahal Fanny bisa menolak kan Tubun Xander lagi ga bertenaga juga kebanyakan mabok,. tapi kenapa kamu mau dianggap Ameera Fan segitunya demen sama Xander🥺
Aduh itu yang di apartemen pake handuk doang seksoyy banget si Am, udahlah Am kamu buat maak aja si Am😍
__ADS_1