
Saat sedang membicarakan Tiffany yang sudah mengandung anak dari Xander, tiba-tiba Liam pun membicarakan soal keinginannya untuk segera memiliki momongan pada Ameera.
"Ra, aku juga mau baby!"
Mendengar rengekan Liam untuk segera memiliki baby, membuat Ameera menghela nafas panjangnya itu berarti Liam pasti akan mengajaknya lebih sering untuk melakukan hal seperti semalam.
"Kan baru kemarin kita melakukannya, nanti juga hamil kok Am,"
"Ya, tapi tidak cukup hanya sekali saja Ra kita harus lebih sering melakukannya, bagaimana kalau sehari dua kali?"
Benar saja apa yang tadi Ameera pikirkan, Liam meminta untuk lebih sering melakukannya padahal Ameera masih terbayang-bayang akan sakit dibagian intinya akibat Liam yang tidak mau berhenti kemarin.
"Sehari dua kali?"
"Iya, kita lakukan siang dan malam hari, bagaimana?"
Se-sepertinya itu akan sulit Am! Kalau pagi kita buru-buru berangkat kerja, siang sampai sore kita di kantor, hanya malam hari kita bisa melakukannya,"
"Hei kau cukup katakan setuju maka tidak ada yang sulit untuk ku, apapun bisa aku lakukan," Liam menaikkan satu alisnya.
"Ba-baiklah kalau memang mau seperti itu aku menurut saja Am," dengan gugup.
"Tenanglah Ra, nanti tidak akan sakit seperti waktu kemarin kok! Kan milikmu sudah terbiasa jadi kita akan sama-sama menikmatinya!"
Ameera tersenyum semu mendengar Liam mengatakan hal itu, makanan pun telah diantar kemeja mereka dan keduanya menyantap makan siangnya dengan lahap.
Sore harinya, Tiffany buru-buru turun ke loby karena Xander sudah mengirimkan pesan bahwa dia sudah tiba didepan kantor D.E skincare. Rasanya bahagia sekali pulang kerja yang tadinya badan lelah dan pikiran mumet akibat tuntutan pekerjaan, tapi dijemput oleh laki-laki yang kita cintai rasanya semua rasa lelah itu lenyap seketika.
Tiffany buru-buru membuka pintu mobil bagian depan, tapi ternyata ada Ibunya Xander yang duduk disamping Xander.
"Kau duduk dibangku belakang saja sana!"
Sebenarnya Tiffany tidak menyangka jika Ibunya Xander ternyata akan ikut, tapi tidak mau masalah kecil seperti ini merusak mood baiknya, Tiffany langsung saja menurut dan duduk di bangku belakang.
__ADS_1
Tanpa menanyakan kabar dirinya hari ini, Xander diam seribu bahasa tidak sekalipun mengajak Tiffany bicara, apalagi Ibunya dia sesekali melirik sinis kebelakang.
Selama perjalanan didalam mobil hening tidak ada yang berbicara sekalipun, hingga Tiffany pun berinisiatif mengajak Xander bicara terlebih dahulu.
"Xand kalau bisa pesan gedung yang sederhana saja!"
"Belum jadi istri saja sudah mengatur," sindir Ibunya.
"Maaf ya mom, aku bukan mengatur tapi menyarankan,"
Mendengar Tiffany memanggil mom, tentu saja Xander dan Ibunya saling melirik.
"Tunggu, apa telingaku sudah mengalami gangguan kenapa aku seperti mendengar mu memanggil ku mom?"
"Telinga momy masih sangat normal, karena aku benar-benar memanggil mu momy,"
"Kau gila? Xand, kasih tau wanita ini memangnya dia siapa berani sekali memanggil ku momy!'
"Loh kan harus dibiasakan dari sekarang mom, aku dan anakmu sebentar lagi akan menjadi pasangan suami istri yang bahagia jadi sudah sepatutnya aku memanggil mu momy, iya kan Xand?"
"Sudah sampai mom, tidak usah perdebatkan hal-hal kecil,"
"Tapi Xand,"
"Tolong jangan bertengkar dengan Fany mom, bagaimana pun dia sedang mengandung cucu mu,"
Dibela oleh Xander membuat Tiffany tersenyum merekah, sementara Ibunya Xander masih melirik sinis menatap penuh kebencian wajah Tiffany.
Mereka bertiga masuk untuk melihat-lihat dan menemui pihak pengelola.
Digandengnya tangan Xander oleh Tiffany membuat Xander merasa tidak nyaman.
"Dasar wanita genit tidak tau malu," sindir Ibunya.
__ADS_1
"Xand perutku mual sekali,"
Oue,,, oue.
Tiffany mulai merasakan mual pusing apalagi jika berdiri terlalu lama seperti ini.
"Fany sebaiknya kau duduklah biar aku yang berbicara dengan pengelola gedung,"
"Iya Xand,"
"Mom tolong temani Fany dulu!"
"Hmm,"
Tiffany dan Ibunya Xander duduk dikursi bersama-sama
"Dengar ya, kau jangan salah paham anakku bersikap baik padamu itu semata-mata karena dia tidak mau calon anaknya sampai kenapa-kenapa!"
"Tentu saja aku tau itu, tapi perlu momy tau Xander juga memberikan perhatian itu padaku karena dia peduli dan sudah mulai menyayangi ku,"
"Percaya diri sekali kau ini, dasar wanita bermuka tembok kau lihat saja nanti setelah bayi itu lahir, Xander akan menendang mu jauh-jauh dari hidupnya,"
"Kasihan, momy pasti tidak tau kan kalau Xander telah menandatangani surat perjanjian denganku?"
"Surat perjanjian? Surat perjanjian apa yang kau maksud?"
"Tanya dong sama anaknya, kasihan sekali momy tidak diberitahu tentang hal penting seperti ini,"
"Katakan cepat!" Ibunya Xander berdiri dihadapan Tiffany dengan kedua mata melotot tajam.
"Intinya, Xander tidak akan pernah menceraikan aku sekalipun bayi ini lahir jadi momy bersikap baik lah padaku, karena kita akan menjadi keluarga yang bahagia!"
"Tidak mungkin Xander mau menandatangani surat seperti itu,"
__ADS_1
"Ya sudah kalau momy tidak percaya!"
Ibunya Xander mengepalkan kedua tangannya, mana mungkin wanita yang berada dihadapannya ini tidak akan dicerai oleh Xander nantinya, sementara Tiffany bukanlah anak seorang konglomerat dan Xander tidak boleh hidup selamanya dengan Tiffany, masih banyak diluar sana anak dari para pengusaha yang kaya raya dan sepadan untuk Xander.