
Akhirnya Tiffany pun menelpon Liam.
"Halo Am, ini aku Fany!"
"Ada apa Fan?"
"Benarkah group Limson dibalik goncangnya perusahaan XR.shirt?"
"Benar!"
"Kenapa Am?"
"Aku mendengar kedua orangtua Xander merencanakan pemb un uhan padamu Fan! Itu sudah sangat keterlaluan,"
"Apa rencana pem bu nu han?"
"Saat di rumah sakit aku mendengar semuanya, mereka kesal karena Xander menandatangani surat perjanjian yang membuatnya tidak bisa menceraikan mu, kemudian mereka merencanakan untuk menghabisi mu!"
Tubuh Tiffany lemas mendengar semuanya dari Liam, sungguh Tiffany tidak menyangka bahwa orangtua Xander bahkan memiliki rencana sejahat itu padanya.
Ditutupnya telepon itu oleh Tiffany, lalu tatapan Tiffany mengarah pada orangtuanya Xander.
"Apa kalian berniat untuk menghabisi nyawa ku?"
Membuat Xander dan kedua orangtuanya langsung tidak berkutik, darimana Tiffany mengetahui akan rencana itu?
"Jawab! Selama ini aku sabar atas apapun sikap kalian terhadap ku, tapi apa kalian masih ingin menyingkirkan aku dari dunia ini? Aku telah melahirkan cucu perempuan yang cantik untuk kalian, tega-teganya kalian merencanakan untuk menghabisi aku!"
"Fanny sudah!" Xander berusaha menenangkan Tiffany.
"Kau juga tau orangtuamu memiliki niat jahat seperti itu padaku? Kau tau Xand?"
"Iya aku tau, dan aku larang mereka! Karena aku tidak mau kau terluka apalagi dihabisi!" teriak Xander.
"Fany kami sudah mengurunkan niat kami untuk mencelakai mu, tapi kenapa group Limson melakukan ini pada perusahaan kami?" tanya ibunya Xander.
"Mana aku tau, tanyakan saja sendiri ada group Limson!"
Tiffany pergi menuju kamarnya, dia masih sakit hati karena tega-teganya orangtua Xander berencana untuk menghabisi nyawanya, Xander pun menyusul Tiffany kedalam kamarnya.
"Fan, aku minta maaf atas nama orangtuaku! Tapi bisakah minta Liam untuk berhenti melakukan itu pada perusahaan ku?"
"Entah lah Xand aku merasa kali ini orangtuamu sangat keterlaluan, dan kau tidak peduli kan jika aku dihabisi?"
"Kalau aku tidak peduli, aku tidak akan melarang orangtuaku melakukan itu padamu!"
"Kau masih ingin bercerai dariku?"
"Ini bukan saatnya membicarakan itu, aku harus mengurus perusahaan ku dulu!"
Masalah perusahaan Xander membuat Xander dan orangtuanya benar-benar kelimpungan, saat ini perusahaan mereka sangat membutuhkan bantuan dana yang begitu besar.
__ADS_1
Tentu saja Xander tidak bisa tinggal diam dengan situasi perusahaannya.
"Dad, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Hanya ada satu cara, ceraikan Tiffany dan menikah dengan putri dari rekan bisnis Dady!"
"Benar itu Xand, lagipula dalam surat perjanjian yang kau ceritakan tidak ada larangannya kau memiliki dua istri, itung-itung menyelam sambil minum air, dengan begitu Tiffany tidak akan sanggup menjadi istrimu," kata Ibunya Xander.
Setelah dipikir-pikir oleh Xander, benar juga apa yang dikatakan oleh Ibunya dengan meminta izin untuk menikah lagi pastilah Tiffany tidak akan mau dimadu dan pasti akan memilih untuk bercerai.
Di kediaman Ameera, hari ini Ameera sudah membuat janji temu dengan salah seorang Dokter kandungan yang terkenal hebat untuk membuat wanita bisa segera hamil.
Sambil menunggu Liam pulang kerja, Ameera pun berdandan terlebih dahulu.
"Sudah cantik ko," muncul didekap pintu kamarnya.
"Am, ko tau-tau sudah datang?"
"Mobilnya tidak aku masukkan kedalam, ayo nanti kita telat Ra!"
Keduanya pergi untuk menemui Dokter kandungan demi menjalani program hamil agar secepatnya Ameera bisa hamil. Serangkaian demi serangkaian dilewati oleh Ameera dan Liam, keduanya menjalani pemeriksaan untuk proses agar program hamil bisa lancar.
Ameera dan Liam pun harus rutin menjalani pemeriksaan dua Minggu sekali, keduanya sepakat untuk menjalani program hamil lewat proses inseminasi terlebih dahulu barulah jika nanti gagal maka program bayi tabung menjadi harapan terakhir Ameera dan Liam.
"Sayang kau harus yakin ini akan berhasil,"
"Iya Am, aku sudah berharap sekali untuk bisa secepatnya memberikan mu anak-anak yang lucu-lucu,"
Begitulah masalah yang Liam dan Ameera sedang lalui sekarang ini, keduanya sibuk mencari jalan keluar agar Ameera bisa secepatnya hamil.
Malam harinya! Xander pulang ke rumah bersama dengan orangtuanya, dan Xander langsung menuju kamar untuk melihat anak semata wayangnya.
Dilihatnya bayi itu sudah tertidur pulas diatas kasur kecil khusus bayi sementara Tiffany sendiri sedang melamun sambil menghadap ke jendela.
"Kau sudah makan?"
"Sudah tadi,"
"Bagaimana anak kita apa tadi dia rewel sekali?"
"Tidak kok biasa saja,"
"Fan, aku ingin bicara serius denganmu!"
"Bicaralah Xand!"
"Tidak bisakah kita bercerai baik-baik Fan? Aku janji akan memenuhi kebutuhan mu dan anak kita meskipun kita sudah bercerai,"
Rasanya ingin sekali Tiffany berteriak tidak sanggup dengan cobaan didalam rumah tangganya, tapi Tiffany sadar perjuangannya sudah sejauh ini masa menyerah ditengah jalan.
"Kalau aku tidak mau cerai bagaimana? Lagipula sudah ada surat perjanjian itu kan?"
__ADS_1
"Maka aku akan menikah lagi dengan wanita lain dan itu artinya kau akan memiliki madu!"
"Harus kah kau lakukan ini padaku Xand?"
"Fan, perusahaan ku hampir hancur dan aku juga tidak mencintai mu lalu untuk apa kita bertahan seperti ini?"
"Aku akan menuntut mu Xand,"
"Silahkan, tapi kau jangan lupa isi dari surat perjanjian itu aku hanya tidak boleh menceraikan mu tapi tidak dilarang untuk menikah lagi,"
Memang benar surat perjanjian itu hanya mengikat Xander agar tidak menceritakannya, tapi kenapa Xander justru akan menikah lagi dengan perempuan lain? Tiffany merasa semuanya membuatnya sangat lelah, capek dan ingin menyerah saja.
Karena bagaimanapun Tiffany sama sekali tidak sudi bila Xander menikah lagi, hingga tengah malam Tiffany tidak bisa tidur memikirkan perkataan Xander yang akan menikah lagi.
Sudah hampir satu tahun ini Tiffany berjuang demi rumah tangganya dengan Xander, tapi sepertinya Xander memang tidak bisa membuka hati untuknya.
Dini hari Tiffany belum juga tidur sama sekali, setelah semalaman berpikir Tiffany pun sudah membuat keputusan untuk menentukan masa depannya dan juga masa depan anaknya.
Karena tidak mau melihat suaminya menikah kembali, Tiffany pun menyerah pada pernikahannya ini dan memutuskan akan membawa pergi bayinya dari rumah ini secara diam-diam.
Tapi sebelum itu, ada hal yang Tiffany ingin lakukan tapi entah akan terwujud atau tidak. Beberapa hari ini Xander terus pulang malam karena perusahaannya sudah diambang kebangkrutan, membuat Xander sangat sibuk untuk meminta bantuan dari sana sini.
Disatu sisi Ibunya Xander terus menerus menangis didalam kamarnya karena frustasi perusahaannya diambang kebangkrutan, tidak bisa lagi membeli barang-barang mewah dan akan menjadi tertawaan semua teman-teman sosialitanya.
"Sudahlah jangan menangis terus mom, aku pusing mendengarnya,"
"Ini semua salahmu Dad, aku bilang juga apa jangan main-main dengan group Limson jadinya seperti ini kan? Dan ini juga akibat wanita gila itu, pokoknya Xander harus menikah dengan anak rekan bisnis mu secepatnya,"
"Iya mom, Xander pasti akan menikah dengan wanita yang kita pilihkan sudah kau jangan menangis terus,"
Pulang kerja seperti biasanya, Xander akan langsung mandi dan keluar hanya mengenakan handuk dipinggangnya! Selama menikah dengan Tiffany, keduanya belum pernah melakukan hubungan suami istri pada umumnya, dan itulah yang diinginkan oleh Tiffany sebelum nanti dia akan pergi bersama bayinya.
Dengan langkah kaki pelan, Tiffany memberikan tatapan lain saat ini membuat Xander bertanya-tanya ada apa dengan istrinya itu.
"Fan, anak kita sudah tidur?"
"Sudah kok Xand jangan khawatir!"
"Besok aku akan menemui wanita yang akan aku nikahi Fan, dia putri dari pemilik perusahaan terkenal yang bisa membantu perusahaan ku selamat dari kebangkrutan,"
"Baguslah, aku senang jika kau juga senang kapan kalian berdua akan menikah?"
"Secepatnya, kau yakin bisa menerima pernikahan kedua ku?"
"Lakukan saja jika itu mau mu,"
Tiffany meraba dada bidang Xander, membuat Xander menahan tangan Tiffany.
"Fany jangan lakukan hal ini!"
"Kenapa Xand? Aku istrimu dan sudah setahun ini kita tidak pernah melakukannya,"
__ADS_1
"Aku tidak mencintai mu,"
"Sebentar lagi kau akan menikah dengan wanita lain, berikan aku sekali saja sentuhan ini Xand," Tiffany memeluk erat tubuh Xander, karena ini akan menjadi pelukan terakhirnya sebelum nantinya Tiffany pergi bersama dengan buah hatinya.