
Setelah meminta kedua orangtuanya agar tidak terus memojokkan Tiffany demi bayi yang ada didalam kandungannya, orangtua Xander pun ogah berlama-lama di ruang tamu keduanya segera pergi menuju kamar mereka.
"Kau sudah bisa bangun?"
"Ya, aku rasa aku sudah membaik,"
Xander membantu Tiffany untuk berdiri!
"Aku akan mengantarmu ke kamar mu, besok kau ajukan surat pengunduran diri di perusahaan Liam aku tidak mau kau tetap bekerja dalam keadaan hamil begini,"
"Iya aku tau, lalu barang-barang ku di mess bagaimana Xand?"
"Nanti aku akan meminta orang ku untuk membawakan ke sini!"
"Terimakasih ya Xand,"
Keduanya berjalan menuju salah satu kamar, sepertinya Xander sudah meminta salah satu pelayan membersihkan kamar ini! Karena sangat harum, bersih dan rapih sekali.
"Masuklah!"
"Lalu kau tidak ikut masuk?"
"Ini kan kamar mu,"
"Maksud mu, ini kamar mu? Lalu kamar mu dimana Xand?"
"Dilantai atas!"
"Kita sudah menikah, dan aku tidak mau sampai pisah kamar dengan suamiku sendiri Xand,"
Ocehan Tiffany mulai memenuhi telinga Xander lagi, jika sudah begini sudah dipastikan Tiffany pasti akan terus mengoceh.
"Dengar Fan, aku tidak perlu mengulang kan tentang bagaimana perasaan ku terhadap mu?"
"Xander ku sayang, ini bukan saatnya bicara tentang perasaan! Kau harus membuka pikiran mu seluas samudera, pikirkan jika tiba-tiba tengah malam kepalaku pusing lalu aku pingsan dan tidak ada kau disisiku? Bagaimana nanti dengan anak yang sedang aku kandung?"
Sejenak Xander terdiam dan terlihat memikirkan apa yang ditakutkan oleh Tiffany.
"Kalau begitu aku akan meminta salah seorang pelayan untuk menemanimu didalam kamar!"
"Oh my God Xand, aku ini sedang memantaskan diri agar menjadi menantu yang sesuai keinginan momy dan Dady mu, masa aku diminta satu kamar dengan pelayan? Itu berarti aku satu kasta dengan pelayan mu dan orangtuamu pasti akan semakin mengolok-olok aku!"
Lagi-lagi Tiffany selalu memiliki alasan untuk mematahkan semua ucapan Xander.
Tidak ada lagi cara untuk membungkam mulut Tiffany selain menuruti apa yang wanita itu inginkan.
"Keluarlah!"
__ADS_1
"Kau mengusir aku? Tega sekali Xand, aku ini sedang mengandung anakmu dan kau mengusir ku dari kamar ini?"
"Kamar kita diatas!"
Setelah mengatakan itu Xander berjalan lebih dulu, dan kali ini Tiffany benar-benar sangat bahagia, akhirnya dia bisa meyakinkan Xander agar tidur satu kamar dengannya.
Keduanya masuk kedalam kamar yang selama ini Xander tempati, sebenarnya bohong sekali jika Xander tidak gerogi untuk pertama kalinya satu kamar dengan seorang wanita! Padahal dia sudah pernah melakukan lebih dari sekedar satu kamar dengan Tiffany, tapi tetap saja itukan dalam keadaan mabuk berbeda dengan keadaan sadar seperti sekarang.
Tiffany justru lebih merasa percaya diri, dia langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk dan mahal itu, sungguh sangat nyaman lebih nyaman lagi jika bisa sambil memeluk Xander.
"Xand, aku tidak punya pakaian ganti masa aku tidur menggunakan gaun pengantin ini?"
"Aku akan meminta pada momy, tunggulah disini!"
"Nanti antarkan ke kamar mandi ya aku akan mandi sekarang soalnya," Tiffany setengah berteriak karena Xander langsung bergegas keluar kamar untuk meminjam pakaian Ibunya.
Tok.
Tok.
"Mom, ini aku!"
Ibunya Xander yang baru saja hendak beristirahat membukakan pintu kamarnya begitu mendengar ketukan pintu kamarnya.
"Xand, ada apa?"
"Aku pinjam baju tidur momy, boleh?"
"Sudahlah mom, kupingku sudah hampir pecah mendengar ocehan Tiffany please momy jangan tambah lagi!"
"Pinjam saja sama pelayan, masa baju tidur momy engga mau!"
"Mom, nanti kan momy bisa beli lagi!"
"Ya sudah, kau tunggu disini momy akan carikan baju momy yang terjelek untuk istrimu yang gila itu!"
Meskipun sambil terus marah-marah tapi Ibunya Xander akhirnya memberikan satu pasang pakaian tidurnya, memang sudah jarang dipakai lagi dan mau dibuang.
"Nih, setelah itu buang saja momy tidak mau memakai baju ini lagi!"
"Terimakasih mom,"
"Ingat ya Xand jangan pernah berikan istrimu itu uang, ga usah belikan dia baju,"
"Tiffany tidak minta baju, besok pakaian lama dia akan dibawa ke rumah ini kok!"
Dengan membawa satu pakaian tidur milik ibunya Xander kembali masuk kedalam kamar, tapi tidak ada Tiffany didalam kamar ini! Teringat ketika tadi Xander hendak menemui Ibunya, Tiffany berteriak bahwa dia akan mandi dan meminta Xander membawakan baju gantinya ke kamar mandi
__ADS_1
"Mana mungkin aku masuk kedalam kamar mandi," dilemparkannya pakaian ganti itu diatas ranjang.
Tak lama kemudian Tiffany keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sedadanya, melihat Xander yang sedang duduk diatas ranjang sambil memainkan handphone miliknya.
Sudah ada satu pakaian wanita diatas ranjang, Tiffany pun mengambilnya.
"Pantas saja aku tunggu di kamar mandi kau tidak kunjung datang, rupanya kau tidak berani ya?"
"Apa maksudmu aku tidak berani?"
"Memang tidak berani kan? Kalau kau berani melihatku telan jang, sudah pasti kau akan masuk kedalam kamar mandi sejak tadi!"
Xander memilih untuk bungkam, dia tidak mau lagi berdebat yang ujung-ujungnya nanti akan menyakiti hati Tiffany, Xander memang tidak mencintai Tiffany dan nanti akan menceraikannya tapi Xander juga tidak mau berkata kasar apalagi menyakiti hati Tiffany terus menerus.
Setelah selesai memakai pakaian tidur, Tiffany pun segera naik keatas ranjang membuat Xander semakin bergeser menjauh.
Dielus-elusnya perut yang masih langsing oleh Tiffany.
"Sayang maafin momy ya, gara-gara Dady tidak suka dengan momy, Dady jadi tidak pernah mengajakmu ngobrol ataupun membuatkan mu susuu sebelum tidur!"
Seketika Xander melirik kearah Tiffany, dan disambut oleh tawa nyeleneh dari bibir Tiffany.
"Kau bawa susuu hamilnya?"
"Tidak, ketinggalan di mess,"
Segera Xander beranjak pergi meninggalkan kamar untuk keluar rumah, tujuannya adalah mencari mini market yang 24 jam masih buka untuk membeli susuu untuk ibu hamil.
Padahal diluar malam ini sedang turun hujan cukup deras tapi tidak menghalangi niat Xander untuk membeli susuu ibu hamil, security yang melihat Xander menuju mobilnya segera menghampiri Xander.
"Tuan, Anda mau pergi?"
"Iya aku mau membeli susuu Ibu hamil!"
"Biar saya yang belikan,"
"Tidak usah, aku bisa sendiri!"
Entah kenapa Xander ingin sekali membeli susuu ibu hamil itu sendiri, hingga hujan deras pun dia terobos. Setelah membeli susuu ibu hamil di minimarket terdekat, Xander langsung ke dapur untuk membuatkan susuu ibu hamil.
Setelah membaca petunjuk tentang cara penyajiannya, Xander pun menuangkan beberapa sendok susuu kedalam gelas lalu mengaduk-aduknya.
Setelah itu Xander kembali ke kamarnya, dilihatnya Tiffany sedang melamun sendirian.
"Ini susuu untuk ibu hamil, minumlah!" disodorkannya pada Tiffany.
Rasanya terharu sekali karena ayah dari bayi yang dia kandung mau membuatkan susuu untuk menutrisi kehamilannya, Tiffany menerima segelas susuu itu sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
"Terimakasih Xand,"
Walaupun semua perhatian yang diberikan Xander semata-mata hanya untuk bayi dalam kandungannya, tapi setidaknya Xander tidak pernah memaki-makinya secara kasar apalagi bermain fisik, Tiffany masih merasa beruntung bisa menikah dengan Xander.