(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci

(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci
Bab 94


__ADS_3

Pembicaraan Lindsey dan Ameera berlanjut hingga masalah program kehamilan yang sedang ditempuh oleh Ameera dengan Liam.


"Sepertinya kau terlalu stres memikirkan soal anak Ra, pikiran mu juga harus tenang kalau sedang program!"


"Mungkin iya Bi, tapi bagaimana lagi memang aku dan Liam sangat tidak sabar sekali ingin memiliki anak,"


"Jalani saja program bayi tabung di rumah sakit paling bagus Am, kalau memang kalian tidak sabaran daripada masalah itu membebani pikiran kalian," saran dari Domanick.


"Iya rencananya jika program inseminasi ini gagal, maka kami akan menjalani program bayi tabung Paman!"


Setelah berbicara panjang lebar membahas banyak hal dari mulai bisnis, kehamilan dan juga lain-lainnya, Ameera dan Liam pergi meninggalkan rumah milik Pamannya.


Sementara itu kekacauan tengah terjadi didepan kediaman rumah orangtuanya Xander, sekarang para pekerja pabrik yang gaji dan pesangonnya belum dibayarkan memaksa masuk kedalam halaman rumah milik Xander dan orangtuanya.


Pintu gerbang tinggi itu sebentar lagi akan roboh, sementara sudah tidak ada security yang berjaga disana karena memang sudah berhenti begitu berita kebangkrutan keluarga Xander mencuat.


Ibunya Xander yang baru selesai mengurusi pemakaman suaminya, shock ketika melihat kerumunan yang sedang berusaha mendobrak gerbang rumah mereka. Padahal jelas-jelas rumah itu sudah dipasang papan sitaan oleh pihak Bank.


Tentu saja, Ibunya Xander langsung kalang kabut dia segera akan memutar kembali mobil mewahnya, tapi sialnya para pendemo itu melihat mobil milik Ibunya Xander, sehingga semuanya berpindah berkerumun mengelilingi mobil yang dikendarai Ibunya Xander.


"Turn kau!! Turun!" para pendemo itu berteriak menakutkan dan penuh amarah.


"Turun atau aku pecahkan kaca mobilnya!" ditambah lagi mereka sekarang mengancam akan menghancurkan mobil, akhirnya mau tidak mau Ibunya Xander turun dari mobil.


Satu orang dikelilingi oleh entah berapa banyak mantan karyawan pabriknya, membuat Ibunya Xander tidak sanggup lagi mendengar semua luapan amarah, cacian yang terus menerus terdengar dikedua gendang telinganya.


Ibunya Xander hanya bisa menangis, memohon ampun pada para pendemo itu dan menutup kedua telinga dengan tangannya.


"Enak-enak kau masih naik mobil mewah sementara hak kami kau tidak bayar hah?? Jawab!!"


"Ampun, ini urusan suamiku bukan urusanku!"


"Kalau begitu dimana suami mu itu?"


"Dia sudah mati!" sambil menangis.


"Mati? Jadi maksud mu kita harus meminta hak-hak kita pada orang yang sudah mati, sementara yang masih hidup ada dihadapan kami sekarang??"

__ADS_1


"Sudah kita sita saja mobilnya, lalu kita jual dan kita bagi-bagikan hasilnya!"


"Benar itu walaupun hasilnya tidak akan cukup untuk membayar pesangon dan gaji kita semua tapi minimal kita memperoleh uang!"


Semua para pendemo sepakat untuk mengambil paksa mobil itu dari tangan Ibunya Xander.


"Tolong jangan, mobil ini satu-satunya yang aku punya! Apa kalian tidak lihat rumahku saja sudah dipasang papan sita dari Bank, kasihanilah aku!"


"Serahkan kunci mobilnya padaku, wanita tua!"


"Tidak!"


Meskipun sempat terjadi tarik menarik kunci mobil tapi akhirnya mobil mewah itu berhasil dikuasai oleh para pendemo, tak lupa perhiasan yang dipakai oleh Ibunya Xander pun turut mereka ambil, membuat Ibunya Xander semakin putus asa menghadapi semua masalah yang terjadi.


Setelah mendapatkan mobil mewah milik ibunya Xander, para pendemo membubarkan diri. Ibunya Xander hanya bisa duduk didepan gerbang, sebenarnya masih bisa menempati rumah sampai dua Minggu kedepan karena pihak bank belum benar-benar menggembok rumah orangtuanya Xander, hanya saja sudah dipasang plang tanda sitaan pihak Bank sejak kemarin.


Beruntung lah Xander memiliki firasat tentang Ibunya, sehingga Xander memutuskan untuk pergi ke rumah menemuinya Ibunya, tak disangka didepan gerbang rumahnya Ibunya Xander tengah menangis sambil duduk didepan gerbang rumah mewah itu, Xander pun melihat plang sitaan pihak Bank sudah terpasang dipagar rumah mereka.


Mobil Xander berhenti tepat didepan Ibunya yang sedang menangis.


Xander segera turun dari mobil dan memeluk Ibunya.


"Mom, kenapa tidak masuk ke rumah?"


"Tadi para pendemo datang ke sini dan merampas mobil momy dan perhiasan yang momy pakai Xand,"


"Sabar ya mom, ini adalah ujian hidup yang harus kita lewati bersama! Sekarang kita masuk ke rumah ya!"


"Engga Xand, para pendemo itu pasti akan kesini lagi dan jika mereka melihat mobil mu mereka akan mengambilnya juga, lagipula rumah sudah disita kita pergi saja dari sini Xand, momy tidak mau ada disini!"


"Oke mom, momy yang tenang dulu! Iya kita pergi saja dari sini,"


Karena tidak lagi memiliki tempat tinggal sekarang ini, Xander dan Ibunya memutuskan untuk menjual mobil milik Xander dan laku diharga 2 milyar. Uang itu harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin disaat seperti ini.


Xander dan Ibunya membeli rumah yang sederhana, meskipun sangat sederhana dan sempit tetap saja namanya membeli properti di pusat kota harganya pun sangatlah mahal, sehingga menghabiskan hampir seluruh uang hasil penjualan mobil.


"Xand, kenapa hidup kita jadi seperti ini? Ini seperti mimpi Xand, apa ini akibat kesombongan momy dan mendiang Dady mu ketika kami masih kaya?"

__ADS_1


"Mom, jangan lagi pikirkan hal yang sudah berlalu lebih baik kita jalani sebaiknya apa yang ada dihadapan kita masih beruntung karena masih bisa tinggal di rumah ini, walaupun sangat sempit dan sangat berbeda dari rumah kita dulu!"


"Lalu apa rencana mu?"


"Aku akan melamar kerja besok, semua perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan aku akan mengirimkan CV ku ke perusahaan-perusahan itu, lalu jika nanti aku sudah mendapatkan pekerjaan hari libur akan aku gunakan untuk mencari Fany dan Claire,"


"Momy banyak sekali kesalahan pada Fany, dan momy belum sempat minta maaf padanya,"


"Karena itu mom, tolong restui hubungan kami jika aku sudah bisa menemukan Fany dan anakku!"


"Iya Xand, momy merestui kalian mudah-mudahan kau secepatnya dapat pekerjaan dan bisa segera menemukan Fany dan anak mu,"


Di kediaman Liam dan Ameera, sambil menikmati secangkir kopi hangat Ameera dan Liam sedang mengobrol santai diatas balkon kamar mereka, handphone Ameera berdering panggilan video call dari Tiffany.


"Am, Fany video call!"


"Angkat Ra,"


Ameera dan Liam pun antusias untuk berbicara di telepon dengan Tiffany.


"Hai Ra, hai Am kalian sedang apa?"


"Hai Fan, kami sedang minum kopi hangat biasa baru pulang kerja,"


"Bagaimana pekerjaan mu Fan, apa di Jerman CEO perusahaan iklan group Limsonnya setampan aku?" tanya Liam.


"Huegg,,, disini banyak sekali CEO tampan yang sangat jauh daripada kau Am,"


Ckckckck...


"Baby Claire mana Fan?"


"Tuh dia sudah tidur, aku sudah tenang meninggalkan Claire bekerja karena pengasuhnya sangat pintar dan gesit, terimakasih banyak ya Am, Ra juga Paman Nick kalian sudah banyak membantu ku,"


"Kau terlalu kompeten mana mungkin perusahaan group Limson menolak!" kata Liam.


"Fan, ada yang ingin kami berdua sampaikan padamu! ini tentang Xander!"

__ADS_1


__ADS_2