(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci

(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci
Bab 69


__ADS_3

Tanpa memperdulikan lagi Ibunya Xander, segera Liam meraih satu tangan Ameera untuk pergi dari sana! Bagi Liam berlama-lama didekat Ibunya Xander sungguh sangat buang-buang waktu.


Digandengnya tangan Ameera oleh Liam menuju ke kasir untuk membayar barang belanjaan yang telah ada dikeranjang, sebenarnya masih banyak yang belum Ameera beli tapi melihat wajah Liam sudah tidak mood untuk tetap berada di supermarket ini, ya sudah Ameera memilih untuk besok saja membeli keperluan lainya.


Sampai diparkiran Liam barulah melepaskan tangan Ameera, lalu membukakan pintu mobilnya.


"Am, kau kesal ya kita bertemu Ibunya Xander?"


"Aku kesal karena dia terus mengganggu mu, dan berkata yang tidak-tidak padamu! Rasanya ingin aku hancurkan saja perusahaan milik keluarga Xander,"


Ameera terkekeh karena Liam sampai emosi dan memiliki niat seperti itu.


"Am sudahlah jangan diperpanjang lagi, toh tadi Ibunya Xander juga sudah minta maaf,"


Liam masih dalam suasana hati tidak baik, tapi Ameera pun segera menelusupkan kedua tangannya melingkar dipinggang Liam.


"Apa nih?" Liam tersenyum kecil.


"Jangan cemberut terus Am, nah senyum gini kan lebih tampan diliatnya," goda Ameera.


Liam pun balas dengan memeluk tubuh Ameera, sejak dulu Ameera memang selalu sabar dan sekarang malah Ameera yang tidak mau ambil pusing dengan perkataan dari ibunya Xander.


"Ayo pulang,"


"Tapi aku masih Inging memeluk mu,"


"Am jangan didepan umum juga kali,"


"Oh jadi lebih suka private?" Liam malah balas menggoda Ameera.


"Hah? Sudahlah aku hanya salah bicara," Ameera buru-buru masuk kedalam mobil.


"Loh, Ra jawab dulu,"


Tapi Ameera malah tersenyum sambil memalingkan wajahnya, Liam pun segera masuk kedalam mobil dan mobil meninggalkan parkiran supermarket.


Setibanya di apartemen, Liam membantu Ameera menata barang belanjaan pada lemari es.


"Ra,"


"Hmm,"


"Kau tidak mau tinggal di rumahku saja?"


"Tinggal di rumah mu? Tidak mau,"


"Gaji mu di kantor ku berapa memang? Kau kan hanya karyawan biasa, menyewa apartemen akan membuat mu boros, mending tinggal di rumahku saja gratis,"


"Aku sanggup bayar kok,"


Sebenarnya yang dikatakan oleh Liam itu benar adanya, sebagai karyawan biasa yang tidak bisa tinggal di mess perusahaan, Ameera harus merogoh uang lumayan juga untuk sewa apartemen ini. Tapi untuk tinggal di rumah Liam pun itu bukan solusi yang tepat, apalagi hubungan ini baru mulai membaik.

__ADS_1


"Aku tidak akan memintamu buru-buru untuk menjadi istriku lagi, tapi aku tidak mau kau tinggal sendirian disini lebih aman bersama ku di rumah!"


"Yakin lebih aman?"


"Maksud mu apa bicara begitu? Kau merasa tidak aman jika tinggal bersama ku?"


"Ya siapa yang tau? Tinggal bersama seorang duda yang telah lama kesepian? Bukankah itu lebih mengerikan dibandingkan tinggal di apartemen sendirian?"


"Aku memang duda, tapi aku duda terhormat tau!"


"Masa?"


Ameera mendekati Liam lalu menutup lemari es karena semua makanan telah dimasukan kedalam lemari es.


"Duda terhormat itu yang tahan godaan ya?" bisik Ameera.


Membuat bulu kuduk Liam berdiri dan mulutnya mengeluarkan suara de sah kecil.


"Ah, kau menguji ku?"


"Tidak kok, cuma ingin tau saja benar tidak kau duda terhormat!"


Setelah mengatakan itu Ameera pun berjalan meninggalkan Liam untuk duduk disofa, tapi dari belakang Liam langsung menggendong tubuh Ameera.


"Eh Am, kau mau apa?"


"Salah sendiri menguji duda seperti tadi,"


Liam tetap berjalan menggendong Ameera masuk kedalam kamarnya, lalu menurunkan tubuh Ameera diatas ranjang.


Setelah itu Liam pun menyombongkan dirinya.


"Lihat,. melihat tubuhmu terlentang diatas kasur begini saja aku bisa tahan,"


"Cih, iya aku percaya kau memang duda terhormat!" Ameera pun duduk dibibir ranjang.


"Jadi bagaimana mau pindah ke rumahku?"


"Nanti aku pikir-pikir dulu ya Am!"


"Aku tunggu jawaban mu secepatnya, dan jangan terlalu banyak berpikir,"


"Iya, kau mau pulang kapan Am?"


"Kau mengusir ku?"


"Tidak, salah paham deh aku hanya bertanya,"


"Sebenarnya aku masih betah disini, tapi aku sudah janji mau mengunjungi orangtuaku hari ini! Kau mau ikut?"


"Apa kata mereka nanti kalau aku ikut, tidak deh lain kali saja,"

__ADS_1


"Paling mereka akan bahagia dan menyuruh kita untuk rujuk,"


"Oh my God,"


"Iya iya aku tau kau tidak mau buru-buru rujuk denganku, aku akan sabar menunggu sampai kau siap Ra," Liam menggenggam tangan Ameera.


"Terimakasih Am, ya sudah aku antar kedepan ya!"


Keduanya keluar kamar, Ameera mengantar Liam sampai didepan pintu apartemennya!


"Dah Am,"


"Dah saja?"


"Lalu apa?"


"Kiss ya?"


"Tidak mau, kan sudah di kantor tadi,"


"Sebentar saja nanti aku tidak fokus menyetir jika belum berciuman denganmu!"


"Iam," kedua bola mata Ameera membulat karena semakin hari Liam semakin berani bicara seperti itu.


"Kau mau aku tidak fokus menyetir? Memang kau tidak khawatir nantinya aku,"


"Stop, oke boleh cium tapi sedetik saja!"


Liam pun segera meraih pinggul Ameera, dan melahap bibir Ameera dengan rakus. Tetapi tidak sesuai instruksi jatah dari Ameera, Liam justru terus men ye sap bibir Ameera hingga kedua kaki Liam kembali berjalan masuk kedalam apartemen.


Ameera berjalan mundur dan bibirnya masih berpagutan dengan bibir Liam, hingga Liam menjulurkan lidahnya lalu memasukkan lidahnya kedalam rongga mulut Ameera.


Keduanya sampai disofa, tubuh Liam menindih tubuh Ameera dan lidahnya tengah mengabsen didalam rongga mulut Ameera, terasa sekali Liam dan Ameera semakin larut kedalam ciuman itu hingga tanpa sadar, kedua tangan Liam mere mas kedua semangka import Ameera.


Seketika Ameera langsung membulatkan kedua matanya, tapi Liam malah me lu mat bibir bawah Ameera dan sedikit mengigitnya.


"Ah," hal itu membuat Ameera men de sah.


Terus kembali Liam melahap habis bibir Ameera, memasukkan seluruh bibir ranum Ameera kedalam mulutnya sementara kedua tangan Liam terus menerus mer e mas kedua semangka import itu secara bersamaan.


Kedua tangan Ameera mencengkram kiri dan kanan sofa, karena semakin lama Liam me r e mas kedua semangkanya semakin Ameera dibuatnya mabuk kepayang. Sensasi yang sungguh luar biasa ini baru dirasakan oleh Ameera, dia tidak pernah tau kalau rasanya senikmat ini bahkan menjalar keseluruh bagian tubuhnya yang lain.


Keduanya masih terus berciuman, dan Liam pun tak lagi mer e mas kedua semangka import milik Ameera itu, melainkan kedua tangannya kini melepaskan satu persatu kancing kemeja Ameera.


Tidak diketahui oleh Ameera kapan Liam melepaskan seluruh kancing kemejanya, tapi kini seluruh kancing kemeja Ameera telah terlepas, kedua tangan Liam pun menelusup kedalam kemeja Ameera meraba punggung belakang Ameera lalu melepaskan pengait b r a yang dikenakan oleh Ameera.


Membuat kedua semangka import itu kini menyembul sempurna tanpa penghalang apapun lagi dihadapan Liam.


Liam melepaskan ciuman dengan bibir Ameera, lalu dipandanginya kedua semangka import milik Ameera dengan seksama.


Wajah Liam perlahan mendekati kedua semangka import milik Ameera, lalu dimasukannya salah satu semangka itu kedalam mulut Liam.

__ADS_1



__ADS_2