
Saat ini Xander pun sangat bimbang apa yang harus dia lakukan lagi, apa dia harus mengikuti keinginan Tifanny untuk menjadi orangtua yang utuh tetap bersama demi anak yang dia kandung, atau membiarkan Tiffany membesarkan darah dagingnya sendirian.
"Fany aku tidak mencintai mu dan untuk menjadi orangtua yang utuh untuk anak itu, aku tidak bisa!"
Tiffany meremat pakaian yang dia kenakan demi menahan rasa sakit dihatinya atas ucapan Xander, tapi apalagi yang bisa dilakukan oleh seorang Tiffany selain menerima keputusan dari Xander! Dengan menarik nafas panjang, Tiffany berusaha untuk tetap tegar dihadapan Xander.
"Baiklah, kalau begitu kita jangan berdebat lagi aku akan menjadi Ibu sekaligus ayah untuk anak ini, tapi Xand aku peringatkan kau dari sejak saat ini! Kelak jangan pernah muncul dihadapan ku apalagi anak ini!"
Xander tidak dapat berkata apa-apa, dia bimbang dia stres berat dalam mengambil keputusan besar ini, tanpa ragu Tiffany melangkah pergi meninggalkan Xander yang masih menatap kearahnya.
Dari sini, Xander ingin sekali menahan langkah kaki Tiffany dan membicarakan ulang semuanya, tapi tentu saja itu akan percuma karena Tiffany sangat teguh dengan permintaannya sementara dirinya tidak mungkin mau menghabiskan seumur sisa hidupnya untuk bersama dengan Tiffany wanita yang tidak dia sukai apalagi cintai.
Dengan terpaksa Xander membiarkan Tiffany pergi begitu saja, padahal Tiffany sangat berharap saat ini Xander mengejarnya dan mengatakan bahwa dia akan mewujudkan permintaan sederhana itu.
Tapi harapan hanya tinggal harapan karena nyatanya Xander benar-benar tidak lagi mengejar Tiffany.
Di kediaman milik Liam, keluarga keduanya masih berkumpul sehingga semalam Liam menghabiskan waktu untuk menenggak wine bersama Paman Domanick, Paman Bright dan Opa Tan hingga semalam mereka tertidur di ruang televisi setelah mabuk berat.
Ameera pun tidak mempermasalahkan suaminya masih menemani keluarganya dihari malam pertama keduanya, toh momen berkumpul seperti ini sangat langka bagi mereka. Saat Ameera sedang merapihkan ranjang di kamar utama kediaman Liam, dengan langkah kaki sedikit terhuyung Liam menghampiri Ameera.
"Ra maaf ya semalam kita tidak tidur bersama, aku ketiduran bersama Paman-pamanku!"
"Iya Am tidak apa-apa aku senang kau menghabiskan waktu dengan mereka, jarang-jarang kan kalian bisa bersenang-senang hingga pagi seperti ini,"
__ADS_1
"Terimakasih banyak Ra untuk pengertiannya, kalau begitu aku akan mandi sekarang, karena keluarga ku akan berpamitan sebentar lagi,"
"Iya ya sudah, aku akan menyiapkan mu pakaian ganti,"
Liam masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai mandi dilihatnya sudah disiapkan pakaian ganti oleh Ameera diatas tempat tidur, Liam pun tersenyum karena sekarang akan ada yang selalu menyiapkan pakaian gantinya lagi.
Setelah memakai pakaian tersebut, Liam keluar kamar! Rupanya semua keluarga dan istrinya tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
"Pagi semua," sapa Liam.
"Lihat si anak bodoh ini, dia semalaman mabuk dengan kita dan tidak menyentuh Ameera," goda Paman Domanick.
"Liam tidak gila selang ka ng an seperti mu Nick!" sindiran Paman Bright.
"Sudah-sudah kali ini momy maafkan Am, tapi nanti malam kau harus segera tancap gas kau paham kan?" Momy Britney menaikkan satu alisnya memberikan kode pada anaknya itu.
Ckckckck...
Tentu saja hal itu menjadi bahan tertawaan kedua keluarga dimeja makan. Setelah sarapan selesai, keluarga Liam dan keluarga Ameera berpamitan untuk pulang lagipula mereka sudah menginap satu malam jadi setelah sarapan mereka langsung buru-buru pulang.
Menyisakan Ameera dengan Liam didalam rumah mewah yang kini sepi karena keluarga mereka telah pulang ke rumahnya masing-masing.
"Yah sepi lagi deh Am,"
__ADS_1
"Iya, kau suka jika kumpul-kumpul seperti kemarin?"
"Tentu saja, aku jadi banyak teman ngobrol di rumah,"
"Ya sudah aku akan sering undang mereka untuk datang ke rumah,"
"Eh mana bisa, orangtua ku semakin sibuk di rumah makan, dan keluarga mu sangat sibuk dengan bisnis-bisnisnya kita tidak boleh menganggu kesibukan mereka,"
"Kau benar juga,"
"Apa kita tidak ke kantor hari ini Am?"
"Kau masih mau bekerja di kantor?"
"Aku rasa sebaiknya aku tetap kerja, bosan di rumah sendirian juga,"
"Baiklah, sampai aku berhasil membuatmu hamil kau boleh tetap bekerja,"
Ameera pun tersipu malu mendengar perkataan Liam, melihat Ameera tersenyum malu Liam pun mendekati Ameera.
"Apa mau siang-siang begini?"
"Masa siang si? Namanya bukan malam pertama dong? Tapi siang pertama, aku tidak mau Am,"
__ADS_1