
Mendengar ada bunyi orang terjatuh, Xander kembali menoleh begitu juga security yang sedang berjaga segera berlari begitu melihat ada orang yang pingsan.
"Fanny," Xander pun berusaha membangunkan Tiffany.
"Tuan, biar nona ini biar saya yang urus!" security menawarkan.
"Tidak perlu biar aku saja!"
Digendongnya tubuh Tiffany oleh Xander menuju mobilnya! Xander pun meminta supir untuk mengantarnya membawa Tiffany pulang ke mess, karena tidak mungkin Xander membawa Tiffany ke rumahnya bisa-bisa orangtua Xander marah besar.
Setelah tiba di mess tempat tinggal Tiffany, direbahkannya tubuh Tiffany oleh Xander.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkan dia?" gumam Xander.
Terpikirkan cara yaitu dengan menyiprat air kewajah Tiffany mungkin gadis itu akan bisa sadar! Xander pun pergi ke dapur lalu membawa gelas berisi air, dan menyelipkan tangannya agar tangannya itu basah dan bisa dipakai untuk memberikan percikan-percikan air kewajah Tiffany.
Tubuh Tiffany tersadar setelah percikan air membasahi wajahnya.
"Tuan, aku kenapa?"
"Kau pingsan tadi, jadi aku membawa mu ke mess mu ini,"
Aaa.. (memekik)
"Kenapa?"
"Aku lapar Tuan sejak pagi aku belum makan,"
"Astaga wanita ini benar-benar merepotkan," gumam Xander.
"Aku kelaparan juga karena kau tidak kunjung menemui ku, untung saja aku tidak mati kelaparan, jika sampai aku mati di kantor mu kau juga yang rugi nanti Tuan, perusahaan mu akan masuk berita karena ditemukan sosok wanita yang mati kelaparan akibat menunggu CEO perusahaan itu menemuinya!"
"Eh stop! Stop! Jangan mengoceh terus, aku akan pesan makanan untuk mu!"
Xander segera meraih ponselnya untuk memesankan makanan, daripada mulut Tiffany terus menerus berbicara sampai menjebol gendang telinganya lebih baik Xander buru-buru memberikan Tiffany makanan.
"Yang enak-enak ya Tuan Xand, oh ya kalau perlu dua porsi ya Tuan!"
Sebenarnya Xander sangat tidak tahan berlama-lama didekat Tiffany, sumpah demi apa gadis itu seperti bermulut sepuluh karena ocehannya tidak pernah bisa berhenti.
Hingga makanan datang, Tiffany terus mengajak Xander bicara dari mulai menceritakan pengalaman bekerja sampai menceritakan hal-hal tidak penting lainnya.
Diletakannya makanan sebanyak tiga porsi diatas meja lengkap dengan minumannya!
"Sudah jangan terus bicara, itu makanan mu sudah datang,"
"Bantu aku ke sofa Tuan!"
Xander pun membantu Tiffany pindah ke sofa untuk bisa memakan makanannya.
"Wah aku minta dua porsi dan kau membelikannya tiga porsi terimakasih Tuan!"
__ADS_1
Berhubung cacing-cacing diperut Tiffany sudah berontak, segera dia makan makanan itu hingga porsi pertama telah lahap dia makan tanpa sisa, porsi kedua dia pun habiskan tanpa ragu, dan diraihnya porsi ketiga dan sudah Tiffany habiskan separuhnya.
"Kenapa makanan ku kau makan juga!" tanya Xander, karena sebenarnya Xander beli tiga porsi, dua untuk Tiffany sesuai permintaan dia yang meminta dua porsi sekaligus, dan satu untuknya.
"Memangnya kau mau Tuan? Habis daritadi kau diam saja, aku pikir memang ini semua untuk ku,"
"Yasudah lah, kalau begitu aku tidak ada kepentingan lagi disini! Aku akan pulang sekarang!"
"Tuan, aku mohon nikahi aku!"
"Fany dengar, aku sudah pernah mencintai seseorang yang tidak mencintai ku dan hasilnya nol besar! Jadi jika kau terus mendesak ku seperti ini, kau akan mendapatkan hasil yang sama seperti ku yaitu kekecewaan!"
"Kau salah Tuan, semua orang bisa memainkan sebuah game atau permainan yang sama tapi tidak semua orang akan kalah selalu ada hasil berbeda bagi setiap pemain!"
"Terserah kau sajalah! Yang jelas, aku tidak mau melukai perasaan wanita, jadi lebih baik kau stop dari sekarang sebelum aku lebih banyak lagi melukai mu!"
Setelah mengatakan itu Xander pun pergi meninggalkan Tiffany.
Weekend Minggu ini Liam sudah berjanji akan mengantar Ameera pulang ke rumah orangtuanya! Pagi-pagi Liam sudah menjemput Ameera dan keduanya melakukan perjalanan menuju kediaman orangtuanya Ameera.
Sambil menikmati perjalanan yang lumayan jauh, Ameera mengajak Liam berbicara.
"Am,"
"Iya,"
"Kemarin setelah kau pulang dari apartemen ku sebenarnya Xander datang!"
"Dia datang menemui ku,"
"Lalu apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu? Di menyakiti mu?" dengan wajah panik.
"Tidak, dia hanya datang untuk minta maaf dan mengutarakan kekecewaannya terhadap ku! Hanya itu saja!"
"Lalu apa kau memaafkannya?"
"Entahlah, tapi aku sangat ketakutan melihat Xander sekarang! Aku masih tidak bisa lupa bagaimana jika saat itu kau tidak datang,"
"Biar aku menemuinya dan mengatakan untuk tidak pernah lagi mengganggu mu!"
"Tidak usah Am, dia sudah janji kemarin itu terakhir kali dia menemui ku, katanya dia akan melupakan aku karena aku sudah sangat memberinya luka! Sebenarnya kasian juga Xander,"
"Kau memikirkan perasaan Xander? Kau kasian padanya? Jangan-jangan kau memang sudah menyukainya?" ketus Liam.
Dengan memperlihatkan raut wajah tidak suka, Liam kembali fokus menyetir.
"Kau cemburu ya Am?"
"Untuk apa aku cemburu? Toh kau saja belum mau rujuk denganku, aku tidak ada hak untuk cemburu,"
"Itu wajahnya kok begitu?"
__ADS_1
"Biasa saja tuh!"
"Dari dulu yang aku sukai itu hanya kau Am!" ungkap Ameera.
Membuat Liam akhirnya tersenyum sendiri mendengar kejujuran Ameera.
"Apa yang kau suka dariku?"
"Hmm apa ya? Semuanya mungkin,"
"Paling kau suka bagian tubuhku yang mana? Mata, bibir, hidung atau apa?"
"Apa ya? Aku juga bingung, mungkin otot-otot ditubuh mu,"
"Diam-diam kau nakal juga ya Ra,"
"Loh kok jadi aku yang nakal?"
"Kau tau tubuhku berotot, berarti diam-diam sebenarnya kau menginginkan tubuhku kan?" goda Liam.
"Tidak begitu Am, pikiran mu itu kotor sekali si! Dulu kan saat kau depresi aku yang menggantikan pakaian mu setiap hari, jadi aku kagum dengan otot-otot mu!"
"Kau mau pegang otot-otot diperut ku tidak Ra?"
"Tidak terimakasih atas tawarannya,"
"Katanya suka, sini tanganmu!" Liam meriah satu tangan Ameera, sementara pandangan matanya tetap lurus kedepan.
Liam pun memasukan satu tangan Ameera kedalam kaos yang dia kenakan! Ameera langsung membelalakkan kedua matanya, karena otot-otot diperut Liam benar-benar terasa disentuhnya.
"Sekarang lebih besar lagi otot-ototnya karena aku sering berolahraga setiap hari!"
Ameera pun meraba perlahan otot-otot diperut Liam, berkotak-kotak dan terasa sekali tubuh Liam yang begitu kekar.
"Am sudah aku mau keluarkan tanganku!"
"Aku kira akan terus meraba sampai bawah!" ledek Liam.
Aaaaa..
Ameera pun mencubit otot-otot perut Liam dengan sangat kencang karena Liam terus menggodanya.
"Sakit dong Ra, masa habis diraba terusnya dicubit,"
"Makanya berhenti menggoda ku!"
Perjalanan panjang itu terasa sangat menyenangkan karena sepanjang perjalanan keduanya bercanda dan mengobrol lebih banyak lagi tentang banyak hal.
Meskipun sesekali Liam menggoda Ameera tapi hal itu justru membuat hubungan keduanya menjadi lebih dekat lagi.
__ADS_1