
Mendengar nama Xander disebut tentu saja Tiffany sudah tidak mau lagi mendengar apapun tentang Xander, bagi Tiffany melihat suaminya itu berada diatas pelaminan dengan wanita lain sudah cukup menghancurkan hatinya hingga ke relung yang terdalam.
"Aku sudah tidak mau lagi mendengarnya Ra,"
"Kau yakin?"
"Xander batal menikahi wanita itu dan dia terus mencari mu hingga saat ini Fan!" Liam langsung to the point memberitahukan Tiffany.
"Aku tidak peduli Am, dia batal menikahi wanita itu atau tidak, bagiku semuanya sudah terlambat!"
"Kami hanya ingin kau tidak menyesali keputusan untuk kedepannya Fan, makanya apa yang terjadi disini kami beritahukan padamu," ujar Ameera.
Panggilan video itu pun berakhir dan Tiffany pun hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama dengan Claire, baginya itu sudah cukup dibandingkan harus kembali dengan masa lalunya bersama Xander.
Hingga 6 bulan berlalu dan Xander pun belum juga mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya, tetapi karena butuh uang untuk biaya makan dirinya dan Ibunya Xander mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pelayan disalah satu mini market dekat rumahnya.
Apapun pekerjaannya dijalani oleh Xander tanpa mengeluh, sambil menunggu panggilan kerja dari perusahaan-perusahaan besar yang sudah dia kirimkan CVnya, Xander bekerja dengan baik di mini market itu.
Selain bekerja paruh waktu tidak ada henti-hentinya Xander terus mendatangi teman-teman Tiffany dan tempat-tempat yang mungkin Tiffany datangi, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Entah harus berapa banyak lagi usaha Xander agar bisa bertemu kembali dengan Tiffany dan anaknya tapi semakin hari penyesalan dalam dirinya semakin membuat Xander terpuruk dan putus asa.
"Xand makan dulu, kau ini kebiasaan pulang kerja langsung tidur tidak pernah makan dulu tuh lihat kau semakin kurus!"
Ibunya Xander menjadi sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana yang dijalaninya sejak 6 bulan belakangan ini.
"Xand gaji mu tidak mencukupi untuk bayar tagihan air, listrik dan kebutuhan rumah, tabungan kita juga sudah habis jadi momy memutuskan untuk kau jual saja handphone momy ini!" disodorkannya handphone pada Xander.
"Tapi ini kan handphone satu-satunya milik momy, dan alat komunikasi momy dengan teman-teman momy tidak usahlah di jual,"
"Teman yang mana Xand? Sejak bangkrut momy sudah tidak memiliki teman lagi jadi lebih baik handphone momy ini dijual, luamayan kan setidaknya bisa untuk bayar air, listrik beberapa bulan kedepan,"
"Mom, maafkan aku ya! Tapi handphone ini jangan dijual, aku janji akan mencari pekerjaan paruh waktu yang lain juga aku bisa jadi kurir makanan atau antar barang, lalu malamnya jaga mini market jadi uang ku pasti akan cukup nanti,"
"Tapi Xand,"
"Sudah, momy simpan saja handphone ini!"
"Momy sebenarnya ingin sekali menyusul ayahmu Xand, momy tidak bisa lagi semangat hidup tapi momy senang kau masih memiliki semangat untuk hidup,"
__ADS_1
"Mom, tolong jangan bicara seperti itu! Aku semangat menjalani hidup ini, karena aku punya harapan aku bisa kembali menemukan istri dan anakku, apa momy tidak ingin melihat cucu momy tumbuh kembang bersama kita?"
"Memang sudah ada petunjuk dimana keberadaan Tiffany?"
"Belum, tapi aku tau Ameera dan Liam sebenarnya mengetahui itu! Aku yakin akan ada waktu yang tepat untuk aku bisa bertemu Tiffany lewat Ameera ataupun Liam,"
"Semoga usaha mu selama ini memuahkan hasil Xand,"
"Amin,"
Sementara di salah satu ruangan Dokter spesialis kandungan, hari ini Liam dan Ameera ada jadwal bertemu dengan Dokter yang sudah membantu mereka menjalani program inseminasi, meskipun program pertama sempat gagal tapi di program kedua ini hasilnya akan terlihat hari ini.
"Pagi Dokter," sapa Liam dan Ameera.
"Pagi, silahkan duduk!"
Keduanya duduk dihadapan Dokter dengan wajah yang cukup tegang.
"Bagaimana apa sudah mual, pusing?"
"Bel ada tanda-tanda mual pusing si Dok,"
"Sudah Dok,"
"Ya silahkan di cek di kamar mandi, saya yakin kali ini hasilnya garis dua!"
Akhirnya Ameera diantar oleh Liam ke toilet di rumah sakit tersebut, setelah beberapa menit di toilet Ameera keluar dengan hasil testpack ditangannya.
"Bagaimana sayang? Apa positif?" Liam sangat penasaran dengan hasilnya.
Ameera kemudian berbisik ditelinga Liam.
"Kau akan menjadi seorang ayah," bisiknya.
Seketika Liam langsung melihat hasil testpack ditangan istrinya itu dan benar saja susah terdaftar garis dua meskipun masih sedikit samar.
"Berhasil sayang, apa ini mimpi? Kau benar hamil? Aku benar-benar berhasil menghamili mu Ra?"
Keduanya tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya karena Ameera berhasil setelah melewati serangkaian proses inseminasi agar bisa hamil alami. Keduanya saling memeluk dan menangis bersama, perjuangan untuk sampai dititik ini memang sangat melelahkan, tapi hasilnya luar biasa membahagiakan.
__ADS_1
Memang Tuhan ada bersama orang-orang yang sabar dan mau berusaha terus menerus, Ameera dan Liam pun kembali ke ruangan Dokter kandungan dan menunjukkan hasil testpacknya.
Karena sudah positif Dokter pun meminta Ameera untuk berbaring di ranjang pasien guna melakukan USG untuk mengecek hasilnya agar lebih akurat.
"Nah sudah jika dihitung dari HPHT (hari pertama haid terakhir) ini sudah empat Minggu ya tuh sudah terlihat walaupun masih kecil sekali, ini harus benar-benar dijaga kehamilannya!"
Ameera dan Liam pun melihat kearah monitor, tidak henti-hentinya Liam dan Ameera tersenyum sumringah akhirnya apa yang menjadi impian mereka dan orangtua mereka bisa terwujud juga.
"Nona masih bekerja kah?"
"Masih Dok," karena memang Ameera belum berhenti bekerja dari perusahaan Liam.
"Saya sarankan untuk berhenti bekerja dan banyak istirahat di rumah ya!"
"Baim Dok, saya akan langsung berhenti bekerja,"
"Oke, silahkan turun kita sudah selesai dan saya akan buatkan resep untuk vitamin yang harus diminum!"
Dokter selesai memeriksa Ameera, dan Ameera pun turun dari ranjang pasien.
Keduanya meninggalkan rumah sakit setelah menebus beberapa vitamin yang diresepkan oleh Dokter kandungan.
"Sayang, kita sepertinya harus membuat kejutan untuk orangtua kita tentang kehamilan mu ini!"
"Iya Am, aku setuju apa kita akan mengundang mereka ke rumah?"
"Tentu saja! Aku akan katakan kalau kau menangis terus karena aku menyakitimu, bagaimana?"
"Aku setuju Am, aku sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar baik ini pada mereka,"
Akhirnya Liam mengirimkan pesan singkat pada momy Britney dan momy Joa bahwa Ameera menangis karena ulahnya, pesan itu belum terbaca oleh Momy Britney sementara momy Joa yang sedang beristirahat setelah mengantar makanan ke meja pelanggan, iseng mengecek handphonenya dan mendapatkan pesan dari Liam tentang anak mereka yang terus menangis karena disakiti.
"Dad!! Dad!" dengan ketar-ketir.
"Ada si mom?"
"Baca ini baca, ya Tuhan kenapa lagi ini kenapa Liam tidak bisa menyayangi Ameera? Kenapa?" tangis momy Joanna pecah dalam pelukan Dady El.
"Kurang ajar Liam, kali ini Dady tidak bisa lagi sabar mom lebih baik kita jemput Ameera untuk tinggal disini bersama kita, Liam benar-benar tidak bisa dipercaya!"
__ADS_1