
Liam terkekeh melihat wajah panik Ameera akibat ucapannya barusan! Ameera pergi ke ruangan kerjanya, sementara Liam dan Tifanny pergi meninggalkan kantor untuk mengunjungi pabrik pembuatan skincare perusahaannya.
Saat jam makan siang, Ameera bersama dengan rekan-rekan kerjanya hendak menuju kantin tapi seseorang karyawan menghampiri Ameera.
"Ra, kau diminta ke ruangan Tuan Liam katanya ada urusan penting yang harus dibahas!"
"Urusan penting? Baiklah aku akan ke ruangannya sekarang," sebenarnya Ameera bingung utusan penting apa yang akan dibahas seorang CEO dengan karyawan biasa sepertinya, Ameera izin pada teman-temannya untuk tidak ikut makan siang di kantin bersama mereka siang ini.
Setelah itu Ameera pergi menaiki lift untuk menuju ruangan Liam!
Tok.
Tok.
Tok.
"Ya, masuk!"
Klek..
Terlihat Liam sedang duduk disofa dan terdapat banyak makanan diatas meja! Ameera pun menghampiri Liam tapi hanya memandangi Liam dan belum tergerak untuk duduk.
"Mau berdiri terus? Ga pegel?"
"Untuk apa aku dipanggil kesini Tuan?"
Wajah Liam terlihat kurang senang saat Ameera terus bersikap formal terhadapnya, ditariknya satu tangan Ameera hingga Ameera pun duduk disamping Liam sementara kepalanya bersandar ke dada tegap Liam.
"Bisa tidak jangan panggil aku Tuan?" satu tangan Liam melingkar dipinggul Ameera.
"Tapi kau kan memang atasanku," berusaha untuk memindahkan tubuhnya karena tidak nyaman posisi dipeluk begini oleh Liam.
"Panggil Liam saja!"
"Tidak mau, apa kata karyawan lain kalau sampai dengar,"
"Panggil begitu jika tidak ada karyawan lain, ketika kita sedang berdua begini,"
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
Liam semakin mengeratkan pelukannya kini wajahnya semakin mendekat dengan wajah Ameera.
"Mau apa?"
__ADS_1
"Kau tidak patuh ya, harus aku beri hukuman!"
Terasa kembali bibir lembab Liam menyentuh bibir ranum Ameera, perpaduan sempurna bagi dua sejoli yang memang masih memiliki keterikatan satu sama lain, kali ini Ameera sudah berani membalas ciuman Liam.
Ameera mengeluarkan lidahnya dan langsung disambut oleh lidah Liam, hingga saling membelit satu sama lainnya.
Diangkatnya tubuh Ameera oleh kedua tangan Liam hingga naik keatas pangkuannya, sambil terus berciuman Liam meraba pinggul hingga punggung belakang Ameera dengan kedua tangan besarnya.
Tapi satu yang belum berani dilakukan oleh Liam, dia tidak berani jika menelusupkan kedua tangannya kedalam pakaian Ameera, salah-salah Ameera akan bereaksi seperti semalam dan menolaknya.
Bagi Ameera mendapatkan sentuhan-sentuhan seperti ini membuat dunianya seperti sedang menari-nari dan ada jutaan bintang yang membuat perasaannya tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Liam melepaskan bibir Ameera, kemudian mendaratkan bibirnya dileher mulus Ameera hingga membuat Ameera merasakan dingin yang menggetarkan seluruh daerah sensitifnya! Liam bukan hanya menciumi leher Ameera, kini dia merasa telah memiliki Ameera hingga membuat Liam menye sap kuat kulit leher Ameera.
Ameera langsung menodongakkan wajahnya keatas, dan mengeluarkan suara men de sah saat Liam terus menerus meny e sap lehernya. Tanpa disadari oleh Liam dan Ameera rupanya leher itu sudah dipenuhi oleh jejak-jejak merah buah dari perbuatan Liam sejak tadi menye sapnya.
"Am, sttth!"
Kedua tangan Ameera meremat jas yang dikenakan oleh Liam! Rasanya sungguh luar biasa. Sadar telah banyak tanda-tanda.merah dileher Ameera, Liam pun tersenyum lalu melepaskan Ameera.
"Makan siang lah bersama ku disini,"
Ameera mengangguk tapi dia belum tau kini lehernya sudah banyak tanda merah-merah dan Liam tidak berniat memberitahukan itu pada Ameera.
"Kau masih mau berada dipangkuan ku?"
Keduanya makan siang bersama di ruangan kerja Liam, sambil sesekali mengobrol bersama.
"Am, nanti libur Minggu ini aku dan orangtuaku akan berkunjung ke makam Amber kau mau ikut?"
Pertanyaan Ameera membuat Liam terhenti mengunyah, dan diam untuk beberapa saat! Jika ingat semua perbuatan Amber yang telah menipunya mentah-mentah, rasanya berat sekali untuk ikut mengunjungi makamnya.
"Aku tidak bisa Ra, kekecewaan dihati ku masih belum sembuh! Tapi aku pasti akan mengantarmu untuk pulang ke rumah orangtuamu!"
Sebenarnya Ameera mengetahui penyebab Liam sangat kecewa terhadap Ambeera, ini semua karena buku diary Ambeera yang jatuh ketangan Liam, dan aunty Sierra menceritakan semuanya terhadap Ameera tentang semua kebohongan dan sikap tidak terpuji Ambeera yang dia ketahui dari buku diary itu.
"Baiklah jika memang kau belum mau ikut mengunjunginya!"
Keduanya telah selesai makan siang bersama, Ameera pun pamit keluar dari ruangan Liam karena sudah waktunya kembali bekerja.
"Aku keluar dulu ya Am,"
"Nanti sore aku tunggu di parkiran, aku akan menjadi supir pribadi mu yang setiap hari antar jemput bekerja,"
__ADS_1
"Hah, tidak perlu aku bisa naik taxi!"
"Naik taxi terus nanti ada yang culik lagi mau?"
Kembali mengingat peristiwa itu Ameera pun bergidik ngeri.
"Tidak mau Am, ya sudah sampai bertemu nanti sore!"
Liam pun membukakan pintu untuk Ameera keluar dari ruangannya, dan terus menatap punggung wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sampai menghilang dari pandangannya.
Saat menuju ruangan kerjanya, Ameera berpapasan dengan Tifanny.
"Oh my God Ameera, kau habis digigit binatang macam apa sampai leher mu begini?" Fanny sampai geleng-geleng kepala karena memang sebanyak itu.
"Apa? Memangnya leherku kenapa?" otak Ameera kembali flashback saat tadi Liam melakukan sesuatu pada lehernya, segera Ameera keluarkan handphone untuk berkaca.
Luar biasanya banyak sekali tanda-tanda merah, replex Ameera menggosok-gosok tanda-tanda merah itu dengan tangannya.
"Percuma Ra, itu tidak akan hilang tunggu sampai satu Minggu kedepan baru akan hilng!" ujar Fanny.
"Ya ampun bagaimana ini Fan,"
"Makanya Ra, jangan bermain terlalu ganas dengan Tuan CEO kita, mana di kantor lagi," cekikikan.
"Fan berikan aku solusi!"
"Pakai plester saja Ra! Atau engga perban saja sepertinya lebih baik!"
Tifanny pun mengajak Ameera ke ruangan yang terdapat kotak p3k. Di sana Fanny pun membantu membalut leher Ameera tapi sambil terus menertawakan Ameera yang berwajah kesal sekaligus panik orang-orang akan menertawakannya nanti.
"Sudah jangan memasang wajah begitu,"
"Liam keterlaluan, awas saja aku akan memarahinya nanti!"
"Ya marahi saja dia, ngomong-ngomong Ra apa aku boleh mendekati Xander? Apa kau tidak akan marah jika aku mengejar Xander?"
Seketika Ameera pun menatap wajah Tifanny yang mengajukan pertanyaan serius terhadapnya.
"Untuk apa kau bertanya padaku Fan, sudah pasti aku akan mendukung mu!"
"Benarkah? Kau tidak akan marah? Karena biasanya jika seorang teman mendekati mantan temannya sendiri maka mereka akan bermusuhan!"
"Kau ini, itu tidak berlaku untuk ku! Aku sangat bahagia jika kau bisa meraih laki-laki yang kau sukai Fan, tapi!" Ameera menghentikan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi, apa?"
"Orangtua Xander, mereka bukan orang yang bisa dengan mudah kita dekati Fan!"