
Sebenarnya Ameera sendiri bingung dengan perubahan sikap Liam sekarang ini, kenapa melihat kedua mata Liam sorot mata itu begitu berbeda dengan dulu yang penuh kebencian, sekarang sorot mata Liam seperti laki-laki yang sedang bermain dengan cinta.
Liam terus memegangi bibir Ameera, dan semakin mendekap tubuh Ameera hingga membuat hidung keduanya menempel.
"Katakanlah, apa kau sangat membenci kehadiran ku dan tidak mau lagi bertemu denganku?"
Tak ingin terus dicecar pertanyaan itu oleh Liam, Ameera pun mengangkat wajahnya hingga membuatnya menatap kedua mata Liam.
"Kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini? Setelah semua yang telah kau lakukan, sekarang ini apa? Kenapa terus hadir dalam hidup ku? Luka kemarin saja masih sangat basah Am, tidak bisakah kau membiarkan aku menghirup udara bebas? Aku sangat tersiksa selama ini,"
Bibir keduanya berbicara dengan jarak yang sangat dekat, mendengar ucapan Ameera seperti ini, Liam pun menyadari sudah terlalu banyak kesalahan dan rasa sakit yang terlanjur telah dia torehkan dihati Ameera, Liam mengerti seberapa parah dan berbekasnya luka itu dihati Ameera.
"Aku salah, aku sudah terlalu banyak membuat mu terluka! Katakanlah padaku, apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakit dihati mu?"
Tanpa terasa air mata Ameera pun menetes membasahi kedua pipinya, kedua pasang mata itu saling memandang dan tangan Liam masih betah memegangi bibir Ameera.
"Katakan, maka aku akan lakukan,"
Tatapan kedua mata Liam begitu terasa sendu dan tulus.
"Aku ingin mengurangi rasa sakit dihati mu," ujar Liam lagi.
"Kalau begitu, jangan pernah lagi muncul dalam hidup ku!" dengan suara bergetar dan kedua mata yang mengalirkan bulir bening dipipinya.
Kedua mata Liam sudah berkaca-kaca, mendengar Ameera mengatakan itu bahkan air matanya tak dapat lagi bisa dia bendung.
"Apa dengan aku pergi dari hidup mu, rasa sakit itu akan berkurang?"
"Tentu saja! Pergi dari hidupku dan jangan pernah lagi hadir didalam hidupku," Ameera kembali menegaskan jawabannya.
Air mata Liam mengalir deras dipipinya mendengar jawaban dari Ameera. Tidak menyangka Ameera akan memberikan jawaban yang sangat memukul hatinya dengan kencang.
__ADS_1
Liam mengangguk, dan air matanya masih terus menetes! Ini adalah kali pertama Ameera melihat Liam menangis karenanya.
"Aku akan pergi dari hidup mu, berjanjilah kau akan selalu bahagia setelah aku pergi?" Liam mengusap lembut bibir Ameera.
"Tentu, karena jauh darimu adalah kebahagiaan ku!"
Seperti tersambar petir mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Ameera. Wanita yang kini dia cintai justru tidak ingin lagi melihat wajahnya, tapi jika memang dengan kepergian Liam dari hidupnya akan membuat Ameera tak lagi terluka, tentu saja itu akan Liam lakukan.
"Baik Ameera, aku berjanji tidak akan lagi muncul dihadapan mu!" kedua mata Liam sudah memerah dan tangisannya seakan tidak dapat dia hentikan.
Mungkin jika tidak malu kodratnya sebagai seorang laki-laki, Liam sudah menangis meraung-raung saat ini.
Liam menge cup bibir Ameera sebagai perpisahannya dengan Ameera, sebelum akhirnya dia akan pergi sejauh mungkin demi kebaikan Ameera.
"Aku pergi!" setelah itu Liam membuka kunci kamarnya.
Tanpa disadari oleh keduanya, para orangtua mereka sudah berada didepan pintu! Melihat kedua mata Liam yang sembab, orangtua mereka hanya bisa tertunduk diam.
Terdengar dari luar kamar, Liam tengah pamit pada semua orang, begitu juga dengan momy Britney dan Dady Daniel, mereka berdua harus ikut pulang dengan Liam karena Liam ingin membicarakan banyak hal pada orangtuanya itu.
Liam dan orangtuanya pamit pulang, begitu juga dengan Charles dan orangutannya! Terdengar tangisan Ameera dari dalam kamar, segera momy Joanna menghampiri dan memeluk tubuh putrinya itu.
"Kenapa sakit sekali mom? Aku kesakitan mom," Isak tangis Ameera membuat Dady El dan momy Joa juga ikut menangis, jujur saja mereka mendengar semua pembicaraan Liam dan Ameera.
Momy Joanna dan Dady El pun tau, jika Liam akhirnya memutuskan untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup Ameera demi kebahagiaan Ameera. Bahkan itu bukan isapan jempol belaka, karena orangtua Liam ikut pulang untuk membicarakan kepergian Liam dari negara ini.
Yang bisa dilakukan momy Joanna hanyalah memeluk erat tubuh Ameera.
Sementara di kediaman Liam, kedua orangtuanya duduk bersama-sama! Liam masih tidak kuasa menyembunyikan kesedihannya kali ini setelah berbicara pada orangtuanya bahwa dia memutuskan untuk mundur dari D.E skincare dan akan meninggalkan negara ini.
"Am, kau ini sedang emosi janganlah mengambil keputusan seperti ini,"
__ADS_1
"Tidak mom, aku memang sudah berniat untuk pergi asalkan dia bahagia,"
"Kau sudah jatuh cinta pada Ameera?" tanya Momy Britney.
"Itu tidak lagi penting untuk dibahas,"
"Lalu kau mau pindah kemana nak?" tanya Dady Daniel yang jelas keberatan jika Liam meninggalkan negara ini.
"Aku akan tinggal di rumah Paman Bright dan bibi Anna, disana aku akan mencari kerja,"
"Astaga Am, di Jerman kau mau kerja apa?" momy Britney benar-benar tidak rela.
"Aku cerdas, banyak perusahaan yang pasti menerima ku, kalian tidak usah khawatir!"
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh orangtua Liam sekarang ini selain membiarkan dulu putranya mengambil jalan yang dia pilih.
"Lalu sampai kapan kau akan menghindari semua ini Am? Kau mencintai Ameera tapi kau tidak berjuang untuk kembali mendapatkannya! Apa itu namanya seorang laki-laki?" tanya Dady Daniel.
"Sampai kebencian dihati Ameera padaku berkurang dad, setelah itu aku akan kembali dan memperjuangkannya hingga akhir!"
Benar juga apa yang dikatakan oleh Liam, saat ini Ameera memang masih sangat membenci Liam dan belum bisa memaafkannya! Mungkin jika keduanya tidak lagi saling bertemu untuk waktu yang cukup lama, kebencian dihati Ameera dan rasa sakitnya akan berkurang.
Minggu berikutnya giliran orangtua Ameera yang berkunjung ke mess Ameera, sekaligus mereka melepas rindu karena hanya bisa bertemu satu Minggu sekali.
Momy Joanna dan Ameera memasak bersama di mess yang terbilang mewah itu. Sambil mengaduk-aduk sup dipanci, momy Joanna memulai obrolan.
"Ra, besok pesawat Liam berangkat pagi! Kau yakin tidak mau menemuinya?"
Ameera yang sedang mengiris bawang bombai dengan pisau pun, mendadak menghentikan aktivitasnya mengiris bawang bombai tersebut.
"Masih ada waktu untuk menahannya pergi, jika kau mencintainya jangan biarkan Liam pergi!"
__ADS_1
"Untuk apa momy membicarakan masalah Liam padaku? Momy lupa kalau Liam telah menceraikan aku? Hatiku sudah terlalu sakit, jadi aku mohon berhenti menyebut-nyebut namanya lagi mom!"
Dady El pun hanya menyimak pembicaraan antara istrinya dengan anak perempuannya.