(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci

(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci
Bab 86


__ADS_3

Satu Minggu berlalu tanpa kabar ataupun pertemuan dengan Xander, besok adalah hari pernikahan Tiffany dengan Xander tapi tidak sekalipun Xander menemuinya sejak seminggu terakhir.


Hari ini Ameera meminta Liam untuk mengantarnya ke mess tempat tinggal Tiffany, terpaksa Liam dan Ameera menunda bulan madu keduanya demi menemani Tiffany yang akan melangsungkan pernikahannya dengan Xander.


Tiba di mess, Liam tidak ikut masuk kedalam dua langsung berpamitan karena ada janji bertemu dengan beberapa rekan kerjanya, hanya Ameera saja yang akan menemani Tiffany menjelang hari pernikahannya.


Tok.


Tok.


Tok.


Dengan menenteng satu kantong buah-buahan untuk Tiffany, Ameera menunggu didepan pintu kamar mess Tiffany.


Dibukanya pintu kamar oleh Tiffany, dan melihat Ameera yang datang Tiffany langsung memeluk erat Ameera.


Sebenarnya ingin sekali Tiffany bercerita akan beratnya menjadi ibu hamil tanpa diperhatikan ataupun didampingi oleh suaminya, apalagi usia kehamilan Tiffany masih sangat muda sehingga sangat rawan keguguran.


"Calon pengantin, kau sudah siap untuk besok?"


"Tentu saja aku siap, aku akan menjadi wanita paling bahagia besok!" berusaha ceria.


"Apa Xander kemari?"


Tiffany pun segera mengalihkan pembicaraan, dengan meraih tangan Ameera agar Ameera segera masuk kedalam.


"Mau minum apa?"


"Apa saja Fan,"


Tiffany mengambilkan minuman untuk Ameera, lalu keduanya sama-sama duduk disofa.


"Liam tidak ikut kemari?"


"Dia ada janji dengan rekan kerjanya, jadi hanya antar sampai depan saja! Kau baik-baik saja kan Fan?"


"Ya, baik si Ra tapi namanya juga Ibu hamil, setiap hari harus mual-mual terus, kepala pusing banget bahkan kalau malam kaki ku pegal-pegal sekali Ra,"


Ameera sebenarnya merasa prihatin pada Tiffany, memang Tiffany tidak pernah menampakkan kesedihannya tapi mendengar keluhan Tiffany atas reaksi kehamilan pada tubuhnya, bisa Ameera bayangkan pasti Tiffany sangat sedih karena Xander tidak ada disaat Tiffany dalam kondisi hamil muda seperti ini.


Dert.


Dert.


Handphone Tiffany berdering, akhirnya setelah satu Minggu Xander tidak membalas chat dari Tiffany, tidak mengangkat telepon Tiffany hari ini Xander mengirimkan pesan singkat pada Tiffany.


(Besok pukul 06.00 akan ada supir yang menjemput mu ke gedung pernikahan, disini juga sudah ada orang make up dan desainer gaun mu).


"Dari Xander?"


"Iya Ra, katanya besok jam 06.00 aku harus sudah di gedung, buat pakai gaun belum lagi merias wajah,"

__ADS_1


"Ya sudah besok pagi aku temani, bagaimana?"


"Serius Ra?"


"Tentu saja serius, aku senang sekali malah,"


"Terimakasih Ameera, kau memang sahabat sekaligus keluarga bagiku! Aku menyayangimu Ra!


Tiffany memang harus datang sang pagi, meskipun acara pernikahan dimulai pukul 09.00 tapi berhubung Tiffany akan memakai gaun yang super ribet dan mewah, serta harus di make up sedemikian cantiknya jadi Tiffany harus datang pagi-pagi sekali ke gedung pernikahan.


Keesokan harinya! Bersama dengan Ameera dan Liam, ketiganya sudah datang disalah satu ruangan ganti yang terdapat didalam gedung pernikahan.


Liam menunggu di luar ruangan sambil bersantai, sementara Ameera berada didalam ruangan membantu desainer memakaikan gaun indah itu pada Tiffany.


Saat sedang menunggu di luar ruangan ganti, Xander yang sudah berpakaian jas rapih lengkap dengan dasi berwarna senada dengan jasnya, hendak memasuki ruangan ganti.


"Belum selesai masih di make up," ucap Liam.


Membuat Xander urung untuk masuk kedalam sana, lalu menghampiri Liam yang sedang berdiri sambil memandangi lingkungan disekitar gedung.


"Xander, bagiku Tiffany bukan hanya sekedar sekertaris tapi dia teman, sahabat, bahkan sudah seperti keluarga bagiku dan Ameera,"


"Lalu untuk apa kau mengatakan hal ini padaku?"


"Jangan sakiti dia, apalagi dia sekarang sedang mengandung anakmu! Meskipun Fany cerewet dan tidak bisa berhenti berbicara, tapi dia wanita yang baik!"


Prok.


Prok.


"Kenapa jadi membahas masa laluku?" Liam mulai mengeluarkan otot-otot tegangnya akibat terpancing oleh perkataan Xander.


Beruntung saja Ameera keluar ruangan karena Tiffany sudah selesai di make up dan siap untuk dibawa ke pelaminan, tapi pemandangan mencekam terlihat dihadapan Ameera saat ini Liam dan Xander saling menatap tajam.


"Am, ada apa ini?"


"Tidak ada apa-apa sayang, Fany sudah siap?"


"Sudah!"


Xander pun hendak pergi karena melihat Ameera dengan Liam mesra dihadapannya, jelas membuat hati Xander kembali terasa sakit.


"Xand, apa tidak bisa kita berteman baik?"


"Kau bukan temanku, kau hanya wanita dari masa lalu ku yang sedang berusaha aku lupakan!"


Ameera hendak menahan Xander tapi Ameera takut Liam salah paham, sebenarnya Ameera hanya ingin menitipkan Tiffany pada Xander, dan berharap hubungannya dengan Xander bisa membaik sebagai teman, tapi sayangnya Xander masih belum bisa berbesar hati untuk itu.


Setelah Tiffany selesai seluruhnya, Ameera mendampingi Tiffany menuju pelaminan, dikursi depan orangtua dari Xander semakin menatap sinis pada Tiffany, orangtua Xander masih berat sekali merelakan Xander menikahi Tiffany.


Pesta pernikahan itu dijalani oleh Tiffany dengan penuh senyuman, teman-teman karyawannya di D.E skincare pun semuanya datang menghadiri pernikahan Tiffany dengan Xander.

__ADS_1


Hanya saja tak sekalipun Xander tersenyum disepanjang berlangsungnya acara pernikahan, setelah melewati beberapa rangkaian acara Xander dan Tiffany pun resmi sebagai pasangan suami istri.


Teriakan dari teman-teman kantor Tiffany pun meyeruak, mereka meneriakkan agar Tiffany dan Xander berciuman selayaknya pasangan pengantin yang lain.


Tidak ingin jadi bahan pembicaraan dikalangan rekan bisnisnya, Xander pun meraih kedua tangan Tiffany! Lalu perlahan wajah Xander mendekati wajah Tiffany hingga bibir Xander pun mendarat dibibir Tiffany.


Momen ini dimanfaatkan oleh Tiffany untuk menunjukkan pada orangtuanya Xander, bahwa Xander saja bisa mencium bibirnya dihadapan para tamu undangan apalagi nanti seiring berjalannya waktu, Xander pasti akan bisa menerima Tiffany.


"Lihat itu Dad, wanita gila itu pasti merasa menang karena Xander mau menciumnya,"


"Lagipula apa lagi ini Xander, kenapa dia mau mencium wanita miskin itu!"


"Dad, andai saja wanita itu tidak mengandung cucu kita sudah momy dorong wanita gila itu masuk kedalam jurang!"


"Benar mom, tunggu sampai dia melahirkan cucu untuk kita setelahnya Dady tidak sudi lagu melihat wajahnya di dunia ini!"


Malam harinya Xander perdana membawa Tiffany yang masih memakai gaun pernikahan datang memasuki kediaman mewah milik orangtuanya Xander.


Dengan percaya dirinya Tiffany yakin dia akan betah di rumah ini, apalagi dia akan tinggal bersama dengan Xander mulai hari ini, dari belakang orangtua Xander pun baru tiba di rumah.


"Dad rumah kok jadi bau sampah begini ya?"


"Ya maklum lah mom, bau orang miskin memang begini!"


Mendengar sindiran-sindiran menyakitkan dari orangtuanya Xander, membuat Tiffany merasa sangat geram.


"Aaaaaaa Xand aduh," memekik sambil memegangi perutnya.


"Fan, kau kenapa? Apa perutmu sakit? Ayo duduk dulu!" Xander memapah Tiffany duduk di sofa ruang tamu.


"Xand sepertinya aku stres berat, karena setiap kali aku banyak pikiran si bayi juga ikut bereaksi perut jadi kram gini,"


"Stres berat?"


"Iya, aku selalu kepikiran ucapan-ucapan dari momy mu, aduh sekarang kepala ku pusing sekali Xand," Tiffany sengaja melebih-lebihkan kram dan pusingnya padahal tidak terlalu terasa mengganggu.


Xander langsung melirik kearah orangtuanya.


"Mom Please, aku tidak mau Fanny stres dan berakibat pada bayinya!"


"Iya iya, momy dan Dady kan hanya bicara apa adanya,"


"Mulai sekarang tolong jaga ucapan kalian, apa kalian tidak mau cucu kalian lahir dengan selamat dan sehat?"


Orangtuanya Xander hanya diam ketika Xander menegur mereka. Sebenarnya orangtua Xander pun takut jika bayi yang dikandung oleh Tiffany sampai kenapa-kenapa jika Tiffany stres akibat ucapan-ucapan keduanya.


Mulai sekarang sepertinya memang Ibu dan ayahnya Xander harus bisa menahan diri agar tidak bicara yang membuat Tiffany stres berat.



__ADS_1



__ADS_2