(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci

(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci
Bab 83


__ADS_3

Setelah bernegosiasi dengan pengelola gedung, Xander merasa gedung ini cukup bagus untuk pernikahannya dengan Tiffany. Lagipula yang ada dalam pikiran Xander saat ini, tidak perlu pernikahan yang mewah dan serba ada toh hanya menikah sementara dengan Tiffany untuk apa dibuat mewah pesta pernikahannya.


Akhirnya Xander memilih untuk menemui Ibunya dan juga Tiffany untuk menanyakan pada mereka apakah mereka setuju bila pesta diadakan di gedung ini? Belum sempat berbicara dengan Ibunya dan juga Tiffany, tanpa diduga beberapa wartawan datang menghampiri Xander.


"Selamat sore Tuan, apakah benar gosip tentang anda yang sebentar lagi akan menikah?"


"Apakah ini alasan anda mengunjungi gedung pernikahan ini?"


Segelintir pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Xander jawab, gosip memang menyebar dengan begitu cepat hingga wartawan pun mengetahui bahwa CEO perusahaan X.Rshirt akan menikah dalam waktu dekat.


Melihat anaknya dikerumuni oleh para wartawan Ibunya Xander segera menghampiri para wartawan tersebut.


"Aduh kalian ini tau darimana si anak saya mau menikah, gosip itu!"


Bantahan Ibunya Xander jelas saja membuat Tiffany berkecil hati, kenapa tidak diakui saja kebenarannya toh nantinya para wartawan juga akan mengetahuinya.


"Itu benar, dan aku lah calon istri dari Xander!"


Perkataan Tiffany membuat jengkel Xander dan juga Ibunya, tanpa menunggu lama para wartawan langsung beralih mengerubungi Tiffany untuk mewawancarainya.


"Nona, siapa nama anda? Anda pemilik perusahaan mana?"


"Berapa lama kalian saling mengenal?"


"Aku hanya pegawai di salah satu perusahaan besar, meskipun begitu aku dan Xander saling mencintai makanya kami memutuskan untuk menikah!"


Jawaban Tiffany membuat para wartawan tercengang, karena biasanya golongan pemilik perusahaan pasti akan menikahkan putra mereka dengan putri pemilik perusahaan juga, tapi ini? Tiffany hanya pegawai biasa.


Dengan senang hati Tiffany terus menjawab apa adanya pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan.


"Xand cepat seret wanita gila itu, sudah cukup dia mencoreng nama baik keluarga kita!"


Segera Xander menarik tangan Tiffany, disusul oleh Ibunya Xander yang mengekor dibelakangnya, tanpa berkata apa-apa lagi Xander mengajak Tiffany berjalan begitu cepat untuk menghindari para wartawan, hingga keduanya sampai didalam mobil.


"Apa-apaan kau ini Fanny? Apa kau pikir tindakan mu itu benar?"


"Memang apa yang salah, kenyataannya kita akan menikah kan?"


"Kau lihat sendiri kan Xand, belum menikah saja wanita gila ini sudah bikin onar!" timpal Ibunya Xander.

__ADS_1


"Cukup mom, jangan lagi panggil aku wanita gila! Aku punya nama jadi panggil aku Tiffany,"


"Kau diam Fanny!" bentak Xander.


Mendengar Xander membentaknya membuat Tiffany terkejut.


"Aku peringatkan sekali lagi padamu, jangan pernah lakukan hal seperti tadi dan jangan terlalu berharap apapun pada pernikahan kita ini!"


"Rasain!" celetuk Ibunya Xander.


"Tentu saja aku berharap banyak pada pernikahan kita nantinya, kau akan menjadi suami terbaik untuk ku dan kau akan menjadi ayah yang luar biasa untuk anak-anak kita kelak,"


Mendengar jawaban Tiffany tentang bayangan pernikahan yang ternyata begitu indah dalam pikiran Tiffany, membuat nlXander sedikit tidak tega untuk kembali memarahinya.


Tak lagi berdebat dengan Tiffany, Xander pun melajukan mobilnya meninggalkan gedung pernikahan.


Kini selanjutnya mereka akan mendatangi salah satu butik terkenal di kota ini untuk memesan gaun dan jas pengantin keduanya.


"Kau yakin Xand mau membeli gaun mahal untuk wanita ini?"


"Sudahlah mom, nanti tamu undangan kita banyak dari rekan bisnis Dady tidak mungkin jika aku membelikannya gaun biasa,"


"Terimakasih Xand, setidaknya kau tetap membelikan aku gaun terbaik untuk pernikahan kita,"


Tak menjawab lagi perkataan Tiffany, mereka pun turun dari mobil lalu masuk kedalam butik. Didalam butik Tiffany disuguhkan dengan beragam gaun pengantin yang super cantik-cantik dan sangat mewah, tentu saja binar bahagia terpancar dari wajah Tiffany.


Padahal saat ini dirinya masih merasakan mual dan pusing tapi namanya juga wanita diajak shopping apalagi disuguhkan gaun mewah seperti ini membuat Tiffany langsung bisa meredam rasa mual dah pusingnya.


"Oh my God Xand yang ini bagus sekali, tapi yang ini jauh lebih elegant," satu persatu gaun dinilai oleh Tiffany sampai dia bingung mau memilih yang mana.


"Dasar udik!" ucap Ibunya Xander.


"Mom, bersabarlah setidaknya hingga anak itu lahir jangan buat Tiffany tertekan dulu!"


"Kau benar, momy sebenarnya sudah tidak sabar sampai wanita itu melahirkan anak mu dan kita buang wanita itu jauh-jauh, ngomong-ngomong Xand apa benar kau menandatangani surat perjanjian untuk tidak menceraikan wanita itu?"


"Momy tau dari siapa?'


"Wanita gila itu yang cerita? Kenapa kau jadi bodoh seperti ini Xand?"

__ADS_1


"Aku bukan bodoh mom, hanya saja Fanny mengancam akan pergi jauh dan tidak akan membiarkan aku bertemu dengan anakku jika aku menolak menandatangani perjanjian itu,"


"Lalu bagaimana nanti?"


"Itu bisa dipikirkan lagi mom, aku akan cari jalan keluar agar Tiffany setuju untuk bercerai,"


"Bagus, pokoknya ingat dia wanita yang tidak pantas untuk masuk menjadi keluarga kita,"


"Aku akan menceraikan Fany bukan karena dia tidak sepadan dengan kita mom, tapi karena memang aku tidak mencintainya,"


"Ya apapun alasannya momy sangat mendukung pokoknya buat agar dia setuju untuk bercerai dan melupakan surat perjanjian itu,"


"Iya momy tenang saja,"


Terlihat Tiffany masih memilih-milih gaun mana yang akan dia pakai dijari bahagianya nanti. Tapi semakin lama Tiffany berkeliling butik untuk melihat satu persatu gaun lebih dekat lagi, kepalanya semakin terasa pusing dan seperti ada jutaan bintang di langit yang gelap, Tiffany merasakan pandangannya semakin gelap dan nyaris kehilangan kesadarannya.


Tubuh Tiffany pun sudah tidak seimbang dan hampir jatuh, tapi dari arah belakang Xander pun menahan tubuh Tiffany agar dia tidak terjatuh. Dipelukannya tubuh Tiffany dari belakang oleh Xander membuat Tiffany mendapatkan kesadarannya kembali.


"Xand," lirih Tiffany.


"Tadi aku lihat kau hampir jatuh jadi aku tidak sengaja memeluk mu,"


Kemesraan beberapa detik itu terlihat oleh Ibunya Xander, membuat Ibunya Xander semakin geram dengan sikap Tiffany yang hobi mencari-cari perhatian anaknya.


Xander melepaskan pelukannya, padahal Tiffany berharap Xander akan memeluknya lebih lama lagi.


"Sudah kau temukan mana gaun yang cocok?"


Ditunjuknya salah satu gaun yang berada tepat didepan Xander dan Tiffany, karena Tiffany merasa gaun itu membuatnya beruntung karena bisa dipeluk oleh Xander.


Setelah selesai menentukan gaun dan lain sebagainya didalam butik, ketiganya kembali kedalam mobil untuk meninggalkan butik.


Hari pun sudah semakin larut, sehingga Xander memutuskan untuk mengantar Tiffany sampai ke mess.


"Aku akan mengantarmu sampai mess, dan untuk persiapan undangan dan lain-lain serahkan pada Ibuku dia yang akan mengurus sisanya,"


"Iya Xand, terimakasih ya untuk hari ini aku bahagia sekali,"


Wajah Tiffany semakin terlihat pucat, mungkin karena kepalanya masih merasakan pusing dan perutnya terus merasakan mual-mual, biasanya hanya dipagi hari saja Tiffany merasakan mual parah seperti ini tapi entah kenapa bertemu dengan Xander justru membuatnya jadi mual-mual seperti ini.

__ADS_1


Mungkinkah bayi didalam kandungannya sudah paham dan mengerti bahwa dia sedang bersama sang ayah, sehingga ingin dimanja oleh perhatian dari sang ayah. Xander yang menatap sekilas wajah pucat Tiffany merasa khawatir dengan keadaan Tiffany.


__ADS_2