
Hingga malam pun tiba, Ameera yang telah selesai memasak untuk makan malam pun akhirnya memanggil Liam yang saat ini berada didalam kamarnya, dilihatnya Liam sedang mengecek pekerjaan karena ada laptop diatas pangkuan Liam yang sedang duduk bersandar pada headboard.
"Am makan dulu makanannya sudah siap!" Ameera duduk ditepian ranjang memandangi wajah Liam.
"Oke," tak ingin membuat sang istri menunggu, Liam buru-buru mengakhiri pekerjaannya dan menutup layar laptop itu.
Keduanya beranjak kemeja makan, seketika pemandangan Liam tertuju pada makanan yang tertata rapih diatas meja makan! Makanan sebanyak itu, Ameera pintar sekali memasaknya, sementara saat dulu dengan Ambeera malah Liam tidak pernah melihat Ambeera memasak, hanya jika Liam pulang kerja makanan sudah ada diatas meja sementara ketika Liam libur bekerja, Ambeera selalu mengajak Liam makan diluar.
Tanpa sepengetahuan Liam, dulu Ambeera memang memesan makanan terus menerus ketika keduanya resmi menjadi sepasang suami istri, tapi ketika Liam libur bekerja Ambeera menggunakan taktiknya dengan cara mengajak Liam makan diluar atau memesan makanan via online dengan alasan capek tiap hari masak dan ingin tidak masak jika Liam sedang libur.
Tentu saja Liam yang sudah banyak termakan tipu daya Ambeera, tidak pernah curiga kalau makanan yang selama ini dia makan ketika pulang kerja, itu adalah makanan yang Ambeera beli dari berbagai macam restoran-restoran terbaik.
"Emang kalau dilihat terus itu makanan bisa bikin kenyang perut ya?" Ameera malah bingung melihat Liam hanya menatap makanan-makanan itu.
"Kau pintar sekali memasak Ra, aku sangat berterimakasih sekali kau mau melayani ku seperti ini,"
"Kalau begitu bisa kau habiskan makanan ini sebagai rasa terimakasih mu padaku?"
"Siapa takut, kebetulan aku ingin menambah berat badan,"
Liam segera duduk dikursi dan Ameera pun mengambilkan makanan kepiring Liam, segera dilahapnya makanan diatas piringnya itu oleh Liam, tidak henti-hentinya Liam selalu memuji masakan Ameera yang selalu enak sebenernya itu juga alasan Liam meskipun dulu dia sangat membenci Ameera tapi Liam selalu menghabiskan makanan yang disajikan oleh Ameera, karena memang rasanya yang sangat enak dan pas dengan selera lidahnya.
Hanya saja dulu Liam terlalu gengsi untuk mengakuinya, sehingga Liam selalu berkata bahwa alasan dia menghabiskan makanan yang dimasak oleh Ameera karena teringat pesan Ambeera yang mengharuskan makanan yang disajikan oleh orang lain untuk kita harus kita makan.
Liam benar-benar menepati janjinya pada Ameera untuk menghabiskan seluruh makanan yang berada dimeja makan, dia pun malah kekenyangan sendiri setelah suapan terakhir masuk kedalam rongga mulutnya.
"Aku kenyang sekali Ra,"
"Padahal aku hanya bercanda kau tidak perlu makan sebanyak itu Am," Ameera malah menertawakan Liam yang saat ini sedang mengusap-usap perut buncitnya.
"Tidak apa-apa makanan seenak ini sayang jika sampai terbuang!"
"Baiklah,. sekarang kau mau lanjut mengerjakan pekerjaan lagi?"
Ameera berdiri untuk merapihkan piring-piring kotor menaruhnya di wastafel.
"Kita ke kamar sekarang?" Liam menatap wajah Ameera yang baru saja selesai menaruh piring-piring kotor.
__ADS_1
"Iya, ya sudah,"
Keduanya berjalan beriringan menuju kamar, tapi jantung Ameera terus memompa lebih cepat seiring langkah kakinya yang hampir tiba di kamar, sesekali Ameera meneguk salivanya karena malam ini sudah pasti akan menjadi malam pengantinnya dengan Liam.
Tiba didalam kamar, keduanya saling melirik.
"Aku mandi dulu ya Am!"
"Kau mau mandi sekarang?"
"Iya,"
"Mandi sendiri?"
"Tentu saja," dengan gugup.
"Tapi aku juga ingin mandi, tidak bisakah kita mandi bersama?"
"Hah? Tidak mau malu tau,"
"Malu pada siapa? Pada ku?"
Liam malah tersenyum menggoda sambil menyolek lengan Ameera.
"Am please,"
"Iya baiklah kau mandi duluan,"
Setelah obrolan kecil itu, Ameera pun buru-buru masuk kedalam kamar mandi. Selang beberapa lama, Ameera keluar dan sudah berpakaian lengkap memakai pakaian tidur.
Liam yang sudah berharap akan melihat Ameera dalam balutan handuk, terpaksa menelan kekecewaan karena yang terjadi justru Ameera sudah berpakaian lengkap.
Tapi melihat wajah Ameera saat ini, jelas sekali jika Ameera sedang sangat gugup.
"Aku mandi dulu ya, wajahmu lucu sekali jika sedang gugup seperti ini!" Liam malah tersenyum menggoda Ameera sambil berlalu pergi ke kamar mandi.
Buru-buru Ameera berdiri didepan kaca untuk melihat wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Apa terlihat jelas sekali kalau aku sedang gugup? Astaga aku benar-benar gugup, rasanya berdebar sekali jantungku ini," gumam Ameera.
Ameera tau setelah Liam keluar dari dalam kamar mandi, maka yang terjadi selanjutnya adalah hal yang Ameera sendiri penasaran dengan rasanya.
Liam keluar dari dalam kamar mandi hanya dibalut handuk sepinggangnya, Ameera pun pura-pura cuek dan fokus dengan handphone yang berada dalam genggamannya sambil bersantai diatas ranjang.
Tapi dapat Ameera rasakan saat ini langkah kaki Liam tengah berjalan semakin mendekat kearahnya. Tangan Liam mengambil handphone dari tangan Ameera.
"Am," lirih Ameera saat melihat Liam menaruh handphone miliknya diatas meja kecil disampingnya.
"Ra, malam ini kau cantik sekali tapi sayang kau tidak memakai lingerie pemberian momy Britney aku sedikit kecewa,"
"Apa kau mau aku memakainya?"
Liam mengangguk dan keduanya masih saling bertatapan.
"Kalau begitu aku akan mengganti pakaian ini dengan lingerie sesuai keinginan mu!"
"Aku sangat menantikannya," Liam tersenyum penuh arti, dan Ameera pun segera turun dari atas ranjang untuk mengganti pakaian tidurnya dengan lingerie.
Dengan langkah kaki kecilnya, Ameera menghampiri Liam kembali setelah mengganti pakaiannya dengan lingerie yang merupakan pemberian momy Britney.
Kali ini lingerie berwarna merah muda yang dipilih oleh Ameera, membuat Liam segera berdiri dan menghampiri Ameera yang saat ini diam mematung.
Disentuhnya lengan Ameera oleh Liam, membuat Ameera berjalan semakin mendekat kearah Liam.
Satu tangan Liam meraba halus lengan mulus Ameera, sungguh lengan putih bersih yang halus dan lembut membuat Liam terus membelai mesra lengan Ameera.
Satu tangan Liam melingkar dipinggul Ameera, sementara satu tangan yang sejak tadi membelai lembut lengan Ameera kini sudah beralih dengan memegangi tulang pipi Ameera hingga akhirnya bibir Liam pun menyapa lembut bibir Ameera.
Keduanya kini berpagutan saling menginginkan, dan Liam memberikan ciuman yang begitu halus agar Ameera bisa rilex dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Perlahan tapi pasti, Liam mematut bibir Ameera semakin lama semakin dalam hingga membawa tubuh Ameera kini terlentang diatas ranjang.
Pasrahnya Ameera membuat Liam semakin gemas sendiri dan tidak menyia-nyiakan setiap detik malam ini, Liam me lu mat bibir bawah Ameera kemudian me lu mat bibir bagian atasnya.
Semakin lama Liam tidak bisa bermain halus, dia dengan rakusnya menciumi bibir Ameera, mengigitnya dengan nakal hingga Ameera pun melenguh dalam rasa yang Liam ciptakan.
__ADS_1