
Kedua tangan Ameera mencari apapun untuknya berpegangan agar bisa melampiaskan rasa sakitnya, semakin lama Liam bergerak Ameera semakin terbiasa dengan perlakuan Liam pada bagian intinya.
Setelah cukup lama Liam maju mundur dibagian inti milik Ameera, kini rasa sakit yang tadi dirasakan oleh Ameera semakin menghilang. Ameera sudah bisa menikmati kenikmatan dari penyatuannya dengan Liam.
Bahkan Ameera sudah bisa tersenyum manis dan mend de sah penuh nikmat hingga membuat Liam semakin menikmati sensasi-sensasi dari gerakan pinggulnya itu.
"Kau menikmatinya sayang, ah?"
"Iya Am, emth ah,"
"Aku ingin berganti posisi Ra, ah emthh sempit,"
"Bagaimana?"
Liam pun mengeluarkan sejenak lobak importnya dari dalam sana, kemudian dilihatnya sudah ada bercak darah yang menodai sprei putih diranjang pengantin tersebut.
Keduanya mengabaikan bercak darah tersebut dan hanya fokus pada permainan yang akan selanjutnya keduanya lakukan. Liam mengarahkan Ameera untuk naik keatas tubuhnya, lalu kembali memasukkan lobak importnya kedalam bagian inti Ameera.
"Emthh Am oughttt,"
Saat ini posisi Ameera berjongkok dengan lobak yang sudah terbenam sempurna didalam bagian intinya. Dengan bantuan Liam, Ameera menggerakkan pinggulnya naik turun hingga menimbulkan rasa yang luar biasa bagi lobak import milik Liam.
"Iya begitu Ra, ahh sssthh sit ini terlalu enak sayang!"
Liam terus meracau disela-sela aktivitasnya membantu Ameera untuk bergerak diatas tubuhnya. Sementara Ameera pasrah dengan apapun yang diminta oleh suaminya itu.
Setelah sekian lama tidak pernah melakukan lagu hal seperti ini, membuat Liam benar-benar hilang kendali, dia terus menginginkan Ameera dan kenikmatan ini agar tidak berakhir cepat.
Berkali-kali keduanya mengubah posisi, apapun yang Liam inginkan maka akan keduanya lakukan. Seolah tubuh Ameera adalah candu yang sulit dilepaskan, Liam tidak ada henti-hentinya memuaskan hasratt bi ra hinya pada tubuh Ameera.
Hingga tak terhitung sudah berapa banyak Liam melakukannya dengan Ameera, keduanya melakukan itu berulang-ulang hingga pagi menjelang.
Meskipun sangat sakit awalnya, tapi Ameera sangat menyukainya dan mendapatkan kepuasan atas apa yang dilakukan oleh Liam sepanjang malam pada tubuhnya.
Pagi-pagi sekali, Ameera terbangun dan mendapati tubuhnya masih polos hanya dibalut oleh selimut yang sama dengan yang dipakai oleh Liam untuk menutupi tubuh polosnya.
"Am, bangun!"
Liam pun membuka kedua matanya, dan melihat wajah cantik Ameera sudah berada didepan kedua matanya. Segera Liam melingkarkan satu tangannya memeluk pinggang Ameera.
__ADS_1
"Pagi istriku,"
"Ayo mandi, memang tidak ke kantor?"
"Aku masih lemas Ra,"
"Payah," goda Ameera.
Mendengar kata payah, membuat Liam membulatkan kedua matanya.
"Hei aku tidak payah,"
"Tapi katamu masih lemas kan? Kau kehabisan tenaga ya? Kalau aku si sudah tidak lemas lagi," Ameera malah semakin meledek Liam.
Tanpa basa-basi Liam menarik tubuh Ameera hingga memutar posisi menjadi tubuh Ameera dibawah tubuhnya.
"Am, kau mau apa?"
"Aku akan buktikan kalau aku tidak payah,"
"Aku bercanda,"
"Tidak kau harus tau kalau aku tidak payah,"
Pagi itu keduanya kembali melakukan penyatuan hingga siang hari, seolah dunia keduanya hanya bergutat diatas ranjang! Ameera dan Liam sama-sama belum ingin saling berhenti.
Padahal di kantor, Tiffany sudah menunggu kedatangan Liam untuk meminta izin dan menanyakan apa boleh jika dia tetap bekerja di kantor meskipun nantinya hamil besar?
Tapi hari ini sepertinya Liam tidak akan datang ke kantor, bisa saja Tiffany menghubungi Liam sekarang, tapi Tiffany tau bahwa Liam pasti sedang menikmati masa-masa pengantin barunya dengan Ameera dan Tiffany tidak mau mengganggu itu.
Seperti biasa Tiffany bekerja dengan giat, dia sampai lupa kalau saat ini tubuhnya telah berbadan dua. Tidak ingin sesuatu terjadi pada kandungannya, Tiffany yang biasanya telat makan siang, kini ketika jam makan siang sudah datang, Tiffany buru-buru pergi ke kantin untuk makan.
Di perusahaan X.Rshirt, Xander masih gelisah memikirkan masalah Tiffany yang mengandung anaknya. Bayang-bayang Tiffany mulai berputar-putar didalam pikirannya setiap hari.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Sore harinya, saat pulang kerja Tiffany tidak langsung pulang ke mess dia terlebih dahulu pergi ke minimarket untuk membeli su su untuk ibu hamil dan juga membeli banyak makanan karena nafsu makannya memang sangat tinggi semenjak hamil.
Dengan menenteng belanjanya, Tiffany berjalan menuju messnya tapi tanpa diduga didepan mess Xander sudah berdiri menunggu kedatangan Tiffany entah sejak kapan Xander menunggunya didepan mess.
__ADS_1
Dengan memasang wajah yang cuek, Tiffany menghampiri Xander.
"Untuk apa kau kesini?"
"Aku berhak menemui calon anak kita,"
"Dia calon anakku, bukan kita! Dan kau jangan terlalu percaya diri, aku akan katakan pada anak ini bahwa dia tidak memiliki ayah, atau bisa aku katakan ayahnya sudah lama mati!"
"Fany tolong jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini, menikah lah denganku hingga anak itu lahir, dan hidupnya akan terjamin bila dia tinggal di rumahku!"
"Kalau kau datang kesini hanya untuk mengolok-ngolok aku dengan bahasa penuh menyakitkan seperti yang baru saja kau ucapkan itu, lebih baik pergi sekarang dan jangan pernah datang lagi!"
Tiffany pun segera menuju ke messnya, tapi satu tangan Xander menahannya.
"Lalu apa mau mu?"
"Aku mau kau, aku mau hatimu dan hidupmu!" ucap Tiffany.
"Fany, aku,"
"Aku tau kau tidak akan bisa kan? Jika aku adalah Ameera, tanpa aku meminta pun kau pasti sudah menikahi aku kan?"
"Jangan bawa-bawa Ameera kedalam masalah kita, aku dan Ameera sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi!"
"Lantas?"
"Aku hanya ragu bisa memberikan hatiku untuk mu, tapi kau harus tau Fan kemarin setelah mendengar detak jantung janin didalam rahimmu, aku tidak sanggup jika nantinya anak kita tidak mengetahui aku sebagai ayahnya!"
"Kalau begitu putuskan sekarang, kau mau berusaha mencintai aku? Atau kau tidak akan pernah bertemu dengan anak ini! Aku tidak tau sampai kapan akan bekerja di perusahaan Liam, bisa saja lusa atau satu Minggu kedepan aku keluar dari kantor dan pergi sejauh-jauhnya dari kota ini!"
"Fany jangan lakukan itu!"
"Karena itu pikiran baik-baik, aku berikan kau kesempatan satu kali lagi untuk berpikir beritahu aku keputusan mu besok sore!"
Tiffany pun melepaskan tangan Xander yang sejak tadi menahannya untuk masuk kedalam mess.
Xander kembali diambang kebimbangan, disatu sisi dia tau Tiffany bukan hanya berbicara omong kosong akan membawa calon anaknya itu pergi dari sini, tapi disatu sisi Xander sama sekali tidak mencintai Tiffany.
Apa jadinya menjalani kehidupan berumahtangga tanpa didasari oleh cinta? Apa bisa?
__ADS_1
Malam itu, Xander merenung dibalkon kamarnya sambil meniupkan zat nikotin yang menyeruak diudara. Dia harus mengambil keputusan sekarang juga, karena Tiffany hanya memberinya waktu untuk berpikir hingga besok sore.