
Pagi hari, Kedua orangtua Xander sudah berada dimeja makan menunggu kedatangan Xander untuk sarapan bersama.
"Nah ini dia anaknya, kau turun lama sekali si Xand," sapa Ibunya.
Xander duduk lalu mulai menatap wajah kedua orangtuanya.
"Mom, Dad, aku akan menikahi Tiffany!"
Sontak saja Ayahnya yang sedang menyeruput teh hangat itupun langsung tersedak.
Uhuk..
Uhuk..
"Ya ampun Dad minumnya pelan-pelan," Ibunya Xander menepuk-nepuk pundak ayahnya Xander.
"Bukan minumnya yang harus pelan-pelan, tapi itu otak anakmu apa dia sudah tidak waras?"
"Iya Xand, kau bicara apa si? Menikahi Tiffany? Wanita yang kau hamili itu? Untuk apa? Ambil bayinya selesai, tidak perlu kau susah payah menikahi wanita itu!"
"Kalian tidak mau kan, cucu kalian nantinya hidup terlunta-lunta? Kekurangan?"
"Memang kami tidak mau, tapi wanita itu tidak memenuhi syarat dan ketentuan untuk masuk menjadi anggota keluarga kita!" ujar Ayahnya Xander.
"Kau menikahi wanita itu hanya untuk sementara kan?"
"Aku juga maunya begitu mom, tapi Fany tidak mau jika seperti itu! Dia malah mengancam akan pergi secepatnya dari kota ini dan tidak akan membiarkan aku bertemu dengan anakku!"
"Kejam sekali wanita gila itu! Momy tidak menyangka, ada wanita yang lebih menyebalkan lagi dibandingkan si Ameera itu!"
"Beraninya dia mengancam mu seperti itu Xand," geram ayahnya.
"Sudahlah mom, dad, urusan cerai itu urusan belakangan nanti aku akan mencari cara untuk membujuk Fany pelan-pelan, tapi yang terpenting sekarang kalian setuju kan aku menikahi Fany?"
"Sebenarnya momy tidak setuju kau menikahi wanita itu, tapi momy tidak mau juga kehilangan cucu momy walau bagaimanapun bayi itu darah daging mu Xand,"
"Dady setuju, asal nanti begitu bayi itu lahir kau harus berpisah dengan wanita itu!"
"Terimakasih mom, Dad, aku janji aku akan memikirkan cara terbaik agar nanti Fany mau bercerai dariku! Tapi untuk sekarang aku akan berpura-pura untuk menikahinya dan tidak akan pernah menceraikannya sesuai yang dia inginkan!"
Setelah melakukan pembahasan dengan kedua orangtuanya, sore hari setelah pulang kerja Xander menunggu Tiffany didepan messnya seperti biasa.
Ketika pulang kerja, Tiffany yang sempat berbelanja makanan terlebih dahulu pun tiba didepan mess dan kembali berhadapan dengan Xander!
"Masuklah kita bicara didalam!"
Xander pun menurut dan masuk kedalam mess mengikuti Tiffany.
__ADS_1
Keduanya duduk disofa kecil bersama-sama. Tapi Tifanny mengambil minuman dulu dari lemari es.
"Ini minumlah!"
Diterimanya minuman kaleng dingin yang diberikan oleh Tiffany.
"Aku sudah mengambil keputusan,"
"Jadi apa keputusan mu?"
"Aku setuju kita menikah dan tidak akan menceraikan mu meskipun anak itu nanti lahir!"
"Baguslah kalau begitu memang seharusnya kita tetap bersama-sama kan?" Tiffany tersenyum bahagia, akhirnya apa yang dia harapkan bisa dia dapatkan.
"Kalau begitu, aku pulang sekarang! Nanti aku akan urus semua keperluan menikah kita, kau tinggal terima beres!"
"Tunggu dulu Xand, maen pergi-pergi saja! Urusan kita belum selesai!"
"Urusan apa lagi? Bukankah aku sudah menuruti apa yang kau mau?"
"Yang aku mau, kita menjadi sepasang suami istri sungguhan yang saling mencintai satu sama lain dan hidup bersama selamanya bersama anak-anak kita kelak! Jadi aku ingin kau melibatkan aku untuk mempersiapkan pesta pernikahan kita, kita berdua harus bersama-sama menyiapkannya!"
Xander sedikit merasa kesal karena Tiffany benar-benar wanita yang banyak maunya, sebenarnya ingin sekali Xander menolak keinginan Tiffany tapi daripada Tiffany malah tidak percaya nantinya akhirnya Xander pun menerima keinginan Tiffany.
"Baiklah kita urus bersama!"
Apa lagi ini ya Tuhan? Xander semakin merasa bahwa Tiffany seperti penjajah yang membuatnya merasa tertekan.
"Iya nanti aku balas pesan mu, yasudah aku pulang dulu besok aku kabari lagi,"
"Eh tunggu dong Xand,"
Tiffany berjalan menuju laci didekat sofa, lalu mengambil selembar kertas yang merupakan surat perjanjian.
"Ini, tanda tangan disini!"
"Apa ini?"
"Baca saja!"
Dibacanya oleh Xander apa yang diberikan oleh Tiffany padanya, ketika dibaca kedua bola mata Xander sampai memutar mengetahui isi didalam surat perjanjian tersebut.
Pasalnya dalam surat perjanjian yang dibuat oleh Tiffany tersebut, berisi Xander tidak boleh menceraikan Tiffany sampai kapanpun dan keduanya harus tetap bersama membesarkan anak-anak mereka hingga hanya maut yang dapat memisahkan.
Glek...
Padahal Xander sudah memiliki niat akan menceraikan Tiffany meskipun sekarang dia berpura-pura dengan mengatakan tidak akan menceraikan Tiffany, tapi diluar dugaan, Xander ternyata Tiffany sudah menyiapkan surat perjanjian ini.
__ADS_1
"Apa-apaan ini Fan? Bukan kah aku sudah bilang, aku tidak akan menceraikan mu kenapa harus pakai surat perjanjian segala?"
"Kau bilang setuju untuk tidak menceraikan aku itu kan hanya dimulut, aku tau hatimu pasti sudah merencanakan untuk menceraikan aku nanti!"
"Pikiran mu sungguh licik, aku tidak berpikir begitu,"
"Oh ya? Jadi kenapa harus keberatan dengan menandatangani surat ini?"
"Fan, aku,"
Belum sempat Xander melanjutkan protesnya, Tiffany sudah melahap bibir Xander.
Membuat Xander terkejut dengan ciuman mendadak yang dilakukan oleh Tiffany. Dilepaskannya perlahan ciuman itu oleh Tiffany.
"Kau tidak mau tanda tangan?"
Sejenak Xander hanya terdiam dan tak ada niat menandatangani surat perjanjian ini.
"Sudah aku duga, ucapan dan janji mu untuk tidak menceraikan itu adalah kebohongan! Percuma saja kita bicara panjang lebar, kita memang tidak akan pernah bersama Xand,"
Tiffany pun pergi untuk menaruh belanjaannya di dapur karena sudah malas berbicara dengan Xander, Tiffany sudah tau ujung-ujungnya akan seperti ini.
Setelah selesai menata belanjaannya di dapur, Tiffany segera menuju pintu untuk mempersilahkan Xander keluar dari messnya.
"Keluarlah! Jangan pernah lagi temui aku!"
Diusir oleh Tiffany, Xander segera berdiri dari sofa dan menuju pintu keluar.
"Aku pulang dulu!"
"Hmm,"
Tiffany bahkan malas menatap wajah Xander, hingga akhirnya Xander pun benar-benar pergi meninggalkan messnya. Segera Tiffany tutup pintunya, lalu tanpa terasa air matanya bercucuran.
Sambil menyeka air matanya, Tiffany menuju sofa untuk merapihkan surat perjanjian yang sama sekali tidak ingin ditandatangani oleh Xander, tapi saat hendak menaruh kembali surat perjanjian itu kedalam laci, Tiffany merasa ada sesuatu yang berbeda.
Sebuah coretan disurat perjanjian terpampang nyata dihadapan Tiffany, rupanya saat Tiffany pergi ke dapur merapihkan belanjaannya Xander telah menandatangani surat perjanjian itu.
"Dia menandatangani surat perjanjian ini? Xander kau menandatanganinya?"
Tiffany buru-buru keluar mess untuk menemui Xander, tapi sayangnya laki-laki itu telah meninggal mess beberapa saat yang lalu.
Handphone Tiffany pun bergetar, sebuah pesan masuk dari Xander.
(Besok sore aku jemput kau di kantor, setelah itu kita akan melihat gedung pernikahan mana yang akan kita pilih untuk mengadakan pernikahan kita).
__ADS_1