(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci

(Penyesalan Suami) Istri Yang Aku Benci
Bab 84


__ADS_3

"Kau masih mual dan pusing?"


"Biasanya hanya dipagi hari saja aku mual dan pusing parah begini, tapi entah kenapa sejak berada didekat mu perutku semakin mual dan kepala ku semakin pusing,"


"Tidak usah terlalu manja jadi wanita," sindir Ibunya Xander.


Lagi-lagi perkataan Ibunya Xander hanya bisa memperkeruh suasana yang membuat Tiffany semakin stres.


"Aku akan membatasi pertemuan kita, lagipula semua persiapan pernikahan akan rampung sebentar lagi jadi kita tidak perlu sering bertemu,"


"Apa maksudmu?" tanya Tiffany.


"Kau sendiri kan yang bilang, jika bertemu denganku perutmu semakin mual dan kepalamu semakin pusing, maka dari itu aku akan berusaha agar kita tidak perlu terlalu banyak bertemu,"


Dasar Xander tidak peka, Tiffany berpikir Xander akan mengajaknya tinggal di rumahnya atau Xander akan menginap di messnya begitu tau Tiffany mual dan pusing, tidak disangka justru Xander akan membatasi untuk tidak banyak bertemu.


Wajah Tiffany langsung ditekuk Xander benar-benar tidak ada niat untuk memberikan perhatian extra terhadapnya. Sampai di depan mess Tiffany pun Xander dan Ibunya tidak ikut turun, tidak ada ucapan apapun yang keluar dari bibir Xander.


Hingga Tiffany masuk ke dalam mess dan mobil Xander pun pergi begitu saja meninggalkan mess.


Mual, pusing badan berasa pegal tidak karuan Tiffany rasakan sendiri tanpa ada perhatian dari Xander.


Keesokan harinya, di perusahaan D.E skincare Liam dan Ameera berjalan bersamaan dan kebetulan Tiffany juga baru saja tiba di kantor tapi wajahnya terlihat pucat.


"Am itu Fanny," Ameera menunju Tiffany yang baru saja tiba.


"Kau mau mengobrol dulu dengan Fanny?"


"Iya aku rasa aku harus mengobrol sebentar dengan Fanny,"


"Kalau begitu aku ke ruangan ku dulu, dan ingat pukul 13.00 siang," Liam mengedipkan sebelah matanya.


Membuat Ameera bergidik merinding karena dari semalam Liam sudah memberitahu Ameera bahwa jika di kantor Ameera memilih makan siang di kantin dengan teman-temannya, sebagai gantinya Ameera harus menemui Liam di ruangannya setelah jam makan siang.


Liam pergi lebih dulu ke ruangannya sementara Ameera menghampiri Tiffany yang terlihat sedang memijat-mijat lehernya.


"Fan, kau baik-baik saja?"


"Hei Ra, akhirnya kita ketemu juga! Duduk dulu yuk di sana!"


Tiffany mengajak Ameera untuk duduk disofa yang terdapat di loby.


"Ku dengar kau sedang hamil Fan dan kau juga akan menikah dengan Xander?"


"Iya itu benar Ra, mungkin besok undangannya akan disebar untuk anak-anak kantor sini,"

__ADS_1


"Kau sudah yakin Fan?"


"Yakin Ra, karena sekarang bukan hanya aku saja yang membutuhkan Xander tapi anak dalam kandungan ku juga sangat membutuhkannya,"


"Sebagai teman aku hanya bisa mendukung apapun keputusan mu Fan, semoga hubungan mu dengan Xander dan orangtuanya bisa semakin dekat,"


"Doa mu sepertinya belum terkabul Ra, karena pada kenyataannya orangtua Xander kekeh meminta Xander menceraikan aku, terutama Ibunya Xander!"


"Keterlaluan sekali Ibunya Xander, tidak kapok ya juga setelah Liam sempat mengancamnya agar tidak sombong,"


"Apa? Liam pernah mengancam Ibunya Xander?"


"Benar, bahkan Liam tidak main-main dengan ancamannya apalagi jika nanti Liam tau kau disakiti oleh Xander atau Ibunya, Liam pasti akan memberikan pelajaran pada mereka,"


"Aku yakin Xander dan Ibunya pasti bisa berubah ko Ra, perkara waktu saja,"


Obrolan itu terpaksa harus berakhir karena sudah memasuki jam masuk kantor, Tiffany bekerja seperti biasa walaupun Liam sudah memintanya untuk beristirahat, apalagi wajah Tiffany masih agak pucat.


Tapi sebagai wanita mandiri tentu saja Tiffany tidak ingin saat kondisinya yang sedang hamil dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, selagi pekerjaannya tidak terlalu berat maka Tiffany dengan senang hati akan mengerjakannya.


Siang harinya, Ameera, Tiffany dan beberapa teman dekat mereka di kantor makan siang bersama di kantin sambil mengobrol dan tertawa bersama. Tapi melihat jam sudah menunjukkan pukul 13.00 siang, Ameera harus berpamitan lebih dulu pada teman-temannya karena Liam pasti sudah menunggunya.


Setibanya di depan ruangan kerja Liam, Ameera mengetuk pintu ruangan kerjanya.


Tok.


Tok.


Klek.


Ditariknya langsung lengan Ameera hingga tubuh Ameera jatuh kedalam pelukan Liam.


"Am,"


"Apa? Kau telat satu menit!"


"Maaf, tadi keasyikan ngobrol,"


"Oke aku memaafkan mu,"


"Kau sudah makan siang?"


"Sudah tadi jam 11.00 bersama beberapa rekan kerja ku,"


Liam menaruh kedua tangannya dipinggul Ameera, sambil menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ameera.

__ADS_1


"Am geli,"


Liam malah menggigit leher Ameera dan melu matnya.


"Am ini di kantor!"


"Kantor ku tepatnya, jadi terserah padaku aku mau melakukan apa disini,"


"Please jangan disini Am,"


Tapi Liam tidak menggubris permintaan Ameera, Liam segera menggendong tubuh Ameera membawanya ke sofa yang terdapat di ruangan kerjanya.


"Aku sedang ingin Ra,"


Mendengar suaminya sedang dalam keinginan yang menggebu-gebu untuk mendapatkan kepuasan, Ameera pun tidak dapat menolaknya.


Keduanya lantas saling me lu mat bibir satu sama lain, hasratt Liam selalu memuncak ketika melihat Ameera didekatnya, Liam tidak akan sanggup jika harus menunda atau meredam hasrattnya, akhirnya terpaksa keduanya melakukannya di ruangan kerja Liam.


Ciuman itu semakin lama semakin menenggelamkan Ameera kedalam balutan naf su yang semakin menggila, Liam menindih tubuh Ameera yang saat ini berada diatas sofa.


Sambil terus keduanya berpagutan, kedua tangan Liam meraba halus kedua paha mulus Ameera. Ameera yang semakin terpancing oleh sentuhan-sentuhan nakal suaminya bahkan tidak ragu untuk menjulurkan lidahnya dan memasukkannya pada rongga mulut Liam.


Membuat lidah lembut Ameera itu menyisir rongga mulut Liam, membuat efek merinding kesekujur tubuh Liam.


Liam membiarkan istrinya itu terus bermain-main dengan lidahnya sementara kedua tangan Liam semakin bersemangat untuk meraba-raba paha mulus Ameera bahkan kini hingga kebagian belakang.


"Sstth ah Am," suara seksi itu mulai terdengar ditelinga Liam.


Jika Ameera sudah mengeluarkan suara de sah yang terdengar seksi ditelinganya, Liam tau bahwa istrinya sudah mulai menginginkan hal yang lebih bisa membuatnya keenakan.


"Kau sudah mulai menginginkannya?" goda Liam.


"Iya Am, aku sangat ingin melakukannya sekarang,"


"Tahan dulu sayang, Ameera aku masih ingin bermain-main dengan mu sayang,"


Liam mencium leher jenjang Ameera, menye sap setiap inci kulit lehernya hingga membuat segelenyar rasa yang luar biasa membuat tubuh Ameera bergetar tak menentu.


Ciuman Liam semakin lama semakin turun dari leher kini menuju kedua semangka import milik Ameera, dengan cepat Liam melepaskan satu persatu kancing kemeja Ameera lalu membuka pengait b r a yang dikenakan oleh Ameera.


Membuat kedua semangka Ameera yang berukuran sangat besar itu menyembul tanpa perlawanan, dengan sekali suapan kedalam rongga mulut Liam satu semangka import milik Ameera berhasil dinikmati oleh Liam.


Rasanya sungguh memabukkan dan membuat Liam semakin bersemangat untuk menikmati tubuh Ameera.


__ADS_1



__ADS_2