(REVISI) My Man Is A Bunian

(REVISI) My Man Is A Bunian
1.10


__ADS_3

...Raka mengancam Andre...


Di Ruang Inap;


Dari raut wajah Santi terlihat gelisah. sejak kepergian Raka, Andre dan Marry. Santi sedari tadi sibuk mengotak ngatik ponselnya, sampai-sampai ia harus mengangkat ponselnya tinggi-tinggi sambil di goyang-goyangkan ponsel tersebut.


'Kenapa tidak ada jaringan? Bagaimana aku bisa memberi kabar kepada Mama? Mereka pasti sangat khawatir.' Batin Santi dengan perasaan yang cemas.


"Haaa__," Santi menarik nafas panjang, ia beranjak dari sofa lalu berjalan menuju ke arah jendela.


Setelah berada di depan jendela kaca yang menjadi pemisah dirinya dan dunia luar, di tatapnya lautan lepas dengan warna biru yang berkilau Karna tertimpa cahaya matahari di sertai dengan hiasan burung camar yang sedang menari riang di atas permukaan Kilauan air laut tersebut.


Santi memandang lautan dari di balik jendela dengan perasaan yang gunda gulana. Karena Santi tidak bisa memberikan kabar kepada orang tuannya. Santi khawatir, jika orang tuanya akan mencarinya. Apalagi seharian Santi tidak pulang ke rumah.


"Lagi memikirkan apa?" Suara seseorang dari arah pintu.


Santi pun menoleh ke arah suara, ia kemudian berjalan menghampiri suara tersebut.


“ Sini aku bantu," tawar Santi, ketika melihat Raka yang sedikit kerepotan dengan bawaannya ,sambil tangan santi ingin meraih beberapa bungkusan dari genggaman Raka.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Lagian tanganmu masih sakit kan?” Tepis Raka menolak.


Raka kemudian berjalan ke arah meja yang terdapat sofa. Rakan menaruh 2 kantong ukuran besar yang ia bawa itu di atas meja. Raka mengeluarkan isi kantong yang ia bawa, lalu menatanya di atas meja . Santi hanya melihat dengan keheranan apa yang sedang Raka kerjakan di hadapannya.


“Ayo sini, makan dulu." Ajak Raka sembari tangannya menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.


Santi pun berjalan ke arah Raka lalu duduk di samping Raka, “ini untuk siapa saja?" Tanya Santi keheranan saat melihat banyak sekali makanan yang Raka bawa.


“Untukmu," Jawab Raka singkat seraya tersenyum menatap ke arah Santi.


“Apakah aku terlihat sangat rakus? Kenapa banyak sekali makanan yang kau bawa?" masih dengan Tanya dengan menatap semua makanan yang telah di sajikan oleh Raka untuknya.


“Mmm.. Aku tidak tahu kesukaanmu , Jadi ku beli yang banyak agar kamu bisa memilihnya," Jawab Raka menjelaskan.


“Aku makan ga milih-milih kok, apa saja pasti ku makan. Yang penting, makanan tersebut makanan gratis!” Ucap Santi sambil menoleh ke arah Raka.


“Hahaha... Ayo makan. Ini semua gratis kok," Ajak Raka di iringi dengan tawa kecil, sambil tangannya mengambil beberapa lauk untuk di berikan kepada Santi .


“Terimah kasih!" Ucap Santi sambil tersenyum,lalu menerima kotak makanan yang di berikan oleh Raka .


Santi langsung memakan makanan tersebut dengan lahap. Rasanya tidak perlu di jelaskan lagi. Ini benar-benar sungguh enak, Selain tidak pelit bumbu di setiap olahannya, Porsinya pun sangat banyak.


Raka yang menatap Santi dengan jantung yang berdebar, dengan senyuman di bibirnya. Tak kala ia melihat Santi yang makan begitu lahap.

__ADS_1


“Oh iya, aku lupa!” Ucap Santi dengan tiba-tiba. Seraya ia menepuk dahinya.


Raka yang sedang makan pun terhenti, lalu ia menoleh ke arah Santi. Kimi Santi terlihat sibuk meraba-raba saku celananya dengan tangan kirinya. Raka pun mengerutkan alisnya karna melihat tingkah Santi di hadapannya.


“Ini aku balikin," ujar Santi lalu menyodorkan sebuah benda kepada Raka.


“Oh... Ponselku, aku sempat berpikir ini hilang" Ucap Raka kaget, ia langsung menerima benda tersebut.


Santi tersenyum..


“Aku pikir jaman seperti ini, ponsel adalah hal yang sangat penting. Aku menemukannya di bawah pohon randu lalu ku simpan," Jelas Santi.


“ Terima kasih, saat itu aku ingin kembali mencarinya. Namun aku tidak sempat, Karna tiba-tiba anak buah ayahku menjemputku dan mengatakan ada masalah di cabang perusahaan ayahku." Jawab Raka menjelasakan lebih tepatnya, Raka berbohong.


Santi mengangguk mendengarkan penjelasan Raka, "Mm_ begitu ya, akuu menunggumu selama beberapa hari, tapi kamu tidak kunjung datang. Lalu aku mencarimu di tempat dimana kamu terakhir menghilang." tutur Santi menjelaskan sembari tangan kirinya sibuk menyendokan makanan ke mulutnya.


“Jadi, kamu melewati pembatas? Jangan katakan jika luka sobek yang kamu dapatkan ini, Karna kamu mencari ku?” Ucap Raka dengan tatapan menyelidiki kepada Santi.


Santi hanya mengangguk menatap Raka.


“ Ya ampun, Maafkan aku Santi. Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi. Karna waktu itu aku sibuk mengurusi permasalahan perusahaan." Ucap Raka sesal dengan refleks Raka mendekap tangan Santi.


“Tidak usah minta maaf, ini kecerobohan ku. Karna aku tidak hati-hati." Jawab Santi yang menepis tangan Raka yang sedang memegang tangan kanan Santi.


Raka hanya terdiam, ketika genggaman tangannya di tepis oleh Santi, "Lain kali jangan ceroboh dan jangan melakukan hal-hal yang membuat kamu dalam bahaya, Jika tidak ada aku di sampingmu. Dan aku benar-benar minta maaf,” Sesal Raka.


“ Iya sih, kali ini kamu masih bernafas , gimana kalo lain kali kamu tidak baik-baik saja? Dan lain kali kamu jangan sampai keluar dari pembatas, di sana banyak hewan buas Karna tidak ada manusia yang menjamah tempat tersebut. Ingat! Jangan jadi Wanita yang nekad!" Ucap Raka yang mengkhawatirkan Santi.


“Bukan 'kah, kamu juga menuju ke hutan melewati pembatas?" Tanya Santi menoleh ke arah Raka.


“Aku pria dan kamu wanita tidak bisa di samakan." Jawab Raka.


“Haha.. Raka, Wanita dan pria apa bedanya? Yang namanya musibah kita tidak tahu. Ingat juga ya, yang namanya hari sial dan na'as itu tidak ada di dalam kalender, mau pria dan wanita itu sama aja Raka,” sela Santi di sertai tawanya.


Saat Santi berbicara kepalanya menoleh ke arah Raka dan di saat yang bersamaan ,tangan Raka hendak meraih tissu yang berada tepat di depan Santi. Seketika wajah mereka berdua bertemu, dan 2 pasang mata pun saling menatap dengan begitu intens.


Nafas yang berhembus dapat mereka rasakan Satu sama lain di kulit wajah mereka berdua . Ke-2 Wajah tersebut seperti terdapat magnet , yang membuat ke 2 wajah itu saling bertatap dan semakin terasa mendekat dengan deru nafas yang terdengar saling bersahutan .


Santi yang melihat pria berparas Leonardo di hadapan begitu dekat dengan wajahnya, membuat sekujur tubuh Santi serasa kaku dan tak bisa bergerak. Di saat itu, hanya terdengar suara detak jantung Santi yang ingin keluar melompat dari dalam dadanya. Santi pun menutup kedua matanya, ia sudah pasrah jika Raka akan menciumnya.


“Ekhem!" Suara seseorang berdehem saat pintu terbuka.


Spontan, Raka dan Santi terlihat panik. Santi dengan cepat membuka matanya kemudian melihat ke arah suara. Dengan spontan, Santi mendorong tubuh Raka menjauh dengan salah tingkah. Mereka berdua pun membuang wajah mereka dengan arah yang berlawanan dengan pipi yang sudah terlihat seperti jambu.

__ADS_1


“Maaf mengganggu, aku kesini Karna ingin mengantarkan obat yang telah selesai ku racik.” Andre membuka pembicaraan.


Raka kemudian berdiri menghampiri Andre.


“Raka! Ada yang ingin aku bicarakan. Marry, tolong luka Nyonya Santi kamu yang urus, ikuti prosedur yang tadi telah kita bahas.” Ucap Andre kemudian membalikan tubuhnya dan berlalu.


“Baik Tuan!" jawab Marry mengiyakan perintah Andre.


Raka yang melihat Andre berlalu, dengan cepat mengejarnya dan mengimbangi jalan kaki Andre. Andre kemudian mengajak Raka ke ruangannya.


Setelah berada di dalam ruangan, Andre kemudian berjalan menuju ke arah meja kerjanya . Ia pun menekan sebuah tombol di atas meja kerja tersebut.


“1 kopi latte dan 1 kopi hitam dengan beberapa cemilan antarkan secepatnya ke ruangan saya.” Ucap Andre lalu melepas tombol tersebut.


Tak lama, apa yang di minta oleh Andre telah tersaji di atas meja. Andre kemudian berjalan menuju sofa yang ada di dalam ruangan tersebut, Andre kemudian duduk di sofa tersebut. Tak lupa, Andre juga mempersilahkan Raka untuk duduk. setelah Raka duduk berlawanan arah dan saling berhadapan .


“Ka, mau sampai kapan kamu menahan anak manusia itu?” Ucap Andre membuka pembicaraan.


“Kamu tahu sendiri keadaan Santi, aku tak ingin Santi jatuh pingsan lagi. " jawab Raka dengan raut khawatir.


“Dia jatuh pingsan, Karna pada saat itu. Obat yang di berikan efeknya telah habis . Dan sakit yang di rasakan oleh Santi saat itu , akibat jahitan yang membengkak sehingga membuat suhu tubuhnya menjadi naik. Saat kamu membawanya kesini, telah aku berikan beberapa obat di dalam cairan infusnya agar saat dia sadar, dia akan merasa jauh lebih baik. Dan masalah luka Santi , aku telah membuat obatnya. Lukanya akan segera pulih dan akan baik-baik saja." Andre memberi penjelasan kepada Raka mengenai kondisi Santi.


“Jadi Santi sudah bisa pulang?" Tanya Raka.


“Iya, dan saat dia tiba di dunianya, luka di lengannya akan pulih sepenuhnya, Karna waktu di dunia Santi lebih cepat dari pada dunia kita.” Ucap Andre.


“Ok. Aku akan mengantarnya pulang hari ini," Ucap Raka .


“Lebih cepat lebih baik, Karna aku tidak ingin mempunyai masalah dengan keluarga Robert. Jika mereka tahu bahwa tunangan Anaknya membawa seorang wanita yang perwujudannya manusia di Rumah Sakitku, bisa-bisa profitku di cabut dari Perusahaan mereka." Ucap Andre menyindir.


“Apakah kamu setakut itu dengan Robert? Ingat Andre, investor terbesar di Rumah Sakit ini adalah aku. Karna kamu adalah sahabatku." Ucap raka, seketika ia pun langsung berdiri dari duduknya.


“Raka!! Dengarkan aku, maksudku_," Andre dengan sontak juga ikut berdiri.


“Jika kamu ingin Rumah Sakit ini tetap berjaya, maka berpihak 'lah padaku . Kamu jangan pura-pura lupa Andre, Pengusaha sukses nomor satu dengan usia termuda itu siapa? Jika kamu benar-benar amnesia, maka lupakanlah hal tersebut.” Hardik Raka kemudian berlalu meninggalkan Andre.


Bamm!!


Raka berjalan ke arah pintu ruangan,membuka pintu tersebut lalu membanting pintu itu dengan kuat. Raka pun berlalu meninggalkan ruangan Andre .


Andre yang Melihat Raka meninggalkan dirinya dengan keadaan emosi, Tanpa mau mendengarkan penjelasanya terlebih dulu. Dengan cepat berlari mengejar Raka.


"Ka! Tunggu," Teriak Andre memanggil.

__ADS_1


Raka tak menghiraukan teriakan Andre yang memanggil-manggil namanya . Raka terus mempercepat laju jalan di kakinya hingga ia pun tiba di depan sebuah pintu .


Namun sebelum ia mencapai knop pintu yang berada di hadapnnya, ternyata Raka berpapasan dengan Marry yang hendak keluar dari ruangan.


__ADS_2