
...FLASHBACK PART III...
...****************...
“ Yank kita ke butik yang dekat plaza ya?," Ucap Adit seraya mengendarai mobilnya.
“ Terserah kamu saja jika menurutmu bagus”Jawab Santi .
“ Iya, aku mau couplelan sama kamu pas aku wisuda nanti, " Ucap Adit dengan tatapannya tetap fokus ke jalan raya .
“ iya sayang!!, Kita ukur kebayanya di sana saja. Tapikan kamu pasti pakai kemeja putih Dit, Masa mau couplelan sih!!” Ucap Santi.
“ Aku mau kamu pakai kebaya yang bagus saat dampingi aku. Pengen lihat kamu pake kebaya, masa nemanin calon suami pake jeans sama kaos ?. Kebaya kamu saja ya, yang di jahit di butik?," Ucap Adit seraya tersenyum ke arah Santi .
“ Iiihh!!!, ga usah ah, Buang-buang duit Dit" Ujar Santi merasa keberatan
“ ya...ga apa-apa buat calon istri ini. Emangnya buat siapa aku buang duitnya?" Jawab Adit kekeh.
Santi hanya tersenyum mendengar ucapan Adit .
“ Ya udah.. 2 Minggu lagi kan?, wisudanya?" Tanya Santi .
“ Iya!!” jawab Adit singkat
“ Ya udah , kita ke butik sekarang, ” Ucap Santi.
Mereka pun menuju ke butik yang di maksud.
sesampainya di butik ,Santi langsung menunjukan contoh kebaya dari galeri ponselnya . kemudian Santi memilih kebaya dengan warna peach.
Setelah selesai melakukan pengukuran dan pemesanan, Adit kemudian mengantarkan Santi untuk pulang.
sebelum Adit mengantar Santi, mereka mampir di sebuah Waroeng steak untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu.
Setibanya di rumah, Adit langsung berpamitan Karna masih ada urusan yang harus di kerjakan.
Santi pun mengiyakan dan kemudian membiarkan tunangannya pergi dan melaju.
Saat Santi tidak lagi melihat mobil Adit, Santi beranjak dan berjalan ke arah rumah kontrakannya.
Saat Santi hendak membuka pintu, ponsel Santi berdering.
dengan cepat Santi menggeser tombol layar.
“ Halo!! .Ada apa ren?.” Ucap Santi.
“ Kamu bisa nemenin aku ga san?" Suara dari seberang telfon.
“ kemana?" tanya Santi seraya tangannya membuka gagang pintu.
“Ke Bandung" Ucap si penelfon .
“ Jauh amat, emang ada urusan apa?" Tanya Santi yang sudah berada di dalam kamarnya.
“ ada teman yang datang tapi bisanya ketemuan di Bandung," jawab si penelfon .
“ Owh...gitu, berapa hari?. Soalnya minggu-minggu ini aku sedikit sibuk" Ucap Santi.
“ 2 hari aja san, aku yang bayar tiketnya. Kita naik kereta aja." Jawab si penelfon.
“ Ok, sepertinya Aku bisa kalau Cuma 2 hari" Ucap Santi .
“Ok... Besok aku jemput ya!!" Ucap si penelfon.
__ADS_1
“ OK!!" Jawab Santi. Kemudian santi memutuskan sambungan telfonnya.
Santi langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Kemudian membuka aplikasi pesan di ponselnya.
lalu ia mulai mengetik .
(yank...aku mau pergi 2 hari ke Bandung) Isi pesan yang di kirim kan ke Adit.
Tak lama ada notifikasi pesan masuk
( sama siapa ke Bandung?) Balasan dari Adit .
( Sama Iren yank, Soalnya dia mau ketemu sama temannya, terus minta di temani) balas Santi.
( ya sudah!!, aku ijinin, tapi kamu harus selalu hati-hati ya!!) Balas Adit.
( iya yank.. i love u ) Balas Santi.
( love you too calon ibunya anak-anak) Balas Adit .
Santi hanya tersenyum membaca pesan yang di kirimkan oleh tunangannya tersebut.
Santi mulai mempersiapkan segala sesuatu yang akan ia bawa ke Bandung nanti, agar ke esokannya ia tinggal santai dan tidak keteter saat Iren Datang menjemputnya.
Setelah menyiapkan segala keperluan, santi pun memutuskan untuk tidur.
...****************...
Paginya....
Santi terbangun, ia bergegas ke kamar mandi dan membasuh wajahnya . Kemudian beranjak mengambil susu kotak, roti tawar dan selai di dalam kulkas.
Ia menikmati sarapannya dengan ponsel yang ada di hadapannya untuk menemaninya sarapan .
Santi tahu siapa yang datang, Santi hanya diam dengan posisi tetap menikmati sarapannya dan tak beranjak dari duduknya , apalagi harus menyambut Tamu yang datang tersebut.
“ lagi sarapan ya?" Ucap seorang wanita yang datang menghampiri Santi.
“ kamu udah sarapan ren?" Ucap Santi seraya bertanya.
“ Belum!! ” Jawab wanita tersebut , Ia kemudian melangkah mengambil sebuah gelas lalu menuangkan susu kotak yang berada di hadapan santi untuk dirinya.
“ kita pergi ke Bandung jam berapa ren ?." Tanya Santi .
“ Selesai mahgrib, ntar beli tiketnya di stasiun aja." Jawab wanita tersebut.
“ owh .. pagi bangat ya kamu datangnya." Jawab Santi .
“ ya mau numpang tidur dulu, ntar sore bangunin ya san ." Ucap wanita tersebut yang telah menghabiskan satu gelas susu dan sepotong roti, ia lngsung beranjak dan berlalu ke kamar Santi .
Santi hanya terdiam membiarkan wanita tersebut berlalu , Karna temannya yang satu ini memang punya kebiasaan suka semaunya.
Namanya Iren , teman Santi saat duduk di bangku SMA. mereka Bertemu di Jogja dengan tidak sengaja, dan pada saat itu Santi dan iren sangat akrab bahkan terlihat seperti kakak beradik .
Maka dari itu ,Santi maupun Iren sama-sama tidak ada rahasia dan privasi di antara mereka.
Jam 5 sore, Santi membangunkan Iren. Mereka kemudian bersiap-siap dan bergegas ke stasiun tugu dengan menaiki taksi.
dan sepeda motor Iren telah di ambil oleh temannya Iren sebelum mereka berangkat .
Setelah tiba di stasiun tugu, mereka memesan tiket untuk class bisnis.
Saat Santi dan iren sedang menunggu kereta yang akan membawa mereka ke Bandung, tiba-tiba Santi merasa ada yang aneh dengan dirinya.
__ADS_1
“ Ren.. kayanya aku ga jadi ikut deh." Ucap Santi tiba-tiba.
“ Loh. Kok gitu?. Emangnya kenapa?.” Tanya Iren kaget , dan langsung menoleh ke arah Santi.
“ enggak tahu ren, perasaan ku ga enak. Entah kenapa aku jadi gelisah”. Ucap Santi yang seketika memberi alasannya.
“ ohw... tidak apa-apa san, kan ada aku. Itu Cuma perasaan kamu saja Karna kamu ga pernah kan pergi jauh-jauh dari Adit?. ” Ucap Iren yang mencoba menepis keraguan Santi .
“ ya mungkin ini cuma perasaanku saja." Jawab Santi menyakinkan dirinya sendiri.
Namun yang pasti. saat ini Santi benar-benar merasa ragu untuk pergi , perasaannya cemas dan takut.
karna Baru pertama kali ia merasakan perasaan seperti ini.
“ yah!!. Jangan bengong dong!! . itu kereta kita udah datang. Ayo buruan." Ajak Iren yang membuyarkan lamunan Santi seketika .
“ Ah... Iya ayo..” kaget Santi lalu berdiri lalu berjalan ke arah kereta.
Di dalam kereta, Santi lebih memilih diam dan tak banyak berbicara.
Ia melihat Iren yang tengah sibuk dengan ponselnya ,kadang Iren terlihat senyum-senyum sendiri saat menatap layar ponselnya.
Santi kemudian membiarkan sahabatnya itu dengan aktifitasnya sendiri.
kini Santi lebih memilih menatap ke luar jendela dari dalam kereta api, untuk menikmati setiap kerlap kerlip di luar jendela yang sedang mengikuti lajunya kereta.
Dan tak terasa, mata Santi terasa berat. Ia memutuskan untuk tidur.
Tiba-tiba ponsel Santi berdering..
Santi yang terlelap langsung membuka mata dan meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.
“ Iya...Halo dit, ada apa?." Ucap Santi membuka pembicaraan.
“ Kamu sekarang sudah sampai mana?." Tanya Adit di seberang telfon .
“ tidak tahu." Ucap Santi kemudian melihat ke arah luar jendela.
“ Jika kereta berhenti di stasiun mana pun, kamu segera turun. selagi itu masih di kawasan Jawa tengah." Ucap Adit.
“ tapi dit-" Ucapan Santi terhenti.
“ aku punya firasat buruk. Beritahu aku, aku akan menjemputmu." Jawab Adit dengan nada khawatir .
“ Tapi, kayanya bentar lagi nyampe deh dit.” ucap Santi.
“ ya udah kalo gitu, ingat selalu hati-hati dan selalu waspada ya syg disana , dan jangan ceroboh . Ntar lagi kita kan mau nikah ,jadi harus selalu hati-hati ." Ucap Adit mengingatkan.
“ iya sayang!!. Selalu kok, aku bakal selalu hati-hati." Ucap Santi.
“ ya udah kalau gitu sayang istrahat, biar ga kecapean nantinya. " Ucap Adit.
“ok " Santi pun memutuskan sambungan telfonnya.
Setelah selesai berbicara dengan Adit di telfon,
Santi mengalihkan pandangnya ke arah temannya yang sedang tertidur pulas.
tiba-tiba Santi menjadi parno dan risau ,ia kemudian menenangkan pikirannya dan mencoba menepis segala ketakutannya dengan memejamkan mata.
“ Ternyata Adit juga mempunyai perasaan yang sama. Ya ALLAH YA RABB semoga kau jauhkan hamba dari segala marabahaya” banti Santi .
Santi membuka mata seraya menarik nafas dalam-dalam . ia kemudian meremas telapak tangannya.
__ADS_1
“huffff, semoga ini hanya perasaan dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi" Guman Santi menguatkan dirinya.