(REVISI) My Man Is A Bunian

(REVISI) My Man Is A Bunian
1.11


__ADS_3

...My Man Is A Bunian...


...Pergi Dari Rumah Sakit...


...****************...


Di ruangan saat kepergian Raka dan Andre. Santi melihat punggung Raka yang berlari kecil mengejar Andre yang hendak keluar dari ruangan. Semakin lama punggung Raka makin menjauh dan akhirnya kedua sahabat itu pun menghilang di balik pintu.


“Nyonya Santi, mohon maaf saya akan memeriksa luka nyonya." Suara Marry membuka pembicaraan dengan tiba-tiba.


“Oh iya maaf ini!" Jawab Santi kaget, dengan cepat memberikan tangannya yang terluka kepada Merry .


Merry pun melihat dengan seksama luka Santi yang masih terlihat basah di pergelangan tangan Santi.


“Aku bersihkan dulu," Ucap Marry. Ia mengambil satu botol cairan lalu ia tuangkan ke wadah berbahan aluminium.


Santi hanya mengangguk, seperti halnya pada waktu Mona mengobatinya, Santi dengan antusias memperhatikan setiap gerakan dari tangan Marry yang lihai.


“Marry!” panggil Santi, mencoba menyapa Meryy yang tengah sibuk pada tangannya.


“Iya nyonya ada apa?” Jawab Marry se sopan Mungkin dengan sedikit lirikan ke arah Santi.


“Kamu bekerja sama dokter Andre sudah berapa lama?" Tanya Santi mencoba akrab.


“Sekitar 2 tahun Nyonya," Jawab Marry singkat dengan tangan yang masih sibuk membersihkan luka Santi dengan hati-hati.


“Aduh,Jangan panggil Nyonya ah, berasa kaya Nyonya besar Saja jadinya. Panggil Santi saja ok?" Santi yang merasa panggilan tersebut sangat asing terdengar di telinganya.


Merry menghadapkan wajahnya ke arah Santi dengan datar, “Ini sudah ketentuan Rumah Sakit Nyonya," Jawab Merry dan kembali fokus ke pekerjaannya .


“Mmm.. ya sudah deh, Terserah kamu saja, mau manggil aku siapa. E ngomong-ngomong Dokter Andre orangnya kaya gimana mer?" Lanjut Santi ke topik utamanya.


“Orangnya tegas," Jawab Merry singkat.


“Oh ...gitu!!" Jawab Santi tak mau kalah singkat.


Santi tak lagi ingin bertanya ,sebab di saat Santi melihat Merry , orangnya kaku sudah seperti kanebo kering. Ia terlihat tidak bisa di ajak bicara ,apalagi di ajak bercanda dan wajah Marry yang selalu datar ketika ia berbicara dengan Santi.


melihat hal tersebut, Santi urungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut. Mereka berdua pun terdiam membisu membuat ruangan tersebut terasa seperti berada di kamar mayat. Namun marry tetap fokus mengobati luka Santi, dan Santi hanya melihat gerakan tangan Marry yang sedang bekerja.


“Ini sudah selesai, jangan sampai terkena air, tunggu hingga kering," titah Merry .


“Iya terima kasih.” Ucap Santi singkat.


Marry hanya mengangguk lalu ia merapikan alat yang ada, Marry kemudian meminta ijin untuk berpamitan Karna tugasnya telah selesai .


Santi hanya mengangguk, 'di tahan juga percuma di tanya satu kata pasti jawabnya juga satu kata.Yah! mending si Marry pergi saja.' batin Santi.


Merry melangkahkan kakinya ke arah pintu .Saat ia membuka pintu ,ia pun tersentak lalu kemudian membungkukan badannya .


Santi pun menoleh ke arah pintu, ternyata ada Raka yang hendak membuka pintu, tak sengaja ia berpapasan dengan Marry yang hendak keluar .


“Raakkaa!!" teriak Santi yang langsung berdiri menghampiri Raka .


“Ayo pulang!" Ucap Raka dingin kepada Santi .


“Tapi, biaya rumah sakit bagai—,” Ucapan Santi pun terhenti ketika sebuah tangan kekar menggenggam erat lalu menyeretnya.


“Sudah aku urus semua biaya Administrasinya. " Ucap Raka dengan tangannya yang memegang lengan Santi dengan erat .


“Ka! Raka!" Teriak Andre memanggil nama Raka.


Raka yang berjalan dengan cepat , seketika menghentikan langkahnya. Raka yang berhenti tiba-tiba membuat Santi pun ikut terhenti lalu menabrak lengan Raka. Santi dan Raka kemudian menoleh ke arah Andre secara bersamaan .


“Apa? Takut? Aku tidak Setega itu dengan sahabatku sendiri. Dan masalah pribadiku jangan pernah kau ikut campur! Meski kau adalah sahabatku," cerca Raka menegaskan, ketika ia bertatap dengan Andre


Santi yang melihat raut wajah Raka yang berubah dari cair menjadi beku ,memilih diam dan hanya memperhatikan wajah Raka yang rahangnya sudah terlihat mengeras.


“Luka Santi, jika sudah sembuh, tolong suruh dia kembali lagi . Karna aku akan melakukan lighting pada bekas lukanya." Ucap Andre dengan nafas yang terdengar memburu Karna berlari mengejar Raka.


“Tidak perlu, dan terima kasih atas tawarannya. Ke depannya Santi akan ku bawa ke Dokter yang lebih hebat tanpa harus merasa ketakutan dengan Albert Robert." Ucap Raka kemudian menarik lengan Santi lalu melangkah dengan cepat untuk meninggalkan rumah sakit ini secepatnya.


“Raka.. Raka.. maafkan aku jika sudah menyinggungmu aku benar-benar minta maaf." Ucap Andre dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


Raka tak menghiraukan, ia terus melangkah dengan cepat sambil menarik tangan Santi.


“Aiiissshhhh.... Sakit Raka! Aku capek mengimbangi langkah mu yang seperti burung unta yang sedang berlari." Ucap Santi dengan suara sedikit meninggi lalu menepis kasar genggaman Raka .


“Jujur ya Raka, aku tidak tahu permasalahan kamu dengan temanmu itu . Tapi tolong jangan bawa semua permasalahan kepada siapa yang kamu temui. Itu anak kecil namanya." Lanjut Santi kesal sambil bercekak pinggang mengomeli Raka.


Raka tersadar dengan ucapan Santi. Akibat masalahnya dengan Andre, Raka yang seharusnya melindungi Santi, malah membuatnya kesakitan akibat genggaman yang terlalu erat di pergelangan tangan Santi.


Raka menatap Santi dengan tatapan bersalah. "Maaf.. Tadi aku tidak sengaja, apakah sakit?" Tanya Raka lalu meraih tangan Santi untuk di lihat.


“Tidak! Ayo jalan. Yang pelan saja, kan kakimu panjang." Santi menepis tangan Raka, ia langsung melangkah melewati Raka dan berjalan di depan Raka .


Raka hanya mengekori Santi dari belakang. Melihat Santi yang berjalan begitu riang di depannya ,sambil ke dua tangannya maju mundur secara bergantian di ikuti kepala Santi yang tak bisa diam, Karna mengamati setiap koridor yang mereka tapaki membuat kepala Santi ke kanan,ke kiri, ke atas dan ke bawah dan kadang , Santi berhenti dengan tiba-tiba hanya untuk membaca papan nama di setiap masing-masing ruangan yang tertulis.


Raka membiarkan Santi yang terus berjalan tanpa menegurnya . Raka terlihat senang melihat tingkah Santi yang riang seperti ini. Karna tanpa sadar , bibir Raka selalu terukir senyuman setiap kali ia melihat tingkah wanita yang ada di depannya.


Raka tak ingin membuat mood Santi berubah ,Karna Raka sungguh bahagia melihat Santi seperti ini .


Setelah 1 jam , Raka membiarkan Santi dengan mengekorinya dari belakang. Sampai tak sadar, bahwa Santi telah membawa jalan yang salah.


“ Ka... Apa kita ga salah jalan? Kayanya dari tadi kita cuma muter-muter deh." Ucap Santi membuka suara lalu memalingkan wajahnya ke belakang menatap Raka dengan tatapan heran .


Raka pun tertawa kecil.


“Kenapa? kau Sudah capek? Makanya jangan sotoy.” Ucap Raka sambil mengacak gemas rambut Santi.


“Ih..Apaan sih." Ucap Santi, menepis tangan Raka yang sedang mengacak-ngacak rambutnya.


“Kamu pernah ke rumah sakit ini?" Tanya Rakam


Santi menggelengkan kepala. “Bukan 'kah jika rumah sakit itu hampir mirip-mirip ya? Pasti setiap lantai ada tangga daruratnya dan biasanya setiap tangga itu langsung terhubung ke lobi dan basemant kan?" Jelas Santi sotoy dengan tatapan tanpa dosa ke arah Raka.


“Ih... Nih anak ya, udah salah pake jelasin lagi. Kamu pernah dengar Hospital Blue Sea? ya Ini rumah sakitnya . Yang di bangun di atas laut." Ucap Raka menjelaskan


“ Ha! Hospital Blue Sea? Baru dengar. Perasaan rumah sakit yang kau sebut barusan tidak ada di kampugku . Apakah ini di luar negeri? Karna bangunannya terlihat sangat mewah dan kamar inapnya juga terlihat seperti kamar hotel." Ucap Santi dengan wajah bego.


“Ya memang tidak ada di kampungmu ,makanya jangan sotoy kalo jadi orang." Jawab Raka dengan Mencubit ujung hidung santi.


“Ih.. Raka!!" Jawab Santi sambil menepis tangan Raka yang sedang mengoyang-goyangkan ujung hidungnya.


Santi pun hanya menurut di saat Raka menggenggam tangannya. Sesampainya di dalam lift, Raka menekan tombol lift yang berada di sampingnya.


lift pun bergerak..


seketika wajah Santi tiba-tiba terlihat memucat. Saat Raka melihat hal tersebut, Raka menjadi panik.


“Santi kamu ga apa-apa?” Ucap Raka khawatir sembari melihat ke arah Santi .


Santi tidak menjawab dengan hanya menggelengkan kepala lalu melambaikan tangannya. Memberi isyarat jika ia tak apa-apa.


Raka yang panik melihat perubahan Santi, membuat Raka memencet tombol lift dengan cepat, berharap lift berjalan cepat ke lantai dasar.


Di mana di lantai tersebut, terdapat mobil Raka yang terparkir . Tiba-tiba Lift Sedikit bergoyang membuat Santi semakin pucat dan panik .


“Sabar ya Santi, bentar lagi kita sampai. Kamu yang kuat ya, Sini pegangan." Ucap Raka, seraya memberikan lengannya kepada Santi. berharap agar Santi dapat berpegangan atau menyenderkan wajahnya di lengan yang Raka berikan.


Santi menjawab dengan melambaikan tangan, memberi isyarat bahwa ia menolak. Saat pintu lift terbuka, Santi dengan cepat berlari keluar dari pintu lift.


Melihat hal tersebut ,Raka pun mengejarnya dengan perasaan khawatir.


“Santi! Katakan apa yang kamu rasakan?” Ucap Raka seraya menarik tangan Santi.


Santi yang merasakan tangannya di tarik, sontak menoleh ke belakang dan seketika mendorong tubuh Raka. Raka dengan cepat menarik Santi dalam pelukannya. Memastikan kepada Santi agar ia aman dan baik-baik saja dalam pelukan Raka.


“Huueekkk!!” Santi mengeluarkan isi perutnya.


Sontak Raka memegang ke dua bahu Santi dan mendorongnya dengan pelan, agar memberi jarak di antara mereka.


“Ya ampun San, kenapa muntah di badan aku?" Tanya Raka dengan matanya yang melotot ketika melihat muntahan Santi yang tertinggal di kemeja putihnya.


Santi pun cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, seperti orang bego yang tak merasa bersalah.


“Hehehe.. maaf Raka, aku mabuk jika naik lift. Dari awal naik lift, perut aku sudah terasa mual. Hehehe.. namanya juga orang kampung Raka, jadi tolong harap di maklumi," Jawab dengan tangan yang memohon maaf.

__ADS_1


“Sudah tidak apa-apa," Ucap Raka.


sebenarnya Raka kesal karna kemejanya Kotor. Namun melihat wajah Santi di depannya, ia pun tak tega jika memarahi Wanita dengan pandangan lugu tersebut.


“Benaran tidak apa-apa? Tadi aku buru-buru berlari, aku ingin mencari tempat sampah atau toilet, kamu malah menahan ku," Jelas Santi merasa bersalah.


“Sudah tidak apa-apa. Anggap saja aku ini westafel," Ucap Raka terdengar mulai dingin.


“Maaf Raka. . .," Ucap Santi memelas Karna sudah mulai melihat kegersangan di raut wajah Raka.


“Sudan Santi, Tidak perlu sungkan dan minta maaf. Ayo! Aku harus mengantarmu pulang. Aku ada baju ganti di dalam mobil. Biar nanti, aku mengantinya,"


Ajak Raka kepada Santi, Raka kemudian ke arah mobilnya, sambil kedua tangannya mencoba membuka kancing di kemejanya .


Santi hanya menurut lalu mengekori Raka dari belakang, Santi yang melihat gerakan Raka yang mencoba melepaskan kancing kemejanya, mulai berpikir liar.


"Ah...apakah pria di depanku ini gila? Membuka baju di tempat terbuka seperti ini?" Batin Santi, Dengan Tatapan aneh melihat Raka.


Raka melepaskan kemejanya lalu menggenggam kemeja tersebut , Raka yang melakukan hal itu Tanpa Sadar, Sehingga ia tak menyadari jika ada sepasang mata yang melihat tingkah Raka dengan mulut yang menganga , mata yang melotot dengan liur yang hampir menetes. Karna melihat pemandangan langka yang tersaji indah di depannya.


“Otot itu, dada bidang itu, perutnya. ooohhh Tuhan kenapa kau ciptakan makhluk yang menakjubkan seperti lelaki di hadapanku ini. Sadar lah Santi! Itu zina mata ," Batin Santi sambil menggelengkan kepala dengan kasar , Santi mencoba membuang semua pikiran kotornya.



“Awas! Liurmu sudah kemana-mana," Tegur Raka, Saat melihat Santi terpaku ketika melihat badan atletisnya.


“Ish! Apaan sih, senang sekali Ya, Selalu membuat orang kikuk di hadapanmu?”


Ucap Santi sambil berlalu mendahului Raka , Karna Santi merasa malu, Akibat tatapan terpesonanya di ketahui oleh Raka.


Raka kemudian menghampiri sebuah tong sampah yang tak jauh dari tempat ia memarkir mobilnya. Ia pun langsung melemparkan kemejanya ke dalam Tong sampah di hadapannya.


“Raka! Kenapa di buang? Sayang tahu kalo di buang," Santi yang melihat hal tersebut ,langsung berlari menghampiri tong sampah yang tak jauh dari tempat ia berdiri.


“Biarkan saja Santi , itu sudah kotor. Kemejaku masih banyak," Ucap Raka cuek ketika kemejanya sudah berada di dalam tong sampah.


“Inikan masih bisa di cuci, jika kamu jijik Karna muntahanku. Aku akan mencucinya hingga bersih, tak perlu di buang," Sahut Santi yang kemudian memungut kembali kemeja tersebut dari tong Sampah.


Raka tersenyum, senyuman Raka memiliki sebuah makna. “Iya kamu bawa pulang saja dan cuci sampai bersih,” Ucap Raka, Karna ke depannya , Raka akan punya alasan untuk bertemu dengan Santi kembali.


“Iya! Akan ku pastikan kemeja ini akan bersih . mentang-mentang orang kaya , gampang sekali menyia-nyiakan sesuatu," pekik Santi kesal dengan kemeja yang sudah ia pungut.


Raka hanya tersenyum mendengar jawaban Santi. Ia lalu mengajak Santi menuju ke arah mobilnya. Sesampai di tempat mobil terparkir, Raka menekan sebuah tombol yang ia keluarkan dari sakunya, tak lama bagasi mobil di hadapan mereka pun terbuka.


Santi yang melihat mobil yang terparkir di depannya hanya melongo tak percaya, “ fix, aku masuk ke dalam dunia novel dan Raka sudah pasti CEO. Haduh Santi ngelahu jangan ketinggian ," Batin Santi, ia pun menepis imajinasinya yang terlalu tinggi.


Raka berjalan ke arah bagasi, ia tampak sibuk di belakang mobil yang sedang terparkir.


“Ka... Aku duduk di situ? "


Tanya Santi saat melihat bagasi mobil terbuka dan Raka yang terlihat sibuk di belakang mobil di hadapannya. Raka menoleh ke arah Santi yang berdiri di samping mobilnya. Sontak, Raka tertawa mendengar pertanyaan Santi.


“Otakmu terbuat dari apa sih san? Iya. Kamu masuk sini ,biar aku paketin kamu ke rumahma." Ucap Raka bersama tawanya di sertai gelengan kepala.


Santi hanya bengong menatap Raka. “Terus kamu kenapa buka bagasi?” tanya Santi bingung.


“Kesini, Itu lihat baju-bajuku di gantung di sini!" Ucap Raka sambil menarik Santi ke arah belakang mobil lalu menunjukan jejeran baju yang tergantung rapih.


“ Oh..Aku pikir kamu jijik, makanya kamu bakal menyuruhku duduk di bagasi," Ucap Santi yang merasa malu dengan pertanyaannya.


“Ya ampun san, apa iya aku tega menyuruh kamu masuk bagasi? Dan masa iya, aku nyetir tidak memakai baju? Nanti kamu malah ngiler lagi liatin aku," Ucap Raka yang hanya menggelengkan kepalanya


“Nih, sudah selesai!" lanjut Raka yang sudah memakai baju . Santi yang melihat hal tersebut hanya bisa berucap masyaallah sungguh indah ciptaan mu.


Raka kini telah berganti pakaian yang lebih kasual, ia menggunakan kaos hitam berkerah panjang, Dia tampak menawan.



Sepertinya jika orang tampan memakai apa aja pasti terlihat cocok di tubuh mereka.


“Sudah cukup, menatapku kagum. Nanti akunya gagal menyetir , Gara-gara di tatap oleh kamu terus. Ayo masuk," Ucap Raka mengajak Santi naik ke mobilnya.


Santi mengangguk, ia melihat Raka membuka pintu mobilnya, Santi tak percaya dengan apa yang ia alami, namun pada kenyataannya hal inilah yang terjadi dan ia pun hanya menikmati segala sesuatu yang terjadi saat ini .

__ADS_1


Di dalam mobil, Raka memasangkan sabuk pengaman untuk Santi. Setelah itu mereka pun melaju keluar dari basement.


__ADS_2