
...FLASHBACK OF IREN PART III...
...****************...
POV IREN
Sesampainya kami di depan hotel, Iren mengajak Santi untuk mencari makan .
Namun sebelum mencari makan Iren berkata kepada Santi, bahwa Iren ingin ke mini market terdekat untuk membeli beberapa keperluan.
“ cari makan dulu ya. Tapi aku ke Indom*rt bentar ya. Mau nitip?” Tawar Iren kepada Santi. Yang Sebenarnya Iren hanya berbasa-basi.
“ air mineral aja Ren, Ini duitnya” Jawab Santi. Dan ternyata tanpa Iren repot-repot menyiapkan air, Santi yang memintanya sendiri untuk Iren membelikan air kemasan untuk dirinya.
“ Pake duitku aja, Mau ikut apa tunggu disini?” Tanya Iren agar Santi tak curiga.
“ aku tunggu disini aja Ren, Soalnya kepalaku agak sedikit pusing” Ucap Santi. Terlihat Santi seperti menahan gelisah sejak kami menaiki kereta, jadi hal tersebut yang membuatnya mengalami pusing yang berkepanjangan.
“ Ya udah, kamu tunggu bentar ya” Ucap Iren dengan senyum palsunya
Iren pun berjalan dengan menyeringai, ketika berjalan Iren tampak bersemangat untuk pergi ke mini market untuk membeli air minum kemasan .
Setelah air kemasannya telah terbeli, Iren mengeluarkan obat yang sudah Dia beli pada saat Iren masih berada Jogja.
Iren mengambil suntikan takaran 1cc dengan jarum yang sangat kecil.
Kemudian Iren menaruh obat tersebut ke dalam suntikan yang telah Iren siapkan.
lalu obat tersebut Iren menyuntikannya ke dalam botol air kemasan, Dan ternyata bekas jarum pun tak terlihat di botol yang telah Iren suntik.
Setelah obat dalam suntikan telah Iren suntik sampai habis, Iren membuang suntikan tersebut ke tong sampah .
Iren melalui mengocok air tersebut agar obatnya tercampur .
Iren pun menyeringai lalu berjalan ke arah Santi.
“Ayo San ,kita cari makan dulu terus istirahat ke Hotel . Ini airnya” Ucap Iren seraya memberikan air yang telah Iren campur dengan obat kepada Santi.
Saat Santi menerima air pemberian Iren, Santi langsung meneguknya.
“ Hihihi..cakep!!!. kamu haus bangat ya?. Ya udah habisin saja airnya biar tepar atau ko'it sekalian ” Batin Iren gembira ,ketika ia melihat Santi meneguk minuman yang Iren berikan.
Iren lalu mengajak Santi untuk makan di sebuah lesehan. Dan setelah makanan tersaji, kami pun makan.
Iren sesekali melirik ke arah Santi Karna tak sabar ingin melihat reaksi dari obat yang telah Iren berikan kepada Santi.
Beberapa saat kemudian, nafas Santi terdengar memburu . Iren yang melihat tingkah Santi pun tersenyum smirk, “ akhirnya obatku bekerja juga” Batin Iren seraya melirik ke arah Santi ketika kami sedang makan.
__ADS_1
“Ren, kok aku ngerasa ga enak badan ya?” Ucap Santi tiba-tiba di tengah kami sedang makan.
Iren yang pura-pura syok , langsung memberikan pertanyaan “ Kamu sakit San ?. Ya udah ayo kita ke hotel” Ucap Iren, Dan saat itu , Santi hanya mengangguk mengiyakan perkataan Iren.
Setelah membayar makanan yang kami makan, Iren mengajak Santi ke Hotel sambil Iren memapahnya.
Karna Iren ingin tahu, apakah obatnya sudah bekerja dengan maksimal atau belum , lalu Iren berpura-pura menanyakan hal apa yang Santi rasakan pada saat itu, Ia lalu menjawab “ bahwa tubuhnya terasa panas dan nafasnya terasa sesak. Dia juga bingung dengan rasa yang Ia rasakan pada saat itu” Ketika mendengar jawaban Santi seperti itu, Iren pun tersenyum jahat. Karna obat yang Iren berikan sudah bekerja dengan sempurna.
Sesampainya di hotel, Iren menyuruh Santi untuk menunggunya di lobbi.
Ternyata tak jauh dari kursi yang Santi duduki, ada Om Satrio yang memantau kami.
Saat Iren yang melihat Om Satrio, Iren pun memberikan senyum licik ke arah Om Satrio.
Setelah mendapatkan nomor kamar, Iren langsung mengantarkan Santi ke kamar dan menyuruhnya untuk istirahat.
“ San, kamu istirahat ya. Aku mau ke lobbi sebentar” Ucap Iren seraya membaringkan Santi di atas tempat tidur. setelah itu, Iren pun beranjak keluar dari kamar menuju ke lobbi .
Se sampainya di lobbi, Iren langsung menghampiri om Satrio .
“ hallo om sayang, udah lama ya nungguinnya?” Sapa Iren kepada om Satrio ,saat mereka bertemu. Tak lupa Iren mencium pipi Om Satrio.
“ Belum lama juga, itu barangnya?. Kenapa rata begitu yang kamu bawa?” Ucap Om Satrio.
“ Ya om, seperti tidak tahu barang saja om. Wajar lah kalo rata, orang masih segel. belum di pegang-pegang " Ucap Iren kepada Om Satrio .
“ Ok Om, nomor kamarnya 103 yah Om!! " ucap Iren seraya tersenyum genit ke arah Om Satrio.
Iren pun membiarkan Om Satrio berlalu.
Setelah Om Satrio menghilang dari pandangan, Iren kemudian beranjak meninggalkan Hotel tersebut.
Iren pun berjalan ke jalan raya lalu menahan taksi.
Setelah di dalam taksi Iren meminta sopir taksi mengantarnya ke Mall di daerah Bandung.
“ Ah, sambil menunggu om Satrio yang lagi bersenang-senang. Lebih baik aku Shopping sekaligus jalan-jalan menikmati kota Bandung” Guman Iren dengan senyuman srimk yang selalu terukir dari bibirnya.
Setelah Iren puas dengan aktivitasnya hari itu, Iren langsung menuju ke Kaffe yang di maksud oleh Om Satrio.
Setelah beberapa lama Iren menunggu ,bakhirnya Om Satrio pun menunjukkan batang hidungnya.
“ Om, sini!!” Teriak Iren seraya tangannya memanggil.
Om Satrio langsung berjalan menghampiri Iren dengan raut wajah yang sumeringah .
“ Hebat kamu,, bisa dapat yang tersegel” Ucap om Satrio puas.
__ADS_1
“ Iya dong, siapa dulu?. Jangan lupa 50 jutanya ya om.” Ucap Iren seraya mengingatkan sisa uang yang belum di bayar oleh Om Satrio.
“ Ah, Gampang!!. Tapi barang yang kamu berikan sungguh menguras tenaga” Ucap Om satrio seraya menggeleng-gelangkan kepalanya.
“ ya!!. Namanya juga segelan Om, ya bedalah dengan yang sudah di servis” Ucap Iren
“ Ya sudah!!. Sebagai bonus entar Om temani kamu belanja” ucap Om Satrio
“ serius Om?. Wah.. asyik!!” sahut Iren seraya memeluk tubuh Om Satrio.
Iren pun menikmati hari-harinya dengan hura-hura.
Masalah Santi tidak Iren pikirkan lagi, entah Santi sudah mati atau bagaimana. Itu sudah bukan lagi menjadi urusan Iren lagi.
Yang terpenting!!. Berkat dirinya , Iren bisa membeli sebuah rumah dari hasil menjebak Santi m
Dan tak lupa, kartu SIM card yang Iren pakai langsung di buang . Pada saat Iren meninggalkan hotel pada waktu itu .
Dari kabar Santi yang terakhir Iren dengar, bahwa orang tua Santi kini telah jatuh miskin karena harus membiayai pengobatan Santi yang gila akibat di tinggalkan oleh Adit dan sudah beberapa kali Santi ingin bunuh diri .
“ hahaha, Akhirnya keberuntunganmu Cuma sampai disini Santi. Makanya jadi wanita jangan sok” Guman Iren saat mendengar kabar Santi yang kini sedang terpuruk .
...FLASHBACK END...
...****************...
Di Hutan Perbatasan,.
“ kenapa aku harus berhadapan lagi dengan wanita yang bernama Santi?. Setelah 2 tahun aku hidup dengan damai. aku pikir wanita itu telah ko'it Karna depresi " Ucap Iren seraya berjalan menelusuri jalanan di dalam hutan yang lebat dengan kaki yang gemetar .
“ arrrrgggghhhh .... Santi lagi, Santi lagi yang jadi permasalahan bagi diriku . Siaall!!. Sebenarnya wanita dekil itu memiliki jimat seperti apa?. Sehingga ia begitu beruntung” gerutu Iren dengan kesal.
Iren terduduk di tanah. Dengan sekujur tubuhnya yang gemetaran Karna tenaganya sudah terkuras .
Ia berjalan begitu jauh namun ,Iren tak menemukan ujung jalan yang ia cari.
“ Aku lapar, haus dan sangat lelah. Jika aku mati di sini aku berharap aku bisa menjadi hantu yang akan datang membalaskan sakit hati ini. Dan jika aku di beri kesempatan hidup, akan ku balas orang-orang yang telah membuatku seperti ini” murka Iren dengan menggenggam tanah di tangannya dengan kuat Karna amarah Yang saat ini Iren rasakan.
Iren mencoba berdiri lalu melanjutkan perjalanannya kembali ,berharap ia akan menemukan sebuah perkampungan atau paling tidak sebuah gubuk untuk ia dapat beristirahat.
Namun semakin jauh Iren berjalan, kakinya semakin gemeteran dan Iren pun ambruk di tengah hutan yang lebat.
Setelah beberapa menit Iren tergeletak, tiba-tiba ada seorang nenek tua yang melihat Iren dengan menyeringai.
“ Akan aku jadikan kamu anak angkat untuk mewarisi semua ilmuku” Ucap nenek tua tersebut saat melihat Iren yang sudah tidak sadarkan diri yang sedang tergeletak di tanah .
Nenek tua tersebut kemudian mengangkat tubuh Iren lalu membawa Iren bersamanya.
__ADS_1