
My Man Is A Bunian 71
...Surat Untuk Santi...
Setelah Santi bertemu sapa dengan Adit saat keluar dari kamar mandi, Santi kemudian baranjak untuk masuk ke dalam kamar yang di tunjukan oleh Adit.
Di dalam kamar,.
Santi menuju ke arah cermin di lemari yang berada di dalam kamar tersebut, kemudian Santi memperhatikan lekukuk tubuhnya di depan cermin.
Santi tersenyum ketika melihat perutnya yang membuncit.
"Semoga kau bisa lahir di dunia dengan bahagia ya!!" Guman Santi dengan telapak tangan yang mengelus perutnya.
Santi kemudian memakai kaos yang Adit berikan, Kemudian menuju ke arah kasur.
Santi meraih kotak yang ia balut dengan bajunya pada saat ia mandi.
Santi kemudian mengambil sebuah kotak berukuran seperti tempat tisu, pemberian dari Raka.
Klek ( bunyi kotak terbuka)
Mata Santi terbelalak melihat isi yang ada di dalam kotak.
Dengan cepat, Santi mengambil sebuah kertas yang berada pada kotak tersebut.
To my dear,.
"Hei, sebelum kamu membaca, kamu harus janji kepadaku terlebih dulu. Bahwa kau tidak akan menangis saat kau membaca tulisanku.
Ok baiklah, jika kau telah menerima surat ini. Maka itu artinya, aku sudah sangat jauh dengan dirimu dan mungkin, saat ini ,aku sedang tidak berada di sisimu.
Kau tahu, kotak yang ku beri, selalu ku bawa kemana-mana jika aku sedang beraktivitas. Karna aku takut jika sesuatu terjadi kepadaku dan aku belum sempat memberikan apa-apa padamu.
Semuanya, telah aku siapkan dan pikirkan. Jika perjuanganku berhasil mendapatkanmu dan menjadikan kau istriku. maka , rumah kastil yang berada di bukit , akan menjadi istana bagi kita berdua. Dan seandainya aku gagal, aku akan memberikan kotak ini kepada dirimu.
Santi sayang, kotak ini untuk kau memenuhi semua kebutuhanmu. Kau tidak perlu khawatir ,jika koin emas di dalam kotak ini, akan berubah menjadi daun ketika kau pergunakan. Karna koin emas yang aku beri adalah asli dan murni loh!!.
Santi, jika aku tidak dapat memberikan kebahagian untukmu. Kau boleh menggunakan koin emas tersebut untuk menciptakan kebahagian dirimu sendiri.
Dan untuk ponsel tersebut, adalah ponsel yang telah menyatukan kita. Aku berikan kepadamu ,agar kau selalu mengingatku. Oh ya, jangan lupa di chas jika kau rindu dan ingin melihat fotoku.
Sepertinya aku terlalu banyak bicara, ok Santi, sepertinya hanya itu yang dapat aku ucapkan.
*Aku akan selalu mencintaimu, walau kadang raga tak dapat bersua namun kau yang menjadi satu-satunya yang terindah di hidupku.
Jangan menyalahkan takdir, Karna sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi membuat kita belajar lebih kuat dari sebelumnya*.
kau harus kuat, Karna Mungkin suatu saat aku di kurung atau bisa jadi aku di bunuh. aku pun tidak tahu. maka Kotak ini, hanya untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada diriku sehingga aku tidak dapat lagi menemani hari-harimu.
Baik-baik di sana, dan tetaplah tersenyum menjalani harimu.
Dari lelaki yang selalu mencintaimu "
Santi membaca surat yang di berikan oleh Raka dengan air mata yang tak bisa di bendung. Dengan kuat ,Santi mendekap surat tersebut ke dadanya dengan sesegukan.
__ADS_1
" Pria siluman, kau yang memintaku bahwa apa pun yang terjadi aku tidak boleh meninggalkanmu. Tapi lihat, kau bahkan mengusirku di dalam kehidupanmu, untuk apa aku kembali ke alamku jika aku sudah tidak punya tempat untuk bernaung Raka?" Guman Santi dengan tangis yang menyayat.
" Kenapa kau tidak menjadikanku bagian dari dirimu?. Jika aku kembali pun semua orang tidak dapat menerima keadaanku yang sekarang ?. Aku pikir aku akan bahagia bertemu denganmu, namun lihat !!. Aku bahkan mengandung anakmu tanpa kau yang menemaniku dan selalu berada di sisiku" teriak Santi furtasi
Santi tertunduk, tidak tahu ia akan bagimana ke depannya. Yang ia tahu saat ini, hanya ada rasa perih yang terasa di hatinya dengan pikiran kuldesak (jalan buntu) yang merasuki otaknya.
Lama Santi terdiam dengan Isak yang tak kunjung berhenti. Ia teringat dengan dengan bungkusan yang di berikan oleh Andre.
Santi kemudian meraih bungkusan tersebut.
Sreet ( buka bungkusan di buka)
Santi mengerutkan dahinya, " surat lagi?" Guman Santi , yang mendapati sebuah kertas di dalam bungkusan tersebut.
Santi kemudian membuka lipatan kertas tersebut, lalu membacanya;
"Hei wanita bodoh, apa kau sedang membaca tulisanku?. Jika ia, kau harus dengarkan baik-baik dan harus pikirkan baik-baik.
Di dalam bungkusan terdapat botol ampul yang berisikan Sempel darah Raka, kau boleh meminumnya jika sudah memutuskan untuk menjadi bagian dari kami. Namun resikonya kau tidak akan pernah ingat dengan apa pun yang menyangkut duniamu.
Jadi sebelum kau meminumnya, sebaiknya kau harus pikirkan dulu sebelum bertindak jangan lakukan hal bodoh yang seperti kau lakukan."
Sepertinya hanya itu yang dapat ku katakan.
Semoga harimu menyenangkan wanita bodoh."
Santi tersenyum kecut membaca surat dari Andre. Santi meraih botol ampul yang ada di dalam bungkusan tersebut.
Santi melihat botol tersebut dengan pikiran menimbang, apakah dia akan meminumnya atau ia tetap menjadi Santi yang sekarang dan memeluai yang hidup baru bersama buah hatinya?.
Santi kemudian membereskan barang-barang yang sempat membuat tempat tidurnya berantakan.
setelah merapikan semuanya, Santi kemudian merebahkan tubuhnya dengan pandang kosong menatap langit-langit kamar yang berada di kamar tersebut.
...*****...
Pagi menyapa,.
Di balik pintu,.
Tok...tok ..tok ..( bunyi ketukan pintu)
" Santi, apakah kau sudah bangun?. Jika sudah, ayo sarapan. Aku tadi membeli beberapa makanan dan pakaian untukmu" teriak Adit di balik pintu kamar
Adit menunggu jawaban dari Santi.
" Santi!!. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Adit di balik pintu kamar.
"Aneh, apakah Santi sangat lelap?" Pikir Adit di depan pintu kamar.
"Santi, aku akan membuka pintu" ucap Adit
Tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar Santi,.
Adit terlihat panik, dengan cepat meraih knop pintu yang ada di hadapannya, namun pintunya terkunci.
__ADS_1
" Sial!!, Santi!!!. Hei, apa kau tidak apa-apa di dal sana?. Tolong jawab!!" Teriak Adit seraya menggoyang knop pintu dan sesekali ia mengetuk pintu kamar dengan kuat.
Adit beranjak dari depan kamar Santi, kemudian berlari ke luar rumah. Adit kini berada di depan jendela kamar Santi. Adit kemudian mengintip dari sela jendela, untuk memastikan keadaan Santi di dalam kamar.
Adit dapat melihat Santi dengan samar-samar di balik sela jendala, terlihat Santi sedang meringkuk dengan tubuh yang menggigil.
Adit Kembali ke dalam rumah, kemudian menuju ke arah kamar Santi. Setelah berada di depan pintu kamar, dengan kuat Adit mendobrak pintu yang berada di hadapannya.
Bruk..bruk..bruk..( bunyi dobrakan)
Berapa kali memberikan dobrakan, akhirnya pintu tersebut terbuka. Dengan cepat ,Adit berlari ke arah Santi.
" Santi, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Adit dengan satu tangannya meraba dahi Santi
"Ya ampun, kau demam. Ayo kita ke rumah sakit sekarang" kaget Adit, dengan spontan mengangkat tubuh Santi.
Adit kemudian membawanya menuju ke mobilnya. Lalu memasukan Santi ke dalam mobil.
Dengan cepat, Adit masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya menuju ke rumah sakit.
(Santi demam akibat pukulan yang ia terima. Dia terlihat sangat kesakitan, ya tuhan!!. Lindungi Santi dan anaknya, semoga mereka baik-baik saja) batin Adit ketika sedang menyetir.
Tak lama, Adit tiba di rumah sakit. Dengan cepat Adit berlari membawa Santi ke dalam rumah sakit.
" Pak, apa yang terjadi?. Mari saya yang akan membawa ibu ini " ucap seorang perawat menghampiri Adit
"Tolong Sus, tolong beri dia pertolongan" ucap Adit panik
" Baik pak, saya akan membawa ibu ini ke ruang UGD. Bapak silahkan urus administrasinya" ucap perawat
" Ah .. baik" ucap Adit seraya beranjak menuju ke bagian administrasi.
sesampainya di bagian administrasi, Adit kemudian mengurusi semua yang di minta oleh petugas.
"Adit?" Seseorang menepuk pundak Adit dari belakang, seraya memanggil nama Adit
Adit menoleh dengan cepat ," Eh,, Mona, kau sudah pindah kesini?" Tanya Adit
" Tidak, aku ke sini Karna ada pasien rujukan. Makanya aku yang mengantar, eh...Ngomong-ngomong siapa yang sakit dit?" Tanya Mona
" Santi yang sakit Mon" jawab Adit
" Ah... Aku sudah tidak pernah melihat dia loh, tau-tau kok masuk rumah sakit?" Ucap Mona heran
" Ya, dia hanya demam" ucap Adit
" Ih... Kalian nikah kapan? .Kok ga undang-undang" ucap Mona
Adit menggaruk kepalanya dengan tiba-tiba," eh..bukan Mon, aku hanya mengantarnya" jawab Adit kikuk
" Oh... Kirain kalian udah nikah. ya sudah ,nanti aku akan menjenguknya. Jika urusanku sudah selesai" ucap Mona
" Ya..aku permisi dulu Mona, aku harus melihat keadaan Santi dulu" ucap Adit
" ok..salam kepada Santi ya Dit" ucap Mona
__ADS_1
" Baik, aku pergi dulu" ucap Adit seraya berlalu