
My Man Is A Bunian 73
...Awal yang baru...
Kini Santi dan Adit, sudah berada di bandara untuk menuju ke Yogyakarta.
Mereka sedang menunggu boing penerbangan yang akan menerbangkan mereka ke Yogyakarta.
Di Ruang Tunggu Bandara,.
" Apa rencanamu jika sampai di Jogja?" Tanya Adit membuka pembicaraan.
" membeli rumah dan mulai membuka usaha" jawab Santi
"Hmmm.. apa kau tidak ingin bekerja?" Tanya Adit kembali.
Santi menoleh kepada Adit yang sedang berada di sampingnya," kerja?. Sepertinya tidak, aku tidak suka bekerja di bawah tekanan. Apalagi terikat oleh waktu" jawab Santi
Adit melipat tangannya di dada," oh.. jadi kamu mau menjadi pengusaha?" Adit kembali bertanya Karna merasa penasaran dengan Rancana Santi ke depannya.
" Oh.. tentu, aku ingin bekerja sesuai keinginanku dan bangun semauku. Tanpa harus di tekan oleh waktu, itu menyebalkan" Jawab Santi
" Ok .. jika itu maumu, Sesampainya di Jogja. Aku akan mencarikan pembantu untukmu. Tidak mungkinkan aku tinggal serumah denganmu" ucap Adit
" Aku juga berpikir demikian, apalagi usia kandunganku sudah memasuki 8 bulan. Jika ada yang menemaniku, itu akan aman jika terjadi sesuatu padaku" jawab Santi
( Mohon perhatian!!. Penumpang dengan nomor penerbangan JS0007 Tujuan, Yogyakarta Segera naik ke pesawat) panggilan yang terdengar dari sound system bandara.
" Ayo, sini ku bantu" Adit yang beranjak dari duduknya, seraya memegang tangan Santi untuk berdiri.
" Terima kasih" Santi memegang tangan Adit yang ingin membantunya
Adit dan Santi kini berjalan ke arah pesawat. Sesampainya di dalam pesawat, Santi memilih duduk di dekat jendela.
Tak lama, pragawati mulai memberikan arahan. Dan terdengar, bahwa pesawat akan terbang.
Santi menatap jendela dengan hati yang perih, mengingat apa yang telah terjadi di dalam dirinya.
(Kuat, kau harus kuat. Ingat Santi kau sedang melindungi satu nyawa. Yakinlah ada kebahagian di depan sana yang sedang menantimu) batin Santi menguatkan dirinya
Santi tiba-tiba meremas dadanya yang terasa perih. Semakin jauh pewasat membawanya, semakin jauh pula ia pergi dari orang-orang yang Santi sayangi.
" Santi, kau tidak apa-apa?" Tanya Adit yang melihat punggung Santi yang naik turun Karna menahan tangisnya.
Santi menggelengkan kepala, tanpa mau menoleh ke arah Adit.
" Cup...cup.. sudah!!. Aku akan selalu ada untukmu. Walau ini sudah terlambat, akan aku pastikan , aku akan ada di setiap kau sedang menangis" ucap Adit dengan telapak tangannya mengusap punggung Santi.
Santi tak menjawab, kini Santi pikirannya sedang larut dengan kenangan dari ,orang tuanya, saudara bahkan Raka yang entah keadaannya sekarang bagaimana.
(Mama, papa, beberapa tahun yang lalu. Kalian mengantarku di bandara, seraya berkata, hati-hati dengan melabaikan tangan kepadaku. Namun kini, aku pergi tanpa lambaian tangan dari kalian) bantin Santi perih, ketika mengingat kenangan. Saat ia pergi meninggalkan kampung tercintanya untuk kuliah.
Namun saat ini, Santi pergi dan tidak akan pernah tahu Kapan ia akan kembali lagi ke kampung halamannya.
Tak lama, pesawat mendarat di bandara Adisucipto Yogyakarta.
Yogyakarta,.
Santi menunggu Adit yang sedang menunggu bagasi. Tak lama, Adit menghampiri Santi.
__ADS_1
" Ingat waktu kita awal kuliah ya," ucap Adit seraya mendorong koper yang ia bawa
Santi tersenyum, " ya...waktu itu, kita adalah pasangan yang paling serasi " sindir Santi
Adit terdiam, " maafkan aku, sebagai penembus keselahanku. Aku akan menjagamu untuk saat ini dan kedepannya, mesti kita hanya sebatas teman" ucap Adit
Santi mengusap punggung Adit, "jangan terlalu dekat denganku. Nanti kau tidak akan pernah menikah" ucap Santi
" Ya, nanti aku akan mencari pengganti dirimu" ucap Adit.
Kini mereka sudah berada di tempat pemesanan taksi.
" Mau kemana?." Tanya Adit kepada Santi
" Aku ke hotel xxx yang dekat dengan Maguwoharjo. Soalnya aku rencana ingin membeli perumuhan di Casa Grande" jawab Santi
" Ok baiklah, besok aku akan menemanimu mencari rumah" ucap Adit
Adit kemudian memesan taksi tujuan Maguwoharjo.
Tak lama, taksi pun datang. Adit dan Santi menaiki taksi tersebut, kemudian taksi membawa mereka ke tempat tujuan.
Sesampainya di hotel, mereka makan malam. Setelah makan, mereka berdua pergi ke kamar masing-masing.
setibanya di kamar, Santi menuju ke arah jendela. Santi kemudian mengibaskan tirai yang berada di dalam kamar hotel. seketika ia teringat ketika ia membuka tirai rumah sakit saat Raka membawanya.
Spontan ,Santi mengalihkan pandangannya ke arah sofa. Berharap ada Raka yang sedang tertidur di atas sofa.
namun, hanya sofa yang terlihat kosong yang Santi dapati.
" apakah aku sanggup menjalani hidup tanpamu Raka?. aku sudah pernah kehilangan cintaku sekali. namun kali ini, aku merasakan kehilangan terpahit yang pernah aku alami" guman Santi seraya matanya menatap lurus ke arah jendela.
Santi meraih earphone bluetoothnya, kemudian ia selipkan ke dalam telinganya.
Santi meraih gawainya, kemudian menuju ke aplikasi musik. ia kemudian menekan tombol play, dan lagi dari Shella on 7 dengan judul buatku tersenyum melantun di gendang telinga Santi.
seketika, semua kenangan tentang Raka. mengalir indah di benak Santi, sehingga membuat Santi menangis dengan sesegukan di dalam bathup.
" aku membutuhkanmu Raka" guman Santi dengan tangis, saraya ia memukul-mukul dadanya yang terasa seperti ada ribuan jarum yang menancap di dalam dadanya.
setelah lelah meratapi nasipnya, Santi beranjak dari bathup.
ia kemudian menuju ke arah koper, lalu mengambil sebuah daster.
setelah memakai daster tersebut, Santi mencoba untuk tidur dengan bayangan Raka yang melekat.
...********...
Pagi menyapa,.
Santi meraih ponselnya,
( Dit, aku di lobby)
Santi mengirim pesan melalui aplikasi hijau kepada Adit.
Tring!! ( Bunyi pesan)
( Ok, aku OTW )
__ADS_1
Balas Adit.
Tak lama, Adit menghampiri Santi. Dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Santi.
"Selesai sarapan kita langsung ke perumahan ya" ucap Santi
" Baik!!" Jawab Adit singkat
Kini Adit dan Santi sudah selesai sarapan. Adit memesan taksi untuk mengantarkan mereka ke perumahan Casa Grande yang berada di daerah Sleman .
Setibanya di sana, dan melihat desain rumah dan harga. Akhirnya Santi pun membeli satu rumah elit di kawasan tersebut.
...*********...
1 Bulan kemudian Di Yogyakarta,.
Santi dengan santai berjalan-jalan di sebuah Mall di kawasan Malioboro. kini Santi di temani oleh asistennya.
Kring...kring.. (ponsel Santi berdering)
Dengan cepat Santi menggeser tombol hijau.
" halo, ada apa dit?" Tanya Santi ketika mengangkat panggilan telfon.
( Kamu dimana?) Tanya Adit di seberang telfon
" Lagi nyari perlengkapan bayi" jawab Santi
( Apa masih kurang?. Ingat loh, kata dokter minggu-minggu ini kamu akan brojol. Sama siapa di sana?) tanya Adit di seberang telfon
" Sama bi Sum, iya ini juga aku bakal pulang. Kamu ya, bukan suami tapi bisanya marah-marah" jawab Santi
( Ya, aku sadar aku bukan suamimu, tapi aku yang bertanggung jawab atas kebaikanmu. Cepat pulang) titah Adit seraya memutuskan sambungan telfonnya.
Santi menoleh ke arah Asistennya, " ayo bi, kita pulang" ajak Santi
" Ayo Bu, ibu hati-hati jalannya. Kan udah hamil gede" Bi Sum yang khawatir dengan kondisi majikannya.
" Iya bi, makasih ya!!. Sudah mau ngurusin saya" ucap Santi
Bi Sum tersenyum, " sama-sama Bu " jawab bi sum
Bi Sumiyati adalah ART yang di percayakan oleh Adit untuk mengurusi Santi, saat Santi dengan hamil. apalagi, di usia kandungan Santi yang sudah memasuki masa untuk melahirkan.
maka Adit mencari pendamping untuk Santi, ketika Adit tidak bersama Santi. Karna Adit tidak tinggal 1 rumah dengan Santi, Adit membeli perubahan minimalis di kawasan plaza ambrukmo.
sedangkan Santi, di kawasan Maguwoharjo. jarak perumahan Adit dan Santi tidak terlalu jauh, tapi Adit harus kerja dan tidak setiap hari Adit dapat mengunjungi Santi. sebagai gantinya, Bu Sum yang mengaja Santi.
Santi berjalan keluar mall, dan menunggu taksi. Tak lama taksi pun berhenti di depan Santi dan bi Sum.
" Ke maguwoharjo Casa Grande ya pak " ucap Santi
" Iya Bu " jawab pak supir.
Salam perjalanan, mata Santi hanya tertuju ke arah jendela taksi yang melaju, ( Raka, coba kalau kau ada di sini?. Betapa bahagianya diriku, seharusnya bukan Adit yang berada di posisi ini. Kau kenapa?. Kenapa sampai saat ini tidak ada kabar?. Bukankah kau bisa menyelinap di mimpiku kapan saja?. Kau kenapa Raka? ) Batin satin, tak terasa air matanya metes mengingat ayah dari anaknya, yang entah saat ini baik-baik saja atau malah sebaliknya.
" Bu, kita sudah sampai" ucap bi Sum yang mengangetkan lamunan Santi
" Oh... Iya, ini pak" ucap Santi seraya membayar taksi. setelah itu Santi pun turun dari taksi yang di bantu oleh Bi Sum .
__ADS_1
Saat Santi hendak berjalan menuju ke arah rumah, " aawww...adu.. du..dudu. Bi, perut saya!! " pekik Santi seketika tangannya langsung menopang pada tembok pagar yang berada di depan rumahnya. seraya satu tangannya lagi memegang perutnya yang terasa sakit.