
...Ke apartemen Raka...
...****************...
Setelah meninggalkan basement, mereka menuju ke arah terowongan. Dan untuk ke sekian kalinya Santi di buat takjub dengan apa yang ia lihat .
Mata Santi berbinar bahagia, saat melihat langit-langit terowongan yang menyatu dengan tembok membentuk jalan setengah lingkaran yang terbuat dari kaca. Dengan matanya yang liar mengikuti setiap tarian ikan-ikan yang sedang berenang. Mulut Santi selalu terukir senyuman, di setiap kali ia melihat apa yang di sajikan di bawah laut yang ada di hadapannya.
Raka yang melihat Santi seperti itu merasa bahagia. tanpa sadar, ada senyum manis yang terukir di bibir Raka . Raka bergegas menurunkan kaca mobilnya.
“Raka, sebenarnya kita ada di mana? Aku tidak pernah melihat hal yang menakjubkan seperti ini," Ucap Santi membuka pembicaraan.
“Kamu masih berada di kawasan Hospital Blue Sea," sahut raka yang tetap fokus untuk menyetir
“Bukan, maksudku nama wilayah,Kota ,Kabupaten atau Provinsi gitu?" Tanya Santi menoleh ke arah Raka .
“Mmm.. yang jelas, nama tempat ini tidak ada dalam peta atau pun bola dunia di tempatmu berasal. Nanti, Suatu saat kamu juga pasti akan mengetahui tempat ini." Jelas Raka .
Santi mengangguk, ia tak ingin bertanya lebih banyak. Karna tak ingin menimbulkan perdebatan antara dirinya dan Raka.
Santi kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela, kini Santi terlihat fokus dengan terowongan aquarium yang saat ini dirinya lewati.
Setelah melewati terowongan tersebut, mereka menaiki tanjakan yang lumayan tinggi dan berkelok. Akhirnya mereka sampai di jalan raya, setelah beberapa meter melaju.
Mereka melewati portal rumah sakit dan berlalu meninggalkan rumah sakit tersebut. Setelah berada di jalan raya, Santi hanya di buat bengong dengan apa yang ia lihat. Di sepanjang jalan, terlihat sangat bersih dengan tanaman hias yang tertata dengan rapih.
Sepanjang perjalanan, Santi tidak melihat sepeda motor yang berlalu lalang maupun pedagang asongan dan kaki lima yang sering nongkrong di bahu jalan. Kota ini tampak bersih, rapih dan juga indah.
Santi memandangi bangunan yang berjejer di sepanjang jalan. Rata-rata bangunan yang Santi lihat, bercat putih dengan kombinasi warna emas .Gaya bangunan yang berjejer terlihat seperti di Dubai untuk gedung pencakar langit, dan selebihnya lebih mendominasi bangun gaya Eropa .
“Kamu mau makan dulu?" Tanya Raka tiba-tiba.
“E maaf kenapa?” Santi yang tidak menangkap ucapan Raka ,Karna ia terlalu sibuk mengamati apa saja yang ia lihat.
“Kamu mau makan dulu tidak?” tanya Raka mengulang .
"Ah! Tidak—tidak perlu, aku masih sangat kenyang , Aku ingin segera pulang. Karna ortuku pasti sedang mencariku." Ucap Santi dengan nada cemas .
“Ke apartment ku dulu ya? kamu tuh, harus mandi. Sejak ku ajak kesini, kamu tuh belum pernah mandi, " Ajak Raka.
“Tidak usah, aku tidak ada salinan baju. Dan lagian, tidak baik jika wanita dan laki-laki berada dalam satu ruangan." Tolak Santi .
“Mm... Kita tidak 1 ruangan kok, aku akan meninggalkanmu di apartemen. Aku akan keluar membeli sedikit oleh-oleh untuk orang tuamu," Ucap Raka menjelaskan .
Santi terdiam sejenak , karena ia ragu 'Jika aku menolak pasti aku tidak akan pernah pulang, Karna tempat ini sungguh asing bagiku dan aku juga tidak membawa uang sepersen pun.' batin Santi
“Bagaimana? Mau tidak?" Tanya raka memastikan, namun Raka dapat melihat dari raut wajah Santi yang sedang terlihat bimbang.
“Mmmm.. jika Hal tersebut tidak merepotkanmu,” Ucap Santi.
“Tidak—tidak merepotkanku, sungguh! Aku malah senang .Ok, aku antar kamu dulu ke apartemenku. Sebenarnya aku mau mengajakmu, namun melihat kondisimu yang baru baikkan aku urungkan niatku." Jawab Raka menjelaskan.
“Ya sudah, antarkan aku ke apartemenmu saja. Dan tidak perlu membawaku kemana-mana ,lagian aku terlihat kucel. Tempat seperti ini, Pasti penduduknya sudah pasti berpenampilan modis, " Ucap Santi lalu tertunduk.
“Kamu cantik kok! Cuma kurang feminim saja dan kurang polesan.” Ucap Raka tersenyum lalu mengusap pelan kepala Santi dengan lembut.
Santi hanya terdiam menunduk, ia biarkan raka mengelus kepalanya tanpa berucap.
Setelah beberapa menit,mereka tiba di sebuah bangunan bertingkat yang terlihat mewah. Seperti biasa, Santi hanya melihat dengan tatapan kagum.
__ADS_1
Setelah sampai di lobi apartemen, Raka meminta petugas untuk memarkirkan mobilnya. Setelah itu, Raka mengajak Santi masuk ke dalam dengan menggenggam tangan Santi.
“Ka, kita naik lif?” Tanya Santi yang tiba-tiba menarik tangan Raka.
“Iya, apa kamu mau naik tangga? Kamarku di lantai 30 loh! Apa kamu sanggup?” jawab Raka.
“Kalau begitu, kamu langsung antar aku pulang saja," Jawab Santi. Karna Saat Santi membayangkan ia menaiki lift, hal tersebut sudah membuat perutnya terasa bergelombang .
Dengan cepat, tanpa perintah. Raka langsung menggendong tubuh Santi, kemudian berjalan ke arah lift .
“Rakaaa! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu gila! Cepat Turunkan aku!" Teriak Santi sambil memukul lembut dada Raka.
“Nanti kalau sudah terbiasa, kamu tidak akan merasa mual lagi kok," Ucap Raka sembari tangannya memencet tombol. Dan lift pun tertutup, tak lama lift pun bergerak.
Santi yang berada di dalam gendongan Raka, terpaksa memejamkan matanya. kemudian kepalanya di benamkan ke dada Raka yang bidang.
'kenapa kamu bersikap seperti ini? Jika aku jatuh cinta denganmu bagaimana?' Batin Santi yang terus memejamkan matanya, seraya menghirup dalam-dalam aroma di tubuh Raka.
Ting!!!
Pintu lift terbuka, Raka kemudian berjalan keluar dari lift, dengan Santi yang masih ada di dalam gendongannya.
“Kita sudah sampai?" Tanya Santi yang kemudian membuka matanya.
“Tetaplah diam, jika tidak ingin ku lempar kau ke lantai dasar.” gertak Raka seraya terus berjalan .
“Turunkan aku Raka! Aku bisa berjalan tanpa harus kamu terus menggendongku,” pinta Santi dengan pandangan yang menatap wajah Raka.
'ternyata pria yang menggendongku se tampan ini,' batin Santi ketika menatap wajah Raka.
Raka tak menghiraukan ucapan Santi , ia terus berjalan. Hingga Raka tiba di sebuah pintu, ia kemudian menurunkan Santi. Raka mengambil sebuah kartu yang ada di sakunya , kemudian menempelkan kartu tersebut ke dinding.
Kreeekkk....
“Ayo masuk!" Ajak Raka.
“Tunggu, sepertinya aku merasa goyang, " Ucap Santi , dengan satu tangannya memegang pelipisnya dan satu tangannya lagi menopang ke dinding di samping pintu.
“Nah, Sepertinya kamu harus terus di gendong," Ucap Raka yang langsung mengendong Santi kemudian membawanya masuk ke dalam apartemennya.
Raka menutup pintu apartemennya dengan mendorongnya dengan kaki.
“Ka.. turunkan aku!!” pinta santi.
Raka terus berjalan ke arah salah satu sofa yang ada di ruangan, Raka kemudian menurunkan santi di atas sebuah sofa.
“Tunggu di sini, akan ku ambilkan air minum untukmu." Ucap Raka seraya berlalu .
Tak lama Raka kembali dengan membawa sebuah baki yang berisi air putih dan beberapa jeruk.
“Nih,minum dulu. Habis itu makanlah jeruk ini. Jeruk bisa meredakan mual." Ucap Raka sambil menaruh baki tersebut di atas meja.
Santi kemudian mengambil air dan langsung meneguknya. Saat Santi hendak meraih jeruk yang ada di hadapannya, Raka terlebih dulu mengambilnya dan mengupaskannya untuk Santi.
“Terima kasih!!" Ucap Santi, seraya menerima jeruk yang sudah di kupas oleh Raka.
Raka hanya menjawab dengan senyuman .
“Oh iya San, di situ ada tv. Jika bosan, kamu nonton saja. Dan di sana adalah kamar mandi. jika kamu ingin mandi dan itu adalah dapur, jika kamu pengen sesuatu. Nah yang di depan sana adalah kamar tidurku, jika kamu mau istirahat. Jika kamu mau mandi, ambil handuk baru di kamarku di dalam lemari." Jelas Raka panjang lebar kepada Santi agar saat ia pergi, Santi tak kebingungan .
__ADS_1
Santi hanya memperhatikan pembicaraan Raka dengan pandangan yang berubah-ubah sesuai telunjuk Raka, kadang ia mengangguk tanda mengerti .
“Iya, aku paham." Ucap Santi mengerti.
“Kalau begitu aku jalan dulu ya! Kamu hati-hati disini. Jika sudah mengantuk, kamu istirahat di kamarku saja. " Ucap Raka sambil mengelus kepala Santi.
Santi hanya mengangguk.
kemudian Raka pun beranjak dari duduknya seraya berjalan ke arah pintu dan menghilang di balik pintu.Setelah kepergian Raka, Santi hanya menatap takjub dengan interior yang ada di dalam ruangan.
Dengan cat hitam berkombinasi abu-abu ,Sungguh mewah dan elegant dengan bau khas Raka yang menyeruak di dalam ruangan .
Santi pun berjalan ke arah ruang tv.
"Buset! Ini TV gede amat ya,bisa di bawa pulang ga ya? Kasihan ortu kalo nonton TV masih pake TV tabung padahal sekarang sudah zamannya TV LED." Guman Santi dengan tangannya yang mengelus-ngelus TV yang ada di hadapannya.
Santi kemudian beralih ke dapur, Matanya seketika berbinar Karna melihat set kitchen di hadapannya yang terlihat mewah dan lengkap .
Santi kemudian menuju ke arah set kitchen tersebut lalu mengamatinya.
“Nah! Ini ni, dapur impian emak-emak. Aiiisss! Si Raka, untuk ukuran pria saja dapurnya mewah dan segala peralatannya lengkap begini. Mmm... Apa ini di sediakan untuk calon istrinya ya?" Guman Santi menebak, dengan matanya yang memandang liar ke sekeliling dapur dengan takjub .
Setelah selesai mengamati semua ruangan, Santi memutuskan untuk mandi.
Santi kemudian berjalan ke arah kamar mandi, saat dalam kamar mandi. Santi malah mematung dan terlihat bingung dengan apa yang ia temukan, di dalam kamar mandi tidak ada bathup, tidak ada ember,tidak ada gayung dan tidak ada kloset.
Hanya terdapat tombol-tombol dan rak yang menempel di dinding kamar mandi. Santi pun terlihat clengak clenguk mencari keran air namun ia tidak menemukannya.
“Aku mandinya bagaimana jika begini kamar mandinya? Niatnya mau keramas agar pusing dan mual ku bisa hilang, pas masuk ke kamar mandi, malah di buat tambah pusing," guman Santi yang menggaruk-garuk kepalanya karena merasa bingung.
Santi mencoba menekan 1 tombol yang menempel di dinding, tiba-tiba Santi kaget Karna ada sesuatu yang bergerak dari dasar lantai.Santi pun mundur untuk menghindar, ternyata sebuah klos*t yang keluar dari lantai tersebut.
“Bujuk, Kloset Ampe di simpen. Ia t*i Horang kaya mah beda. Kita mah nyirem, Horang kaya mah nyimpen di di bawah keramik ." Guman Santi merasa lucu .
Santi kemudian memainkan semua tombol yang ada di dinding kamar mandi tersebut . Dengan tingkah yang ia lakukan sendiri, ia pun tertawa sendiri , Karna hal yang ke kanak-kanakan yang ia ciptakan dengan menekan dan memainkan tombol-tombol yang menempel di dinding kamar mandi tersebut.
Setelah mengerti semua fungsi tombol-tombol tersebut, Santi pun akhirnya bisa mandi. Setelah mandi, Santi baru teringat, bahwa ia lupa mengambil handuk di kamar Raka.
Ia melihat ada satu handuk yang tergantung di salah satu besi di dekat pintu kamar mandi. Ia pun langsung meraihnya, lalu mengusap handuk tersebut ke wajahnya.
“Mmmm... ada bau Raka!!" Ucap santi sambil menghirup aroma handuk tersebut dalam- dalam .
Setelah puas mencium handuk yang ia genggam, Santi pun keluar dari kamar mandi dan berlari menuju ke kamar Raka, ia berharap ada kaos Raka yang bisa ia pakai. Karna bajunya sudah bau apek akibat keringat .
Setelah masuk ke kamar Raka, Santi berjalan pelan mengamati kamar Raka, ternyata Raka adalah pria pecinta warna hitam dan silver .Karna kamar Raka terlihat maskulin, dengan warna cat pria sejati dan sedikit terlihat misterius dengan cat yang mendominasi warna hitam.
Dengan hiasan lampu sudut yang menempel di langit-langit sebagai penerang, namun lampu tersebut menyala redup. Dan tidak banyak perabotan di dalam kamar Raka, Di dalam kamar hanya terdapat tempat tidur ukuran size king, lemari dan cermin ukuran tinggi badan.
Santi berjalan ke arah lemari, lalu membuka lemari yang ada di hadapannya.
Krreeekkk...
Saat pintu lemari terbuka, Santi begitu kecewa melihat isi dalam lemari Raka.Hanya ada beberapa kemeja. Setelah memilih , Santi pun mengambil kemeja putih.
lalu ia langsung memakainya . Santi menuju ke arah cermin, di lihatnya dadanya yang sedikit menonjol Karna ia tak menggunakan dalaman.
saat itu Santi merasa sangat risih tapi mau bagaimana lagi.
“Aku terlihat seperti orang-orangan sawah, dan tonjolan ini bagimana? Mana dalaman sudah kotor. Sudah ah! untuk bertahan saja, sampai Raka datang dan minta di antar untuk membeli dalaman." Guman Santi saat melihat dirinya di cermin.
__ADS_1
Santi kemudian berjalan keluar kamar dan duduk di depan televisi. Karna Santi tidak tahu harus menghidupkan TV yang ada di hadapannya. Akhirnya Santi memutuskan untuk mengitari ruangan.
Setelah bosan mengamati setiap ruangan, Santi berinisiatif untuk pergi ke dapur. Siapa tahu ada bahan yang bisa di gunakan untuk di masak. Santi kemudian berjalan ke arah dapur .