(REVISI) My Man Is A Bunian

(REVISI) My Man Is A Bunian
BAB LXX


__ADS_3

My Man Is A Bunia Bab 70


...Terusir...


Di Tempat Santi,.


tok..tok..tok...( Santi mengetuk pintu)


beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki menuju ke arah pintu.


Santi yang mendengar langkah tersebut, membuat ia semakin ketakutan akan hal yang akan terjadi.


kreeekk ( suara pintu terbuka )


" Santi!!" ucap ayah Santi ketika membuka pintu


dengan cepat, Santi langsung berlutut dan mencium kaki ayahnya, " papa, maafin Santi" ucap Santi ketika ia bersimpuh di kaki ayahnya dengan tangis yang tak bisa di bendung.


ayah Santi yang melihat hal tersebut, merasa ada yang aneh dengan tingkah anaknya. " berdirilah, ada apa?" tanya ayah Santi seraya tangannya memegang pundak Santi.


Santi dengan ragu mengangkat badannya, dengan kepala yang tertunduk.


kini ayah Santi dapat melihat perubahan bentuk tubuh anaknya Ketika Santi berdiri, Sontak ayah Santi seketika mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras.


buk...buk..buk.. ( dengan refleks ayah Santi memukul tubuh Santi dengan asal)


" anak tidak tahu di untung, untuk apa kau kembali jika kau hanya membawa perut ha? " pekik ayah Santi dengan tangannya yang liar memukuli tubuh Santi.


" hikzz...hikkzz.. ampun papa, Santi minta ampun" ucap santi dengan tangannya mencoba menghindar pukulan dari ayahnya.


" pa, ada apa ribut-ribut?" tanya Dimas kakaknya Santi yang tiba-tiba datang dari arah pintu.


" kau lihat Dimas, adikmu. ya Tuhan!! . Dosa apa papa, sampai-sampai mempunyai anak Model begini" ucap ayah Santi dengan emosi


Dimas menarik bahu Santi dengan kasar, Dimas menatap lekat pada tubuh adiknya, yang terlihat menundukan kepalanya, " maksudnya apa Santi?. kau pergi 6 bulan lebih, dan kau pulang hanya membawa aib? " ucap Dimas dengan tatapan yang tajam melihat perut adiknya.


Santi terdiam dengan badan yang sesegukan Karna menangis.


" kau tunggu di sini, kau tidak pernah belajar dari masalah yang kau buat sebelumnya ha?" ucap Dimas dengan langkah cepat menuju ke dalam rumah.


tak lama, Dimas kakaknya Santi kembali dengan sebuah ikat pinggang.


"sini kamu!!" ucap Dimas dengan emosi.


Santi yang melihat hal tersebut, langsung bersimpuh di kaki kakaknya, " Santi minta maaf bang, tolong maafin Santi" ucap Santi memegang kaki kakaknya .


" apa?. maaf?. begini caramu membalas Budi orang tuamu ha??. dari depresi bodohmu, papa dan mama sampai buang uang demi kamu Santi!!!. tapi kau malah melempar t*i di wajah mereka?. pekik Dimas emosi dengan ikat pinggang di tangannya, ia mulai menyabet badan Santi.


buk...buk..buk... ( bunyi ikat pinggang yang menghantam tubuh Santi)


" ampun bang, Santi minta ampun" lirih Santi seraya menggigit bibir bawahnya dengan kuat, Karna menahan pukulan dari kakaknya.

__ADS_1


" kenapa kau harus pulang ha, jika kau datang hanya mencoreng nama orang tuamu?" ucap ayah Santi menimpa ucapan Dimas.


" ada apa sih?. kok pada heboh" tanya ibu Santi yang kaget dari tidurnya, kemudian menuju ke arah teras rumah.


ibu Santi menutup mulutnya dengan ke dua telapak tangannya, "Dimas apa yang kau lakukan kepada adikmu?" teriak ibu Santi yang shock, melihat anak sulungnya memukul anak perempuan semata wayangnya.


" ma, jangan kesana . Biarkan Dimas mengajari anak yang tidak punya adab ini" ucap ayah Santi yang menghadang istrinya.


"tapi papa kasihan Santi" ucap ibu Santi


" mama kasihan?. tapi anak yang tidak punya adab ini, tidak punya rasa Malu dan kasihan kepada kita mama, Karna ia tega mencoreng wajah kita." ucap ayah Santi kepada istrinya


ibu Santi hanya terdiam menatap Santi dengan pandangan iba.


" lebih baik kau mati saja Santi!!!. biarkan...biarkan tanganku sendiri yang membunuhmu malam ini. dari pada mempunyai adik yang murahan sepertimu " ucap Dimas dengan nafas yang terdengar memburu Karna emosi . seraya tangannya dengan ganas mengarahkan ikat pinggang ke arah Santi dengan terus menerus .


Adit yang dari tadi belum beranjak dari rumahnya Santi, kini dapat melihat apa yang terjadi kepada Santi di balik kaca mobilnya.


Adit ingin membiarkan dan mencoba memasa bodokannya , Karna Adit merasa dia sudah tidak punya hak untuk ikut campur . Dan juga hal tersebut, bukan lagi menjadi urusan Adit .


Namun, saat Adit mencoba menghiraukannya. Ia semakin tidak tega melihat Santi yang di pukul seperti itu.


dengan cepat, Adit keluar dari mobilnya kemudian berlari ke arah Santi. Saat tiba di balik badan Santi, Adit sontak memeluk tubuh Santi untuk menghadang pukulan dari kakaknya Santi.


" cukup...cukup bang, Santi sedang mengandung. kau akan membunuh 2 nyawa sekaligus jika begini " teriak Adit dengan punggungnya manghalang pecutan dari kakaknya Santi.


tiba-tiba kakak Santi menghentikan pecutannya.


Adit terdiam, seraya memeluk Santi yang terlihat gemeteran dan meringis.


" apakah kau yang menghamili Santi?" tanya ayah Santi


Adit menatap ayah Santi dengan tatapan tajam," ya om, saya yang menghamili Santi. saya minta maaf Karna telah menodai Santi " ucap Adit


buuggghhhh ( sebuah pukulan yang Adit terima dari kakaknya Santi)


" cuuiiihhhh... kelakuan kalian sudah seperti binatang yang tak bermoral" pekik kakaknya Santi dengan emosi menatap Adit dan Santi.


" cukup Dimas" ucap ayah Santi dengan tangan di rengtangkan ke arah Dimas.


" Santi, mulai saat ini, kau bukan lagi anakku. Segeralah pergi dari sini ,dan jangan pernah berpikir untuk kembali ke rumah ini lagi. Aku lebih baik tidak punya anak sepertimu, dari pada aku harus menanggung aib di seumur hidupku. jika kami mati, jangan pernah melihat jasad kami. Kau mengerti??" ucap ayah santi seraya berlalu.


" papa!!!. Papa tolong , jangan usir Santi, Santi salah. Santi minta maaf" ucap Santi merangkak dengan tangis ingin meraih kaki ayahnya.


brraaakkkk ( bunyi pintu yang di banting)


"papa..papa" ucap Santi lirih seraya tertunduk pasrah.


Adit memeluk Santi, lalu mengusap punggung Santi. " cup...cup.. sudah Santi, sudah.. ingat anakmu, jangan terlalu bersedih ." ucap Adit mencoba menghibur Santi


Santi menatap Adit, " aku harus kemana?" tanya Santi dengan bening yang menumpuk di pelupuk matanya.

__ADS_1


" kau ikut aku" jawab Adit seraya memegang kedua pipi Santi


Adit memapah Santi, dan menuntutnya menuju ke arah mobil.


saat Santi melangkahkan kakinya, sesekali ia menoleh ke arah rumahnya. Rumah yang selama ini menjadi naungan bagi Santi, namun kini ia harus pergi meninggalkan rumah yang telah membuat banyak kenangan dengan orang-orang yang mengasihinya.


" ayo Santi, aku tahu. hal ini berat bagimu, namun kau juga harus menjalani hidupmu. Karna ada satu nyawa yang harus kau lindungi " ucap Adit


Santi memantapkan langkahnya untuk pergi dari rumah yang telah membesarkan dirinya.


" papa,mama, Abang dan adek. Santi minta maaf kepada kalian semua, Santi pamit pergi ya " ucap Santi lirih seraya berjalan menuju ke arah mobil Adit.


di dalam mobil, Santi hanya terdiam dengan tangis. kini Adit memacu mobilnya meninggalkan rumah Santi.


tak lama, mereka tiba di sebuah perumahan. Adit kemudian memarkirkan mobilnya.


" kita sudah sampai" ucap Adit


Santi tak menjawab....


" ayo " ajak Adit


Adit mangajak Santi masuk ke dalam rumah ,yang terlihat minimalis yang berada di hadapan Santi .


tiba di dalam rumah, Santi hanya mematung tak bergeming


" Santi, kenapa hanya berdiri?. ayo duduk, aku akan memasak air untuk kau mandi" ucap Adit mengajak Santi


Santi hanya terdiam, hal tersebut membuat Adit terpaksa menuntun Santi untuk di kursi sofa yang berada di ruang tamu .


kini pikiran Santi terasa sangat kacau .Ia tak menyangka bahwa kehidupannya akan berakhir seperti ini. Saat ini Santi hanya berharap bahwa yang terjadi padanya hanyalah mimpi, dan akan terbangun ke esokan harinya.


" Santi, airnya sudah panas. aku Taru di baskom untuk kau mandi, maaf di kamar mandiku tidak ada Water Heater ( mesin air panas). jadi aku harus memasak terlebih dulu" ucap Adit


" ya, terima kasih Adit" jawab Santi datar. dengan langkah kaki yang gemetar, Santi menuju ke arah kamar mandi .


di dalam kamar mandi, Santi membuka bajunya dengan meringis. merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. ia pergi ke arah wastafel lalu melihat punggungnya yang telah memar kebiru hingga keunguan.


dengan tangis, ia mulai mengambil gayung lalu menyirami tubuhnya.


"ahk..ah..Awww" lirih Santi ketika membasuh tubuhnya dengan air hangat.


setelah mandi, Santi meraih handuk yang tergantung lalu berjalan keluar kamar mandi.


" kamu sudah selesai?. ini tadi aku cari-cari Kaos yang agak longgar untuk kau pakai. kau boleh tidur di kamar depan. besok aku akan pergi membeli keperluanmu" ucap Adit seraya menyodorkan sebuah kaos untuk Santi


" terima kasih Adit" ucap Santi seraya meraih kaos yang di berikan oleh Adit.


Santi Tanp berucap lebih, ia beranjak menuju ke kamar depan yang di tunjukan oleh Adit.


Adit yang melihat punggung Santi dan lengan yang tak tertutup, membuat ia meringis menatap iba dengan bekas pukulan yang Santi terima oleh keluarganya.

__ADS_1


" kau bukan siapa-siapaku lagi. Tapi kenapa aku masih saja peduli?. Santi kapan kau akan bahagia?. ku harap kau selalu kuat" guman Adit yang melihat punggung wanita yang pernah ia cintai menghilang di balik pintu.


__ADS_2