
...My Man Is A Bunian...
...ke puskesmas...
...****************...
Santi melanjutkan perjalannya menuju rumah, dengan menahan rasa perih di pergelangan tangan'nya. Sesampainya di rumah, Santi melihat ke sekeliling rumah . Berharap ia tak bertemu dengan ibu atau ayahnya ,Karna sudah pasti mereka akan khawatir . Setelah memastikan tidak ada yang melihat, Santi mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar.
Setelah di dalam kamar, Santi mencari ponselnya. Setelah menemukan ponsel yang ia cari, Santi kemudian mencari sebuah nama, lalu menekan tulisan Call.
📞 [Halo!] Terdengar jawaban ketika panggilan tersambung .
📞 [Bisa kesini ga? Pergelangan tangan kananku lagi cedera. Bisa Jemput aku?] Pinta Santi ketika mendengar panggilannya terhubung.
📞 [Cerdera kenapa?]
📞 [Udah, buruan jemput aku. Nanti aku ceritakan.] Sela Santi meminta di jemput dengan segera.
📞 [Ok 12 menit aku udah ada di rumahmu,] Jawabnya.
📞 [Aku tunggu di depan rumah di bawah pohon klengkeng.] Ucap Santi
📞 [ok!] Jawabnya
Panggilan pun terputus, bergegas Santi mengganti pakaiannya dan membersihkan bekas darah yang menempel mengunakan air mawar dengan kapas. Santi kemudian mengambil jaketnya dan berjalan keluar kamar. Santi kemudian menemui Ibunya untuk meminta ijin. Alasannya , Ia ingin menemani temannya Karna sebentar lagi temannya akan menjemput.
Tiddak lupa ,Jaket yang Santi bawa, sengaja ia letakan di pergelangan tangan. Agar Ibunya tidak curiga. Karna pada saat itu, Santi berpura-pura tidak terjadi apa-apa namun, kenyataan 'nya Santi menahan perih yang luar biasa.
Setelah mendapatkan ijin dari Ibunya, Santi bergegas berjalan menuju ke arah pohon klengkeng. Tak lama, sudah terlihat sepeda motor king menuju ke arah Santi.
Dan Santi tahu siapa pemilik sepeda motor king tersebut, dia adalah seorang Perawat yang bekerja di salah satu Puskesmas yang berada di desa Santi . Namanya Mona, Perawat yang memilik body aduhai dengan wajah baby face. Mona, merupakan temannya Santi sejak ia duduk di bangku SMA. Dari sekian banyak teman yang Santi miliki, hanya Mona yang pertemanannya awet hingga kini.
Saat sepeda motor Mona berhenti, Santi pun menuju ke arah sepeda motor yang di kendarai oleh Mona. Santi langsung menaiki jok sepeda motor tersebut.
“Buru jalan." Ucap Santi saat menaiki jok sepeda motor Mona.
“Lah! Memangnya ga minta ijin dulu sama Ibumu?" Tanya Mona sambil menoleh ke belakang.
“Sudah tadi, aku ngomong ke ibuku mau nemenin kamu dinas malam," Jawab Santi .
“Bisa ya bohongnya, padahal kamu sendiri yang punya masalah. Malah aku yang di bawa-bawa." Jawab Mona.
“Ya.. Aku ga mau saja kalo ortu aku kepikiran dengan cedera tanganku. Udah buru ah.. Perih bangat sumpah." Ucap Santi menjelaskan.
“Iya-iya bawel bangat." Jawab Mona sembari menstater sepeda motornya.
Mereka pun melaju. Di atas sepeda motor, Santi dan Mona hanya terdiam. Santi tidak berbicara sedikit pun,Karna saat ini Santi sedang menahan perih dan Santi ingin Mona mengendarai sepeda motornya dengan tetap fokus. Tak lama dari kejauhan sudah terlihat bangunan puskesmas. Setelah memasuki area puskesmas, Mona pun langsung memarkirkan sepeda motornya.
Santi pun turun dari sepeda motor, lalu memandang ke sekeliling puskesmas . Ternyata puskesmas sudah sepi, mungkin hari sudah sore.
Mona pun mengajak Santi untuk mengikutinya Mereka kemudian berjalan berdampingan melewati koridor puskesmas. Setelah beberapa meter berjalan, Mona dan Santi tiba di satu ruangan. Mereka berdua langsung masuk ke ruangan tersebut.
Setelah masuk ke ruangan tersebut, Mona meminta Santi berbaring di Tempat tidur pasien 3 engkol. Santi pun kemudian berbaring sesuai perintah Mona .
__ADS_1
“Coba lihat cederamu." Mona membuka pembicaraan kemudian meminta Santi untuk memperlihatkan lukanya.
Santi langsung mengibaskan jaketnya yang sedari tadi menutupi lengannya.
“Ya ampun Santi! Luka robek kaya gini kamu dapat dari mana?.Dalam loh ini San, sampe pinggirannya memar bengkak begini.” Kaget Mona saat melihat luka yang ada di pergelangan Santi .
“Habis pelukan sama ular tadi di kebun." Jawab Santi asal .
“Eh... Kamu di gigit ular?” Tanya Mona dengan wajah keheranan.
“Iya tadi di kebun ada sanca yang ngelilit tangan aku, e..Malah di cium pake taring di lenganku." Jelas Santi ke Mona .
“Owalah... Makanya San, main kok di kebon. Main tu ke mall ke, biar pegangan dan ciuman sama cowok bukannya sama ular." Jawab Mona sembari meledek .
“ Yah! mau gimana lagi, jodohnya ketemu ular." Jawab Santi ketus.
“ Ya udah bentar, aku periksa denyut nadimu dulu." Jawab Mona.
Santi hanya mengangguk mengiyakan.
Di lihat sahabatnya yang sedang fokus meraba-raba tangan kiri Santi dengan stetoskop yang terasa dingin di kulit Santi. Ia kemudian mengambil alat tensi untuk mengukur tekanan darah Santi .
“Tekanan darah kamu normal, tapi denyutmu masih kurang stabil. Tunggu disini, aku mau ambil beberapa alat dan obat dulu." Jawab Mona menjelaskan keadaan Santi. Kemudian ia pun berlalu.
Seperti sebelumnya Santi hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Tak lama, Mona kembali dengan beberapa obat-obatan di antaranya 1 botol NacL,1 botol alkohol, jarum, ampul, gunting, kain kasa, kapas dan beberapa obat-obatan lain'nya. Kemudian Ia meletakan di samping tubuh'nya lalu ia mulai bekerja.
“ Tahan ya San. Ini agak perih , aku bersihin dulu sebelum ku jahit." Jelas Mona kepada Santi.
Santi melihat Mona mengambil cairan NacL lalu ia menyiramnya ke permukaan luka, rasanya dingin. Mona kemudian membersihkan sisa darah yang mengeras dengan kapas.
Santi hanya melihat dengan seksama gerakan tangan Mona.
“Serius amat lihatnya San!" Ucap Mona dengan tangan yang repot dengan alat yang ada.
“Asyik saja lihatnya Mon, tangan kamu cekatan." Jawab Santi.
“Haha... 'Kan sudah bagian pekerjaanku. Nih luka sudah aku bersihkan,sekarang mau membunuh kuman-kumannya. Ini akan perih, di tahan.” Jawab Mona.
“Iya, lakukan saja sesukamu. Aku pasrah." Jawab Santi , Karna percaya dengan kemampuan sahabatnya tersebut.
Mona lalu mengambil cairan dalam botol yang bertuliskan 70% kemudian ia tuangkan ke sebuah wadah lalu mencelupkan beberapa kapas di dalam wadah yang terdapat cairan 70% tersebut, kemudian ia menempelkan kapas yang sudah basah dengan cairan tersebut ke arah luka Santi.
Sontak Santi, langsung meraih jaket yang ia letakan di atas dada kemudian menggigit Jaket idengan Kuat .
Ini sungguh menyakitkan, Santi seketika menutup matanya lalu menikmati setiap perih yang ia rasakan saat ini. Saat cairan alkohol yang di oleskan ke luka Santi, membuat daging di pergelangan Santi seperti di sayat-sayat. Nadi yang tadinya sudah berdenyut dengan normal , sekarang kembali berdetak lebih cepat sampai ke denyut kepala Santi.
Dum! Dum! Dum! Itu yang Santi rasakan di dalam kepalanya, saat alkohol menyentuh lukanya.
"Nah sekarang tinggal di jahit." Ucap Mona tiba-tiba .
Santi pun membuka matanya, melihat daging merah menganga di lengannya. Ah mungkin saat di gigit, tangan Santi merontak dengan tiba-tiba Karna kaget dengan gigitan sanca waktu itu, sehingga membuat lengan Santi sobek seperti itu.
__ADS_1
Santi pun kembali menatap sahabatnya yang sibuk mengurusi lengannya. Santi kemudian melihat sahabatnya mengambil suntikan dan sebuah botol ampul.
“Anestesi dulu ya San, biar saat di jahit ga merasakan sakit." Ucap Mona yang kemudian menyuntikan cairan tersebut ke area luka Santi.
Masih tetap perih yang di rasakan Santi. Apalagi saat obat merasuki di setiap dagingnya. Rasanya ahhh.. Mantap. Setelah di beri anestesi, Mona kemudian memberi semacam bubuk di dalam luka sobekan, setelah itu ia menjahitnya.
Terlihat sangat terampil saat Mona menjahit luka Santi , seperti orang yang sedang menjahit pakaian sobek . Setelah beberapa menit , akhirnya luka Santi telah selesai di jahit. 5 jahitan di dalam dan 15 jahitan di luar. Setelah itu, Mona memberi obat tetes seperti obat merah lalu ia kemudian membalutnya dengan perban.
"Ingat! Selama 3 hari jangan terkena air. Setelah 3 hari aku akan periksa lagi . Ini ada obat anti nyeri, dan obat demam. Minum saat kamu merasa demam atau merasakan nyeri. Karna saat anestesinya menghilang, luka'mu akan terasa perih dan dalam 3 hari, ada proses pembengkakan." Terang Mona menjelaskan panjang lebar .
Santi hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu menerima obat yang di berikan Mona terhadapnya .
“ Mon, ini udah selesaikan?" Tanya Santi kepada Mona .
“Sudah, kamu boleh istrahat. Merokok juga boleh. Buka jendelanya kalo mau merokok.” Jawab Mona yang mengerti apa kemauan sahabatnya itu .
“Serius ga apa-apa?" tanya Santi.
“Serius! Kita juga para perawat kalo ga ada pasien sering ngerokok kok. Ya sudah kamu nikmati saja sebatangmu. Aku mau berbenah dulu. Habis itu mau cari makan buat kamu sama aku." Jawab Mona dengan tangannya yang sibuk merapikan alat-alat yang ia gunakan untuk mengobati Santi.
“Ini duit ,aku nitip makanan dan cemilan buat kita ntar malam." Jawab Santi, lalu ia menyodorkan selembar uang merah kepada Mona.
Mona pun menerima uang tersebut, ia kemudian berpamitan dan berlalu dari ruangan. Santi melihat kesekeliling ruangan saat ia di tinggalkan sendiri dalam ruangan ini. Ini bukan ruang Pasien tapi ruang pribadi bagi Perawat yang sedang berdinas . Karna di ruangan ini seperti sebuah ruang kontrakan. Ada kamar mandi, ada dapur,kulkas dan TV. Mungkin agar Perawat yang berdinas bisa betah disini, makanya di sediakan fasilitas seperti ini .
Setelah beberapa menit menunggu, pintu pun berbunyi. Santi yang sedang fokus mengamati ruangan tersebut langsung menoleh cepat ke arah pintu .
“Nih San. makan dulu, selesai makan kamu minum obat terus istrahat." Ucap Mona yang baru datang kemudian berjalan ke arah meja yang tak jauh dari tempat Santi berbaring.
Santi pun beranjak. Lalu menyatu dengan Mona yang sibuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua . Santi kemudian duduk di kursi yang di depannya sudah terhidang makanan yang di sediakan oleh Mona untuk mereka makan.
“Maaf ya Mon, aku jadi merepotkan mu." Ucap Santi .
“Ih.. Ngomong apa sih, percuma dong aku jadi Perawat kalo merawat orang itu merepotkan? Yah udah ayo makan!" Jawab Mona kemudian mengajak Santi untuk makan .
“Makasih ya Mon ." Jawab Santi singkat .
Mona hanya mengangguk dengan tangannya yang di angkat membentuk jari dengan isyarat OK. Karna saat Santi mengucapkan terima kasih , Mona sedang menyendokan nasi ke dalam mulutnya. Mereka pun makan dalam diam.
“San, bijimana ceritanya kamu bisa di gigit ular?” Mona yang tiba-tiba membuka pembicaraan . kembali bertanya.
Santi pun menghentikan sendoknya yang ingin masuk ke dalam mulutnya. Ia meletakan sendoknya kemudian menarik nafas panjang dan mulai bercerita kornologi bagaiman sampai ia mendapatkan luka di lengannya.
Namun Santi bercerita bahwa ia keluar ke pembatas kebunnya Karna mengejar burung. Saat lelah mengejar burung ,Santi beristirahat dan duduk di bawah pohon ,dan pada saat itu. Ia mau di jadiin mangsa sama sanca yang kelaparan.
Ini adalah alasan ke-2 yang sama pada waktu ibu Santi bertanya. Jika Santi menjelaskan bahwa ia keluar dari pembatas hanya untuk mencari seorang pria, bisa-bisa Santi di anggap tidak waras .
“Aduh, ngejar burung sampe segitunya. Untungnya kamu di gigit sanca, coba kalau di patok ular berbisa? Selamat kaga,!ke alam lain mah pasti Iya. Karna di sini belum ada anti racun." Jawab Mona bergedik ngeri mendengar cerita Santi .
“Ya...Alhamdulillah Mon, masih di beri keselamatan sama yang memberikan nyawa." Jawab Santi.
“ Ya sudah, selesaikan makananmu. Habis itu minum obatnya." Jawab Mona kemudian mengingatkan Santi akan obatnya yang tak lupa di minum jika selesai makan.
Santi pun mengangguk. Di lahap pelan sisa nasi yang sebentar lagi habis, setelah habis. Santi kemudian meminum obat yang di berikan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Ia kemudian merebahkan badannya di atas bed pasien mencoba fokus untuk tidur. Karna sebelum Mona pergi dari ruangan, Ia mangatakan akan piket dan berjaga di luar . kemudian Mona pun berpamitan. jadi, santi pun di tinggalkan sendirian.
Setelah lelah menatap langit-langit ruangan yang di tempati Santi, akhirnya Santi pun tertidur.