
My Man Is A Bunian Bab 72
...Berpamitan ...
Adit berlari menuju ke ruangan Santi, Karna kata seorang perawat. Bahwa Santi sudah di bawa ke ruang inap.
Kreek ( Adit membuka pintu ruangan )
Dari arah pintu, ia dapat melihat Santi yang tertidur lelap dengan sebuah jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya.
Adit berjalan, menghampiri tempat bed pasien Santi terbaring. Di tatap lekat wajah sendu yang sedang tertidur di hadapannya.
" Santi, sebenarnya aku ingin menjaga jarak denganmu. Aku takut jika rasa ini, akan muncul kembali. Ha.. kenapa kau harus menerima nasip se sial ini?" Guman Adit
" mmmm... Akh.." Santi menggeran ketika tidur
" Sakit ya?. Yang sabar ya, ada aku yang bakal jagain kamu sekarang. Aku tidak meminta cintamu kembali, namun setidaknya aku memastikan jika kamu baik-baik saja" ucap Adit pelan ketika melihat Santi tertidur kembali.
Setelah melihat Santi yang sedang tertidur sangat lelap, Adit memutuskan untuk keluar sebentar.
Kini Adit sudah berada di dalam mobilnya, ia melaju meninggalkan rumah Sakit.
...*******...
Setelah kepergian Adit, Santi membuka matanya. Menatap nalar ke arah langit-langit rumah sakit.
" Maafkan aku Adit, jika aku merepotkanmu" guman Santi.
Santi mencoba untuk beranjak dari bed pasien, " sepertinya, aku harus pergi dari sini. Sebelum Adit kembali, aku tidak ingin mempunyai hutang Budi kepada mantan kekasihku" guman Santi.
Santi mencoba mencabut jarum infus yang melekat pada pergelangan tangannya.
"Aawwwww" pekik Santi ketika ia mencabut jarum yang melekat.
Seketika darah bercucuran dari pergelangan tangannya, " isss... Merepotkan" guna Santi ketika melihat darah yang mengalir dari pergelangan tangannya.
Santi mencoba menghadang darah yang keluar dengan meremas kuat pergelangan tangannya.
Kini Santi beranjak dari ruang inap tersebut. Dan berlari menelusuri koridor rumah sakit.
" Harus cepat, semoga tidak ada yang mengenaliku" guman Santi dengan terus melangkah.
Brukkk.. ( Santi menabrak seseorang)
" Awwww... Hei kalau jalan lihat-lihat" ucap wanita yang Santi tabrak
" Maaf!!. Maafkan saya, saya lagi buru-buru" ucap Santi seraya membungkuk
"Santi??. Apa ini benar Santi?" Ucap wanita tersebut seraya memegang pundak Santi
__ADS_1
Santi mengangkat wajahnya, lalu menatap wanita yang berada di hadapannya.
" Mona??" Ucap Santi, sekita membuat matanya berkaca-kaca
" Ya ampun san, ada apa denganmu?" Tanah Mona
" Mona, aku tidak bisa berlama-lama. Aku harus segera pergi" ucap Santi
Mona seketika merentangkan tangannya ," tidak aku injinkan. Biar aku yang merawatmu" ucap Mona
" pliss Mon, sebelum Adit datang" ucap Santi memohon
" Nah itu Adit, sedang berlari kesini" ucap Mona seraya menujuk ke arah belakang Santi.
Santi menoleh, " ya..gagal" guman Santi
" Santi!! Kenapa kamu sungguh keras kepala?. Aku keluar membeli makanan. Aku kembali kau sudah tidak ada di ruangan" pekik Adit ketika menghampiri Santi
" Mona, terima kasih Karna telah menghadang Santi. Bisakah kau antar dia ke ruangan?" Lanjut Adit seraya meminta Mona untuk mengurusi Santi
" Ok baiklah, ayo Santi. Kau belum sembuh, kapokmu kapan Santi untuk menjadi keras kepala" guman Mona seraya menuntun Santi
Kini Santi pasrah, dan mengikuti Mona yang membawanya kembali ke ruangan.
Setelah sampai di ruangan, Mona kembali memasang infus di pergelangan Santi.
" nah, sudah selesai. Sekarang kamu sudah boleh istirahat, jaga kesehatanmu ya. Apalagi ada debay di dalam perutmu" ucap Mona ketika ia telah selesai memasang infus di pergelangan Santi.
" Sama-sama, kalau boleh tahu kamu sudah menikah?" Tanya Mona
Santi menggelengkan kepalanya," tidak Mon, aku hamil di luar nikah" jawab Santi jujur
Mona terlihat kaget, " yah baiklah aku mengerti. Sekarang kamu istirahat yang banyak, aku sedikit ada urusan. Nanti aku kembali lagi" ucap Mona
Santi mengangguk....
Kini Mona telah berlalu meninggalkan ruangan. Tak lama, Adit datang menghampiri Santi.
"Ayo makan dulu, aku suapin" ucap Adit yang membawa bubur ayam yang baru ia beli
" Maaf, Karna telah merepotkanmu" ucap Santi pelan
" Ini sebagai permintaan maaf ku, Karna dulu telah menyia-nyiakanmu. Sudah jangan berpikir jika aku repot dan kamu ingin melarikan diri, aku juga cukup sadar diri jika kau tidak ingin menikah denganku. Jadi buka mulutmu dan makanlah" ucap Adit
Santi tak menjawab apa yang Adit katakan, ia sekarang hanya bisa Patuh dengan apa yang di katakan Adit.
" oh iya Santi, aku 1 Minggu lagi akan ke Jakarta. Dan akan pindah ke sana, apakah kau mau ikut?" Ucap Adit di sela ia menyuapi Santi
Santi terdiam beberapa saat, " aku akan ke Jogja. Dan memulai hidup baru di sana" jawab Santi
__ADS_1
Adit terkejut mendengar jawaban Santi," siapa yang akan menemanimu di sana?" Tanya Adit
" Kamu tidak usah memperdulikanku Adit, jika aku keluar dari rumah sakit nanti, aku minta tolong untuk mengantarku ke toko emas terlebih dahulu" ucap Santi
" Tidak Santi, jika kau ingin tinggal di Jogja?, aku akan membatalkan kontrak kerjaku di Jakarta. Biarkan aku menemanimu" ucap Adit
Santi menatap Adit," Adit, aku terlalu banyak merepotkanmu. Bairkan aku hidup mandiri dan tenang, tanpa aku harus berketergantungan padamu" ucap Santi
" Sampai segitunya kau ingin menutup dirimu kepadaku?. Aku tidak ada niatan apa-apa Santi, jangan khawatir, aku tidak akan meminta kau harus membalasnya dengan sesuatu yang lebih." Jawab Adit
" Ya, terserah kamu sajalah. Karna bukan aku yang meminta" ucap Santi
Adit tersenyum, " nah gitu dong. Nih makan lagi" ucap Adit seraya mengerakkan sendok yang berisi bubur kepada Santi.
... *******...
Satu Minggu kemudian,
" Dit, setelah dari toko emas. Boleh kamu mengantarku ke kebunku?" Ucap Santi seraya menoleh ke arah Adit yang sedang menyetir
" Untuka apa?" Tanya Adit heran
" Tidak ada apa-apa. Hanya pergi untuk berpamitan dan mengucapkan selamat tinggal" jawab Santi
" Hmmm... Baiklah, aku akan mengantarmu" ucap Adit.
Setelah beberapa menit mengemudi, kini Adit dan Santi telah tiba di sebuah toko emas. Santi menjual koin 2 kepingan koin emas untuk bekal dia di Jogja nanti. Sisa koin emas yang Raka berikan untuk biaya persalinan dan kebutuhan anaknya, jika nanti Santi akan melahirkan.
Karna Raka, tidak tanggung-tanggung memberikan koin emas kepada Santi, Karna ada 200kepingan yang Raka berikan, bisa untuk kebutuhan Santi lebih dari 50 tahun ke depan .
Setelah menjual kepingan emas, Adit mengantarkan Santi ke kebunya. Santi meminta Adit untuk menunggunya di dalam mobil, Karna ia tidak akan lama.
Santi kini turun dari mobil Adit, lalu berjalan ke arah kebun. Dengan hati-hati dan pelan ia melangkah, ia takut jika ia akan bertemu dengan ayah atau ibunya.
Setelah memastikan tidak ada orang, Santi melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah pohon randu.
Seketika, semua kenangan yang telah mereka lalui terlintas di benak Santi, Santi terdiam menatap batang pohon dengan pandangan sedih.
" Berawal dari kau yang sedang tertidur, hingga mengukir kita dalam satu cerita. Dan akhirnya memiliki buah cinta kemudian berakhri menjadi kenangan. Raka, dalam kecewa aku hanya mampuh mengingat gelar tawamu yang masih melekat. Kita akan selalu berjumpa di sebuah ruangan yang bernama rindu. Kini saatnya aku harus menjalani hidup tanpa hadirmu, aku pamit Raka. Aku akan selalu merindukanmu dan aku akan selalu mencintaimu" ucap Santi dengan bulir yang telah menumpuk.
Santi berjongkok, lalu mengelus batang pohon randu yang berada di hadapannya, " jika di sana sudah aman, dan jika kau masih hidup. Tolong datang ke mimpiku, atau datanglah menjemputku. Aku pergi" ucap Santi seraya melangkahkan kakinya beranjak dari pohon yang telah mempertemukan dia dengan kekasih gaibnya.
Santi menuju ke mobil Adit, lalu memasukinya.
" Sudah selesai?." Tanya Adit seraya menoleh
Santi menarik nafas panjang, lalu membuangnya. Kemudian menatap Adit ," sudah" jawab Santi seraya tersenyum
" Sudah siap untuk menjalani kehidupan yang baru?" Tanya Adit
__ADS_1
Santi mengangguk dengan cepat," siap dong" ucap Santi penuh keyakinan
Adit tersenyum, lalu memacu mobilnya meninggalkan kawasan kebun dan rumah Santi.