
...FLASHBACK PART II...
...****************...
Yogyakarta,
3 hari kemudian, Adit datang dengan menaiki taksi untuk menjemput Santi.
“Bang, aku pamit ya," ucap Santi kepada kakak sulungnya. Seraya mencium punggung tangan kakaknya .
“Iya Hati-hati, salam ke mama sama papa ya! Abang lagi nyelesain skripsi jadi belom bisa balik ngejengukin mereka," jawab kakaknya Santi.
“Iya bang, ntar Ade sampein ke mama sama papa. Abang yang semangat ya!” Jawab Santi seraya berjalan ke arah taksi.
“Bang, kami berdua jalan dulu ya," ucap Adit yang menghampiri Kakaknya Santi , kemudian mereka bersalaman dengan gaya ala orang Amerika.
“Iya Bro, salam buat keluargamu. Abang minta tolong untuk menjaga Santi ya," Jawab kakaknya Santi dengan sebelah tangannya menepuk-nepuk pundak Adit.
“Iya bang, pasti akan aku jaga Santi dengan baik . Nanti jika sudah sampai rumah, salamnya pasti saya sampaikan. Berangkat ya bang!" Ucap Adit kemudian melangkah menuju taksi.
Kakak Santi hanya mengangguk dan melambaikan tangannya, hingga taksi pun berlalu meninggalkan kakak Santi yang masih terlihat melambaikan tangan dari kejauhan.
...****************...
Santi dan Adit pun tiba di bandara, mereka berdua berjalan menuju ke tempat check in untuk melakukan broaning pas. Setelah melapor, mereka menuju ke ruang tunggu. menunggu pesawat dengan nomor boing yang akan menerbangkan mereka. Setelah pesawat tiba, Adit dan Santi menaiki pesawat tersebut.
sekitar 4 jam di udara , akhirnya pesawat mendarat di tempat tujuan dengan selamat. Setelah tiba di bandara, Adit dan Santi pun berpisah untuk pulang ke kampung masing-masing.
Adit dan Santi berasal dari Kabupaten yang berbeda, namun masih satu Provinsi. Adit dan Santi bertemu saat mereka bersekolah di kota yang sama , pada saat mereka masih duduk di bangku SMA.
Setelah berpisah di bandara, Santi menuju ke dermaga penyebrangan. Menaiki kapal Ferry dan melanjutkan perjalanan dengan mobil Travel selama 6 jam untuk tiba di kampung halamannya.
...****************...
kampung halaman Santi
“Assalamualaikum! Mama!” Panggil Santi ketika ia tiba di rumahnya.
“Walaikumsallam!” Jawab ibu Santi yang muncul dari dalam rumah.
Saat Santi melihat ibunya, ia langsung berlari menghambur ke pelukan ibunya. "Mama! Santi kangen," seru Santi kegirangan.
“Aduh, Anak gadis mama. Kok cepat bangat besarnya. Gimana kuliah?” tanya ibu Santi, lalu melepaskan pelukan Santi.
“Alhamdulillah Ma, kuliah Santi lancar.” Jawab Santi.
“Yuk Masuk, kamu pasti kecapean,” ajak ibu Santi, sambil menuntun Santi ke dalam rumah.
Setibanya di dalam rumah, Santi duduk di kursi di depan meja makan, yang di atas meja tersebut telah tersaji semua makanan kesukaan Santi. Tanpa pikir panjang, santi langsung mengambil piring dan menaruh beberapa lauk dan melahapnya dengan nikmat.
“Nak, hubungan kamu sama Adit gimana?" Tanya Ibu Santi dengan tiba-tiba lalu duduk berhadapan dengan Santi.
__ADS_1
“Baik kok Ma, sama seperti biasa. Dia sekarang lagi sedikit sibuk Karna udah semester 7. Tadi juga kita pulang bareng Ma," Ucap Santi dengan mulutnya yang masih mengunyah.
“Alhamdulillah kalo gitu , itu pacarannya yang benar ya San, jangan Ampe bablas." Ucap ibu Santi mengingatkan.
“Iya Ibundaku Sayang, Santi sama Adit ga aneh-aneh kok. paling Cuma ciuman hehehehe." Jawab santi dengan tawanya yang merasa tak berdosa .
“Husss... Ga baik juga kalo ciuman. Ntar kalo ciuman Ampe gituan bagaimana?" Ucap ibu Santi.
“Enggak Ma, Sampai sekarang Santi sama Adit ga melakukan hal-hal yang melanggar norma kok. Jadi, Mama tenang aja, Ok." Ucap Santi meyakinkan ibunya.
“Ya udah kalau begitu. Itu , di lanjutin makannya. Setelah itu kamu istrahat." Ucap ibu Santi kemudian berlalu meninggalkan anaknya yang sedang makan.
“ Ok Ma." Jawab Santi. seraya mengangkat jempolnya.
Santi kemudian melanjutkan makannya, Setelah selesai makan, Santi pergi ke dapur untuk mencuci piring. Setelah mencuci piring, Santi beranjak ke kamar yang sudah lama ia rindukan. Ia pun merebahkan tubuhnya dan langsung terlelap.
...****************...
2 hari kemudian saat Santi di kampung.
“Assamualaikum! Permisi!" Terdengar Suara orang mengucapkan salam dari arah pintu yang berada di ruang tamu.
“Walaikumsallam, bentar!" Jawab Santi sambil berlari menuju ke arah pintu di ruang tamu.
Setelah tiba di depan pintu, mata Santi melebar .
“Adit! Sama siapa kesini?” Ucap Santi kaget dengan kedatangan Adit, Karna kampung Adit dan Santi lumayan jauh sekitar 4 jam perjalanan.
“ Ibu sini, Ayo masuk Bu . kenapa duduk di situ?" Ajak Santi , kemudian berjalan ke arah Ibu Adit yang duduk di bawah pohon nangka.
“Iya Nak. San , ibu Cuma sedikit mual terus cari angin di bawah pohon." Jawab Ibu Adit.
“Ibu pasti kecapean, ayo istrahat di dalam. Nanti Santi buatin teh jahe buat Ibu." Ucap Santi sambil memapah Ibunya Adit menuju ke arah rumah .
Di dalam rumah, Santi mengajak Adit dan ibunya untuk duduk. Santi kemudian berlalu ke arah dapur untuk membuat minuman.
“Mama! Papa! Itu ada tamu dari jauh." Panggil Santi dengan sedikit mengeraskan suaranya, dengan tangannya yang sibuk mengaduk minuman di cangkir yang ada di hadapannya.
“Siapa San?” Tanya Ayah Santi.
“Adit Sama Ibunya Pa." Jawab Santi.
“Udah suruh masuk, papa mau ganti baju dulu. Soalnya papa habis dari kebun." Ucap Ayah Santi, kemudian berlalu.
Santi pun berjalan menghampiri Adit dan Ibunya yang sedang menunggu di ruang tamu dengan baki dan minuman yang ia bawa.
“Dit, Bu. Ini di minum dulu selagi panas." Tawar Santi mempersilahkan.
“Iya San, makasih!! " Ucap Adit dan ibunya secara bersamaan .
Santi kemudian duduk dan berbaur dengan Adit dan ibunya lalu berbasa-basi . Tak lama Ayah dan Ibu Santi datang menghampiri.
__ADS_1
“Maaf ya, Nak Adit. Sama Ibunya Adit, kelamaan nunggunya." Ucap ayah Santi kemudian ikut duduk di salah satu kursi tamu.
“Tidak apa-apa Pak. Saya sama ibu saya juga baru nyampe kok." Ucap Adit sopan seraya tersenyum.
Adit terlihat gugup dan kikuk saat berjumpa dengan kedua orang tuanya Santi. Karna terlihat sesekali ia meremas-meremas tangannya.
“Gini Pak. Maksud kedatangan saya dan ibu saya kesini. Dan mohon maaf jika ayah saya tidak hadir, Karna beliau sedang kurang enak badan.” Ucap Adit membuka pembicaraan.
Ayah,Santi dan Ibunya mulai nampak serius, terlihat jelas dari wajah mereka. Karena semenjak Adit berpacaran dengan Santi, Adit tidak pernah datang berkunjung ke rumah mereka. Jika sampai mereka berkunjung, pasti ada hal yang penting yang ingin mereka sampaikan.
“Begini, Pak dan Ibu. Tidak mengurangi rasa hormat saya, saya dan ibu saya kesini ingin meminta restu Bapak sama Ibu untuk mengikat saya dengan Santi." Lanjut Adit dengan suara yang sedikit gemeteran .
“Maksud Nak Adit ingin melamar anak saya? Kalian kan masih kuliah." Ucap ayah Santi .
Santi yang mendengar ucapan Adit, membuat jantungnya tidak tenang dan terasa terus memompa dengan kencang di dalam dadanya.
“Bukan Pak. Saya ingin tunangan dengan Santi dulu. Hingga saya selesai kuliah, jika sudah wisuda saya janji akan datang kembali untuk melamar Santi." Ucap Adit menjelaskan.
“Oh begitu, Coba Nak Adit tanya sama Anak saya , apakah Santi mau tunangan dulu ,Apa langsung di mau lamar." Ucap ayah Santi memberi hak kepada Anaknya.
Santi menoleh ke arah ayahnya kemudian beralih ke arah Adit .
“San, Gimana? Biar kita ada ikatan. Kita tunangan dulu menurutmu gimana?” Tanya Adit seraya menatap Santi untuk menunggu jawaban darinya.
“Aku mau! Tapi acara pertunangannya gimana?" Ucap Santi dengan cepat tanpa menimbang-nimbang terlebih dahulu.
“Tidak perlu pakai acara yang meriah. Cukup orang tua kita saja yang menjadi saksi." Ucap Adit sambil mengeluarkan sebuah kotak dari saku kemejanya.
“Kamu berdiri, samperin Calonnya." Ucap ibu Santi kepada Santi seraya tangannya menyolek paha Santi .
Santi pun berdiri dan berjalan ke arah Adit, Adit yang sedang duduk pun, tiba-tiba berdiri dengan cepat untuk menyambut Santi .
“ Santi aku mencintaimu, cincin ini sebagai bukti ketulusanku di depan orang tuamu. " Ucap Adit seraya menyematkan sebuah cinci emas putih di jari manis Santi.
Santi terharu, dengan refleks berhambur ke pelukan Adit.
“ Ee.. anak wadon! Kamu Main nyosor daja ya!” Ujar ayah Santi yang berdiri dengan tiba-tiba dan menarik Anaknya sehingga Santi melepaskan pelukannya kepada Adit.
“Maaf Pa, Santi terlalu senang hehehe." Ucap Santi seraya menggaruk kepalanya yang mungkin ada kutu yang sedang beranak Pinak di atas kepalanya.
Adit hanya tersenyum melihat tingkah Santi di depan orang tuanya.
“Dasar! Anak zaman sekarang.” pekik Ibu Santi sambil menggelengkan kepalanya.
Ibu Adit yang melihat hal tersebut merasa bangga karena mempunyai anak yang bertanggung jawab seperti Adit . Ia hanya tersenyum saat momen anaknya menyatakan ketulusan kepada wanita yang ia cintai di depan orang tua wanita tersebut.
“Nak Adit, bapak titip Santi ya, Saat kalian balik ke Jogja nanti . Ingat! Jangan di rusak Anak bapak, bapak percaya sama kamu.” ucap ayah Santi kepada Adit .
“Baik pak, terima kasih atas kepercayaan Bapak. Kalau begitu saya dan ibu saya mau permisi balik dulu Pak." Jawab Adit sembari berpamitan.
Mereka pun berpamitan kepada kedua orang tua Santi. Kemudian Adit pun berlalu meninggalkan rumah Santi dengan hati yang lega .
__ADS_1
Saat pertunangannya dengan Adit, Santi merasa dia adalah wanita yang paling bahagia. Saat mereka kembali ke Jogja, hubungan mereka semakin terasa harmonis dan semakin lengket. Kini Santi merasa hari-harinya penuh warna . Karna kehadiran Adit di dalam kehidupannya. Bulan pun berlalu, dan tak lama Adit akan wisuda. Santi semakin antusias Karna sebentar lagi ia akan menjadi istrinya Aditya Prasetyo.