(REVISI) My Man Is A Bunian

(REVISI) My Man Is A Bunian
1.7


__ADS_3

...My Man Is A Bunian...


...Pemilik Ponsel Itu Datang Juga...


Santi pun terlelap. Saat Santi terbangun, nampaknya hari sudah pagi. Santi beranjak dari tidurnya , ia pun duduk dan menyenderkan badannya di sandaran tempat tidur pasien, mengumpulkan separuh ruh yang entah berkeliaran dimana.


Kini santi merasakan sakit di pergelangan tangannya dan juga merasakan sedikit pusing. Santi kemudian memijit pelan pelipisnya dengan tangan kiri. Ia berharap rasa pening di kepalanya dapat berkurang . saat sedang fokus memijit, mata Santi tidak sengaja tertuju ke arah jam dinding yang tepat berada di atas televisi,"oh.. sudah jam 8 rupanya." guman Santi dengan tangan yang terus memijit pelipisnya.


Ternyata Santi tertidur dengan sangat lelap, mungkin hari yang di hadapinya kemaren membuat Santi bisa tidur selelap ini.


Krek!!


Santi mengalihkan pandangannya ke arah suara. Ketika pintu ruangan'nya terbuka.


“Sudah bangun kamu San?" Tanya Mona sembari membawa baki yang berisi susu dan beberapa potong roti.


“Hahaha ..Ternyata seorang Santi bisa tidur selama ini. Dari jam 8 malam hingga terbangun 8 pagi? Wow amazing, " Balas Santi dengan terkekeh menertawakan dirinya sendiri.


“ Iya kamu sudah mirip ular jika sudah kenyang. Pasti tidurnya pules bangat. Itu tidur, apa lagi belajar mati? Ini sarapan dulu,” Timpa Mona sambil menyodorkan baki berisi sarapan untuk Santi.


“Kamu Sudah sarapan Mon?” Tanya Santi sambil tangan kirinya mengambil sepotong roti di hadapannya.


“Sudah tadi , aku udah sarapan kok. Oh iya San, jam dinasku bentar lagi hampir selesai. Nanti jam 9 aku mau pulang. Kamu mau balik'nya jam berapa San? Biar sekalian aku anterin." Jawab Mona sambari menanyakan kapan Santi ingin pulang.


“Selesai sarapan aja Mon, aku pulang bareng kamu saja, tapi aku boleh minta tolong ga Mon?” Jawab Santi.

__ADS_1


“Minta tolong apa San?" Tanya Mona .


“Anterin aku ke pasar ya, mau beli lauk Mateng. Sepertinya aku belum bisa memasak." Jawab Santi sambil menunjukan pergelangan yang telah di balut dengan perban .


“Ok.. entar aku anterin, Ya sudah. Sarapan'nya di habisin dulu. Aku mau siap-siap dulu ya, mau bebenah ." Jawab Mona sambil berlalu meninggalkan Santi dengan sarapannya.


Santi pun menikmati sarapannya dengan sendirian . Tak lama, Mona pun kembali dan mengajak Santi. Dan Sebelum berangkat meninggalkan ruangan, Santi mengeluarkan uang merah 3 lembar lalu di sondorkan kepada Mona, namun Mona menolak.


Tapi Santi terus memaksa dan akhirnya Mona pun pasrah menerimanya. Setelah mengantarkan Santi membeli lauk, Mona langsung mengantar Santi pulang kerumahnya. Saat tiba di rumah Santi, Santi tak lupa mengucapkan terima kasihnya kepada Mona.


Mona kemudian minta ijin, bahwa ia langsung pulang. Dan Mona juga meminta maaf jika ia tidak bisa mampir Karna dari semalam ia tak tidur Karna harus piket, dan sekarang ia sudah merasa mengantuk. Santi pun mengangguk mengiyakan, akhirnya Mona membuat arah balik lalu melaju.


Santi memperhatikan sahabatnya yang berlalu hingga menghilang. Sesampai di dalam rumah, Santi langsung menemui ibunya.


“Ma! Ini Santi sudah beli lauk matang. Mama, Aku minta tolong rebusin talas dan masak nasi ya Ma, hari ini aku belum bisa masak.” Pinta Santi kemudian menyodorkan sebungkus kresek kepada Ibunya.


“Cuma luka kecil Ma , tapi Sudah di obatin sama Mona." Ucap Santi kembali berbohong agar Ibunya tak khawatir.


“Makanya lain kali hati-hati, udah sana istirahat." Ucap ibu Santi.


Santi pun mengangguk dan berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, ia mengambil ponsel Raka yang ia simpan di lemari.


Santi pun keluar dari kamar lalu mengunci pintu kamarnya dari luar, agar orang tuanya mengira, bahwa Ia sedang tidur di dalam kamar. Setelah mengunci pintunya, Santi berjalan ke arah pintu samping dengan mengendap-ngendap seperti maling agar tak ketahuan oleh orang di dalam rumah. Setelah memastikan tak ada yang melihatnya, Santi langsung melakukan ninjutsu berlari ke arah kebun . Sesampainya di kebun, Santi langsung menuju ke arah pohon randu , ia pun langsung duduk di tempat Raka.


Santi kemudian memejamkan matanya dengan menghirup udara dalam-dalam. Namun bau parfum Raka yang pernah tertinggal. Kini sudah hilang di telan cuaca. Santi hanya meringkuk di bawah pohon dan sudah 1 jam lebih Santi menunggu tanpa merubah posisi. Tiba-tiba Saja tubuh santi terasa menggigil dan dentuman di lukanya kian bergejolak. Dengan panik, Santi meraba dahinya. Ternyata suhu badannya naik. Santi kini merasa gemeteran, ia kemudian memeluk lututnya yang gemeteran Karna menggigil. Cuaca terlihat sangat terik, namun panas matahari tidak membuat Santi merasa hangat. Malah sebaliknya ia merasa kedinginan hingga nyilu terasa sampai tulang.

__ADS_1


“Obat dari Mona tidak ku bawa. Raka! Kau dimana? Apakah sesulit ini mengembalikan barangmu?" guman Santi seraya memegangi lututnya yang gemetar Karna menggigil.


Kini Santi merasa semakin lemah dan tak bertenaga, Santi merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang ia rasakan saat ini. Santi merasa, bahwa suhu tubuhnya terasa semakin meningkat.


Karna takut terjadi apa-apa di dalam dirinya, Santi kemudian mencoba untuk berdiri. Ia berencana untuk pulang ke rumah sebelum terjadi apa-apa pada dirinya. Namun pada saat Santi berdiri, tiba-tiba kepalanya seperti berputar dan kakinya gemeteran.


Bruuk!


Santi pun ambruk!


Beberapa saat kemudian, Santi merasa tubuhnya terangkat. Ia merasa ada kehangatan di dalam tubuhnya , ia merasa seperti ada yang menyelimutinya dengan sesuatu. Di dalam dekapan, Santi dapat mencium bau parfum yang tidak asing. Santi membuka mata perlahan, samar-samar terlihat wajah seorang pria yang ia kenal. Kemudian Santi mencoba melebarkan matanya, namun matanya terasa begitu berat. Santi kembali memejamkan matanya.


“Raka! Apakah ini kau?" Suara Santi yang terdengar pelan nan gemetar.


sunyi.. tidak ada jawaban.


"Haaaa!" Santi menarik nafas panjang.


“Siapa pun itu, yang saat ini telah menggendongku. terima kasih," Ucap Santi lirih.


Tak lama Santi merasa ia sedang di baringkan di sebuah bangku, namun bangku tersebut terasa seperti bangku kendaraan. Rasanya empuk dan nyaman, setelah itu terdengar bunyi mesin yang kemudian melaju dan Santi pun tertidur.


Entah sudah berapa lama Santi terlelap, saat ketika ia terbangun, ia begitu syok Karna melihat sebuah jarum infus yang telah menancap di pergelangan tangannya. Santi melihat keadaan di sekeliling dan mengamati ruang yang saat ini ia tempati .


Ternyata, Ruangan yang ia tempati, terlihat sangat bersih dengan cat mendominasi berwarna putih. Ruangannya terlihat sungguh rapih dan juga berkelas.

__ADS_1


“Apakah aku di rumah sakit? Ataukah aku sedang berada di hotel mewah?” Guman Santi keheranan saat ia melihat ruangan yang begitu mewah di hadapannya.


"Ah.... Sudah pasti ini Hotel," guman Santi dengan matanya yang sibuk mengamati ruangan yang terlihat sedikit redup walau pun hari sudah siang.


__ADS_2