
" Woy Rakha.... bawa motornya pelan pelan dong!!! Gua masih belum siap buat mati.." Gumam Danar yang terus memegangi perutnya yang kesakitan. Rakha hanya bergeming dan terus melaju dengan motor gedenya.
" Sampai juga, " Ucap Rakha yang tiba di depan rumah Danar. " aduh... lu bikin kepala gua puyeng aja dah." Gumam Danar.
" ya maaf... sini gua bantu lu masuk kedalam rumah lu.." Ujar Rakha.
Anak anak yang lain pun datang untuk membantu. " ayo Nar, kita masuk kedalam rumah." Ucap Fabian yang membantu memapah Danar masuk kedalam rumahnya.
" Tuan Danar? Tuan kenapa? Kok pegang perutnya mulu?" Tanya Kinara yang merasa khawatir dengan kondisi Danar.
" Ayo bawa dia ke kamarnya." Ucap Fabian.
" hei..... jawab pertanyaan aku dong!!! Kok kalian semua diam saja sih??" Tanya Kinara yang mengikuti kelima laki laki itu.
" Dia habis dihajar orang!! Sekarang kamu paham kan?" Jawab Rakha dengan wajah serius. " Hah? Habis dihajar orang? Kenapa?" Tanya Kinara lagi.
" udah... kamu tenang ya!! Fabian dan anak anak lainnya akan berusaha mengobati Danar." Ucap Aji yang menenangkan Kinara.
" Sabar Nar.... oh ini untung cuman lebam doang... badan lu kan kekar.... sama Lu pake rompi, jadinya enggak ada kerusakan yang berarti di perut lu." Ucap Rakha yang sok jadi dokter.
" Yaudah... lu istirahat saja dulu. Kalau begitu gua pamit ya, ada urusan penting. Soal lu, nanti biar si cewek itu yang urus." Ucap Fabian.
" Nar... gak apa apa kita pergi?" Tanya Rakha.
__ADS_1
" oke, makasih udah antar gua balik ke rumah. Silakan kalau kalian ingin pergi." Ucap Danar.
" baik... kita pamit ya..." Rakha,Wisnu,Andi dan Fabian keluar dari kamar Danar dan menemui Kinara.
" Nona, saya titip Danar ya. Kalau ada apa apa hubungi kami." Ucap Fabian.
" baik. Siap!!" Ucap Kinara.
" kalau begitu, kita berempat pamit ya!!!" Ucap Fabian. " iya, hati hati dijalan ya!!! Daahhh..." Keempat anak itu pergi dan Kinara masuk ke dalam kamar Danar.
__________________________________
Hiks...hiks...hiks....
Sebuah ujian hidup yang datang terus menerus di keluargaku.
Keegoisan kakekku
Nenekku jatuh sakit
Dan perjodohan kakakku atas nama nenek yang katanya hidupnya tidak akan lama lagi
Aku harus bagaimana?
__ADS_1
Aku harus bisa apa?
Agar aku bisa menghilangkan separuh dari ujian yang amat berat ini?
Aku mohon, berilah aku jawaban atas semua ini...
Tasya menghentikan tangisannya, ia bertekad untuk mencari kehidupan baru. Ia mulai memasukan semua pakaian miliknya kedalam tas ransel miliknya, lalu ia bergegas pergi dari rumahnya.
" Tasya!!! Kamu mau kemana??" Tanya Dina yang sedang menggendong anaknya.
" aku mau pergi dari rumah ini, aku capek. Aku kecewa sama kakak. Semoga kakak bisa hidup bahagia tanpa aku.." Ucap Tasya yang berpamitan pada kakaknya.
" Kakak mohon jangan Tasya, keponakan kamu sangat membutuhkanmu. Kakak juga sayang sama kamu.." Ucap Dina.
" sayang? Kalau kakak sayang sama aku, kalau ada upaya perjodohan aku ya kakak tolak lah. Aku kan masih ingin sekolah." Ucap Tasya sambil menangis.
" iya kakak janji, nanti kalau ada perjodohan kamu lagi kakak bakalan menolaknya. Maafin kakak dan kakak mohon jangan pergi," pinta Dina.
" maaf kak, keputusanku sudah bulat. Maaf Tasya harus pergi, selamat tinggal." Tasya pergi keluar dari rumah itu. Dina hanya bisa menangis sedih menyesali kesalahannya yang membuat adiknya itu pergi dari rumah.
Maafkan kakak Tasya, kakak sudah banyak bersalah sama kamu.
Maafkan aku juga kak... Aku hanya ingin bahagia selamanya......
__ADS_1