
Lulu terdiam di depan gerbang sekolah, ia masih menunggu kedatangan orangtuanya untuk menyaksikan dirinya tampil bermain drama bersama Fabian.
" Mama sama Papa mana sih? Kok masih belum datang juga? Acaranya sebentar lagi dimulai juga." Gumam Lulu yang saat itu masih berusia sembilan tahun.
" Mamaa....Papaa...." Teriak Lulu yang menangis di depan gerbang sekolah. Bu Deswita yang menghampiri Lulu segera menenangkannya dan mengajaknya kembali ke areal acara.
" Lulu... sayang, ayo giliran kamu yang bersiap siap untuk tampil." Ucap Bu Deswita.
" Lulu... ayo giliran kamu yang sekarang di dandani, " Ucap Fabian.
" iya... ayo." Ucap Lulu yang akhirnya mau ikut bersama Bu Deswita.
" Akulah sang Pangeran Tampan...." Ucap Fabian yang sedang latihan bermain drama di depan Ruang kelas satu yang digunakan sebagai ruang ganti.
" Fabian..Saka...Aji.Rian... pergilah ke Belakang panggung. Sebentar lagi kita akan tampil." Ucap Bu Deswita, bersama Lulu yang sudah di make up dan menggunakan kostum ala Tuan Putri.
" kabur hantu!!!" Teriak Fabian dan tiga kawan kawan lainnya.
" Ehh... ini aku bukan hantu!! Kalian kenapa sih?" Tanya Lulu yang wajahnya cemberut. " maaf, kita kira kamu hantu." Gumam Fabian.
" yaudah, kalian segera ke belakang panggung." Ucap Bu Deswita.
" baik." Ucap Fabian dan anak anak lainnya.
__ADS_1
*******
" Pergi kamu!!! Pengawal... Asingkan dia ke dalam hutan!!!" Ucap Amel, yang berperan sebagai Tokoh antagonis dalam pementasan Drama itu.
" aku mohon jangan!!!!" Teriak Lulu yang berperan sebagai Tuan Putri yang sangat cantik.
" ayo ikut!!!" Teriak Tiga pengawal itu.
" Amel, selama ini kan kita bersahabat. lalu mama kamu sama papa aku menikah dan kita menjadi adik kakak... kenapa kamu Tega mengasingkan aku Amel?" tanya Lulu.
" Hah? apa? sahabat? itu dulu, tapi kini aku sudah menguasai semuanya. termasuk rumahmu ini, sekarang pergilah. aku jijik melihat wajahmu itu." ucap Amel yang memberi Isyarat pada Pengawalnya.
Lulu hanya bisa menangis sambil dirinya dibawa paksa oleh tiga pengawal itu. Setelah tiba di hutan, Tiga pengawal itu membiarkan Tuan Putri sendirian di dalam hutan.
" Wahai tukang Bajigur, eh maksudku Tuan Putri. Kenapa kamu ada disini sendirian?" Tanya Pangeran bermasker bersama Tiga ajudannya.
" Aku disini diasingkan oleh pengawal yang diperintahkan oleh kakak tiri aku." Jawab Tuan Putri.
" jahat sekali kakak tiri kamu itu, Kalau begitu ikutlah denganku pulang ke rumahku. Maka kamu akan aman disana." Ucap Pangeran.
" Baik Pangeran... kalau begitu.. aku akan ikut denganmu." Ucap Tuan Putri.
Selama di perjalanan pulang, Tuan Putri dan Pangeran di hadapkan oleh sesosok pocong yang menyebalkan. Tuan putri pun Menjerit ketakutan setelah ia melihat wajah pocong yang minta ditonjok itu.
__ADS_1
" pangeran!!! Aku takut!!!" Teriak Tuan Putri.
" tenanglah, Ajudan... bersiaplah untuk menembak." Ucap Pangeran.
" I Like This day..."
" guk...guk..guk.."
" haiyaya... gajah punya belalai..."
" haiyaya... gajah punya belalai.."
" nah pocong itu kabur... ayo kita pergi dari sini." Ucap Pangeran dan pasukannya.
Setelah acara selesai, Mama Indira datang untuk menjemput Fabian. Sedangkan Lulu kembali menangis karena mama dan papa nya tidak datang.
" Mama sama papa aku enggak datang hiks..hiks.." Gumam Lulu yang menangis sedih.
" lulu... tenanglah...kamu tidak usah sedih, kan Ada Mama Indira. Ayo kita foto bareng." Ucap Bu Indira.
Cekrek
Cekrekk
__ADS_1
Cekrekkk