
..."Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah membohongi perasaan sendiri karena itu begitu menyakitkan"...
...~Son...
-
-
-
..
"Please kak, I will keep Aeril from getting hurt again. Trust me" ucap Alex memohon.
"Hmm..." dehem Son membuat Alex dan yang lainnya menunggu.
"I told you the umpteenth time. My answer is still the same, which is no " ucap Son tegas. Alex kecewa dengan jawaban Son, tetapi ia tetap harus berusaha siapa tau Son berubah pikiran.
"Cukup sepertinya ada tamu, maaf saya tidak menyapa kalian" ucap Son kepada Rafael dan Elena.
"Tidak apa tuan Son" ucap Rafael.
"Santai saja tuan memanggil saya. Panggil saya Son saja seperti yang lain" ucap Son.
"Baiklah Son" ucap Rafael tersenyum. Son hanya mengangguk.
Setelah itu Son melihat ke arah Regan kemudian Vier. Ia berjalan mendekati Vier yang sedari tadi hanya melihat ke Aeril yang sedang koma.
Yang lain hanya melihat kemana Son tuju diantara mereka. Tetapi tidak menyangka Son menghampiri Vier dan menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Hei" ucap Son. Vier terkejut akan kehadirannya kemudian ia menetralkan wajahnya seperti semula.
"Apa?" Tanya Vier menatap mata Son. Son hanya menganggukkan kepala nya melihat Vier.
"Tidak ada hanya saja, apa kau menyukai princess ku?" Tanya Son pelan hanya mereka berdua yang mendengar.
Vier terkejut akan ucapannya, tetapi ia berusaha menetralkan wajahnya walaupun jantung nya berdegup sangat kencang.
Son yang melihat itu tertawa. Mengagetkan mereka yang ada di ruangan tersebut. Sedangkan Vier hanya menatap datar Son yang sedang tertawa walaupun ia sendiri tak tahu apa yang dia tertawakan.
"Upss, sorry" ucap Son. Vier hanya mengangkat satu alisnya seakan meminta penjelasan.
"Kau tak perlu terkejut rileks man. Aku tau dari caramu memandang princess ku dengan mata penuh cinta, bukan begitu?" ucap Son kepada Vier. Vier hanya memandang Son.
"Dan juga aku tau kau tidak mau mengakui perasaan mu karena adikmu lebih dulu menyatakannya bukan?" Ucap Son dan lagi lagi Vier terkejut.
"Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah membohongi perasaan sendiri karena itu begitu menyakitkan" ucap Son menepuk pundak Vier, lalu ia beralih mereka yang menatapnya sedari tadi.
"Hmm, apakah ada kata-kata terakhir sebelum saya membawa nya pergi" ucap Son dingin.
Alex dan Max saling pandang dan mendekat ke brangkar Aeril. Son yang melihat itu tersenyum sinis.
"Aku sudah lelah akan semua ini jadi mari kita percepat" ucap Son menepuk tangan 2 kali. Lalu tak lama datang 5 orang berseragam hitam seperti bodyguard.
"Lakukan" perintah Son dingin.
Kedua bodyguard itu menahan tangan Alex dan Max supaya mudah memindahkan Aeril.
Lalu yang lainnya membawa brangkar Aeril keluar untuk dibawa pergi.
__ADS_1
Alex dan Max berteriak untuk di lepaskan dari para bodyguard itu. Mereka berdua hanya menatap tajam kearah Son yang hanya memperhatikan pemindahan Aeril.
"Kak please kak jangan bawa Aeril pergi, Alex mohon" ucap Alex menangis.
"Kak Son please kak" ucap Max menangis juga.
"Sebenarnya saya tidak tega melihat kalian seperti ini, tapi kalian yang membuat nya seperti ini jadi kalian yang harus menanggung resiko nya" ucap Son dingin lalu ia melangkah pergi setelah pemindahan Aeril selesai, tetapi sebelum itu ia berbalik dan berucap.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Bersambung..
...Heyooo don't forget to vote, like and comment...
__ADS_1